← Jangan Pergi

Chapter Three

Tiga Minggu

POV: DevanSekarang

Aku sudah tahu tiga minggu sebelumnya.

Namanya ada di halaman sebelas sebuah dokumen berjudul APAC Launch — Creative & Talent Overview, di bawah subjudul Regional Brand Ambassador, di kolom kiri, di baris pertama.

Freya Anindita.

Aku membaca dokumen itu di dalam pesawat, di atas Pasifik, jam dua pagi waktu badan yang tidak sama dengan waktu di mana pun. Enam puluh empat halaman. Aku membaca semuanya sampai selesai — bagian budget, bagian jadwal, bagian risiko, semua — dengan kecepatan normal, tanpa berhenti, seperti orang yang sedang bekerja.

Lalu aku kembali ke halaman sebelas.

Aku tidak menghitung berapa kali aku membaca dua kata itu. Aku menghitung banyak hal, tapi tidak yang itu, dan aku memilih untuk tidak menghitungnya, dan pilihan itu sendiri sudah cukup memberitahuku apa yang sedang terjadi.

Tiga minggu adalah waktu yang sangat lama. Cukup untuk membaca semua yang perlu dibaca. Cukup untuk mempersiapkan setiap kemungkinan.

Ternyata tidak cukup untuk apa-apa.


“Kamu kelihatan capek,” kata Airin, tanpa mengangkat kepala dari layarnya.

“Jet lag.”

“Kamu udah tiga minggu di sini, Dev.”

“Jet lag yang panjang.”

Airin adalah Country Lead kantor Jakarta dan orang paling efisien yang pernah kutemui. Dia bicara dengan kalimat lengkap dan tidak pernah mengulang. Kalau dia menanyakan kabarmu, itu artinya dia betulan ingin tahu jawabannya dan sudah mengalokasikan waktu untuk mendengarnya.

“Roadmap Q3 udah kamu lihat?”

“Udah. Ada masalah di bagian rollout bertahap.”

“Masalah gimana?”

“Kalau kita buka akses regional sebelum evaluation set-nya lengkap, tiga minggu pertama bakal jadi data yang nggak bisa kita pakai buat apa-apa.” Aku menggeser laptopku ke arahnya. “Bukan gagal. Cuma jadi mahal tanpa hasil.”

Airin membaca lima belas detik.

“Kenapa nggak ada yang lihat ini dari kemarin?”

“Karena semua orang ngecek apakah rencananya jalan,” kataku. “Bukan ngecek di mana rencananya nggak jalan.”

Dia menutup laptopku dan mendorongnya kembali.

“Ini kenapa kamu dipulangin,” katanya. “Oke. Tunda seminggu. Aku yang bilang ke pusat.”

Itulah sebenarnya seluruh pekerjaanku, kalau dijelaskan pada orang yang bertanya di kondangan. Aku bukan orang yang membuat benda itu jalan. Ada ratusan orang yang lebih pintar dariku untuk urusan itu. Aku orang yang menemukan satu keadaan, dari sejuta keadaan yang mungkin, di mana benda itu akan patah — dan mengatakannya sebelum siapa pun sempat kecewa.

Aku sangat, sangat bagus dalam hal itu.

Aku sudah melakukannya sejak umur tiga belas, dan aku pertama kali melakukannya pada diriku sendiri.


Kemarin aku tidak seharusnya ada di lokasi syuting.

Aku ke sana karena Airin bilang seluruh tim sebaiknya muncul sebentar, dan karena menolak akan lebih mencurigakan daripada datang. Aku berdiri di sisi ruangan bersama dua belas orang kantor yang tidak punya kerjaan di sana, selama satu jam empat puluh menit, di bagian gelap.

Dan selama satu jam empat puluh menit itu aku tahu persis di mana dia berdiri, setiap detik, tanpa perlu melihat.

Itu bukan kiasan. Kalau ada orang yang bertanya “dia di mana”, aku bisa menunjuk dengan mata tertutup, kapan pun, dengan akurasi sekitar satu meter. Ada bagian dari kepalaku yang mengerjakan perhitungan itu di latar belakang tanpa izinku, terus-menerus, seperti proses yang lupa dimatikan.

Lalu monitornya mati.

Aku tahu masalahnya dalam dua belas detik dari seberang ruangan — bukan karena aku hebat, tapi karena bunyinya kipas dan urutan lampu indikatornya cuma bisa berarti satu hal. Yang seharusnya kulakukan adalah tetap berdiri di tempatku dan membiarkan orang yang dibayar untuk itu menyelesaikannya dalam empat puluh menit.

Yang kulakukan adalah berjalan ke sana dan jongkok.

Bukan untuk pamer. Aku bersumpah bukan itu. Aku cuma tidak bisa berdiri di ruangan yang sama dengan benda rusak yang aku tahu cara memperbaikinya. Ibuku bilang itu penyakit turunan dari kakekku, yang pernah membongkar kulkas orang lain saat kondangan.

Aku selesai dalam tiga menit. Seseorang bertepuk tangan. Aku pergi sebelum tepuk tangannya selesai.

Dan sepanjang tiga menit itu aku menatap kabel dengan konsentrasi yang belum pernah kuberikan pada benda mati mana pun seumur hidupku, karena aku tahu — aku tahu dengan kepastian yang tidak nyaman — bahwa dia sedang duduk di kursi lipat dua belas meter di belakang punggungku, dan bahwa kalau aku berbalik, aku akan berhenti bisa menjadi orang yang bekerja di sini.

Jadi aku tidak berbalik.

Aku sangat bangga pada sistem itu.

Aku memakai sistem yang sama persis sejak umur tujuh belas, dan dalam sepuluh tahun aku tidak pernah sekali pun mempertanyakan apakah sistem itu sebenarnya sedang menyelamatkanku atau sedang menghancurkanku dengan sangat perlahan.


Hari ini mereka datang ke kantor.

Lantai dua puluh tiga, gedung baru di Sudirman, kantor yang masih berbau cat dan punya terlalu banyak kursi kosong karena kami baru merekrut sepertiga dari rencana. Jadwalnya: fitting di ruang serbaguna lantai dua puluh dua, lalu briefing tim jam dua, lalu — dan ini bagian yang membuatku minum kopi ketiga sebelum jam sebelas — sesi kenalan dengan Core Team.

Aku ada di daftar hadir. Tentu saja aku ada di daftar hadir. Namaku ada di baris paling atas daftar itu.

Aku sedang berdiri di pantry lantai dua puluh tiga, mencoba mengeluarkan gula dari sachet yang menolak dibuka, ketika seorang perempuan masuk sambil bicara ke ponselnya dengan volume yang tidak biasa untuk pantry.

“—ya makanya gue tanya. Gue nggak minta lo nyalahin dia, gue minta lo bilang gue bener. Itu doang. Satu kalimat.”

Dia berhenti begitu melihatku.

“Sori,” katanya. Lalu, ke ponselnya, dengan nada mengancam: “Nanti kita lanjut.”

Dia mengunci layar dan menyodorkan tangan.

“Vinka. Manajernya Freya.”

Tanganku berhenti setengah detik terlalu lama sebelum menyambut. Setengah detik. Tidak ada yang menghitung setengah detik.

“Devan.”

“Halo, Mas Devan.” Dia melihat ke sekeliling pantry. “Mas, ini yang mana yang gulanya beneran? Yang ini apa yang ini?”

“Yang kanan. Yang kiri itu creamer.”

“Nah. Nah. Untung ada Mas.” Dia menuang. “Mas di sini bagian apa?”

Ini pertanyaan yang paling gampang di dunia dan aku, entah kenapa, kehilangan seluruh kemampuan berbahasa.

“Bagian... produk.”

“Oh, produk.” Vinka mengangguk seperti itu menjelaskan sesuatu. “Berarti Mas yang bikin aplikasinya?”

“Sebagian.”

“Wah. Mas, boleh nanya nggak?”

“Boleh.”

“Kalau kita ngobrol sama Magnus, itu dibaca orang nggak sih?”

Aku menatapnya.

“Maksudnya,” lanjut Vinka cepat, “bukan berarti gue ngomongin hal yang aneh-aneh ya. Nggak. Gue cuma... nanya hal umum. Filosofis. Kayak makna hidup gitu.”

“Jam berapa biasanya?”

“Kenapa emang?”

“Nggak apa-apa.”

Vinka menyeruput kopinya dengan mata yang tidak lepas dariku.

“Setengah tiga pagi,” katanya akhirnya, pelan, seperti orang mengaku pada dokter.

“Itu jam favorit banyak orang.”

“Serius?”

“Serius. Puncak traffic-nya sekitar situ.” Aku menaruh sendok. “Orang jam dua siang nanya cara bikin nasi goreng. Orang jam setengah tiga pagi nanya hal-hal yang lain.”

Vinka diam beberapa saat.

“Mas Devan.”

“Ya.”

“Ada tombol hapus permanen nggak?”

“Ada.”

“Beneran permanen?”

“Beneran permanen.”

“Oke.” Dia menghela napas panjang, lega. “Oke. Bagus. Aman.”

Aku hampir menyelesaikan kopiku sebelum dia menambahkan, dengan nada yang jauh lebih tenang dan jauh lebih menakutkan:

“Tapi Mas tahu isinya, kan? Secara umum. Kayak, ada orang yang bisa lihat kalau mau.”

Aku mempertimbangkan sekitar empat jawaban.

“Kita nggak baca chat orang,” kataku.

“Itu jawaban yang bagus banget,” kata Vinka. “Itu jawaban yang bagus banget dan gue nggak percaya sedikit pun.”

Dia pergi sambil membawa dua gelas.


Aku turun ke lantai dua puluh dua jam satu lewat empat puluh, dengan folder yang sebetulnya tidak perlu kubawa.

Liftnya kecil, cuma untuk dua lantai, dan biasanya kosong.

Pintunya terbuka dan dia ada di dalam.

Sendirian. Tanpa Vinka, tanpa siapa pun, berdiri di sudut kiri sambil melihat ponselnya, memakai kemeja putih besar dan celana hitam, rambut diikat asal, wajah tanpa apa-apa. Bukan versi yang ada di dokumen halaman sebelas. Bukan versi kemarin di bawah lampu.

Versi yang lain.

Kakiku sudah melangkah masuk sebelum otakku sempat memberikan pendapat.

Pintunya menutup.

Dua lantai. Dua lantai itu, kalau dihitung, sekitar delapan detik.

Aku berdiri di sudut kanan. Dia di sudut kiri. Ada satu setengah meter di antara kami dan udara di dalam kotak itu terasa seperti punya berat.

Lift berhenti. Bergoyang sedikit, seperti biasa. Aku melangkah maju di detik yang sama dengan dia, ke pintu yang sama, dari dua sudut yang berlawanan.

Bahunya menyentuh lenganku.

Sangat pelan. Setengah detik. Kain ke kain.

Kami berdua mundur setengah langkah, bersamaan, dengan kecepatan yang sama, seperti dua orang yang sudah berlatih.

“Sori,” katanya.

“Iya.”

Bukan “nggak apa-apa”. Bukan “sori juga”. Iya. Aku menjawab permintaan maaf dengan kata “iya”, di dalam lift, kepada satu-satunya orang yang pernah kupacari seumur hidupku.

Pintunya membuka. Dia keluar duluan. Aku keluar tiga detik kemudian karena tanganku tiba-tiba perlu membetulkan folder yang tidak perlu dibetulkan.

Koridor lantai dua puluh dua panjangnya kira-kira empat puluh meter.

Dan aku berjalan, dan kepalaku ribut, dan seperti yang sudah terjadi setiap hari selama lima belas tahun, aku mulai menghitung.

Satu. Dua. Tiga. Empat.

Aku sampai di angka tiga puluh satu ketika aku mengangkat kepala.

Dia sudah berdiri di depan pintu ruang serbaguna, tangan di gagang pintu, tidak membukanya.

Menatapku.

Bukan menatap wajahku. Menatap kakiku.

Lalu naik, pelan, ke wajahku — dan tidak ada satu pun ekspresi di sana yang bisa kusebut netral.

Aku berhenti berjalan.

Ada tepat satu orang di dunia ini yang tahu apa artinya kalau aku berjalan seperti itu. Aku tidak pernah menceritakannya pada siapa-siapa. Tidak pada ibuku, tidak pada Gilang, tidak pada tiga orang di San Francisco yang menganggap dirinya teman dekatku.

Satu orang, dan dia mengetahuinya di sebuah perpustakaan tanpa AC di tahun 2015, karena dia bertanya kenapa aku selalu terlambat pulang dua menit dari orang lain padahal jalanku cepat.

Dia menahan tatapan itu selama tiga detik penuh.

Lalu membuka pintu, dan masuk, dan tidak mengatakan apa-apa.

Aku berdiri di koridor kosong lantai dua puluh dua sambil memegang folder yang tidak berisi apa pun yang penting.

Selama tiga minggu aku menyusun rencana yang menurutku sangat matang. Aku sudah memikirkan semua kemungkinan pertemuan: di ruang rapat dengan sembilan orang lain, di lobi dengan kamera menyala, di acara peluncuran dengan tiga ratus tamu. Aku sudah menyiapkan versi diriku untuk masing-masing. Sopan, singkat, profesional. Kalimat-kalimat yang tidak bisa dipakai sebagai bukti apa pun oleh siapa pun.

Aku bahkan sudah menghitung berapa lama proyek ini berjalan. Sebelas minggu. Tujuh puluh tujuh hari. Setelah itu dia kembali ke jadwalnya, aku kembali ke roadmap-ku, dan kami akan sama-sama menjadi orang yang pernah bekerja di kampanye yang sama.

Rencana itu punya satu asumsi.

Asumsinya: bahwa yang perlu kulakukan hanyalah tidak melakukan apa-apa. Bahwa kalau aku diam cukup lama, semuanya akan lewat dengan sendirinya, seperti sepuluh tahun kemarin.

Dan aku baru saja melihat asumsi itu patah di depan mataku, di ujung koridor, dalam bentuk seorang perempuan yang menatap kakiku selama tiga detik dan tidak mengatakan apa-apa.

Pekerjaanku adalah menemukan satu keadaan, dari sejuta keadaan yang mungkin, di mana sebuah rencana akan patah.

Aku sangat bagus dalam hal itu.

Aku cuma tidak pernah bisa melakukannya pada rencanaku sendiri.

Dari dalam ruangan terdengar suara Vinka, keras, riang, dan sama sekali tidak sadar sedang berdiri di tengah reruntuhan:

“Kak, Mas yang tadi di pantry baik banget deh. Dia yang benerin gula gue.”

Aku menutup mata sebentar, lalu membuka pintu.