← Jangan Pergi

Chapter Twenty Four

Dua Hari

POV: FreyaSekarang

Aku punya dua hari kosong pada minggu kedua bulan itu, dan itu terjadi sekitar tiga kali setahun, dan aku biasanya menghabiskannya dengan tidur delapan belas jam dan menonton hal-hal bodoh.

Kali ini aku menghabiskannya dengan tidak keluar apartemen sama sekali selama empat puluh delapan jam bersama seorang laki-laki yang, pada jam sepuluh pagi hari Sabtu, sedang berdiri di dapurku dan menatap isi kulkasku dengan ekspresi seorang auditor.

“Freya.”

“Hm.”

“Kulkas kamu isinya air, telur dua, dan sembilan botol kecil yang aku nggak tahu apa.”

“Itu vitamin.”

“Sembilan?”

“Beda-beda fungsinya.”

“Kamu tahu fungsinya?”

Aku menarik selimut sampai ke dagu di sofa dan tidak menjawab.

“Freya.”

“Dikasih klien.”

“Kamu minum?”

“Kadang.”

Dia menutup kulkas dengan sangat pelan, yang jauh lebih menakutkan daripada kalau dia membantingnya.

“Aku ke supermarket,” katanya.

“Dev, jangan. Nanti ada yang lihat.”

“Aku pakai topi kamu.”

“Topi aku pink.”

“Aku pakai topi kamu,” ulangnya, dan mengambil topi pink itu dari gantungan, dan keluar.

Dia kembali empat puluh menit kemudian dengan empat kantong dan topi pink yang masih terpasang dan tidak satu pun orang di gedung ini yang menoleh, karena tidak ada yang berharap menemukan Lead Development – Core Team Magnus AI di supermarket lantai dasar pada hari Sabtu jam sebelas pagi dengan topi pink.


Dia memasak selama satu setengah jam dan hasilnya empat masakan yang tidak terlalu bagus.

Aku ingin sangat jujur: masakannya biasa saja. Ayamnya agak kering. Sayurnya kelamaan.

Aku memakan semuanya sampai habis dan meminta tambah.

“Kamu nggak usah bohong,” katanya.

“Aku nggak bohong.”

“Ayamnya kering.”

“Iya.”

“Terus kenapa nambah?”

Aku menyodorkan piring dan tidak menjawab, karena jawabannya adalah bahwa tidak ada laki-laki yang pernah memasak untukku di dapurku sendiri seumur hidupku, dan bahwa aku tidak siap mengucapkan kalimat itu keras-keras pada hari Sabtu jam satu siang.


Kami menghabiskan sore hari Sabtu melakukan hal-hal yang tidak layak diceritakan pada siapa pun, yang berarti hal-hal terbaik.

Dia mencoba menonton salah satu film yang kusuka dan tertidur di menit ke tiga puluh dua. Aku membiarkannya. Kepalanya berakhir di pangkuanku dan aku menonton sisanya sambil memainkan rambutnya dan tidak mengingat satu pun adegan.

Dia bangun jam lima dan langsung minta maaf.

“Buat apa?”

“Aku ketiduran.”

“Dev, itu bukan kesalahan.”

“Kamu yang milih filmnya.”

“Dan kamu tidur di pangkuan aku dua jam.” Aku menekan pipinya dengan telunjuk. “Menurut kamu aku rugi?”

Dia memikirkannya dengan serius. Dia betul-betul memikirkannya dengan serius, selama sekitar empat detik.

“Nggak tahu,” katanya.

“Devan.”

“Aku nggak punya perbandingannya.”

Aku berhenti menekan pipinya.

“Maksudnya?”

Dia duduk dan menggosok wajahnya.

“Aku belum pernah punya akhir pekan kayak gini,” katanya, sepenuhnya biasa, seperti orang melaporkan cuaca. “Sepuluh tahun. Sabtu itu hari buat ngejar kerjaan yang ketinggalan.”

“Setiap Sabtu?”

“Hampir.”

“Devan, itu lima ratus dua puluh Sabtu.”

“Lima ratus tiga belas,” katanya. “Ada beberapa yang aku sakit.”

Aku menariknya kembali ke pangkuanku dan tidak mengizinkannya bangun selama empat puluh menit.


Kejadian sikat gigi terjadi pada pukul sepuluh malam.

Aku sedang menyikat gigi ketika dia berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan tas kecilnya.

“Freya.”

“Hm?”

“Aku bawa sikat gigi.”

Aku berhenti menyikat.

Kami saling menatap lewat cermin.

“Oke,” kataku, dengan mulut penuh busa, dengan seluruh ketenangan yang bisa kukumpulkan.

“Aku taruh di mana?”

“Di gelas.”

“Gelasnya buat kamu.”

“Devan Alaric.” Aku meludah, berkumur, dan berbalik. “Taruh di gelas.”

Dia menaruhnya di gelas.

Dua sikat gigi di satu gelas, di kamar mandi apartemen dua kamar di Jakarta Selatan, pada pukul sepuluh lewat empat menit malam hari Sabtu.

Aku menatap gelas itu sekitar tiga detik terlalu lama.

“Kenapa?” tanyanya.

“Nggak apa-apa.”

“Freya.”

“Aku cuma—” Aku menggeleng. “Nggak apa-apa. Diem.”

Dia diam.

Dan sekitar dua menit kemudian, waktu aku sedang membuka lemari untuk mengambil handuk, dia bicara dari ambang pintu dengan nada orang yang sudah menyusun kalimatnya selama dua menit.

“Aku bawa sikat gigi karena aku ngarep,” katanya.

Aku berhenti dengan tangan di lemari.

“Ngarep apa?”

“Ngarep aku boleh nginep.” Dia menggosok belakang lehernya. “Aku beli hari Rabu. Aku bawa dari Rabu tiap ketemu kamu. Empat hari. Aku nggak pernah ngeluarin dari tas.”

Aku menutup lemari.

“Devan.”

“Hm.”

“Itu barusan permintaan.”

Dia berkedip.

“Apa?”

“‘Aku ngarep aku boleh nginep’,” ulangku. “Itu permintaan. Kamu barusan minta sesuatu.”

Aku melihat dia memproses kalimatnya sendiri.

Aku melihat wajahnya berubah pelan-pelan.

Dan aku melihat, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Devan Alaric tersenyum tanpa ada satu pun alasan lucu di ruangan itu.

“Oh,” katanya.

“Iya.”

“Aku nggak sadar.”

“Aku tahu.” Aku berjalan ke arahnya dan meletakkan handuk di dadanya. “Itu bagian terbaiknya.”


Kunci itu kuberikan hari Minggu pagi.

Aku sudah menyiapkannya sejak Kamis. Duplikat, di amplop kecil, di laci meja.

Aku menaruhnya di meja dapur sambil menuang kopi.

“Itu apa?”

“Buka.”

Dia membuka amplopnya, mengeluarkan kunci itu, dan menatapnya.

Dan tidak berkata apa-apa selama sepuluh detik penuh.

“Freya.”

“Jangan.”

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Aku tahu apa yang mau kamu bilang.” Aku menaruh cangkir di depannya. “Kamu mau bilang ini terlalu cepat. Atau kamu mau bilang kamu nggak butuh. Atau kamu mau bilang gimana kalau nanti ada apa-apa.”

Dia menutup mulutnya.

“Aku bener?”

“Ketiganya,” katanya.

“Devan.” Aku duduk di kursi seberangnya. “Aku mau kamu denger ini dan aku cuma bakal ngomong sekali.”

Dia menaruh kunci itu di meja.

“Ini bukan hadiah,” kataku. “Ini bukan aku ngasih kamu sesuatu. Ini aku ngasih kamu izin buat masuk tanpa nanya.”

“Freya—”

“Karena kamu nggak akan pernah bisa minta izin, Dev. Aku udah paham.” Aku menahan tatapannya. “Jadi aku hapus bagian minta izinnya. Sekarang kamu tinggal masuk.”

Dapur itu sunyi.

Dia mengambil kunci itu dari meja, sangat pelan, dan menggenggamnya di telapak tangan.

“Oke,” katanya.

Suaranya keluar salah dan dia berdeham.

“Oke,” ulangnya.


Dia menemukan jaket itu sekitar pukul empat sore.

Aku sedang di kamar mandi. Aku mendengar lemari dibuka — dia mencari kaus yang tertinggal dari minggu lalu, karena aku menyuruhnya mencari sendiri.

Lalu suara lemari itu berhenti.

Dan tidak ada suara apa pun selama waktu yang cukup lama sampai aku keluar untuk memeriksa.

Devan berdiri di depan lemari yang terbuka dengan jaket sekolah abu-abu di kedua tangannya.

Dia tidak menoleh waktu aku masuk.

“Ini masih ada,” katanya.

“Iya.”

“Kamu pindah empat kali.”

“Iya.”

Dia membalik jaket itu dan menemukan jahitan di siku kanan — jahitan tangan, rapat, benang abu-abu yang warnanya tidak persis sama.

“Ini siapa yang jahit?”

“Ibuku,” kataku. “Tahun dua ribu delapan belas. Sikunya sobek pas aku pindah kos.”

Devan berdiri di depan lemari itu untuk waktu yang lama sekali.

“Kamu jahitin,” katanya.

“Aku bawa ke ibuku, dan ibuku nggak nanya apa-apa, dan itu yang paling bikin aku nangis waktu itu.”

Dia menoleh.

“Kamu nangis?”

“Devan, aku nangis di ruang tunggu tukang jahit yang tukang jahitnya ibuku sendiri,” kataku. “Umur dua puluh satu. Sambil nunggu jaket cowok yang udah tiga tahun nggak aku lihat orangnya.”

Dia meletakkan jaket itu di kasur, sangat hati-hati, seperti orang meletakkan sesuatu yang bisa pecah.

“Freya.”

“Hm.”

“Kenapa kamu nggak pernah buang?”

Aku duduk di tepi kasur di sebelah jaket itu.

“Aku pernah nyoba,” kataku.

Dia menoleh.

“Dua ribu dua puluh,” lanjutku. “Aku pindah ke apartemen yang sekarang. Aku bikin tiga tumpukan: bawa, kasih orang, buang.” Aku menyentuh lengan jaket itu dengan satu jari. “Aku taruh ini di tumpukan buang.”

“Terus?”

“Terus aku duduk di lantai kamar kosong itu selama satu jam,” kataku. “Terus aku pindahin ke tumpukan bawa. Terus aku pindahin lagi ke tumpukan buang. Terus aku pindahin lagi.”

“Berapa kali?”

“Aku nggak ngitung, Dev. Aku bukan kamu.”

Dia hampir tersenyum.

“Terus?”

“Terus jam sebelas malem aku nangis di lantai kamar kosong sambil megang jaket SMA,” kataku, “dan aku bilang ke diri aku sendiri bahwa ini konyol, dan aku dua puluh tiga tahun, dan aku punya kontrak internasional, dan aku nggak boleh gini.”

“Terus?”

“Terus aku bawa.”

Devan berdiri di sana dan tidak berkata apa-apa.

“Aku sempet marah sama diri aku sendiri selama sekitar setahun gara-gara itu,” kataku. “Kayak ada bagian dari aku yang nggak mau maju.”

“Freya—”

“Sekarang aku seneng banget aku bawa,” kataku. “Tapi aku pengin kamu tahu bahwa selama tujuh tahun benda ini bikin aku ngerasa bego.”

Lalu dia menyeberangi kamar dan memelukku.

Dia yang duluan.

Aku ingin mencatat itu, karena aku menghitung hal-hal semacam ini, dan karena setelah malam itu aku menghitungnya lagi dan angkanya masih sangat kecil.

Dia yang duluan, dan dia tidak bilang apa-apa, dan aku merasakan napasnya tidak stabil di rambutku.

“Freya.”

“Hm.”

“Aku minta maaf.”

“Buat apa?”

“Buat semuanya,” katanya. “Buat tiga ribu enam ratus lima puluh delapan hari.”

Dan aku memegang belakang kepalanya dengan satu tangan dan tidak menjawab, karena tidak ada jawaban untuk itu, karena satu-satunya hal yang bisa dilakukan terhadap sepuluh tahun adalah tidak menambahnya.


Aku tidak akan menceritakan malam itu.

Bukan karena ada yang perlu disembunyikan. Karena itu milik kami, dan karena beberapa hal jadi lebih kecil kalau diceritakan.

Yang bisa kuceritakan cuma bagian sebelum dan bagian sesudah.

Bagian sebelum: dia berhenti di ambang pintu kamar, seperti biasa, karena laki-laki itu tidak pernah bisa melangkah masuk ke mana pun tanpa dipanggil.

Dan aku, yang sudah sepuluh tahun belajar mengambil sesuatu yang tidak akan pernah diberikan, mengulurkan tangan dan menariknya masuk dan menutup pintunya dengan kakiku.

Bagian sesudah: pukul enam pagi hari Senin, hujan di jendela, dan seorang laki-laki tidur di sisi kiri kasurku dengan satu tangan masih memegang pergelangan tanganku, longgar, seperti orang yang tertidur di tengah memastikan sesuatu.

Aku berbaring di sana selama empat puluh menit dan tidak menggerakkan tanganku sedikit pun.


Ponselnya bergetar pukul enam lewat empat puluh dua.

Aku bisa melihat layarnya dari tempatku berbaring. Nomor luar negeri. Bukan pesan — panggilan.

Dia bangun pada dering ketiga, melihat layar, dan seluruh tubuhnya berubah.

Aku melihatnya. Aku melihat persis detik di mana laki-laki yang tidur dengan tangan di pergelangan tanganku berubah kembali jadi orang yang dibayar untuk menemukan retakan di dinding.

“Sebentar,” katanya, dan keluar ke ruang tengah.

Dia bicara selama sebelas menit.

Aku tidak menguping. Aku tidak perlu. Aku cuma mendengar nada, dan aku sudah sepuluh tahun bekerja dengan orang-orang yang menyampaikan berita buruk lewat telepon, dan aku tahu bentuknya.

Dia kembali ke kamar pukul tujuh kurang lima.

“Siapa?”

“Kantor pusat.”

“Kenapa?”

Dia berdiri di ambang pintu — di ambang pintu, lagi — dengan ponsel di tangan.

“Belum jelas,” katanya.

“Devan.”

“Freya, aku beneran belum tahu.” Dan aku bisa melihat dia sedang mengatakan yang sebenarnya, dan itu tidak membuatku lebih tenang sama sekali. “Ada rapat Rabu. Nanti aku cerita.”

“Dua puluh empat jam.”

Dia menoleh.

“Apa?”

“Aturannya,” kataku. “Dua puluh empat jam.”

Dan Devan berdiri di ambang pintu kamarku pada pukul tujuh kurang lima pagi hari Senin, dengan hujan di jendela dan kunci apartemenku di sakunya, dan berkata:

“Aku inget.”