← Jangan Pergi

Chapter Twenty Three

Empat Belas Detik

POV: DevanSekarang

Fotonya muncul pada hari Selasa pukul sebelas lewat empat puluh malam.

Aku mengetahuinya pukul sebelas lewat empat puluh dua, karena Vinka menelepon, dan Vinka tidak pernah menelepon.

“Mas.”

“Iya.”

“Buka Instagram.”

“Aku nggak punya Instagram.”

“MAS—” Suara di seberang menarik napas. “Oke. Oke. Gue kirim link.”


Akun gosip. Empat ratus ribu pengikut. Satu unggahan, sembilan menit lalu, sudah dua ribu komentar.

Isinya potongan video, empat belas detik, diambil dari kejauhan dan dari ketinggian, jelas-jelas dari lantai di atas.

Basement kantor. Malam Kamis dua minggu lalu.

Seorang perempuan berjalan dari lift, berhenti di tengah, dan mengangkat kedua tangannya.

Seorang laki-laki menyeberang lima meter terakhir dan mengangkatnya.

Empat belas detik. Wajahnya tidak jelas — kualitas rekamannya buruk dan jaraknya sekitar dua puluh meter — tapi rambutnya, dan cara berjalannya, dan tas yang dia bawa hari itu jelas sekali.

Wajahku sama sekali tidak terlihat. Aku membelakangi kamera hampir sepanjang klip.

Judulnya: Freya Anindita digendong pria misterius di basement gedung Sudirman. Siapa dia?

Aku membaca seratus komentar pertama.

Aku tidak akan menceritakan isinya.

Yang perlu diketahui cuma satu: sekitar tiga puluh di antaranya membahas perempuan itu, dan sekitar tujuh puluh membahas laki-laki yang tidak kelihatan wajahnya, dan dari tujuh puluh itu, mayoritasnya adalah tebakan tentang siapa yang cukup kaya, cukup terkenal, atau cukup berkuasa untuk pantas menggendongnya.

Tidak ada satu pun yang menebak orang biasa.

Itu, kalau kupikir sekarang, adalah bagian yang paling menyakitkan dari seluruh malam itu — bukan untukku, tapi untuk dia. Bahwa empat ratus ribu orang menonton empat belas detik hidupnya dan menyimpulkan bahwa siapa pun yang memegangnya pasti sedang membeli sesuatu.


Airin menelepon pukul dua belas kurang lima.

“Kamu udah lihat?”

“Udah.”

“Itu kamu?”

Aku tidak menjawab.

“Dev, ini bukan pertanyaan HR,” katanya. “Ini pertanyaan supaya aku tahu apakah aku perlu bangunin tim komunikasi jam dua belas malem.”

“Itu aku.”

Jeda tiga detik di seberang.

“Oke,” kata Airin. “Wajah kamu nggak kelihatan?”

“Nggak.”

“Ada berapa orang di kantor yang tahu?”

“Nol.”

“Nol?”

“Nol, kecuali manajernya.”

“Bagus.” Suara ketikan. “Aku nggak akan bikin apa-apa malam ini. Kalau ada yang nanya besok, aku bilang nggak tahu, karena aku memang nggak tahu apa-apa yang perlu aku sampaikan ke siapa pun.”

“Airin.”

“Ya.”

“Kamu nggak nanya apa-apa.”

“Aku nanya satu,” katanya. “Dan kamu jawab. Sisanya bukan urusan aku.”

Dia menutup telepon, dan aku duduk di tepi kasur dengan perasaan yang aneh dan tidak nyaman, yaitu perasaan telah diperlakukan dengan lebih baik daripada yang kuperkirakan oleh seseorang yang tidak berutang apa pun padaku.


Aku menelepon Freya. Tidak diangkat.

Aku menelepon lagi. Tidak diangkat.

Aku sudah berdiri dan mengambil kunci mobil waktu pesan masuk.

Freya (23:51): aku di telepon sama agensi
Freya (23:51): jangan ke sini dulu
Freya (23:52): ada dua orang di lobi bawah

Aku menaruh kunci mobil kembali di meja.

Aku duduk di tepi kasur di kos dengan cat yang mengelupas di satu sudut, pada pukul sebelas lewat lima puluh dua malam, dan melakukan hal yang paling kubisa:

Aku mulai menyusun.


Pukul dua belas lewat dua puluh, aku sudah punya empat opsi tertulis.

Opsi A. Diam. Tidak ada pernyataan apa pun. Berdasarkan pola akun-akun semacam ini, siklus perhatiannya sekitar sembilan sampai empat belas hari kalau tidak ada bahan baru.

Opsi B. Pernyataan dari agensi. Netral. “Urusan pribadi.” Ini menutup spekulasi tapi mengonfirmasi bahwa ada sesuatu.

Opsi C. Magnus mengeluarkan pernyataan internal ke tim untuk mencegah kebocoran dari dalam. Ini perlu, terlepas dari opsi lain.

Opsi D.

Aku menulis opsi D pada pukul dua belas lewat empat puluh dua.

Aku mundur dari proyek APAC. Airin ambil alih hubungan dengan talent. Tidak ada lagi alasan aku dan dia berada di gedung yang sama. Dalam tiga minggu, foto itu jadi tidak berarti, karena tidak ada apa pun yang mendukungnya.

Aku menatap opsi D selama sekitar delapan menit.

Lalu aku mulai menghitung berapa lama transisi itu akan makan waktu, siapa yang bisa menggantikan bagian mana, dan apakah aku bisa memindahkan basis kerjaku ke kantor lain tanpa memicu pertanyaan.

Aku sudah sampai di bagian ketiga waktu ponselku bergetar.

Freya (00:58): udah selesai
Freya (00:58): dua orang di lobi udah pulang
Freya (00:59): dev
Freya (00:59): kamu lagi ngapain

Aku menatap layar.

Lalu aku menatap catatanku.

Empat opsi. Enam belas baris. Satu di antaranya berisi rencana untuk menghilang dari hidupnya, ditulis dengan rapi, dalam waktu delapan belas menit, tanpa sekali pun terpikir untuk menanyakan pendapatnya.

Aku: aku ke sana


Aku sampai pukul satu lewat empat puluh, lewat pintu servis di belakang, yang kuncinya dipegang petugas malam yang sudah mengenali mobilku.

Freya membuka pintu tanpa bicara.

Dia sudah menangis dan sudah berhenti, dan wajahnya adalah wajah orang yang telah menghabiskan dua jam menjadi profesional di telepon.

“Kamu udah makan?” tanyanya.

“Freya.”

“Aku serius, kamu udah makan?”

“Belum.”

“Ya udah.” Dia berjalan ke dapur. “Ada mi.”

Dan itu — perempuan itu, jam dua pagi, dengan empat ratus ribu orang membicarakan empat belas detik hidupnya, berjalan ke dapur untuk merebus mi karena aku belum makan.

Aku berdiri di ruang tengah dan tidak bisa bergerak selama beberapa detik.


Kami makan mi instan di lantai dapur, punggung ke lemari bawah, seperti biasa.

“Agensi mau aku diem,” katanya. “Nggak ada pernyataan. Tunggu lewat.”

“Itu benar.”

“Kamu setuju?”

“Aku hitung siklusnya sembilan sampai empat belas hari.”

“Kamu hitung?”

“Aku hitung.”

Dia tertawa satu kali, lelah. “Tentu aja kamu hitung.”

Kami makan beberapa suap.

“Dev.”

“Hm.”

“Kamu tadi lama banget nggak bales.”

“Iya.”

“Kamu ngapain?”

Dan di sinilah aku punya pilihan, dan aku sangat sadar bahwa aku punya pilihan, dan aku ingin mencatat bahwa aku hampir memilih yang salah.

Aku hampir bilang “nggak ngapa-ngapain”.

Kalimatnya sudah setengah jalan. Aku sudah merasakannya. Dan bukan karena aku ingin berbohong — aku tidak pernah berbohong — tapi karena menceritakan opsi D berarti menaruh sesuatu yang berat di pangkuan orang yang sudah menangis dua jam.

Aku memikirkan Bu Ratna. Kamu cuma anak yang nggak pernah dibuka.

“Aku bikin empat opsi,” kataku.

“Opsi apa?”

“Buat nanganin ini.” Aku menaruh mangkukku. “Tiga masuk akal.”

“Yang keempat?”

“Yang keempat aku mundur dari proyek.”

Freya berhenti mengunyah.

“Apa?”

“Aku mundur dari APAC. Airin ambil alih. Aku pindah basis.” Aku menatap lantai. “Dalam tiga minggu nggak ada yang bisa nyambungin aku sama kamu, dan fotonya jadi nggak ada artinya.”

Dia meletakkan mangkuknya di lantai dengan bunyi kecil.

“Devan.”

“Aku nggak ngelakuin,” kataku cepat. “Aku cuma nulis.”

“Kamu nulis sampai mana?”

Aku tidak menjawab.

“Devan.”

“Sampai bagian siapa yang gantiin aku di tim mana,” kataku.

Dapur itu sunyi.


“Berapa lama?” tanyanya.

“Apa?”

“Dari kamu buka fotonya sampai kamu nulis opsi empat.”

Aku menghitung mundur.

“Enam puluh dua menit,” kataku.

Dia menutup matanya.

“Enam puluh dua menit,” ulangnya. “Sejam. Kamu butuh sejam buat sampai ke rencana ninggalin aku.”

“Itu bukan—”

“Itu persis itu, Dev.” Suaranya tidak marah. Itu yang membuatnya buruk. “Ganti kata-katanya sesukamu. Bentuknya sama.”

Aku memegang mangkuk kosong dengan dua tangan.

“Aku nggak ngelakuin,” kataku lagi.

“Aku tahu.”

“Aku cerita ke kamu.”

“Aku tahu.” Dia membuka matanya. “Dan itu bedanya, dan itu sebabnya aku nggak lagi marah sekarang. Kamu ngerti nggak?”

“Nggak sepenuhnya.”

“Sepuluh tahun lalu kamu juga bikin opsi,” katanya. “Kamu bikin di kepala kamu, di teras rumahku, dalam sekitar tiga detik. Terus kamu jalanin. Aku nggak pernah lihat opsi satu, dua, tiga.”

Aku merasakan sesuatu di tenggorokan.

“Malam ini kamu bikin empat opsi, terus kamu bawa ke sini, terus kamu buka semuanya di lantai dapur.” Dia mengangkat bahu, dan matanya basah lagi. “Itu kemajuan gila-gilaan, Devan. Aku bangga sampai rasanya aneh.”

“Tapi?”

“Tapi enam puluh dua menit,” katanya.


Aku tidak menjawab, karena tidak ada yang bisa dijawab.

Dan Freya, setelah beberapa detik, melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Dia merangkak dua langkah ke arahku di lantai dapur dan memelukku.

Bukan pelukan yang biasa. Bukan yang di dapur pagi itu, bukan yang di tangga darurat. Ini pelukan yang lengannya melingkar terlalu erat di leherku dan wajahnya masuk ke bahuku dan seluruh tubuhnya menekan seperti orang yang berpegangan pada sesuatu di air.

Dan aku merasakan dia gemetar.

“Freya—”

“Sebentar.”

“Kamu—”

“Devan, sebentar.”

Aku memeluknya balik — dan aku perlu jujur lagi: tanganku naik setengah jalan dan berhenti, seperti biasa, dan dia menariknya sendiri lagi, seperti biasa — dan kami duduk di lantai dapur pukul dua lewat dua puluh pagi seperti itu selama entah berapa lama.

“Aku takut,” katanya, ke bahuku.

“Sama fotonya?”

“Bukan.”

Aku menunggu.

“Aku takut sama enam puluh dua menit,” katanya.


Kami menyelesaikannya pukul tiga pagi, di lantai dapur, dengan mi yang sudah dingin dan tanpa satu pun telepon ke siapa pun.

Keputusannya: opsi A. Diam. Tidak ada pernyataan.

Dan satu hal tambahan yang bukan idenya dan bukan ideku, tapi muncul di antara kami dan aku tidak bisa mengingat siapa yang mengucapkannya duluan.

“Aturan baru,” kata Freya.

“Apa?”

“Kalau kamu bikin opsi yang isinya kamu pergi,” katanya, “kamu punya waktu dua puluh empat jam buat cerita ke aku.”

Aku memikirkannya.

“Kenapa dua puluh empat?”

“Karena kamu nggak akan bisa nol.” Dia mengangkat bahu. “Aku realistis. Kepala kamu bakal tetep nulis. Aku nggak minta kamu berhenti mikir, Dev, aku nggak akan pernah minta itu.”

“Terus kamu minta apa?”

“Aku minta lihat kertasnya,” katanya. “Dua puluh empat jam. Sebelum kamu ngerjain apa-apa.”

Aku duduk di lantai dapur itu dan memikirkannya dengan serius, seperti aku memikirkan semua hal.

“Oke,” kataku.

“Kamu janji?”

“Aku janji.”

Dan aku betul-betul bersungguh-sungguh.

Aku ingin mencatat itu dengan sangat jelas, karena delapan minggu kemudian aku akan melanggar janji itu, dan aku akan melanggarnya bukan karena aku lupa.

Aku akan melanggarnya karena aku menghitung — dengan hati-hati, dengan sabar, dengan seluruh kemampuan yang membuatku berguna bagi tujuh ratus orang — dan aku akan sampai pada kesimpulan bahwa memberitahunya akan menyakitinya lebih dari tidak memberitahunya.

Dan hitungan itu akan salah, dan itu akan jadi satu-satunya hitungan penting yang pernah kubuat salah.