Chapter One
Punggung Itu
POV: Freya — Sekarang
Call time-ku hari itu jam empat pagi, dan pada jam sebelas siang aku sudah berdiri lebih lama daripada yang bisa dibayangkan orang yang melihat hasil akhirnya nanti.
Orang mengira pekerjaan ini soal cantik. Bukan. Ini soal berdiri. Berdiri di bawah lampu yang membuat udara di sekitar kepalamu naik tiga derajat, dengan sepatu yang dipilih karena bentuknya, bukan karena kakimu. Berdiri sambil seseorang di balik monitor bilang “sedikit lagi ya, Kak” untuk yang kesembilan kalinya. Yang dilatih bertahun-tahun bukan wajahku. Punggungku.
Studio ini disewa penuh selama tiga hari. Kawasan Pancoran, gudang lama yang dicat hitam, langit-langit setinggi delapan meter, dan sekitar empat puluh orang yang semuanya ada di sini karena satu perusahaan Amerika memutuskan untuk membuka kantor di Jakarta.
Magnus AI. Aku sudah mengucapkan namanya tujuh puluh kali sejak subuh, dalam empat versi kalimat, dua bahasa, dan tiga tingkat kehangatan senyum.
“Kak Freya, dagunya turun dikit.”
Aku menurunkan dagu.
“Nah. Nah. Tahan.”
Aku menahan.
Reza berdiri di belakang kamera, tangan di dagu, alis bertaut. Aku tahu ekspresi itu. Artinya bukan aku yang salah. Artinya dia sendiri belum tahu apa yang dia mau, dan dia sedang mencari di wajahku.
Kami pernah dekat, dulu, selama tujuh bulan yang tidak pernah kami beri nama. Sekarang dia salah satu dari sedikit orang di industri ini yang tidak pernah membuatku merasa jadi properti. Itu penghargaan yang lebih besar daripada kedengarannya.
“Ambil lima menit,” katanya akhirnya. “Aku mau ganti lensa.”
Empat puluh orang bergerak sekaligus. Aku turun dari mark, dan Vinka sudah ada di sana dengan botol air dan sedotan yang dibengkokkan supaya lipstikku tidak rusak.
“Minum,” katanya. “Jangan banyak-banyak, nanti kembung, gaunnya ketat.”
“Kamu tuh manajer atau ibu asrama.”
“Dua-duanya, dan gaji gue cuma satu.” Dia menyodorkan ponselnya ke wajahku. “Eh, serius, lihat ini bentar.”
Di layarnya, percakapan panjang. Sangat panjang. Aku sempat melihat bagian atasnya sebelum dia menggulirkannya.
“Vin, ini jam berapa kamu ngetik?”
“Setengah tiga pagi.”
“Sama siapa?”
“Sama Magnus.” Dia bilang itu seperti menyebut nama teman. “Gue tanya, menurut lo, kalau cowok baca chat jam sebelas malam terus baru bales jam tujuh pagi, itu artinya apa.”
“Terus dijawab apa?”
“Dijawab bahwa ada banyak kemungkinan dan gue sebaiknya berkomunikasi secara terbuka.” Vinka mengunci ponselnya dengan wajah tersinggung. “Sopan banget. Gue benci.”
“Kamu curhat ke aplikasi.”
“Gue curhat ke aplikasi yang nggak pernah nge-judge dan nggak pernah bocorin ke grup.” Dia mengangkat bahu. “Lo tahu berapa banyak orang di ruangan ini yang bakal jual cerita gue seharga makan siang?”
Aku tidak menjawab, karena jawabannya tidak nol.
“Lagian,” lanjut Vinka, sambil membetulkan satu helai rambut di pelipisku dengan gerakan yang sudah otomatis setelah sepuluh tahun, “hari ini gue lagi cinta-cintanya sama Magnus. Klien kita. Bayar kita. Panjang umur Magnus.”
“Kamu nggak konsisten.”
“Gue manajer. Konsistensi itu tugas lo.”
Lima menit jadi dua puluh menit.
Awalnya tidak jelas kenapa. Aku cuma melihat kepala-kepala berkumpul di sekitar meja monitor, lalu suara seseorang berkata “loh” dengan nada yang tidak enak, lalu tiga orang berjalan cepat ke arah yang sama, yang di lokasi syuting selalu berarti sesuatu sedang rusak.
Aku pindah ke kursi lipat di sisi kiri set dan duduk dengan cara yang diajarkan sejak umur sembilan belas: punggung tegak, gaun tidak kusut, seolah duduk itu bagian dari pose.
“Layarnya mati,” lapor Vinka, kembali dari kerumunan. “Yang buat lihat hasil. Yang mahal itu. Katanya file-nya nggak mau kebaca.”
“Jadi kita nunggu.”
“Kita nunggu. Bagus. Gue ambilin lo kurma.”
Aku tidak makan kurmanya. Aku duduk saja, memandangi orang-orang panik di seberang ruangan dengan cara orang yang sudah sepuluh tahun tahu bahwa kepanikan di lokasi syuting selalu selesai sendiri.
Lalu ada seseorang yang tidak panik.
Dia datang dari arah pintu samping, dari sisi ruangan tempat orang-orang kantor berkumpul — bagian penonton, bagian yang tidak punya kerjaan, bagian yang cuma datang karena ini kampanye besar dan mereka ingin bilang pernah ada di sana. Kaus polos abu-abu. Celana biasa. Sepatu yang sudah lama tidak dipedulikan.
Dia berjalan ke meja monitor, dan tanpa bicara dengan siapa pun, jongkok.
Bukan membungkuk. Jongkok, sepenuhnya, sampai lututnya lebih tinggi dari bahunya, di depan tumpukan kabel, dengan punggung membulat dan kepala menunduk.
Dan seluruh tubuhku berhenti.
Bukan pikiranku. Pikiranku masih di belakang, masih di studio, masih menghitung berapa lama lagi sampai gaun ini boleh dilepas. Yang berhenti duluan adalah sesuatu yang lebih tua dari pikiran.
Karena aku pernah menghabiskan delapan bulan hidupku melihat punggung itu dari jarak satu meja perpustakaan.
Tidak mungkin.
Aku tidak bergerak. Aku tidak berdiri, tidak memanggil, tidak melakukan apa pun kecuali menatap seorang laki-laki jongkok di antara kabel dari jarak dua belas meter dan mencoba membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku salah.
Ada ratusan laki-laki di kota ini yang jongkok seperti itu.
Lalu dia mengetuk permukaan meja. Dua kali, pelan, dengan buku jari, sebelum menyentuh apa pun.
Dua kali. Selalu dua kali. Sebelum mulai menulis, sebelum membalik halaman, sebelum menjawab pertanyaan yang butuh dipikir dulu. Kebiasaan yang dulu aku tiru diam-diam sampai jadi kebiasaanku sendiri selama satu semester, sampai aku sadar aku melakukannya dan berhenti karena malu.
Sesuatu di dadaku turun sepuluh lantai sekaligus.
Ada satu kemampuan yang kubanggakan lebih dari apa pun dalam pekerjaan ini, dan itu bukan soal wajah. Aku bisa membaca ruangan. Aku tahu siapa yang akan menolak sebelum dia sendiri tahu. Aku tahu, dari cara seseorang meletakkan gelas, apakah negosiasi hari itu akan selesai atau tidak. Aku dibayar mahal sebagian karena itu, walaupun tidak ada satu pun kontrak yang menuliskannya.
Dan seumur hidupku hanya ada satu orang yang tidak pernah bisa kubaca sama sekali.
Bukan karena dia menyembunyikan sesuatu. Justru sebaliknya — karena tidak ada yang ditutupi, dan tetap saja tidak ada yang bisa kuambil. Seperti membaca halaman yang tulisannya jelas, hurufnya besar, dan bahasanya tidak kukenal.
Aku pernah menghabiskan delapan bulan mencoba, lalu satu malam di teras rumah, lalu sepuluh tahun berhenti mencoba.
“Kak?” Vinka menoleh. “Lo pucat.”
“Panas,” kataku.
“Emang panas. Gue ambilin kipas.”
Dia pergi. Aku bersyukur.
Butuh tiga menit sebelum laki-laki itu berdiri.
Tiga menit di mana aku tidak melakukan apa-apa selain memastikan napasku terlihat normal, karena ada empat puluh orang di ruangan ini dan tiga di antaranya sedang memotret di belakang layar untuk keperluan dokumentasi.
Tiga menit di mana aku menyusun kalimat pertama. Lalu membuangnya. Lalu menyusun lagi.
Halo. Terlalu kecil.
Devan? Terlalu jelas.
Kamu di Jakarta? Terlalu — apa hakku bertanya.
Lalu dia berdiri, sambil mengusap telapak tangannya ke celana, dan berbalik setengah untuk bicara pada orang di sebelahnya.
Dan aku melihat wajahnya.
Sepuluh tahun tidak mengubah banyak. Itu justru yang mengejutkan. Bahunya lebih lebar, rahangnya lebih jelas, ada garis di dahi yang dulu tidak ada. Tapi cara dia menunduk sedikit saat mendengarkan orang, seolah harus mendekatkan telinga ke sumber suara, masih sama persis dengan anak laki-laki yang duduk di pojok kelas dan tidak pernah mengangkat tangan.
Dia bicara singkat. Tiga kalimat, mungkin empat. Orang di sebelahnya mengangguk cepat dan langsung mengetik sesuatu. Lalu layar besar itu menyala.
Ada suara lega kolektif di seberang ruangan. Seseorang bertepuk tangan sekali, dengan nada bercanda.
Dan laki-laki berkaus abu-abu itu tidak menikmatinya sedetik pun. Dia sudah berjalan pergi sebelum tepuk tangan itu selesai, kembali ke sisi ruangan tempat dia datang, tangan di saku, kepala lurus ke depan.
Dia tidak melihat ke arahku sama sekali.
Empat puluh orang di ruangan ini. Aku berdiri di bawah lampu selama enam jam. Wajahku ada di dinding gedung setinggi dua puluh lantai di tiga kota, dan hari ini seluruh ruangan ini ada karena aku.
Dia tidak melihat ke arahku sama sekali.
Dan hal pertama yang kupikirkan — hal pertama, sebelum semua yang lain — adalah: oh. Ternyata masih.
“Vin.”
“Hm.”
“Yang tadi benerin monitor. Yang kaus abu-abu.”
Vinka mengikuti arah pandanganku, tapi laki-laki itu sudah tidak ada. “Yang mana?”
“Udah pergi.”
“Kenapa emang? Dia ngapa-ngapain?”
“Nggak.” Aku menggeser botol air di pangkuanku dua sentimeter ke kiri, untuk melakukan sesuatu dengan tanganku. “Dia orang Magnus?”
“Kayaknya. Orang Magnus rombongan kan hari ini semua dateng, mau lihat-lihat.” Vinka mengangkat bahu. “Yang bagian teknis kali. Yang benerin-benerin gitu.”
“Yang benerin-benerin.”
“Iya. IT.” Vinka mengucapkan dua huruf itu dengan nada yang dipakai orang untuk menyebut profesi yang mereka tidak pernah pikirkan lebih dari dua detik. “Untung ada ya. Coba nggak ada, kita nunggu sampai malem.”
Aku mengangguk.
Dan di sinilah bagian yang sampai sekarang tidak bisa kumaafkan dari diriku sendiri.
Karena selama beberapa detik — bukan lama, tapi ada, dan aku merasakannya, dan aku tahu persis bentuknya — aku merasa kasihan.
Bukan kasihan yang jahat. Kasihan yang jauh lebih memalukan dari itu. Kasihan yang isinya: oh, jadi kamu di sini. Di ruangan yang sama, tapi di sisi yang lain. Yang jongkok di antara kabel supaya empat puluh orang bisa lanjut kerja, lalu pergi sebelum ada yang sempat berterima kasih.
Aku memikirkan gaun yang sedang kupakai, yang harganya lebih mahal dari mobil pertama ibuku. Aku memikirkan mobil yang menungguku di basement dengan mesin menyala supaya AC-nya tetap dingin.
Dan aku merasa kasihan pada laki-laki yang sepuluh tahun lalu bilang padaku, dengan suara paling tenang di dunia, bahwa aku harus pergi dan tidak usah memikirkan dia.
Aku menutup mata sebentar.
“Kak?”
“Aku nggak apa-apa.”
“Lo kelihatan kayak lagi mau ngomong sesuatu terus lo telen lagi.”
“Itu deskripsi pekerjaanku, Vin.”
Vinka tertawa. “Bener juga.”
Syuting lanjut pukul dua belas lewat sepuluh.
Aku kembali ke mark. Reza mengangkat tangan. Lampu naik. Dan aku melakukan apa yang selalu kulakukan: menaruh wajahku di tempat yang seharusnya, dan meninggalkan sisanya di kursi lipat.
Ini kemampuan yang kubangun dengan susah payah. Aku bisa memisahkan diriku jadi dua bagian dan mengirim satu bagian bekerja. Sudah lama sekali tidak ada yang bisa merusaknya.
Di frame keenam, Reza menurunkan kamera.
“Freya.”
“Ya?”
“Kamu barusan senyum beneran.” Dia bilang itu dengan nada heran, bukan memuji. “Bukan yang biasa. Yang beneran.”
“Masa?”
“Iya. Ulang, ulang. Kayak tadi lagi.”
Aku mencoba mengulanginya delapan kali dan tidak berhasil sekali pun.
Karena hal yang membuatnya muncul bukan sesuatu yang bisa kupanggil. Hal itu adalah kalimat kecil yang sejak tadi berputar di kepalaku tanpa izin, kalimat yang sama sekali tidak masuk akal untuk dipikirkan oleh perempuan dua puluh delapan tahun yang sedang berdiri di bawah dua belas ribu watt cahaya:
Dia masih ngetuk dua kali.
Kami selesai jam delapan malam. Aku menandatangani tiga lembar, mengucapkan terima kasih pada empat puluh orang satu per satu karena itu kebiasaanku, dan berjalan ke basement dengan kaki yang sudah tidak punya pendapat.
Di dalam mobil, Vinka membuka tabletnya.
“Besok kita ke kantornya langsung ya. Fitting sama briefing. Ketemu tim mereka.”
“Hm.”
“Lo dengerin nggak sih.”
“Dengerin.”
“Gue sebut jam berapa?”
Aku tidak tahu.
Vinka menghela napas dan mengetik sesuatu di ponselnya, mungkin untuk mengadu pada aplikasi kesayangannya bahwa kliennya hari ini aneh.
Aku menyandarkan kepala ke jendela dan melihat Jakarta lewat, jalanan basah, lampu rem yang panjang sampai ujung jalan.
Nggak apa-apa, kataku pada diriku sendiri. Kota ini isinya tiga puluh juta orang. Kemarin nggak ketemu sepuluh tahun. Besok juga nggak.
Itu perkiraan terburuk yang pernah kubuat seumur hidupku.
- 1 Punggung Itu reading
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur