← Jangan Pergi

Chapter Eight

Secara Objektif

POV: DevanSMA, 2015

Hari Rabu, bulan November, pukul enam lewat dua puluh delapan menit pagi.

Aku ingat waktunya bukan karena romantis. Aku ingat waktunya karena aku selalu ingat waktu, dan karena setelah pukul enam lewat tiga puluh dua menit pada hari itu, cara kerja kepalaku berubah secara permanen dan tidak pernah kembali.

Aku sampai di sekolah pagi karena aku selalu sampai pagi. Tiga kilometer jalan kaki berarti berangkat pukul lima lewat empat puluh lima, yang berarti sampai sebelum satpam membuka gerbang besar, yang berarti aku duduk di pagar samping selama lima belas menit setiap hari sambil melihat jalanan bangun.

Itu bagian hariku yang paling kusuka dan aku tidak pernah bilang pada siapa pun.

Ada alasan kenapa aku menyukainya, dan alasannya tidak puitis.

Di rumah, pagi hari itu berisik. Bukan berisik ramai — berisik sepi, jenis yang lebih buruk. Ibu bangun jam empat untuk pesanan jahitan orang. Kursi kosong di meja makan sudah kosong selama empat tahun dan tidak ada yang memindahkannya. Dan aku, setiap pagi, makan sambil menghitung berapa lama lagi sampai aku boleh keluar tanpa terlihat kabur.

Pagar samping sekolah pukul enam pagi tidak menuntut apa-apa dariku.

Pukul enam lewat dua puluh delapan, sebuah angkot berhenti di seberang.


Freya turun sambil menghitung uang, mengucapkan terima kasih pada supir dengan volume yang lebih besar dari yang dilakukan orang normal, dan menyeberang tanpa melihat kanan kiri, seperti biasa, yang membuatku setiap pagi mempertimbangkan kemungkinan dia mati muda.

Lalu dia sampai di trotoar, dan aku melihat.

Rambutnya tergerai.

Itu saja. Itu seluruh peristiwanya. Rambutnya tidak diikat.

Aku perlu menjelaskan sesuatu supaya ini tidak terdengar bodoh, walaupun kemungkinan besar tetap akan terdengar bodoh.

Selama tiga bulan, setiap hari, tanpa kecuali, rambut Freya diikat. Sekolah kami punya aturan dan Freya adalah anak baru dan anak baru mengikuti aturan dengan ketat karena tidak punya modal untuk melanggar. Aku pernah menghitung — enam puluh tiga hari sekolah, enam puluh tiga ikat rambut, empat warna, semuanya gelap.

Jadi ketika ada variabel yang berubah setelah enam puluh tiga kali pengamatan yang identik, kepalaku tidak punya tempat untuk menaruhnya.

Dia berjalan ke arah gerbang. Angin dari arah jalan. Matahari jam setengah tujuh yang datangnya dari belakang bahu kanannya.

Dan sistemku — sistem yang kubangun sejak hari pertama, yang kurawat selama tiga bulan, yang membuatku sangat bangga, yang isinya satu aturan tunggal yaitu jangan lihat lama-lama — patah tanpa perlawanan sama sekali.

Aku melihat. Terus.

Dia sampai di depanku dan berhenti.

“Pagi.”

“Kamu cantik banget.”


Ada beberapa detik dalam hidup seseorang di mana dia bisa mendengar suaranya sendiri dari luar tubuhnya.

Aku mendengar kalimat itu keluar. Aku mendengar nadanya — datar, biasa, seperti orang melaporkan cuaca. Aku mendengarnya selesai. Aku bahkan sempat mengagumi betapa jelas artikulasinya, mengingat tidak ada satu bagian pun dari otakku yang terlibat dalam produksinya.

Lalu hening.

Freya berdiri di depanku dengan tangan masih memegang tali tas dan mulut sedikit terbuka.

Satu detik. Dua. Tiga.

Dan mesin di kepalaku, yang selama tiga detik itu benar-benar mati total, menyala kembali dan langsung melakukan hal paling buruk yang pernah dilakukan mesin mana pun dalam sejarah:

Mesin itu mencoba memperbaiki keadaan.

“Maksudku, secara objektif,” kataku.

Freya berkedip.

“Secara objektif?”

“Iya.” Dan karena satu kalimat bodoh tidak pernah cukup, aku menambahkan: “Rata-rata orang akan setuju.”

“Rata-rata orang.”

“Iya. Kalau disurvei.”

“Kalau disurvei.

“Sampelnya harus cukup besar,” kataku, karena pada titik itu aku sudah tidak berada di dalam tubuhku sendiri dan tidak punya kendali atas apa pun.

Freya menatapku selama sekitar dua detik.

Lalu dia meledak.

Bukan tertawa kecil. Bukan tertawa sopan. Dia melipat badannya ke depan, memegang perut dengan satu tangan dan pagar dengan tangan satunya, dan mengeluarkan suara yang membuat satpam keluar dari pos untuk memeriksa apakah ada yang terluka.

Dia tertawa selama satu menit lima belas detik. Aku tahu karena aku menghitung, karena menghitung adalah satu-satunya kegiatan yang tersisa bagiku sementara aku berdiri di sana dan ingin dikubur.

“Devan—” Dia mencoba. “Devan, sebentar—” Dia gagal. Dia mulai lagi.

“Udah cukup,” kataku.

“Belum.” Napasnya putus-putus. “Belum. Sebentar.”

“Freya.”

“‘Sampelnya harus cukup besar.’”

“Aku pergi.”

“Jangan!” Dia menangkap lengan bajuku — tidak, dia tidak menangkap. Tangannya bergerak ke arah lenganku dan berhenti sekitar dua sentimeter dari kain, dan dia menariknya kembali, dan kami berdua berpura-pura itu tidak terjadi. “Jangan pergi—jangan, aku—”

Dia menyeka sudut matanya dengan punggung tangan.

“Aku belum pernah ketawa sekeras ini di sekolah ini,” katanya.

Dan itu, entah kenapa, jauh lebih buruk daripada tertawanya.


Gerbang dibuka pukul enam lewat empat puluh lima. Kami masuk beriringan, dengan jarak satu setengah meter yang sangat terhitung.

Di tengah lapangan, seseorang berteriak.

“FREYAAA.”

Anak perempuan berkuncir dua berlari dari arah kantin dengan kecepatan yang tidak aman, berhenti mendadak, dan langsung memegang rambut Freya dengan kedua tangan seperti orang memeriksa kain di pasar.

“Kenapa digerai?”

“Ikatnya putus, Vin.”

“Kenapa nggak minjem?”

“Sama siapa jam setengah enam pagi?”

“Sama gue!”

“Rumah kamu di arah sebaliknya.”

“Ya gue anterin!” Vinka melepaskan rambut itu dan menatapku untuk pertama kalinya, dengan tatapan yang berpindah dari wajahku ke wajah Freya lalu kembali lagi, dua kali, sangat cepat.

“Ini siapa?”

“Devan. Yang ngajarin aku matematika.”

“Ohhh.” Vinka memanjangkan bunyinya sampai empat suku kata. “Yang bikin nilai lo naik dua puluh poin.”

“Iya.”

“Yang tiap sore itu.”

“Iya.”

“Yang tiap sore sampai jam setengah enam.”

“Vinka.”

“Halo, Devan,” kata Vinka, sangat manis, sambil menjabat tanganku dengan kekuatan yang tidak wajar. “Aku Vinka. Sahabatnya. Sejak pertama dia pindah. Aku tahu semuanya.”

“Kamu nggak tahu apa-apa,” kata Freya.

“Aku tahu semuanya,” ulang Vinka, tanpa melepas tanganku.

Aku menarik tanganku dan berjalan ke kelas, dan di belakangku aku mendengar Vinka mulai bicara dengan volume yang disebutnya berbisik.

“Freya.”

“Apa.”

“Muka lo merah.”

“Panas.”

“Ini jam tujuh pagi.”

“Matahari, Vin. Namanya matahari.”

Aku tidak berbalik, tapi aku berjalan sedikit lebih lambat, dan aku tidak akan mengakui alasannya pada siapa pun.

Dia berhenti di depan pintu kelas beberapa menit kemudian, dan Vinka sudah menghilang ke arah yang lain.

“Ikat rambutnya putus,” katanya.

“Oh.”

“Tadi pagi. Pas lagi buru-buru.” Dia menyibakkan rambut ke belakang bahu dengan gerakan yang jelas-jelas terganggu. “Aku ada satu lagi tapi dipakai Sena buat ngiket kabel entah apa. Anak itu.”

“Oh.”

“Aku ngerasa aneh seharian.”

“Kenapa aneh?”

Dia berhenti di depan pintu kelas.

“Karena semua orang lihat,” katanya, dan nadanya berubah, dan aku baru sadar bahwa aku sudah bisa mendengar perbedaannya. “Mereka udah lihat tiap hari. Tapi hari ini beda dikit, terus mereka lihat lebih lama.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku juga lihat,” kataku akhirnya. “Maaf.”

Freya menoleh cepat.

“Nggak,” katanya. “Nggak, kamu beda.”

“Kenapa beda?”

“Karena kamu langsung ngomong.” Dia mendorong pintu kelas dengan bahu. “Yang lain lihat sambil pura-pura nggak. Kamu lihat terus langsung bilang, terus langsung panik, terus ngomongin survei.” Dia melirikku dari balik pintu. “Itu jauh lebih sopan, sebenernya.”

“Itu bukan sopan. Itu kecelakaan.”

“Aku tahu.” Dia masuk. “Makanya.”


Hari itu berjalan seperti biasa untuk tiga puluh tiga orang dan tidak berjalan sama sekali untuk satu orang.

Aku salah menjawab pertanyaan Bu Yanti, yang tidak pernah terjadi, bahkan pertanyaan yang sengaja kusalahkan biasanya kusalahkan dengan sengaja.

Gilang menendang kursiku dari belakang tiga kali.

“Lo kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Lo dari tadi ngeliatin papan tulis kosong.”

“Iya.”

“Papan tulisnya udah dihapus dua puluh menit yang lalu, Dev.”

“Iya.”

Gilang diam beberapa detik, lalu bersandar ke depan sampai dagunya hampir di bahuku.

“Dev, gue tanya serius. Lo lagi jatuh cinta?”

“Nggak.”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Soalnya muka lo tuh kayak orang yang laptopnya mati padahal belom di-save.”

Aku tidak menjawab itu, karena itu adalah deskripsi yang cukup akurat sehingga membantahnya akan terasa tidak jujur.


Sore itu di perpustakaan kami menyelesaikan enam soal, yang merupakan jumlah paling sedikit sejak kami mulai.

Bukan karena dia lambat. Karena aku dua kali menjelaskan langkah yang salah dan harus mengulang, dan itu tidak pernah terjadi sebelumnya, dan dia menyadarinya, dan dia tidak berkomentar sedikit pun, yang jauh lebih buruk daripada kalau dia berkomentar.

Rambutnya masih tergerai. Tentu saja masih tergerai. Ikat rambut tidak tumbuh sendiri dalam satu hari.

Setiap kali dia menunduk untuk menulis, rambutnya jatuh ke depan, dan dia menyibakkannya ke belakang telinga, dan aku menatap soal nomor empat dengan konsentrasi seorang biksu.

Jumlah total waktu yang kuhabiskan menatap soal nomor empat pada sore itu adalah sebelas menit.

Soal nomor empat adalah soal termudah di halaman itu.

“Devan.”

“Hm.”

“Kamu marah nggak sih?”

Aku mengangkat kepala. Satu detik, dan kali ini satu detik itu terasa seperti pelanggaran.

“Kenapa aku marah?”

“Karena aku ketawain kamu tadi pagi.” Dia meletakkan pensilnya. “Aku kepikiran seharian. Aku ketawa keras banget dan itu di depan pos satpam dan aku nggak berhenti-berhenti.”

“Aku nggak marah.”

“Beneran?”

“Beneran.”

“Soalnya kamu dari tadi salah terus.” Dia menunjuk kertas dengan dagu. “Kamu nggak pernah salah.”

Aku menatap kertas itu. Ada dua langkah yang harus kuhapus dan tulis ulang, dan dua-duanya adalah jenis kesalahan yang biasanya kupakai dengan sengaja di kertas ulangan.

“Aku kurang tidur,” kataku.

“Oh.”

“Iya.”

“Ya udah.” Dia mengambil pensilnya lagi. “Tapi kalau kamu marah, bilang ya.”

“Aku nggak marah.”

“Bilang aja.”

“Freya.”

“Hm.”

“Kalau aku marah, aku bakal bilang.” Aku menghapus langkah yang salah. “Aku cuma nggak pernah marah.”

Dia menatapku beberapa saat.

“Itu nggak sehat,” katanya.

“Kata siapa?”

“Kata semua orang.” Dia menunduk ke bukunya lagi. “Nanti kalau kamu meledak, jangan di deket aku ya. Aku takut.”

“Aku nggak akan meledak.”

“Semua orang meledak.”

“Aku nggak.”

Dia tidak membantah. Dia cuma mengangkat bahu, dan meneruskan soal nomor lima, dan sepuluh tahun kemudian kalimatnya ternyata benar dengan cara yang tidak kami berdua bayangkan — karena aku memang tidak pernah meledak, tidak sekali pun, dan justru itulah yang menghancurkan segalanya.

Pukul setengah enam dia pulang. Aku menunggu angkotnya hilang. Aku mulai berjalan.

Dan sepanjang tiga kilometer itu aku menyusun sebuah kesimpulan, dengan sangat rapi, karena itulah yang kulakukan kalau ada sesuatu yang tidak nyaman di dadaku.

Kesimpulannya begini.

Sistemku gagal pagi ini karena ada variabel yang tidak kuperhitungkan. Sistem yang gagal sekali tidak berarti sistemnya salah; berarti asumsinya kurang lengkap. Yang perlu kulakukan bukan mengganti sistem. Yang perlu kulakukan adalah memperketatnya.

Mulai besok: tidak melihat sama sekali sebelum jam tujuh pagi. Tidak duduk di pagar samping. Tidak berdiri di tempat yang menghadap gerbang.

Aku sampai rumah dengan rencana yang sangat baik dan sangat rinci dan sangat masuk akal.

Aku mengikutinya selama empat hari.

Dan pada hari kelima, aku duduk lagi di pagar samping pukul enam lewat dua puluh, dan aku sadar bahwa selama sepuluh tahun ke depan aku akan terus menyusun rencana-rencana yang sangat rapi tentang perempuan itu, dan bahwa tidak satu pun dari rencana itu akan bertahan lebih dari seminggu.