← Jangan Pergi

Chapter Thirty Six

Meja Dapur

POV: DevanSekarang

Kami mulai pukul delapan lewat sepuluh malam dan selesai pukul empat pagi.

Peralatannya: satu kalender meja tahun berjalan yang Freya beli di minimarket bawah dalam perjalanan pulang, dua pulpen, satu buku tulis bergaris, dan mi instan.

Aku sempat membuka laptop.

Freya menutupnya.

“Nggak.”

“Freya, aku bisa bikin—”

“Aku tahu kamu bisa bikin,” katanya. “Itu masalahnya.”

Dia mendorong buku tulis itu ke arahku.

“Pulpen,” katanya. “Kalau kamu ngetik, kamu bakal bikin dokumen. Kalau kamu bikin dokumen, kamu bakal bikin bagian satu, dua, tiga.” Dia menatapku. “Aku nggak mau ada bagian tiga lagi seumur hidup aku, Dev.”

Aku mengambil pulpen.


Kami menghabiskan dua jam pertama pada hal-hal yang gampang, karena hal-hal yang gampang selalu lebih dulu.

Ayahku. Rumah sakit yang sekarang sampai stabil, lalu pindah ke fasilitas perawatan jangka panjang. Bukan di Jakarta — di kota ibuku, karena Pak Sugeng sudah cukup lama menanggung sesuatu yang bukan tanggungannya dan karena ada dua sepupu di sana.

“Ibumu gimana?”

“Ibuku nggak akan ke sana,” kataku. “Aku udah nanya.”

“Kamu tanya?”

“Aku tanya.”

Freya menulis sesuatu di kalender dan tidak berkomentar, tapi aku melihat sudut mulutnya.

Sena. Magang di kantor pusat, sembilan bulan, mulai empat bulan lagi setelah wisuda. Berangkat sendiri. Freya awalnya menolak — “Dev, itu jauh banget” — lalu Sena menelepon di tengah rapat kami pukul sepuluh malam dan berbicara selama sebelas menit tanpa berhenti, dan Freya menyerah pada menit keempat.

Dua belas orang. Gelombang pertama tiga bulan lagi. Bu Rina paling awal karena anaknya masuk sekolah di bulan Agustus.

Kontrak Freya. Tiga tahun. Basis Jakarta. Tidak dibahas sebagai variabel sedetik pun.

Aku menulis semuanya dengan tangan, di buku tulis bergaris, dengan tulisan yang lebih jelek dari yang kuingat.


Pukul sepuluh lewat empat puluh kami sampai pada bagian yang sulit.

Aku menaruh pulpen.

“Delapan belas bulan,” kataku.

“Apa?”

“Kontraknya. Aku minta delapan belas bulan dengan opsi perpanjangan, bukan permanen.” Aku menatap kalender. “Aku bicara sama Nadia kemarin sore. Dia bilang nggak biasa. Dia bilang dia bisa usahain.”

Freya menaruh cangkirnya.

“Dev, itu bakal ngerugiin kamu.”

“Iya.”

“Posisi itu—”

“Aku tahu,” kataku. “Aku udah ngitung.”

Dia menatapku.

Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang membuatku berhenti dan memikirkan ulang kalimat yang baru saja kuucapkan.

“Sori,” kataku. “Aku ngitung sendirian lagi.”

“Nggak apa-apa.”

“Nggak, itu apa-apa.” Aku mendorong buku tulis itu ke tengah meja. “Aku bakal ngitung, Freya. Aku nggak bisa berhenti. Kepalaku bakal ngitung sampai aku mati.”

“Aku tahu.”

“Yang bisa aku janjiin bukan berhenti ngitung,” kataku. “Yang bisa aku janjiin adalah aku nunjukin kertasnya.”

Dan aku membalik buku tulis itu ke arahnya, ke halaman yang sudah kutulis di kos sore itu, sebelum datang.

Empat hitungan. Delapan belas bulan versus permanen. Angka gaji, angka posisi, angka apa yang hilang.

Freya membacanya selama tiga menit.

Lalu dia mengambil pulpen dan menulis sesuatu di bawahnya, dan mendorongnya kembali.

Tulisannya: aku setuju 18 bulan. tapi bukan karena aku nggak sanggup 3 taun. karena aku juga nggak mau.


Pukul dua belas kami membuat kalender.

Ini bagian yang tidak romantis sama sekali dan bagian yang paling penting.

Empat belas jam selisih. Delapan belas bulan. Dua orang yang pernah gagal melakukan ini sebelumnya pada umur delapan belas tahun tanpa satu pun struktur.

Jadi kami membuat struktur.

Aku pulang setiap sembilan minggu, minimal lima hari. Ditulis di kalender, dilingkari, enam titik dalam delapan belas bulan.

Freya ada tiga jadwal luar negeri yang sudah pasti dalam setahun ke depan; dua di antaranya bisa disambung ke San Francisco dengan tambahan empat hari. Ditulis. Dilingkari.

Dua panggilan tetap per minggu, jamnya ditulis, bukan “kalau sempet”. Rabu pagi Jakarta, Selasa malam sana. Minggu malam Jakarta, Minggu pagi sana.

“Kalau salah satu nggak bisa?”

“Bilang,” kata Freya. “Bukan skip. Bilang.”

Aku menulis itu juga.

Dan lalu Freya mengambil pulpennya dan menulis satu baris di halaman terakhir, dalam huruf besar, dan menggarisbawahinya dua kali.

KALAU ADA YANG BERUBAH, DALAM 24 JAM.

Dia menatapku.

“Aku tahu,” kataku.

“Dev—”

“Freya, aku tahu.” Aku menahan tatapannya. “Aku udah gagal sekali. Kamu berhak nulis itu pakai huruf gede.”

“Aku bukan lagi ngancem kamu.”

“Aku tahu.”

“Aku cuma—” Dia menaruh pulpennya. “Aku cuma pengin kamu tahu bahwa aku bakal percaya kamu lagi. Mulai besok. Dan itu bukan hal kecil buat aku.”


Pukul satu lewat lima belas, dia menyuruhku menulis daftar lain.

“Daftar apa?”

“Hal yang kamu mau.”

Aku menatapnya.

“Freya, kita udah nulis semua—”

“Kita nulis hal yang harus terjadi,” katanya. “Aku mau daftar yang lain. Hal yang kamu mau.”

“Bedanya apa?”

Dan dia menyandarkan dagunya ke telapak tangan dan berkata:

“Coba tulis, nanti kamu tahu bedanya.”


Aku duduk di meja dapur itu dengan pulpen di tangan selama sebelas menit dan tidak menulis apa-apa.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena aku pikir aku akan langsung bisa setelah semua yang terjadi, dan aku tidak bisa.

Halaman itu kosong selama sebelas menit.

Freya tidak menyuruhku. Dia tidak berkomentar. Dia bangun, membuat teh, meletakkan satu cangkir di sebelah tanganku, dan duduk lagi.

Pada menit ketiga belas, aku menulis satu baris.

1. Aku mau kamu jemput di bandara. Bukan disuruh orang. Kamu.

Aku mendorongnya ke arahnya.

Freya membacanya, dan menaruh tangannya ke mulutnya, dan tidak berkata apa-apa selama sekitar sepuluh detik.

“Lanjut,” katanya, dengan suara yang tidak stabil.

Aku menulis lagi.

2. Aku mau ada foto di kamar aku. Aku nggak punya foto apa-apa dan itu aneh.

3. Kalau kamu ada acara gede, aku mau tahu tanggalnya walaupun aku nggak bisa dateng. Aku pengin tahu aja kamu lagi di mana.

4. Aku mau kamu marah kalau aku salah. Beneran marah. Aku nggak pernah dimarahin orang seumur hidup dan aku pikir itu yang bikin aku begini.

5. Aku mau kamu telepon kalau kamu capek. Bukan pas udah selesai capek.

Aku menulis sampai nomor sembilan.

Aku berhenti di nomor sembilan karena tanganku gemetar dan karena Freya sudah menangis sejak nomor empat dan karena aku belum pernah dalam hidupku menulis daftar yang isinya bukan orang lain.

Aku ingin menuliskan nomor tujuh sampai sembilan di sini juga, karena kalau tidak, daftar itu tidak lengkap dan bab ini tidak jujur.

7. Kalau aku ngomong sesuatu yang kedengarannya masuk akal banget, aku mau kamu curiga.

8. Aku mau ada satu hal di hidup aku yang aku nggak berguna di dalamnya. Aku nggak tahu itu apa. Aku pengin nyari sama kamu.

9. Aku mau tua di kota yang ada kamunya.

Nomor sembilan kutulis paling lama.

Bukan karena aku ragu. Karena aku menulisnya dan lalu duduk memandanginya selama sekitar dua menit dan menyadari bahwa itu adalah kalimat paling berani yang pernah kutulis, dan bahwa aku menulisnya dengan pulpen di buku tulis bergaris seharga tiga ribu rupiah di meja dapur pada pukul dua pagi, dan bahwa tidak ada satu pun perhitungan di dalamnya.

“Sembilan,” katanya.

“Iya.”

“Sembilan, Dev.”

“Iya.”

“Dua puluh delapan tahun,” katanya, “dan hari ini kamu nulis sembilan hal yang kamu mau, dan lima di antaranya isinya cuma pengin tahu aku di mana.”

Aku menatap buku tulis itu.

“Iya,” kataku.

Dia menarik buku itu ke arahnya, merobek halamannya, dan melipatnya empat.

“Ini punya aku,” katanya. “Aku simpen. Kamu nggak boleh remes.”


Pukul tiga lewat empat puluh, semuanya selesai.

Kalender penuh. Buku tulis penuh. Mi instan habis dua bungkus. Meja dapur berisi dua cangkir kosong, satu kalender minimarket, dan dua orang berumur dua puluh delapan tahun yang tidak tidur.

Aku menutup buku tulis itu.

“Dev.”

“Hm.”

“Kita baru aja ngerjain dalam tujuh jam apa yang dulu kita gagal ngerjain dalam enam detik.”

Aku memikirkannya.

“Iya.”

“Bedanya apa sih?” katanya, dan dia bertanya dengan sungguh-sungguh, bukan retoris. “Kenapa sekarang bisa?”

Dan aku duduk di meja dapur apartemen di lantai dua puluh dua pada pukul tiga lewat empat puluh pagi dan menjawab hal yang sudah kupikirkan sejak pukul enam lewat dua belas pagi kemarin.

“Karena dulu kita ngerjainnya sendiri-sendiri,” kataku. “Di kepala masing-masing. Terus kita ketemu buat ngumumin hasil.”

Freya menatap meja itu — buku tulis, kalender, dua pulpen.

“Iya,” katanya. “Nggak ada mejanya.”


Pukul empat kurang seperempat aku berdiri dan mengambil kunci mobil.

“Aku pulang ya.”

“Sekarang?”

“Aku ada rapat jam sembilan.”

Freya berdiri juga. Rambutnya sudah keluar dari ikatannya sejak dua jam lalu. Wajahnya bengkak karena menangis empat kali sepanjang malam. Dia memakai kaus abu-abu yang sejak beberapa bulan lalu tidak lagi jelas miliknya atau milikku.

Dia mengantarku ke pintu, seperti biasa.

Dan aku berdiri di ambang pintu itu — di ambang pintu, seperti selalu, seperti seumur hidupku — dengan kunci di tangan.

Dia bersandar ke kusen.

“Ya udah,” katanya. “Hati-hati.”

Dan aku menatapnya.

Rambut berantakan. Mata bengkak. Jam empat kurang seperempat pagi. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang sedang melihat.

“Kamu cantik banget,” kataku.

Freya berkedip.

“Devan—”

“Aku nggak jadi pulang,” kataku.


Aku menutup pintunya dari dalam.

Dan aku menaruh kunci mobil itu kembali di meja, dan aku tidak menghitung apa pun, dan aku tidur selama tiga jam empat puluh menit dengan tangannya di dadaku dan bangun terlambat ke rapat untuk kedua kalinya seumur hidupku.


Dua tahun kemudian

Aku pulang pada bulan Juli.

Bukan pulang yang enam belas hari. Pulang yang selesai — dengan kardus, dengan surat pengunduran diri yang sudah ditandatangani tiga bulan sebelumnya, dan dengan posisi baru yang tidak sebesar yang kutinggalkan dan yang basisnya di kota ini.

Delapan belas bulan jadi dua puluh dua, karena hidup tidak pernah persis. Kami menulis ulang kalendernya empat kali. Kami gagal dua kali di panggilan Rabu pagi dan berhasil tiga ratus delapan belas kali. Aku memberitahu dia dalam dua puluh empat jam sebanyak sebelas kali, dan sembilan di antaranya ternyata tidak perlu, dan dua sisanya menyelamatkan segalanya.

Ayahku meninggal pada bulan Februari tahun kedua. Aku ada di sana. Aku sempat pulang empat hari sebelumnya karena Pak Sugeng menelepon, dan aku duduk di sebelahnya selama tiga hari, dan pada hari terakhir dia tidak mengatakan apa pun yang penting, dan itu tidak apa-apa.

Freya terbang malam itu juga dan sampai dua belas jam kemudian dan berdiri di sebelahku di pemakaman dan tidak menanyakan satu pun pertanyaan.

Bu Rina sekarang memimpin timnya sendiri. Anak dari tim data pindah ke perusahaan lain setelah setahun dan aku menulis rekomendasinya dan dia tidak pernah tahu bahwa aku menulisnya dalam empat jam dan mengulanginya tiga kali.

Gilang menikahi Vinka pada bulan November tahun pertama, di kedai yang sepi itu, dengan empat puluh orang yang tidak muat dan yang berdiri di gang, dan aku terbang dua puluh tiga jam untuk berdiri di sana selama enam jam dan terbang lagi.

Vinka menangis sepanjang akad dan berkata, di pidatonya, bahwa dia menghabiskan empat tahun bertanya pada sebuah aplikasi apakah dia kebanyakan mau, dan bahwa jawabannya ternyata ada di gang yang tidak dilewati manusia, empat meja dari tempat duduknya selama dua tahun.

Sena bekerja penuh waktu sekarang. Dia memanggilku “Mas” dan bukan “Pak”, akhirnya, setelah delapan belas bulan.


Sabtu pertama setelah aku pulang, kami ke Bekasi.

Aku memarkir mobil di ujung gang dan kami berjalan.

Dan di depan pagar besi dengan pot di kedua sisi teras, aku berhenti.

“Dev?”

“Sebentar.”

Freya menunggu.

Aku berdiri di depan pagar itu — pagar yang sama, teras yang sama, dengan kursi plastik yang sekarang sudah diganti — dan aku memikirkan seorang anak laki-laki berumur delapan belas tahun yang berdiri di titik yang persis sama pada suatu malam bulan Agustus dengan kertas di saku celananya.

Lalu aku membuka pagarnya, dan aku berjalan ke pintu, dan aku mengetuk.

Tiga kali.

Freya menoleh ke arahku.

“Kamu ngetuk?”

“Iya.”

“Bel-nya ada.”

“Aku tahu.”

Pintunya dibuka.

Bu Ratna berdiri di sana dengan kacamata di atas kepala dan tangan yang baru dilap ke celemek, dan beliau melihatku, dan sesuatu terjadi di wajah perempuan itu yang tidak akan pernah bisa kutuliskan dengan benar.

“Devan,” katanya.

“Selamat sore, Bu.”

Beliau menatapku beberapa detik.

“Kamu ngetuk,” katanya.

“Iya, Bu.”

Dan Bu Ratna membuka pintu itu lebih lebar dan berkata, dengan suara yang sepenuhnya biasa, seperti orang yang sudah menunggu sepuluh tahun dan tidak berniat membuat siapa pun merasa bersalah tentang itu:

“Masuk. Ibu masak banyak.”


Kami makan berlima malam itu — Bu Ratna, Sena, Freya, aku, dan Pak Sugeng, yang sekarang datang setiap dua minggu dari kota ibuku dan yang oleh Sena sudah dipanggil “Pakde” tanpa satu pun dasar biologis.

Ayam dengan kuah kuning. Bumbunya digiling, tidak diblender. Dua setengah jam.

Aku menghabiskan dua piring.

Setelah makan, Bu Ratna menyuruh Sena mencuci piring, dan Sena mengeluh, dan Freya membantunya sambil mengeluh juga, dan aku duduk di ruang depan dengan Pak Sugeng yang bercerita tentang empat cucunya untuk yang keenam kalinya dan aku mendengarkan semuanya.

Sekitar pukul sembilan, aku keluar ke teras.

Sendirian, sebentar, karena aku ingin.

Terasnya masih kecil. Pot di kedua sisi. Lampu kuning di atas pintu yang sepertinya belum pernah diganti dalam sebelas tahun.

Aku berdiri di titik yang sama.

Aku menghitung, karena tentu saja aku menghitung — aku tidak pernah berhenti, aku tidak akan pernah berhenti, dan aku sudah berhenti menganggap itu penyakit.

Jarak antara tempatku berdiri dan tempat dia berdiri pada malam itu: sekitar satu setengah meter.

Waktu yang kuhabiskan untuk menyeberanginya: sepuluh tahun sepuluh bulan.

Pintu terbuka di belakangku.

“Dev?”

“Di sini.”

Freya keluar dengan lap piring masih di tangan dan berdiri di sebelahku.

Kami berdua menatap gang kecil itu, yang gelap kecuali satu lampu di ujung.

“Kamu lagi ngapain?”

“Ngitung.”

“Ngitung apa?”

Aku memasukkan tangan kananku ke saku celana.

Kosong. Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada kertas, tidak ada rencana, tidak ada satu pun kalimat yang sudah dilatih empat puluh kali.

Aku mengeluarkan tanganku dan mengambil tangannya.

Aku yang duluan. Tanpa berpikir. Tanpa satu detik pun.

“Nggak jadi,” kataku.

Freya menoleh.

“Kamu berhenti ngitung?”

“Nggak,” kataku. “Aku cuma nggak butuh hasilnya.”

Dan kami berdiri di teras rumah di Bekasi pada malam bulan Juli, di depan pintu yang terbuka, dengan suara Sena mengeluh dari dapur dan Pak Sugeng tertawa di ruang depan dan bunyi mesin jahit yang sudah lama tidak berbunyi lagi karena akhirnya tidak perlu.

“Masuk yuk,” kata Freya. “Dingin.”

“Iya.”

Dan aku masuk.

Kali ini tanpa diundang, tanpa dipanggil, tanpa menunggu di ambang pintu.

Aku cuma masuk.

— TAMAT —