Chapter Two
Tujuh Puluh Delapan
POV: Devan — SMA, 2015
Nilai yang paling aman adalah tujuh puluh delapan.
Aku sampai pada angka itu setelah percobaan selama satu semester penuh. Delapan puluh lima terlalu tinggi; guru akan ingat namamu. Enam puluh terlalu rendah; guru juga akan ingat namamu, dan orang tuamu dipanggil. Tujuh puluh delapan itu sempurna. Cukup tinggi untuk tidak ada yang khawatir, cukup rendah untuk tidak ada yang berharap.
Caranya sederhana. Aku kerjakan semuanya dengan benar di kepala, lalu kupilih dua soal yang akan kusalahkan. Selalu di tengah, tidak pernah di nomor satu — nomor satu yang salah kelihatan seperti ceroboh, dan ceroboh mengundang perhatian. Selalu kesalahan yang wajar. Tanda minus yang hilang. Pembagi yang tertukar.
Yang paling sulit bukan menyalahkannya. Yang paling sulit adalah menulis jawaban yang salah dengan tangan yang tidak ragu.
Selasa itu Bu Yanti membagikan hasil ulangan sambil menyebut nilai keras-keras, kebiasaan yang menurutku seharusnya dilarang undang-undang.
“Devan. Tujuh delapan.”
Tidak ada yang menoleh. Sempurna.
Anak baru itu masuk tiga minggu sebelumnya, di tengah semester, yang tidak pernah terjadi di sekolah kami.
Aku tahu dua hal tentang dia dari mendengarkan saja, karena orang-orang di kelas 11 IPA 2 tidak membicarakan apa pun yang lain selama empat belas hari berturut-turut. Satu: namanya Freya. Dua: dia pindah dari luar kota karena ayahnya meninggal dan ibunya kembali ke rumah nenek.
Bagian kedua diucapkan dengan suara pelan dan bagian pertama diucapkan dengan suara keras, dan aku belajar sesuatu tentang manusia dari perbandingan itu.
Aku juga tahu hal ketiga, tapi hal ketiga tidak perlu didengar dari siapa pun.
Ada tiga puluh empat orang di kelas kami. Setiap kali dia masuk, ada jeda sekitar satu detik di mana suara ruangan turun, lalu naik lagi terlalu cepat, seperti orang yang tertangkap basah dan buru-buru berpura-pura sedang membicarakan hal lain. Terjadi setiap hari. Tiga minggu berturut-turut. Aku menghitungnya karena aku memang menghitung hal-hal seperti itu.
Strategiku sendiri sudah kutetapkan sejak hari pertama.
Jangan lihat lama-lama.
Ini bukan soal tidak tertarik. Aku ingin bilang begitu, karena kedengarannya lebih hebat, tapi tidak ada gunanya bohong pada diri sendiri di dalam kepala sendiri. Yang sebenarnya: kalau aku melihatnya lebih dari dua detik, aku akan melihatnya lebih dari sepuluh, dan kalau sepuluh maka aku akan jadi salah satu dari tiga puluh tiga orang lain di ruangan ini, dan satu-satunya hal yang kupunya di sekolah ini adalah tidak menjadi salah satu dari siapa pun.
Jadi aku melihat satu detik, kadang setengah, lalu kembali ke jendela. Setiap kali dia lewat.
Aku sangat bangga pada sistem itu. Aku mengiranya kekuatan.
Sepuluh tahun kemudian aku baru mengerti bahwa yang kulakukan setiap hari selama tiga minggu itu adalah menahan napas berkali-kali dan menyebutnya berenang.
Bu Yanti menahanku setelah bel pulang.
“Devan. Sebentar.”
Gilang, yang sedang menungguku di pintu sambil memasang tali sepatu dengan cara yang salah, mengangkat alis. Aku mengangkat bahu.
“Kamu sibuk nggak sore-sore?”
Ini pertanyaan jebakan, dan aku tidak punya jawaban yang aman. Kalau bilang sibuk, dia akan tanya sibuk apa, dan aku tidak sibuk apa-apa. Kalau bilang tidak sibuk—
“Nggak, Bu.”
“Bagus.” Bu Yanti menumpuk kertas ulangan dengan gerakan yang menandakan urusannya sudah selesai sebelum dimulai. “Ada anak baru, Freya, yang di sebelah kiri belakang. Matematikanya ketinggalan. Bukan karena nggak bisa, tapi kurikulum di sekolah lamanya beda urutan. Dia perlu ditemani ngejar.”
“Kenapa saya, Bu?”
“Karena semua anak yang biasanya saya suruh lagi sibuk olimpiade.” Bu Yanti menjawab tanpa jeda, dan aku menghargai kejujurannya. “Dan kamu satu-satunya yang saya lihat nggak pernah punya acara.”
“Oh.”
“Itu bukan hinaan, Devan.”
“Saya juga nggak nganggep gitu, Bu.”
Dia menatapku sedikit lebih lama dari yang nyaman.
“Nilaimu tujuh delapan terus dari awal semester,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Empat kali ulangan. Tujuh delapan, tujuh delapan, tujuh enam, tujuh delapan.”
“Iya, Bu.”
“Anak yang beneran segitu kemampuannya biasanya naik turun, Devan. Delapan lima, terus enam dua, terus delapan nol. Yang rata terus itu bukan kemampuan.” Dia memasukkan tumpukan kertas ke dalam map. “Itu keputusan.”
Aku tidak menjawab. Ada bagian dari dadaku yang mengecil.
Bu Yanti tidak menekan lebih jauh. Dia cuma menulis sesuatu di kertas kecil dan menyodorkannya padaku.
“Perpustakaan. Jam empat. Mulai hari ini.”
Gilang menungguku di pos satpam, masih dengan tali sepatu yang salah.
“Kenapa?”
“Disuruh ngajarin anak baru.”
Gilang berhenti berjalan. Sepenuhnya. Di tengah halaman, di bawah matahari jam tiga, dengan tas masih menggantung di satu bahu.
“Anak baru,” katanya.
“Iya.”
“Anak baru yang mana.”
“Yang ada satu.”
“Dev.” Gilang meletakkan kedua tangan di bahuku seperti orang yang mau menyampaikan berita duka. “Lo tahu nggak, ada tiga puluh empat orang di kelas kita. Dua puluh dua di antaranya cowok. Dua puluh satu dari dua puluh dua itu bakal bayar buat posisi lo.”
“Terus?”
“Terus lo bilangnya ‘disuruh ngajarin anak baru’ pakai muka kayak disuruh piket kamar mandi.”
“Emang gitu rasanya.”
“Bohong.”
“Nggak.”
“Bohong.” Gilang mulai berjalan lagi, tapi mundur, menghadapku, yang merupakan cara berjalan paling tidak efisien yang pernah diciptakan manusia. “Dev, gue kenal lo dari kelas satu. Lo tuh nggak pernah kelihatan pengin apa-apa. Nggak pernah. Es teh aja lo bilang ‘terserah’.”
“Emang terserah.”
“Nggak ada orang yang beneran terserah!”
Aku tidak menjawab, karena membantah Gilang itu seperti menyiram bensin lalu bertanya kenapa apinya besar.
“Ya udah,” katanya akhirnya, menyerah, berbalik ke arah yang benar. “Nanti ceritain.”
“Nggak ada yang bisa diceritain.”
“Nanti. Ceritain.”
Perpustakaan sekolah kami sepi karena satu alasan yang sangat masuk akal: AC-nya rusak sejak zaman kakak kelas kami masih kelas satu, dan tidak ada yang berminat memperbaikinya. Yang tersisa cuma kipas angin dinding yang berputar dan menghasilkan angin ke arah rak, bukan ke arah manusia.
Aku sampai jam empat kurang tujuh menit dan memilih meja paling ujung, dekat jendela, yang keuntungannya ada dua: pencahayaan, dan pintu keluar terlihat.
Dia datang jam empat lewat satu.
Aku mendengar pintu, dan aku tidak mengangkat kepala. Aku membuka buku dan menatap halaman yang sudah kuhafal.
Kursi di seberangku ditarik. Tas ditaruh. Ritsleting dibuka. Buku dikeluarkan. Pensil diletakkan di atas meja dan menggelinding sedikit sebelum berhenti.
Baru setelah semuanya selesai aku mengangkat kepala.
Satu detik.
Dia sudah menatapku.
Bukan tatapan yang manis. Tatapan menilai, terus terang, tanpa disamarkan sedikit pun, tatapan orang yang sedang memeriksa apakah barang yang dikirim sesuai dengan yang dipesan.
Aku kembali ke bukuku dalam waktu setengah detik, tapi sepertinya bagian belakang leherku sudah terlanjur panas dan aku berharap dia tidak bisa melihat leher orang dari seberang meja.
“Kamu Devan?”
“Iya.”
“Bu Yanti bilang kamu bisa bantu.”
“Bab berapa yang ketinggalan?”
“Lima sampai tujuh.” Dia membuka bukunya. “Sebenernya empat juga. Tapi aku malu nyebutnya.”
“Nggak usah malu.”
“Gampang banget kamu bilang gitu.”
“Karena urutannya emang beda,” kataku. “Bab empat di sini masuknya semester dua di kebanyakan sekolah lain. Jadi kamu bukan ketinggalan. Kamu cuma belum sampai.”
Dia diam sebentar.
“Itu... sebenernya bikin aku lega banget.”
“Bagus.”
“Kamu selalu ngomong sependek ini?”
“Iya.”
Dia tertawa. Suaranya keras untuk ukuran perpustakaan, dan dia langsung menutup mulutnya sendiri dengan tangan, dan aku terpaksa melihat ke jendela selama tiga detik penuh untuk alasan yang tidak akan kujelaskan pada siapa pun.
Kami mengerjakan dua belas soal dalam satu setengah jam.
Dia tidak bodoh. Sama sekali tidak. Dia cepat sekali menangkap kalau alasannya dijelaskan, dan lambat sekali kalau cuma diberi langkah — yang artinya semua guru sebelumnya menjelaskan dengan urutan yang salah untuk kepalanya.
Yang mengejutkan bukan itu.
Yang mengejutkan adalah dia bertanya “kenapa” untuk hal-hal yang orang biasanya terima saja.
Kenapa tanda berubah kalau dipindah. Kenapa dua negatif jadi positif. Kenapa harus urutan itu, siapa yang menentukan, apa yang terjadi kalau tidak.
Di soal kelima dia meletakkan pensilnya dan menatap bukunya dengan tatapan permusuhan terbuka.
“Aku nggak ngerti.”
“Bagian mana?”
“Semua.”
“Nggak mungkin semua. Baris pertama kamu bener.”
“Ya kan itu cuma nyalin soal.”
“Nyalin soal itu langkah,” kataku. “Orang yang nyalin soalnya salah nggak akan pernah bener sampai bawah. Kamu udah lewat satu.”
Dia menatapku dari balik poninya.
“Kamu sadar nggak kamu barusan muji aku karena bisa nyalin?”
“Aku nggak muji. Aku ngasih tahu posisi kamu.”
“Itu lebih parah.”
“Kenapa?”
“Karena bikin aku pengin nerusin.” Dia mengambil pensilnya lagi. “Aku nggak suka dibikin pengin nerusin. Capek.”
Kami sampai di soal kesembilan pukul lima kurang seperempat.
“Kamu nggak capek ditanyain terus?” katanya di sana.
“Nggak.”
“Semua orang capek.”
“Aku nggak.”
“Kenapa?”
Aku memutar pensil sekali di jari.
“Karena kebanyakan orang nanya buat kelihatan pinter,” kataku. “Kamu nanya karena beneran mau tahu. Itu beda.”
Dia tidak langsung menjawab. Aku mengangkat kepala — satu detik, hanya satu — dan mendapati dia menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali. Aku bagus dalam banyak hal. Membaca wajah bukan salah satunya.
“Kamu tuh aneh,” katanya akhirnya.
“Oke.”
“Bukan aneh yang jelek.”
“Oke.”
“Kamu nggak nanya apa-apa ke aku.”
Aku mengetuk meja dua kali dengan buku jari sebelum menjawab, kebiasaan yang tidak pernah bisa kuhilangkan.
“Emangnya harus?”
“Semua orang di sekolah ini nanya.” Dia menyandarkan punggung ke kursi, dan untuk pertama kalinya sore itu dia terlihat sungguh-sungguh lelah, jenis lelah yang tidak ada hubungannya dengan jam empat sore. “Rumah kamu dulu di mana. Sekolah kamu dulu apa. Kamu ada Instagram nggak. Kamu udah punya pacar belum. Ayah kamu kenapa.”
Kata terakhir dijatuhkan tanpa penekanan, dan justru karena itu terdengar paling keras.
“Mereka nanya itu?” tanyaku.
“Ada dua. Sopan, katanya. Cuma pengin tahu.”
Aku memikirkan itu selama beberapa detik.
“Aku nggak nanya karena kalau kamu mau cerita, kamu bakal cerita,” kataku. “Dan kalau nggak, ya nggak ada urusannya sama soal nomor sepuluh.”
Perpustakaan sepi sekali. Kipas dinding berputar ke kiri, lalu ke kanan, lalu ke kiri lagi.
“Devan.”
“Hm.”
“Kamu satu-satunya orang di sekolah ini yang belum pernah ngeliatin aku.”
Aku menatap soal nomor sepuluh dengan konsentrasi yang tidak pernah kuberikan pada soal apa pun sepanjang hidupku.
“Oh,” kataku.
“‘Oh.’”
“Iya.”
“Itu doang?”
“Iya.”
Dia tertawa lagi. Kali ini pelan, ke dalam, lebih ke arah dirinya sendiri daripada ke arahku.
“Oke,” katanya. “Oke, oke. Nomor sepuluh.”
Kami selesai jam setengah enam. Dia pulang naik angkot dari depan sekolah; aku jalan kaki karena rumahku tiga kilometer dan uang jajanku punya urusan lain.
Aku menunggu sampai angkotnya benar-benar tidak kelihatan sebelum aku mulai berjalan. Aku tidak tahu kenapa aku menunggu.
Sepanjang jalan pulang aku menghitung langkah.
Itu kebiasaan yang muncul waktu umur tiga belas, di sebuah gedung ber-AC dengan lantai berkarpet biru, dan tidak pernah pergi sejak itu. Kalau kepalaku ribut, aku menghitung. Satu, dua, tiga, sampai sesuatu di dalam sana berhenti bergerak.
Biasanya berhenti di angka dua ratusan.
Sore itu aku sampai di depan pagar rumah di angka seribu empat ratus dua belas, dan kepalaku masih belum diam.
Aku berdiri di depan pintu cukup lama sampai ibuku bertanya dari dalam kenapa aku tidak masuk.
“Sebentar, Bu,” kataku.
Aku masuk. Aku makan. Aku mengerjakan PR yang sudah selesai sejak istirahat kedua.
Menjelang tidur, ponsel Ibu berbunyi di ruang tengah, dan aku mendengar beliau tertawa pada seseorang di ujung sana, dan aku berpikir tentang sebuah kalimat yang diucapkan di perpustakaan tanpa AC pada pukul lima kurang sepuluh.
Kamu satu-satunya orang di sekolah ini yang belum pernah ngeliatin aku.
Aku memutar kalimat itu di kepalaku beberapa kali dan sampai pada kesimpulan yang sangat masuk akal: dia salah. Aku melihatnya setiap hari. Satu detik, kadang setengah, tiga puluh kali sehari kalau dihitung — dan aku menghitungnya, jadi aku tahu.
Yang membuatku tidak bisa tidur sampai lewat tengah malam bukan kesalahannya.
Yang membuatku tidak bisa tidur adalah kenyataan bahwa aku merasa lega dia salah. Bahwa strategiku berhasil. Bahwa selama ini aku betul-betul berhasil terlihat seperti orang yang tidak peduli.
Dan bahwa untuk pertama kalinya sejak umur tiga belas, keberhasilan itu terasa seperti kekalahan.
Besoknya, jam empat kurang tujuh menit, aku sudah ada di meja yang sama.
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan reading
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur