Chapter Thirty
Hari Selasa
POV: Freya — Sekarang
Pagi hari Selasa itu adalah salah satu pagi terbaik dalam karierku, dan aku ingin menuliskannya lebih dulu, karena kalau tidak, tidak ada yang akan mengerti bentuk hari itu.
Rapat pukul sepuluh, di kantor mereka di SCBD, dengan enam orang termasuk dua yang terbang dari Singapura.
Tawarannya: brand perawatan kulit regional, kontrak tiga tahun, wajah utama untuk Asia Tenggara.
Dan bagian yang membuat tanganku dingin di bawah meja: basis Jakarta.
Bukan pindah. Tidak ada relokasi. Mereka justru ingin aku tetap di Jakarta, karena seluruh premis kampanyenya adalah tentang seseorang yang tidak pergi ke mana-mana.
Aku menegosiasikan sendiri selama satu jam empat puluh menit.
Aku menaikkan angkanya sebelas persen. Aku mengeluarkan klausul eksklusivitas kategori yang akan mengunci tiga tawaran lain yang belum ada. Aku menambahkan pasal persetujuan atas materi visual akhir, yang belum pernah kudapat dari klien mana pun seumur hidupku.
Ada satu momen di menit ke lima puluh yang ingin kusimpan.
Laki-laki dari tim legal mereka menolak pasal persetujuan visual dengan alasan yang terdengar sangat masuk akal: bahwa itu memperlambat produksi, bahwa tidak ada talent yang punya itu, bahwa standar industri tidak begitu.
Dan aku menaruh penaku di meja dan berkata:
“Pak, saya pernah punya foto yang dipakai di kemasan produk selama dua tahun, dan wajah saya di foto itu diedit sampai saya nggak kenal. Ibu saya nggak kenal.”
Ruangan itu diam.
“Saya nggak minta ini buat memperlambat,” kataku. “Saya minta ini supaya kalau nanti ada anak umur sembilan belas yang lihat kemasan itu, dia lihat muka manusia.”
Laki-laki itu menatapku selama tiga detik.
Lalu perempuan dari Singapura menutup pulpennya dan berkata, “Put it in.”
Perempuan dari Singapura menutup mapnya di akhir dan berkata, “You negotiate better than most agencies we deal with.”
“Saya pernah ditipu waktu umur sembilan belas,” kataku.
Dia tertawa. Dia pikir itu lelucon.
Reza menungguku di lobi karena dia yang merekomendasikan namaku ke mereka.
“Gimana?”
“Jadi.”
“Jadi?”
“Jadi.” Aku menyodorkan map itu. “Tiga tahun, Za.”
Dan laki-laki itu — yang tidak pernah memelukku dalam tujuh tahun, tidak sekali pun, bahkan waktu kami masih apa pun kami dulu — merentangkan tangan dan berkata “sini”, dan aku memeluknya selama tiga detik di lobi gedung di SCBD pada pukul dua belas siang hari Selasa.
“Tiga tahun di Jakarta,” katanya. “Lo tau artinya apa nggak?”
“Apa?”
“Artinya lo bisa punya hidup.” Dia mengangkat bahu. “Lo bisa beli sofa yang mahal. Lo bisa punya tanaman yang nggak mati.”
“Za.”
“Gue serius. Orang kayak kita nggak pernah beli tanaman.”
Aku tertawa di lobi itu, dan aku masih tertawa waktu masuk ke van, dan itu adalah tawa terakhirku hari itu.
Vinka aneh sejak pagi.
Aku mencatatnya dan tidak menindaklanjutinya, karena aku sedang sibuk, dan karena Vinka aneh sekitar empat kali sebulan dan biasanya penyebabnya adalah seseorang yang tidak membalas pesannya.
Tapi ini beda.
Vinka yang aneh biasanya banyak bicara.
Vinka hari itu diam.
Dia tidak berkomentar tentang rapat. Dia tidak bertanya tentang angkanya. Dia duduk di kursi depan van sepanjang pagi dan menatap ponselnya tanpa mengetik apa pun, yang mustahil, karena Vinka mengetik seperti orang bernapas.
Pukul satu siang aku memergokinya sedang menatap keluar jendela.
“Vin.”
“Hm.”
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Vinka.”
“Gue nggak apa-apa, Kak.”
Dan aku — yang dibayar mahal karena bisa membaca ruangan, yang bisa tahu seseorang akan menolak sebelum orang itu tahu — melihat punggung sahabatku selama sepuluh tahun dan berkata:
“Ya udah.”
Aku akan menyesali dua kata itu.
Bukan karena aku salah. Karena aku sudah tahu, di suatu tempat, dan aku memilih untuk memberinya jalan keluar, karena itulah yang kulakukan pada semua orang, karena aku sopan, karena aku selalu sopan.
Dia pecah pukul empat lewat dua puluh sore, di Jalan Rasuna Said, di tengah macet.
Tidak ada pemicunya. Aku sedang membaca dokumen di tablet.
“Kak.”
“Hm.”
“Gue harus ngomong.”
Aku menurunkan tabletku.
Dan aku melihat wajah Vinka — dan wajah Vinka adalah wajah orang yang sudah menangis di kamar mandi entah berapa kali dalam dua hari terakhir — dan sesuatu di perutku turun sebelum satu kata pun keluar.
“Vin.”
“Gue janji sama dia gue nggak ngomong sampai besok,” katanya, sangat cepat. “Gue janji, Kak. Dia minta sampai Rabu. Gue bilang oke. Gue—”
“Vinka.”
“Gue nggak bisa, Kak.” Suaranya pecah. “Gue nggak bisa duduk di sebelah lo satu hari lagi.”
Van itu berhenti di lampu merah.
“Mas Devan telepon gue hari Minggu,” kata Vinka.
Aku ingin menuliskan apa yang dia katakan dengan urutan yang tepat, karena urutan itu penting, karena aku sudah memutarnya ratusan kali.
Satu: dia bertanya apakah ibuku punya asuransi kesehatan, dan yang mana, dan apa yang tidak ditanggung.
Dua: dia bertanya berapa biaya kuliah Sena per semester, dan berapa semester lagi, dan apakah ada biaya lain menjelang lulus.
Tiga: dia bertanya apakah ada cara mengatur transfer rutin ke sebuah rekening tanpa penerimanya tahu dari siapa asalnya.
Empat: waktu Vinka bertanya “Mas mau ke mana”, dia tidak menjawab.
Lima: dia bilang dia akan cerita sendiri. Minggu ini. Dia janji.
Dan enam, yang Vinka sampaikan paling akhir, dengan suara paling kecil:
“Kak, gue nanya dia satu hal lagi.”
“Apa?”
“Gue nanya, ‘Mas, Kak Freya udah tau belum?’”
Van itu bergerak dua meter dan berhenti.
“Terus dia bilang apa?” tanyaku.
Vinka menutup matanya.
“Dia diem lama banget,” katanya. “Terus dia bilang, ‘Belum. Tapi dia udah tahu.’”
Aku duduk di kursi belakang van itu dengan tablet di pangkuanku.
Lampu merah berubah hijau. Van bergerak tiga meter. Berhenti lagi.
“Kak?”
“Hm.”
“Kak, ngomong sesuatu.”
Aku menatap ke depan.
Dan yang terjadi di dalam kepalaku selama sekitar sepuluh detik berikutnya bukan kekacauan. Aku ingin sangat jelas soal itu. Tidak ada suara, tidak ada teriakan, tidak ada penyangkalan.
Yang terjadi adalah sesuatu yang jauh lebih tenang dan jauh lebih buruk:
Aku mengenalinya.
Bentuk itu.
Aku pernah melihat bentuk itu sebelumnya, dari dalam, dari jarak nol, di teras rumah di Bekasi pada suatu malam bulan Agustus tahun 2016.
Bentuknya begini: seorang laki-laki menghitung sendirian, sampai selesai, sampai rapi, sampai semua orang di dalam hitungannya sudah diurus — dan lalu dia membawa hasilnya kepadaku sebagai satu kalimat yang tenang.
Dia tidak sedang berpikir.
Dia sudah selesai.
Kalau dia sudah menanyakan cara mengatur transfer rutin, artinya dia sudah melewati bagian “apakah aku pergi”. Itu sudah lewat. Itu sudah lewat entah berapa lama yang lalu.
Yang sedang dia kerjakan pada hari Minggu adalah bagian akhir dokumen.
Bagian tentang bagaimana caranya tetap berguna dari jarak yang aman.
“Kak.”
Aku menoleh.
Vinka menangis dengan cara yang buruk sekali, dengan bahu terguncang, dengan tangan menutup mulut, dan supir van itu memasang wajah yang sangat berjuang untuk tidak ada di sana.
Dan aku melakukan sesuatu yang membuatku ingin muntah setiap kali aku mengingatnya.
Aku menenangkannya.
Aku menggeser ke depan, dan aku menaruh tangan di punggungnya, dan aku bilang “Vin, nggak apa-apa, kamu nggak salah”, dan aku bilang itu dengan suara yang sangat tenang dan sangat hangat.
Aku menghabiskan sekitar sepuluh menit menenangkan sahabatku tentang berita bahwa pacarku akan meninggalkanku.
“Gue harusnya langsung bilang,” kata Vinka, ke telapak tangannya. “Gue harusnya bilang hari Minggu.”
“Kamu bilang sekarang.”
“Gue nunggu dua hari, Kak.”
“Vinka.” Aku mengusap punggungnya. “Dia yang minta kamu nunggu. Itu beban yang dia taruh di kamu, bukan yang kamu ambil.”
Dan begitu kalimat itu keluar dari mulutku, ada sesuatu yang sangat dingin dan sangat jernih naik ke dalam dadaku.
Itu beban yang dia taruh di kamu.
Devan menelepon Vinka.
Sebelum aku.
Dia menelepon manajerku, sahabatku sejak umur tujuh belas, dan menaruh seluruh benda ini di tangannya, dan menyuruhnya memegangnya selama tiga hari.
Dia melakukan itu supaya aku tidak perlu memegangnya.
Dan hasilnya adalah dua orang perempuan menangis di dalam van di Jalan Rasuna Said pada pukul empat lewat empat puluh sore hari Selasa, dan satu-satunya orang yang tidak memegang apa pun adalah dia.
Aku turun di depan apartemenku pukul lima lewat sepuluh.
“Kak, gue temenin.”
“Nggak usah.”
“Kak—”
“Vinka.” Aku menoleh, dan aku tersenyum, dan aku bisa merasakan senyum itu terpasang dengan benar. “Aku baik-baik aja. Beneran. Terima kasih ya udah cerita.”
Vinka menatapku.
Dan sesuatu di wajahnya berubah dari sedih jadi takut.
“Kak.”
“Hm?”
“Jangan gitu.”
“Gitu gimana?”
“Jangan sopan sama gue,” katanya. “Kak, gue kenal lo sepuluh tahun. Lo cuma sopan kalau lo—”
“Aku telepon nanti malam ya,” kataku. “Kamu istirahat. Besok pagi jam sembilan.”
Aku menutup pintu van.
Aku tidak menangis.
Aku ingin mencatat itu bukan karena aku bangga. Aku mencatatnya karena itu bagian yang paling menakutkan dari sore itu.
Aku naik ke lantai dua puluh dua. Aku membuka pintu. Aku melepas sepatu dan menaruhnya sejajar di rak, yang tidak pernah kulakukan.
Aku mencuci muka. Aku mengganti baju. Aku menggantung yang tadi, alih-alih melemparnya ke kursi.
Aku membuat teh.
Lalu aku duduk di lantai dapur, punggung ke lemari bawah, di tempat kami selalu duduk, dan aku menatap dinding seberang selama sekitar empat puluh menit tanpa menyalakan lampu.
Matahari turun sekitar pukul enam. Aku tidak berdiri untuk menyalakan apa pun.
Yang kupikirkan selama empat puluh menit itu bukan Devan.
Yang kupikirkan adalah malam di teras.
Aku memutarnya ulang, dari awal, seperti orang memeriksa rekaman.
Aku ingat aku memakai kaus biru. Aku ingat ada nyamuk. Aku ingat ibuku ada di dalam dan mesin jahitnya berhenti sekitar sepuluh menit setelah Devan datang, dan aku ingat berpikir bagus, Ibu tidur, dan aku salah selama sepuluh tahun tentang itu.
Aku ingat aku bertanya “kamu mau aku gimana”, dan aku ingat aku sudah menyiapkan diri untuk apa pun.
Dan aku ingat — dan ini bagian yang baru, bagian yang baru kulihat pada pukul enam lewat dua puluh sore hari Selasa di lantai dapur apartemenku —
aku ingat bahwa dia menjawab terlalu cepat.
Tidak ada jeda. Tidak ada satu detik pun.
Anak laki-laki berumur delapan belas tahun yang butuh empat puluh detik untuk mengatakan “aku juga” di kantin, yang butuh tiga detik untuk memutuskan apakah akan menjawab pertanyaan sederhana, yang mengetuk meja dua kali sebelum menulis satu huruf —
menjawab pertanyaan terbesar dalam hidup kami tanpa jeda sama sekali.
Karena dia sudah menyiapkannya.
Karena dia sudah selesai berhitung sebelum dia berjalan ke teras itu.
Aku menghabiskan sepuluh tahun mengira aku ditolak di teras itu.
Aku tidak ditolak di teras itu.
Aku diberi tahu hasil dari sesuatu yang sudah selesai di tempat lain, oleh orang lain, tanpa aku, dan yang kuterima cuma ringkasannya.
Sama seperti sekarang.
Sama persis.
Ibuku menelepon pukul setengah tujuh.
Aku hampir tidak mengangkat. Aku menatap layarnya menyala di lantai dapur yang gelap selama empat dering.
Lalu aku mengangkat, karena aku tidak pernah tidak mengangkat telepon ibuku, karena ada sesuatu di dalam diriku yang dipasang pada umur enam belas tahun dan tidak bisa dicabut.
“Halo, Bu.”
“Freya. Ibu ganggu?”
“Nggak, Bu.”
“Ibu cuma mau tanya,” katanya. “Sena bilang kamu ada rapat penting hari ini.”
Aku menutup mata.
“Iya, Bu.”
“Gimana?”
“Jadi, Bu. Tiga tahun.”
Ada jeda di seberang, dan lalu bunyi yang kukenal seumur hidupku — bunyi ibuku menepuk meja sekali dengan telapak tangan, satu-satunya hal yang beliau lakukan kalau senang.
“Alhamdulillah,” katanya. “Di sini?”
“Di sini, Bu. Jakarta.”
“Bagus.” Aku bisa mendengar senyumnya. “Bagus, Frey. Ibu seneng.”
Dan aku duduk di lantai dapur yang gelap dan mendengar ibuku senang, dan tidak mengatakan satu kata pun tentang apa pun yang lain.
“Freya.”
“Iya, Bu.”
“Kamu di rumah?”
“Iya.”
“Kok gelap?”
Aku membuka mataku.
“Kok Ibu tahu gelap?”
“Suara kamu di ruangan gelap beda,” kata ibuku. “Ibu dengerin suara kamu sejak kamu lahir.”
Aku menahan sesuatu di tenggorokanku selama sekitar tiga detik.
“Lampunya rusak, Bu.”
“Oh.” Jeda. “Ya udah, nanti panggil orang.”
“Iya, Bu.”
“Freya.”
“Iya.”
“Kalau ada apa-apa, telepon.”
“Iya, Bu.”
“Jangan disimpen.”
Dan aku duduk di lantai dapur apartemen di lantai dua puluh dua dengan ponsel di telinga dan berkata:
“Iya, Bu. Nggak ada apa-apa.”
Beliau menutup teleponnya.
Dan aku duduk di sana dan menyadari, dengan sangat terlambat, bahwa aku baru saja melakukan hal yang persis sama seperti yang selalu dilakukan Devan.
Menyimpan sesuatu yang berat sendirian, dengan sangat rapi, karena membaginya akan membuat orang lain ikut memikulnya.
Aku belajar itu di rumah yang sama, dari orang yang sama, pada umur yang sama.
Bukan dari Devan.
Aku sudah bisa sejak sebelum aku mengenalnya.
Dan itu, kalau ada yang bertanya, adalah alasan sebenarnya kenapa kami berdua bisa duduk berdampingan selama delapan bulan dan sepuluh tahun kemudian, dan tidak satu pun dari kami pernah meminta apa pun.
Ponselku menyala pukul tujuh lewat dua.
Devan: hari ini gimana
Aku menatap layar itu di lantai dapur yang gelap.
Devan: rapatnya jadi?
Dia ingat.
Tentu saja dia ingat. Dia ingat semua hal. Dia ingat aku ada rapat penting pukul sepuluh pada hari Selasa karena aku menyebutkannya satu kali, sembilan hari lalu, sambil setengah tidur.
Aku menatap dua pesan itu selama mungkin empat menit.
Lalu aku mengetik.
Aku: jadi
Devan: gimana hasilnya
Aku: bagus
Devan: bagus gimana
Dan aku duduk di lantai dapur yang gelap dan mengetik kalimat berikutnya dengan tangan yang sepenuhnya stabil, yang membuatku takut pada diriku sendiri.
Aku: tiga tahun. basis jakarta. mereka nggak mau aku pindah ke mana mana.
Aku menatap layar.
Titik-titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Hilang.
Empat puluh detik.
Devan: itu bagus banget freya
Devan: selamat ya
Aku menutup mataku dan menahan sesuatu di tenggorokanku dengan seluruh kekuatan yang kupunya.
Aku: kamu ke sini nggak malam ini
Devan: iya
Devan: jam 10 ya. ada yang harus aku beresin dulu
Aku: oke
Aku duduk di lantai dapur itu sampai pukul sembilan.
Sekitar pukul delapan aku melakukan satu hal yang bukan menangis dan bukan diam.
Aku membuka laci meja di ruang tengah dan mengambil map berisi kontrak yang tadi siang diberikan padaku — tiga tahun, basis Jakarta, tanda tangan menunggu — dan aku membacanya dari halaman satu sampai selesai.
Dua puluh dua halaman.
Aku membacanya bukan untuk memutuskan apa pun. Aku membacanya karena benda itu satu-satunya hal di ruangan itu yang bisa kupegang dan yang isinya jelas.
Dan pada halaman sembilan belas, di bagian klausul relokasi — klausul standar yang ada di semua kontrak, yang isinya bahwa pihak pertama tidak berkewajiban mengakomodasi perubahan domisili pihak kedua —
aku berhenti membaca.
Karena aku sadar apa yang sedang kulakukan.
Aku sedang mencari celah.
Aku, perempuan yang menegosiasikan kontraknya sendiri sejak umur dua puluh satu karena pernah ditipu di umur sembilan belas, sedang duduk di lantai apartemennya pada pukul delapan malam mencari celah di dalam kontrak terbaik yang pernah ditawarkan padanya —
untuk seseorang yang belum sekali pun memintaku ikut.
Yang bahkan belum memberitahuku dia akan pergi.
Aku menutup map itu.
Aku menaruhnya kembali ke laci.
Dan di situlah, akhirnya, sesuatu di dalam diriku memberi jalan — bukan sedih, bukan marah, tapi sesuatu yang lebih tua dari keduanya dan yang sudah menunggu sepuluh tahun untuk dipanggil namanya.
Aku duduk di lantai ruang tengah apartemen di lantai dua puluh dua dan berkata keras-keras, pada ruangan kosong, dengan suara yang sangat kecil:
“Aku nggak mau jadi orang yang nunggu lagi.”
Setelah itu aku melakukan tiga hal, dan aku melakukannya dengan sangat tenang, dan ketenangan itu adalah hal paling asing yang pernah kurasakan.
Yang pertama: aku pergi ke kamar dan membuka lemari dan mengeluarkan jaket abu-abu itu.
Aku tidak melakukan apa-apa dengannya. Aku tidak memeluknya, aku tidak menciumnya, aku tidak melakukan satu pun hal yang dilakukan orang di film.
Aku cuma mengeluarkannya dari lemari dan menaruhnya di kasur, terlipat, dengan jahitan siku kanan menghadap ke atas.
Aku ingin benda itu ada di ruangan.
Yang kedua: aku membuka aplikasi pesan dan menggulir ke atas.
Sampai ke tanggal jadian. Sampai ke pesan pukul dua belas lewat sebelas malam yang isinya tiga ribu enam ratus lima puluh delapan dan sekarang nol.
Aku membacanya empat kali.
Lalu aku menggulir ke bawah lagi, pelan-pelan, dan aku memperhatikan sesuatu yang membuat tanganku dingin.
Dalam dua minggu terakhir, panjang pesannya berubah.
Bukan jumlahnya — jumlahnya justru naik. Dia mengirim lebih banyak. Kamu udah makan. Lehernya gimana. Aku beliin ini. Jangan lupa minum.
Yang berubah adalah isinya.
Dua minggu terakhir tidak ada satu pun pesan yang isinya tentang dia.
Nol. Aku memeriksanya sampai ke pesan terakhir. Tidak ada “aku capek”. Tidak ada “hari ini aneh”. Tidak ada satu pun kalimat yang dimulai dengan kata “aku” dan diikuti oleh sesuatu yang dia rasakan.
Dua minggu berisi pertanyaan tentang aku dan barang-barang untuk aku dan tidak ada satu pun kata tentang dirinya.
Aku sudah membacanya setiap hari dan aku tidak melihatnya sekali pun.
Yang ketiga: aku menyalakan lampu.
Bukan semuanya. Satu — lampu kecil di sudut ruang tengah, yang cahayanya cuma sampai sekitar dua meter.
Aku menyalakannya bukan karena aku ingin terang.
Aku menyalakannya supaya waktu dia masuk, dia bisa melihat wajahku.
Aku ingin dia melihat wajahku.
Pukul sembilan lewat empat puluh, Sena mengirim pesan.
Sena: KAK
Sena: IBU BILANG KONTRAKNYA JADI
Sena: TIGA TAHUN???
Sena: kak itu gila sih
Sena: kak aku bangga banget
Aku menatap layar itu di ruang tengah yang cuma diterangi satu lampu sudut.
Sena: kak
Sena: mas devan udah tau belum
Sena: dia pasti seneng banget
Aku memegang ponsel itu dengan dua tangan.
Aku: udah
Sena: dia bilang apa
Dan aku duduk di sofa dan mengetik jawaban yang jujur, yang mungkin adalah satu-satunya hal jujur yang kuucapkan pada siapa pun sepanjang hari Selasa itu.
Aku: dia bilang selamat
Sena: nah
Sena: kak nanti kita makan malem ya berempat
Sena: aku yang bayar
Sena: bohong. kakak yang bayar. tapi aku yang ngajak.
Aku menaruh ponselku menghadap ke bawah di atas bantal sofa.
Dan aku duduk di sana selama dua puluh menit berikutnya sambil memikirkan seorang anak berumur dua puluh dua tahun yang sedang merencanakan makan malam berempat.
Pukul sepuluh lewat empat menit, aku mendengar kunci di pintu.
Aku tidak berdiri.
Aku duduk di sofa di ruang tengah dengan satu lampu kecil menyala di sudut, dengan kaki dilipat dan cangkir teh yang sudah dingin sejak tiga jam lalu di meja.
Pintu terbuka.
Dia berhenti di ambang pintu dengan kantong makanan di satu tangan.
Dan aku melihat wajahnya berubah dalam waktu kurang dari satu detik, karena laki-laki itu bisa membaca sebuah ruangan lebih cepat dari siapa pun kecuali aku, dan karena ruangan itu — satu lampu, teh dingin, dan seorang perempuan yang duduk menghadap pintu — cuma bisa berarti satu hal.
“Freya.”
“Iya.”
“Kamu—”
“Tutup pintunya,” kataku.
Dia menutup pintunya.
Dan aku menjawab dengan suara paling sopan yang kupunya, suara yang kupakai untuk klien yang tidak kusukai, suara yang sudah kubangun selama sepuluh tahun untuk situasi di mana aku tidak boleh menunjukkan apa pun:
“Duduk dulu,” kataku. “Aku mau nanya sesuatu.”
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa reading
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur