Chapter Twenty Five
Rabu
POV: Devan — Sekarang
Airin memanggilku ke ruangannya pukul delapan lewat sepuluh pagi hari Rabu, dua jam sebelum rapat yang dijadwalkan.
Dia menutup pintu, yang tidak pernah dia lakukan.
“Duduk.”
Aku duduk.
Dia tidak duduk. Dia berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat, dan selama sekitar delapan detik dia tidak berkata apa-apa, dan itu sudah cukup untuk memberitahuku sembilan puluh persen isinya.
“Berapa orang?” tanyaku.
Airin menoleh.
“Kamu belum dengar apa-apa.”
“Nggak. Tapi kamu berdiri, kamu nutup pintu, dan kamu manggil aku dua jam sebelum jadwal.” Aku menyandarkan punggung. “Berapa orang, Rin?”
Dia menghela napas, dan akhirnya duduk.
“Lima puluh delapan,” katanya.
Bentuk keputusannya begini.
Magnus mengonsolidasikan riset. Tiga kantor regional — Jakarta, São Paulo, dan satu lagi di Eropa Timur — ditutup, dan seluruh pekerjaan risetnya ditarik ke pusat. Alasan resminya efisiensi koordinasi. Alasan tidak resminya adalah bahwa ada seseorang di suatu ruangan di San Francisco yang membuat model biaya, dan modelnya benar.
Kantor Jakarta punya enam puluh tiga orang. Lima di antaranya dipindah ke pusat. Lima puluh delapan tidak.
Waktu penutupan: empat bulan.
“Kamu tahu kapan?” tanyaku.
“Semalem. Jam dua.”
“Kamu udah tidur sejak itu?”
Airin tertawa satu kali, tanpa senang. “Kamu nanya itu ke aku?”
Aku bertarung selama satu jam empat puluh menit.
Aku ingin mencatat itu bukan untuk membuat diriku terlihat baik. Aku mencatatnya karena aku ingin sangat jelas bahwa aku sudah menggunakan seluruh perangkat yang kumiliki, dan bahwa perangkat itu tidak cukup.
Aku membuka laptopku di ruangan Airin dan menyusun argumen dalam empat puluh menit, dan Airin menyambungkanku ke panggilan pukul sembilan lewat lima puluh, dan aku bicara selama dua puluh dua menit dengan tiga orang di San Francisco yang jam di sana menunjukkan pukul tujuh malam.
Argumenku bukan argumen sentimental. Aku tidak bilang orang-orang ini punya keluarga, walaupun mereka punya, walaupun aku tahu nama anak dari empat di antaranya.
Aku bilang hal yang benar secara teknis:
Bahwa tiga puluh persen dari kasus gagal yang kami temukan tahun ini berasal dari kondisi jaringan yang tidak pernah terjadi di Amerika Utara.
Bahwa insiden sebelas ribu pengguna diam bulan lalu ditemukan dalam empat jam oleh tim yang duduk di kota ini, dan tidak akan ditemukan sama sekali oleh tim yang tidak pernah mengalami koneksi putus di tengah kalimat.
Bahwa memindahkan pekerjaannya ke pusat tidak memindahkan kemampuannya, karena kemampuannya bukan di dalam orangnya — kemampuannya di dalam tempat orangnya tinggal.
Aku bicara dua puluh dua menit dan tidak sekali pun menaikkan suara.
Orang di seberang mendengarkan sampai selesai. Dia bahkan mencatat.
Lalu dia bilang: “That’s the best case anyone’s made. It doesn’t change the number.”
Dan aku duduk di ruangan Airin dengan laptop terbuka dan menyadari sesuatu yang sudah kuketahui sejak umur tiga belas dan yang tetap saja mengejutkanku setiap kali:
Benar tidak selalu cukup.
Rapat umum pukul sebelas.
Airin yang menyampaikan. Dia melakukannya dengan sangat baik, yang berarti dia melakukannya dengan langsung: dia menyebut angkanya di kalimat ketiga, tidak di kalimat kedua puluh.
Ruangan itu tidak bersuara sama sekali.
Aku berdiri di belakang, di dekat pintu, dan aku melihat enam puluh tiga wajah menerima sesuatu.
Anak dari tim data — yang menaruh laporan di mejaku dan bertanya apakah aku oke — menatap lantai.
Seseorang di baris kedua mulai menangis tanpa suara dan orang di sebelahnya menaruh tangan di punggungnya tanpa menoleh.
Dan pada saat sesi tanya jawab dibuka, ada satu pertanyaan yang diajukan, dan pertanyaannya untukku.
“Pak Devan.”
“Ya.”
“Bapak tahu dari kapan?”
Ruangan itu menoleh.
Ada versi jawaban yang aman. Ada tiga, sebenarnya. Aku menyusunnya dalam waktu kurang dari dua detik, karena itu yang selalu terjadi di kepalaku.
“Jam delapan lewat sepuluh pagi ini,” kataku.
“Bapak nggak dilibatin?”
“Nggak.”
“Bapak setuju?”
“Nggak.”
Ruangan itu diam.
“Saya berdebat satu jam empat puluh menit tadi pagi dan saya kalah,” kataku. “Saya bisa kirim ke kalian argumen yang saya pakai kalau kalian mau baca. Saya nggak bisa kasih hasil yang beda.”
Aku berdiri di belakang ruangan itu dengan enam puluh tiga orang menatapku dan tidak punya apa pun lagi untuk diberikan.
“Dan saya minta maaf,” kataku.
Aku menghabiskan sisa hari itu di meja, membalas pesan, menemui orang satu per satu.
Sembilan orang datang ke mejaku. Aku bicara dengan semuanya. Empat di antaranya menangis dan aku tidak tahu harus berbuat apa dan aku cuma diam sampai mereka selesai.
Yang paling sulit bukan yang menangis.
Yang paling sulit adalah seorang perempuan dari tim infrastruktur, umurnya sekitar tiga puluh lima, yang duduk di kursi di sebelah mejaku dengan sangat tenang dan bertanya satu hal:
“Pak, saya boleh minta tolong dijelasin logikanya?”
“Logika apa?”
“Keputusannya.” Dia meletakkan buku catatan di pahanya. “Bukan buat protes. Saya cuma nggak bisa tidur kalau ada sesuatu yang saya nggak ngerti kenapa.”
Dan aku duduk di mejaku selama dua puluh menit dan menjelaskan model biayanya kepada perempuan yang baru saja kehilangan pekerjaannya, dengan angka, dengan asumsi, dengan bagian mana yang menurutku salah dan kenapa aku kalah.
Dia mencatat semuanya.
Waktu aku selesai, dia menutup bukunya.
“Oke,” katanya. “Makasih, Pak.”
“Bu Rina—”
“Saya beneran cuma butuh itu.” Dia berdiri. “Bapak orang pertama hari ini yang nggak ngomong ‘ini bukan tentang performa kalian’.”
“Itu memang bukan tentang performa kalian.”
“Saya tahu, Pak,” katanya. “Tapi tujuh orang udah bilang itu ke saya hari ini dan nggak ada satu pun yang kasih angkanya.”
Dia pergi.
Aku duduk di mejaku dan menyadari bahwa satu-satunya hal yang bisa kuberikan pada orang-orang ini adalah kejujuran tentang sesuatu yang tidak bisa kuubah, dan bahwa itu ternyata bukan tidak berguna.
Aku akan mengingat pelajaran itu selama sekitar sembilan hari, dan lalu aku akan melupakannya sepenuhnya pada orang yang paling penting.
Anak dari tim data datang paling terakhir, pukul enam.
“Mas.”
“Iya.”
“Saya boleh minta tolong?”
Aku mengangkat kepala.
“Boleh.”
“Kalau nanti saya lamar kerja lain,” katanya, “Mas mau jadi referensi saya?”
“Iya.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Mas nggak nanya dulu saya mau lamar ke mana?”
“Nggak,” kataku.
Dia berdiri di sana beberapa detik, lalu mengangguk cepat dan pergi, dan aku menatap layar yang mati selama sekitar satu menit.
Aku sampai di apartemen Freya pukul sembilan.
Aku memakai kunci itu untuk pertama kalinya.
Aku berdiri di depan pintu selama sekitar empat detik dengan kunci di tangan, dan aku memikirkan bahwa mengetuk akan lebih sopan, dan lalu aku memikirkan apa yang dikatakan Freya di dapur pada hari Minggu pagi, dan aku memasukkan kuncinya.
Dia sedang di sofa dengan laptop. Dia menoleh waktu pintu terbuka.
Dan dia tidak berkata apa-apa tentang kunci itu.
Dia cuma melihat wajahku dan menutup laptopnya dan berkata:
“Sini.”
Aku menceritakan semuanya di lantai dapur.
Angkanya. Argumen yang kalah. Sembilan orang di mejaku. Anak dari tim data.
Aku bercerita selama sekitar dua puluh menit, yang untukku setara dengan pidato.
Freya tidak memotong sekali pun.
“Empat bulan,” katanya, setelah aku selesai.
“Empat bulan.”
“Dan lima puluh delapan orang.”
“Iya.”
Dia menatap lututnya sendiri.
“Kamu tahu nggak,” katanya, “kamu cerita dua puluh menit dan kamu nggak sekali pun nyebut kamu.”
“Aku nggak kena,” kataku. “Aku bukan headcount kantor ini. Aku dari pusat.”
“Aku tahu.” Dia menoleh. “Terus kamu gimana?”
Dan di sinilah aku ingin sangat, sangat teliti, karena bagian ini yang akan diperiksa ulang oleh kami berdua berkali-kali dalam beberapa minggu ke depan, dan aku ingin catatannya benar.
“Belum ada apa-apa,” kataku.
Itu benar.
Pada pukul sembilan lewat dua puluh lima malam hari Rabu itu, belum ada apa-apa. Tidak ada tawaran. Tidak ada percakapan. Tidak ada satu pun kalimat yang diucapkan siapa pun kepadaku tentang masa depanku.
Aku memeriksanya di kepalaku sebelum menjawab, dan jawabannya benar, dan aku menjawab dengan benar.
Aku ingin itu tercatat, karena semua yang terjadi setelahnya tidak akan berlaku surut ke malam itu.
Malam itu aku jujur.
“Oke,” kata Freya.
Kami tidur pukul dua belas.
Sebelum itu, di kamar mandi, dia berdiri di ambang pintu sambil aku menyikat gigi.
“Dev.”
“Hm.”
“Lima puluh delapan orang.”
“Iya.”
“Kamu tahu semua namanya?”
Dia menyandar ke kusen.
“Iya.”
“Semuanya?”
“Enam puluh tiga,” katanya. “Ada dua yang aku nggak yakin ejaannya.”
Aku meludah dan berkumur dan berbalik.
“Devan.”
“Hm.”
“Kamu nggak boleh nanggung ini sendirian.”
Dia menatapku dari ambang pintu.
“Aku nggak nanggung apa-apa,” katanya. “Bukan aku yang kehilangan kerjaan.”
“Itu bukan yang aku maksud.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
Dan dia berdiri di sana selama beberapa detik dengan tangan di saku, di ambang pintu kamar mandi, seperti biasa, seperti selalu.
“Aku tahu, Freya,” katanya lagi, lebih pelan.
Lalu dia berbalik dan pergi ke kamar.
Sekitar pukul dua belas kurang sepuluh, di kamar yang gelap, dia mengulurkan tangan dan mengambil tanganku.
Dan aku memegangnya.
Dan sekitar empat puluh detik kemudian, aku melepaskannya untuk berbalik ke sisi lain.
Ini hal yang normal. Orang melepaskan tangan untuk berbalik. Itu terjadi setiap malam di setiap kamar di dunia.
Yang tidak normal — dan yang aku sendiri tidak sadari sampai berminggu-minggu kemudian, waktu aku memutar ulang semuanya untuk mencari titik awalnya — adalah bahwa aku melepaskannya sebelum aku perlu.
Sekitar sepersekian detik lebih cepat. Mungkin dua per sepuluh.
Tidak ada manusia yang bisa mengukur itu.
Freya bisa.
“Dev.”
“Hm.”
“Kamu nggak apa-apa?”
“Aku capek.”
“Oke.”
Dan dia tidak mengejar, dan aku bersyukur, dan bersyukur itu sendiri seharusnya sudah cukup jadi peringatan.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu reading
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur