← Jangan Pergi

Chapter Twenty One

Empat Meja

POV: FreyaSekarang

Ide itu ideku, dan aku akan menanggung akibatnya seumur hidup.

Alasannya sederhana: aku berutang pada Gilang.

Kalau laki-laki itu tidak berhenti mengelap meja yang sudah bersih pada pagi hari itu, kalau dia tidak menyebutkan empat hari di tahun 2019, aku mungkin masih akan sopan sampai sekarang.

Jadi aku bilang pada Devan: aku mau traktir temanmu.

“Di mana?”

“Di kedainya.”

“Kedainya punya dia.”

“Ya aku bayar.”

“Freya, itu—”

“Devan, aku tahu itu aneh. Aku tetep mau.”

Dan karena tidak ada tempat lain di Jakarta yang bisa kami datangi berdua tanpa risiko, dan karena kedai itu sepi bahkan pada jam ramai, kami sepakat: Sabtu malam, setelah tutup, pintu dikunci, empat meja kosong dan satu yang dipakai.

Masalahnya baru muncul dua hari sebelumnya, ketika Vinka membaca kalender bersamaku.

“Sabtu malem lo ke mana?”

“Nggak ke mana-mana.”

“Kak.”

“Vin.”

“Kak, gue yang ngatur kalender lo.”

Aku menyerah dalam sebelas detik.

“Gue ikut,” katanya.

“Vin—”

“Gue ikut.”

“Kenapa?”

Vinka menatapku dengan wajah yang, sepuluh tahun ini, cuma dia pakai untuk hal-hal yang sangat serius.

“Karena gue nggak pernah ketemu temennya,” katanya. “Dan gue mau lihat orang kayak apa yang bisa temenan sama Mas Devan lima belas tahun.”


Kedai itu ditutup pukul delapan.

Gilang mengunci pintu, mematikan papan nama, menyalakan lampu yang lebih hangat, dan menaruh empat piring di meja tengah dengan cara orang yang jelas-jelas sudah menyiapkannya sejak pagi.

“Gue masak,” katanya.

“Kamu bisa masak?”

“Gue punya kedai, Freya.”

“Kamu jual kopi.”

“Gue punya dapur.” Dia meletakkan mangkuk. “Dapur itu buat masak. Itu logika dasar.”

Devan duduk dan tidak berkata apa-apa dan aku melihat wajahnya, dan wajahnya adalah wajah orang yang sedang sangat senang dan tidak punya alat untuk menunjukkannya.

Bel pintu berbunyi pukul delapan lewat sepuluh.

Vinka masuk sambil melepas jaket.

Gilang berbalik dari dapur dengan panci di tangan.

Dan berhenti.


Aku mengamati seluruh peristiwa itu dari jarak dua meter dan aku ingin mencatat urutannya dengan tepat, karena urutannya penting.

Gilang berhenti.

Wajahnya berubah — bukan kaget, sesuatu yang lebih lambat dan lebih dalam dari kaget.

Dia meletakkan panci itu dengan sangat hati-hati.

“Vinka Ardhani,” katanya.

Vinka menoleh. Tersenyum sopan. Menyodorkan tangan.

“Halo. Vinka.”

Hening.

“Iya,” kata Gilang. “Gue tahu.”

“Oh.” Vinka menjabat tangannya. “Kita pernah ketemu ya?”

Dan aku melihat sesuatu di wajah laki-laki itu turun dari lantai lima ke lantai dasar dalam waktu kurang dari satu detik.

“Nggak,” kata Gilang. “Nggak pernah.”

Dia kembali ke dapur.

Aku menoleh ke Devan.

Devan sedang menatap punggung sahabatnya dengan ekspresi orang yang baru saja menyaksikan kecelakaan kecil di seberang jalan.

“Dev,” bisikku.

“Hm.”

“Apa barusan?”

“Aku nggak tahu.”

“Kamu bohong.”

“Aku nggak bohong,” katanya, dan aku percaya, karena dia betul-betul terlihat bingung. “Aku beneran nggak tahu.”


Makan malamnya, harus kuakui, enak sekali.

Selama empat puluh menit pertama, semuanya baik-baik saja. Gilang bercerita tentang kedai. Vinka bercerita tentang tiga klien yang tidak boleh disebutkan namanya. Devan bicara sekitar lima kalimat, semuanya di bawah delapan kata.

Ada satu momen di sana yang ingin kusimpan.

Vinka, di tengah cerita, tanpa berpikir, mengambil sendok Gilang untuk menunjuk sesuatu di meja — kebiasaan yang dia lakukan pada semua orang dan yang membuat empat mantan pacarnya gila.

Gilang tidak berkomentar. Dia cuma mengambil sendok baru dari laci di belakangnya, dan meletakkannya di tempat sendok yang lama.

Vinka tidak sadar sama sekali.

Devan sadar. Aku melihat dia melihat.

Dan aku, yang duduk di sana sambil pura-pura mendengarkan cerita tentang klien, mencatat bahwa ada dua laki-laki di ruangan itu yang punya cara yang sama persis untuk menyayangi orang: melakukan sesuatu, tidak mengatakannya, dan memastikan tidak ada yang tahu.

Lalu Vinka bertanya, dengan sepenuhnya polos, sambil mengambil nasi:

“Mas Gilang sekolah di mana dulu?”

Sendok Gilang berhenti.

Aku menutup mataku.

“SMA Empat,” kata Gilang.

“Loh.” Vinka menoleh. “Gue juga.”

“Iya.”

“Angkatan berapa?”

“Sama kayak lo.”

Vinka meletakkan sendoknya.

“Serius?”

“Serius.”

“Kelas berapa?”

“Sebelas IPA dua.” Gilang mengambil air. “Sama kayak lo. Sama kayak Freya. Sama kayak Devan.”

Vinka menatapnya selama sekitar empat detik.

“Sori,” katanya. “Gue—”

“Nggak apa-apa.”

“Nggak, serius, gue—” Dia mengerjap. “Tiga tahun?”

“Dua,” kata Gilang. “Lo pindah kelas pas dua belas.”

“Kamu inget aku pindah kelas.”

“Gue inget banyak hal.”

Dan di sebelahku, Devan mengeluarkan suara yang sangat kecil, karena dia baru saja mendengar kalimatnya sendiri keluar dari mulut orang lain.


Yang membuatnya menghancurkan bukan bahwa Vinka lupa.

Yang membuatnya menghancurkan adalah bahwa Vinka mencoba.

Dia mencoba dengan sangat keras selama sepuluh menit berikutnya. Dia bertanya tentang guru. Dia bertanya tentang kantin. Dia menyebut nama-nama dan Gilang mengiyakan semuanya dengan sabar, dan setiap kali Vinka bilang “oh iya!” dengan nada yang jelas-jelas dipaksakan, ada sesuatu di ruangan itu yang bertambah berat.

Sampai akhirnya Gilang meletakkan sendoknya.

“Vin.”

“Iya?”

“Nggak usah.”

“Nggak, gue inget kok—”

“Lo nggak inget,” katanya, tanpa pahit sedikit pun, yang justru membuatnya lebih buruk. “Nggak apa-apa. Gue nggak ngarep.”

“Mas Gilang—”

“Gue duduk empat meja dari lo selama dua tahun,” kata Gilang. “Gue nggak pernah ngomong sama lo. Sekali pun. Nol.”

Ruangan itu sunyi.

“Kenapa?” tanya Vinka.

Gilang mengangkat bahu.

“Karena tiap kali gue mau, gue mikir dulu,” katanya. “Terus abis mikir, jamnya udah lewat.”

Dan aku, yang sudah sepuluh tahun membaca manusia untuk hidup, melihat ke seberang meja dan menyadari bahwa aku sedang duduk di antara dua laki-laki yang sama-sama menunggu terlalu lama, dan bahwa yang satu beruntung karena ada perempuan yang menghitung sampai empat puluh di kantin, dan yang satu tidak.


Devan bicara untuk pertama kalinya dalam sepuluh menit.

“Lang.”

“Hm.”

“Kamu nggak pernah cerita.”

“Ya nggak lah.”

“Lima belas tahun.”

“Dev, lo juga nggak pernah cerita apa-apa,” kata Gilang, sambil mengambil piring kosong. “Kita berdua sama-sama nggak cerita. Bedanya, cerita lo ada endingnya.”

Dia membawa piring itu ke dapur.

Aku menendang kaki Devan di bawah meja.

Devan berdiri dan mengikuti sahabatnya ke dapur, yang mungkin adalah hal paling berani yang dia lakukan sepanjang minggu itu.

Aku mendengar potongan-potongannya lewat pintu yang tidak tertutup rapat.

Suara Gilang, panjang: “—nggak usah, Dev, serius, gue nggak apa-apa—”

Suara Devan, pendek. Terlalu pendek untuk kutangkap.

Lalu Gilang lagi, dan kali ini lebih keras, dan lebih terkejut: “Lo minta maaf?”

Lalu hening cukup lama.

Lalu Gilang, dengan suara yang sudah berubah sepenuhnya: “Anjir, Dev. Lima belas tahun. Sekarang lo minta maaf.”


Aku dan Vinka duduk berdua di meja tengah kedai kosong.

Dia menatap gelasnya.

“Kak.”

“Hm.”

“Gue jahat banget ya.”

“Nggak.”

“Gue nggak inget orangnya sama sekali, Kak. Nol. Gue liat mukanya dan nggak ada apa-apa di kepala gue.”

“Vin, itu sepuluh tahun lalu dan kamu nggak pernah ngomong sama dia.”

“Ya itu dia.” Vinka menoleh, dan matanya basah, yang membuatku kaget karena Vinka tidak menangis, Vinka membuat orang lain menangis. “Gue nggak pernah ngomong sama dia karena gue nggak tau dia ada.”

Aku memegang tangannya.

“Dan sekarang gue duduk di kedainya, dia masakin gue, dan gue nggak bisa balikin apa-apa,” katanya. “Gue nggak bisa tiba-tiba inget.”

“Vin.”

“Hm.”

“Kamu nggak perlu inget,” kataku. “Kamu cuma perlu ada sekarang.”

Vinka menyeka matanya dengan punggung tangan dan menghela napas panjang.

“Kopinya enak banget sih,” katanya.

“Iya.”

“Nyebelin banget.”

“Iya.”

“Kak.”

“Hm.”

“Kalau gue balik ke sini minggu depan, itu aneh nggak?”

Aku menatap pintu dapur, yang dari baliknya terdengar dua suara laki-laki yang tidak bisa kutangkap kata-katanya, salah satunya jauh lebih pendek dari yang lain.

“Nggak,” kataku. “Itu nggak aneh sama sekali.”


Kami pulang pukul sebelas.

Di mobil, aku menunggu sampai keluar dari gang sebelum bertanya.

“Kalian ngobrol apa di dapur?”

“Nggak banyak.”

“Devan.”

“Aku minta maaf,” katanya.

“Kamu minta maaf ke Gilang?”

“Iya.”

“Buat apa?”

Dia memegang setir dengan dua tangan, dan jalanan di depan kami kosong dan basah.

“Karena aku bawa Vinka ke kedainya tanpa nanya dia dulu,” katanya. “Karena aku bahkan nggak kepikiran buat nanya. Karena selama lima belas tahun aku selalu ngerasa aku yang punya rahasia dan dia yang cerewet, dan ternyata aku salah, dan aku salahnya udah lama banget.”

Aku menatapnya.

“Devan.”

“Hm.”

“Itu bagus banget.”

“Itu telat.”

“Iya,” kataku. “Tapi kamu tetep ngomong.”

Dia tidak menjawab.

Dan aku duduk di kursi penumpang sambil memikirkan seorang laki-laki di kedai kopi sepi yang duduk empat meja dari seseorang selama dua tahun dan tidak pernah bicara sekali pun, karena setiap kali dia mau, dia berpikir dulu, dan setelah berpikir jamnya sudah lewat.

Dan aku memikirkan bahwa aku hampir menjadi Vinka.

Sepuluh tahun. Empat meja. Kalau aku tidak menghitung keras-keras di kantin itu, aku akan jadi perempuan yang tidak pernah tahu ada orang di sana.

Aku meraih tangan Devan dari tuas persneling dan menaruhnya di pangkuanku dan tidak melepaskannya sampai kami sampai.

“Kenapa?” tanyanya.

“Nggak apa-apa.”

“Freya.”

“Aku cuma lagi bersyukur,” kataku. “Diem, nyetir.”


Vinka mengirim pesan pukul satu pagi.

Vinka (01:04): kak

Vinka (01:04): gue balik ke kedai tadi

Aku duduk tegak di kasur.

Aku: KAMU APA

Vinka (01:05): gue turun di ujung gang terus gue balik jalan kaki

Vinka (01:05): dia lagi ngepel

Aku: terus

Vinka (01:07): gue bilang gue ketinggalan jaket

Vinka (01:07): gue nggak bawa jaket

Vinka (01:08): dia tau gue nggak bawa jaket kak. dia liat gue dateng tadi.

Aku: terus dia bilang apa

Titik-titik muncul dan hilang tiga kali.

Vinka (01:11): dia bilang “oh, jaketnya di dalem. duduk dulu.”

Vinka (01:11): terus dia bikinin gue kopi

Vinka (01:12): jam sebelas malem kak. kopi.

Vinka (01:12): gue nggak tidur sampe sekarang gara2 itu dan gue nggak marah sedikitpun

Aku menutup mulutku dengan bantal.

Aku: kalian ngobrol berapa lama

Vinka (01:14): sejam empat puluh

Vinka (01:15): kak

Vinka (01:15): gue nanya dia gue dulu kayak apa

Vinka (01:16): dan dia cerita

Vinka (01:16): dia inget semuanya kak. warna tas gue. gue selalu telat pelajaran kedua. gue pernah nangis di perpus kelas sebelas dan gue sendiri udah lupa itu.

Vinka (01:18): gue nanya kenapa dia inget

Vinka (01:19): dia bilang “ya kan gue liat tiap hari”

Vinka (01:19): KAK

Vinka (01:19): “YA KAN GUE LIAT TIAP HARI”

Aku: vin

Aku: tidur

Vinka (01:21): gue nggak bisa

Vinka (01:22): kak gue jadi mikir. empat tahun gue curhat ke aplikasi jam setengah tiga pagi

Vinka (01:23): dan ada orang di jakarta yang inget warna tas gue dari sepuluh taun lalu

Vinka (01:24): gue tuh bego banget ya

Aku mengetik dan menghapus tiga kali.

Aku: nggak vin

Aku: kamu cuma nanya ke tempat yang salah

Vinka (01:26): iya

Vinka (01:27): gue ke sana lagi rabu

Vinka (01:27): dia belom tau

Aku menaruh ponselku di dada dan menatap langit-langit kamar sambil tersenyum seperti orang bodoh sampai pukul dua pagi.

Devan, di sebelahku, bergerak sedikit dalam tidurnya.

“Kenapa?” gumamnya.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Temenmu bakal dapet masalah hari Rabu.”

Dia bergumam sesuatu yang tidak jelas dan kembali tidur.

Dan aku berbaring di sana, di apartemen di lantai dua puluh dua, dengan seorang laki-laki yang butuh sepuluh tahun untuk pulang tidur di sebelahku dan seorang perempuan di seberang kota yang baru saja menemukan bahwa dia terlihat sepanjang waktu tanpa pernah tahu.

Bulan itu adalah bulan terbaik dalam hidupku.

Aku tidak tahu itu waktu itu.

Orang tidak pernah tahu waktu itu.