Chapter Eighteen
Enam Belas Jam
POV: Freya — Sekarang
Syuting terakhir seri kampanye itu berlangsung enam belas jam empat puluh menit, dan kalau ada yang bertanya apakah itu wajar, jawabannya adalah tidak, dan jawabannya juga adalah bahwa itu terjadi sekitar empat kali setahun dan semua orang di industri ini pura-pura itu normal.
Call time jam empat pagi. Lokasi tiga tempat. Perpindahan dua kali. Hujan di lokasi kedua yang membuat kami kehilangan dua jam. Satu gaun yang zipper-nya rusak dan harus dijahit ulang di tempat oleh seseorang yang sangat hebat dan yang tidak akan disebut namanya di kredit mana pun.
Aku berdiri, total, sekitar sebelas jam.
Aku minum air enam kali dan makan dua kali, dan yang kedua adalah roti yang kumakan setengah sambil berjalan.
Ada hal yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun tentang hari-hari seperti ini, dan alasannya adalah karena terdengar manja kalau diucapkan.
Yang melelahkan bukan berdirinya.
Yang melelahkan adalah bahwa selama enam belas jam empat puluh menit itu, ada empat puluh orang yang seluruh pekerjaannya bergantung pada apakah wajahku bekerja. Kalau aku lelah, mereka menunggu. Kalau aku sakit kepala, mereka menunggu. Kalau aku sedih karena sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, empat puluh orang itu pulang jam sebelas malam alih-alih jam sembilan.
Jadi aku tidak lelah. Aku tidak sakit kepala. Aku tidak sedih.
Selama enam belas jam empat puluh menit.
Dan setelah orang terakhir bilang terima kasih dan pintu ruang rias tertutup, seluruh bangunan itu roboh sekaligus, karena tidak ada lagi yang perlu ditopang.
Pukul delapan lewat empat puluh malam, Reza menurunkan kameranya dan berkata “selesai”, dan empat puluh orang bertepuk tangan, dan aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada semuanya satu per satu karena itu kebiasaanku dan aku tidak akan berhenti melakukannya.
Lalu aku masuk ke ruang rias, duduk, dan berhenti berfungsi.
“Kak.”
“Hm.”
“Kak, itu anting kanan.”
“Hm.”
“Lo lagi narik kuping lo sendiri.”
Aku menurunkan tanganku.
Vinka jongkok di depanku dan melepaskan antingnya sendiri, satu per satu, dengan sangat hati-hati. Lalu jepit rambut. Lalu dia mulai mengurai kepangan yang butuh empat puluh menit untuk dibuat.
“Vin.”
“Hm.”
“Aku nggak bisa berdiri.”
“Gue tahu.”
“Aku serius.”
“Gue tahu, Kak.” Dia terus mengurai. “Gue udah lihat lo kayak gini enam kali. Yang pertama gue panik. Yang sekarang gue udah tau harus ngapain.”
“Ngapain?”
“Gue udah telepon.”
Aku mengangkat kepala.
“Telepon siapa?”
Vinka tidak menjawab. Dia cuma melanjutkan menguraikan rambutku dengan wajah orang yang sudah menyerah pada seluruh rahasia di dunia ini.
Devan ada di basement, bersandar ke mobilnya.
Aku berjalan ke arahnya dengan sandal jepit dan kaus longgar dan wajah setengah dibersihkan, dan jarak dari lift ke mobil itu sekitar dua puluh meter, dan aku sampai di meter kelima belas sebelum berhenti.
“Dev.”
“Hm.”
“Aku nggak bisa lagi.”
Dan aku berdiri di tengah basement pukul sembilan lewat sepuluh malam dan mengangkat kedua tanganku seperti anak berumur empat tahun.
Devan berkedip.
“Freya—”
“Gendong.”
“Ini basement.”
“Nggak ada orang.”
“Ada kamera.”
“Devan Alaric.” Aku tidak menurunkan tanganku. “Aku berdiri sebelas jam hari ini. Kamu boleh milih: gendong aku, atau aku tidur di lantai basement ini dan besok kamu jelasin ke Airin.”
Dia melihat ke kamera di sudut, lalu ke arahku, lalu ke kamera lagi.
Lalu dia menyeberangi lima meter terakhir dan mengangkatku.
Tidak anggun sama sekali. Dia salah memperkirakan berat badanku dan hampir kehilangan keseimbangan, dan aku mengeluarkan suara yang memalukan, dan dia berkata “sori” tiga kali dalam empat detik.
“Kamu kuat juga.”
“Aku jalan kaki tiga kilo tiap hari selama tiga tahun.”
“Itu sepuluh tahun lalu.”
“Ototnya inget.”
“Devan, otot nggak inget.”
“Diem, kamu berat.”
Aku memukul dadanya dengan telapak tangan dan dia tidak menurunkanku, dan aku menyandarkan kepala ke lehernya dan mencium bau sabun murah yang sama, dan aku pikir aku tertidur selama sekitar tiga puluh detik di antara mobil dan pintu penumpang.
Perjalanan ke apartemenku empat puluh menit.
Aku bangun sekali di tengah, karena mobil berhenti.
“Kita di mana?”
“Bentar.”
Dia keluar. Aku menutup mata lagi.
Dia kembali empat menit kemudian dengan kantong kertas yang baunya membuat perutku bersuara keras sekali di dalam mobil yang sunyi.
“Itu apa?”
“Bubur ayam.”
“Devan, ini jam sepuluh malem.”
“Ada yang buka.”
“Kamu tahu dari mana ada yang buka?”
Dia tidak menjawab.
Dan pada saat itu aku terlalu lelah untuk mengejar, tapi ada bagian kecil di kepalaku yang mencatat pertanyaan itu dan menyimpannya, dan bagian kecil itu akan mengeluarkannya lagi dua jam kemudian.
Dari mobil ke lift, dia menggendongku lagi.
Dari lift ke pintu, aku jalan sendiri, karena ada tetangga.
Dari pintu ke sofa, dia menggendongku lagi.
Aku duduk di sofa dengan mata setengah tertutup sementara dia membuka kantong dan menuangkan bubur ke mangkuk yang dia temukan sendiri di dapurku, dan aku menyadari dengan samar bahwa dia tahu di mana mangkukku, yang berarti dia sudah pernah membukanya, yang berarti dia menghafalnya.
Dia duduk di lantai di depan sofa dan menyodorkan mangkuk.
Aku tidak mengangkat tangan.
“Freya.”
“Hm.”
“Ini buburnya.”
“Hm.”
“Kamu harus makan.”
“Hm.”
Hening tiga detik.
“Kamu mau aku suapin?”
“Hm.”
Aku membuka satu mata.
Devan duduk di lantai dengan mangkuk di satu tangan dan sendok di tangan lain, dan ekspresinya adalah ekspresi orang yang sedang menghadapi masalah yang tidak ada di dokumentasi mana pun.
“Ini nggak ada di tabel kamu, ya,” kataku.
“Nggak.”
“Sini.”
Dan dia menyuapiku bubur ayam pukul sepuluh lewat empat puluh malam di sofa apartemenku, dengan kaku pada tiga suapan pertama dan kemudian tidak kaku lagi, dan pada suapan kedelapan dia mulai meniup sendoknya lebih dulu tanpa diminta.
“Dev.”
“Hm.”
“Kamu tuh sebenernya suka ya.”
“Suka apa?”
“Ngurusin orang.”
Dia berhenti dengan sendok di udara.
“Nggak,” katanya.
“Bohong.”
“Aku cuma—” Dia mencari kata. “Kalau ada yang bisa dibereskan, aku bereskan. Itu bukan suka. Itu cuma nggak tahan lihat.”
“Devan, itu definisi suka.”
Dia menyodorkan sendok lagi, yang merupakan caranya mengakhiri percakapan, dan aku membiarkannya karena aku terlalu lelah untuk menang.
Aku menghabiskan setengah mangkuk sebelum menggeleng.
“Udah?”
“Udah.”
“Tiga suap lagi.”
“Devan.”
“Tiga.”
“Kamu tuh sekarang jadi ibu-ibu.”
“Dua.”
Aku makan dua suap.
Lalu aku menarik lengannya sampai dia terpaksa naik ke sofa, dan aku berbaring dengan kepala di pangkuannya, dan aku menutup mata, dan tidak ada satu pun dari kami yang bicara selama sekitar sepuluh menit.
Tangannya mulai bergerak di rambutku sekitar menit keempat.
Dia melakukannya seperti orang yang tidak sadar sedang melakukannya, yang adalah satu-satunya cara yang benar untuk melakukan hal itu.
“Dev.”
“Hm.”
“Jangan berhenti.”
“Oke.”
“Aku serius. Kalau kamu berhenti aku bangun, dan kalau aku bangun aku bakal nangis, dan besok mata aku bengkak dan Vinka bakal marah sama kamu.”
“Oke.”
Dia tidak berhenti selama dua puluh menit.
Bagian kecil di kepalaku mengeluarkan pertanyaannya pukul setengah dua belas.
Aku sudah ganti baju. Aku sudah setengah tidur. Devan sedang mencuci mangkuk di dapur, yang tidak kuminta, dan aku mendengar bunyi air dari kamar.
Aku mengambil ponselku dan membuka chat Vinka.
Aku: vin
Aku: kamu telpon devan tadi jam berapa
Vinka (23:33): kak lo belom tidur??
Aku: jam berapa vin
Vinka (23:34): gue nggak telpon
Aku menatap layar.
Aku: kamu bilang kamu udah telepon
Vinka (23:35): gue bilang gue udah telepon biar lo tenang
Vinka (23:35): dia yang telepon gue kak
Vinka (23:36): hari selasa
Vinka (23:36): tiga hari lalu
Aku duduk tegak di kasur.
Aku: ngomong apa
Vinka (23:38): dia nanya jadwal lo seminggu ke depan
Vinka (23:38): terus dia nanya biasanya lo gimana abis syuting panjang
Vinka (23:39): terus dia nanya lo bisa makan apa kalau lagi kayak gitu
Vinka (23:39): gue bilang bubur. dia nanya bubur yang mana. gue bilang nggak tau. dia nanya lagi.
Vinka (23:40): kak dia nanya sampe 20 menit
Vinka (23:41): terus jumat dia telpon lagi minta gue geser meeting hari sabtu ke senin
Vinka (23:41): gue udah geser
Vinka (23:42): sori kak gue nggak bilang
Devan masuk ke kamar dengan tangan masih basah, mengelapnya ke celana.
“Kamu belum tidur.”
“Devan.”
“Hm.”
“Duduk.”
Dia duduk di tepi kasur.
“Kamu geser meeting aku hari Sabtu.”
Dia tidak menyangkal. Dia tidak pernah menyangkal apa pun kalau ditanya langsung; itu satu hal yang tidak pernah berubah.
“Iya.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Karena kalau aku bilang, kamu bakal bilang nggak usah.”
“Iya,” kataku. “Emang. Terus?”
“Terus kamu bakal berangkat, dan kamu bakal capek, dan minggu depan kamu ada tiga hari penuh.”
Aku menatapnya.
Ada dua hal yang terjadi di dalam diriku pada saat itu dan keduanya terjadi bersamaan, dan aku tidak bisa memisahkannya sampai berminggu-minggu kemudian.
Yang pertama: aku merasa dijaga dengan cara yang belum pernah kualami sepanjang hidupku dewasa. Tidak ada yang pernah menelepon manajerku untuk bertanya bubur yang mana. Tidak ada yang pernah bertanya sampai dua puluh menit.
Yang kedua, jauh lebih kecil, di suatu tempat di belakang tulang rusuk:
Dia melakukan semuanya tanpa bertanya padaku.
“Dev.”
“Hm.”
“Aku seneng banget.”
“Oke.”
“Aku serius. Aku seneng banget dan aku hampir nangis lagi dan aku udah nangis dua kali minggu ini dan itu jatah setahun.” Aku menarik tangannya. “Tapi lain kali kamu tanya aku dulu, ya.”
Dia diam.
“Kenapa?” tanyanya, dan dia bertanya dengan tulus, dan itu bagian yang membuatku sedih.
“Karena kalau kamu ngatur semuanya sendiri,” kataku, “suatu hari nanti kamu bakal ngatur sesuatu yang gede, sendirian, dan aku baru tahu pas udah selesai.”
Kamar itu sunyi.
“Aku nggak akan,” katanya.
“Oke.”
“Freya, aku nggak akan.”
“Oke, Dev.” Aku menariknya sampai berbaring. “Aku percaya.”
Aku betul-betul percaya.
Aku ingin sekali menuliskan bagian itu dengan sangat jelas, karena nanti — sebelas minggu lagi — akan ada orang yang bertanya padaku apakah aku sudah tahu dari awal, apakah aku melihat tandanya.
Aku melihat tandanya.
Aku melihatnya malam itu, pukul dua belas kurang seperempat, sambil disuapi bubur ayam dan digendong dari basement dan dijaga lebih baik daripada seumur hidupku.
Dan aku bilang oke, dan aku percaya, dan aku tidur.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam reading
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur