← Jangan Pergi

Chapter Thirty Two

Sebelas Hari

POV: FreyaSekarang

Kami tidak putus.

Itu bagian yang paling sulit dijelaskan pada siapa pun, termasuk pada Vinka, yang bertanya empat kali dalam sebelas hari dan tidak pernah mendapat jawaban.

“Kalian putus?”

“Nggak.”

“Kak.”

“Kami nggak putus, Vin.”

“Terus kalian apa?”

Dan aku tidak punya kata untuk itu, karena bahasa Indonesia — dan sejauh yang kutahu, bahasa apa pun — tidak punya kata untuk dua orang yang masih saling mencintai dan sudah berhenti bergerak.


Sebelas hari.

Kami bertemu enam kali dalam sebelas hari itu.

Dan setiap pertemuan berlangsung dengan sopan.

Itu kata yang tepat dan aku memakainya dengan sengaja. Sopan. Devan datang, membawa makanan, bertanya bagaimana hariku. Aku menjawab. Aku bertanya bagaimana harinya. Dia menjawab. Kami makan. Dia mencuci piring. Dia pulang sebelum jam sebelas.

Tidak ada pertengkaran. Tidak sekali pun.

Kalau ada orang yang menonton kami dari luar jendela, mereka akan melihat dua orang dewasa yang nyaman satu sama lain.

Yang tidak terlihat dari luar jendela:

Bahwa dia berhenti memakai kuncinya. Sejak malam itu, setiap kali, dia mengetuk.

Aku tidak pernah menyebutkannya. Dia tidak pernah menjelaskannya.

Dan setiap ketukan itu terdengar seperti seseorang mengembalikan sesuatu tanpa mengatakan bahwa dia mengembalikannya.


Hari ketiga, aku mencoba satu hal.

Aku menyiapkan makan malam — aku, yang kompornya cuma pernah dipakai untuk merebus air, dengan resep yang kutanyakan pada ibuku lewat telepon selama dua puluh menit. Ayam dengan kuah kuning. Yang bumbunya harus digiling, tidak boleh diblender.

Aku menggilingnya. Dua setengah jam.

Devan datang jam delapan dan berhenti di ambang pintu dapur.

“Kamu masak?”

“Iya.”

“Freya, kamu—”

“Duduk.”

Dia duduk. Dia makan. Dia menghabiskan dua piring, yang tidak pernah dia lakukan, dan aku tahu persis apa artinya.

“Enak?”

“Enak banget.”

“Bohong.”

“Nggak.” Dia menatap piringnya. “Ini resep neneknya kamu.”

“Kamu inget?”

“Aku inget banyak hal.”

Dan kami duduk di meja itu — di meja, bukan di lantai dapur, karena entah bagaimana kami sudah berhenti duduk di lantai dapur tanpa satu pun dari kami mengumumkannya — dan aku menunggu.

Aku memasak dua setengah jam untuk satu hal.

Aku ingin dia bertanya kenapa.

Aku ingin dia bilang “kamu kenapa masak?” atau “ini dalam rangka apa?” atau apa pun yang menuntut penjelasan, supaya aku punya pintu masuk, supaya aku bisa bilang karena aku takut kehilangan kamu dan aku nggak tahu harus ngapain lagi.

Devan mencuci piringnya, mengucapkan terima kasih tiga kali, dan pulang jam sepuluh lewat empat puluh.

Dia tidak bertanya sekali pun.

Dan aku berdiri di dapur yang bau bumbu giling pada pukul sebelas malam dan menyadari sesuatu yang jauh lebih buruk daripada kalau dia acuh:

Dia tidak bertanya karena dia sudah tahu jawabannya.

Dia tahu persis kenapa aku memasak.

Dan dia memilih untuk tidak membuka pintu itu, karena kalau pintu itu terbuka, dia harus memberikan sesuatu yang tidak dia punya.


Yang paling buruk bukan jaraknya.

Yang paling buruk adalah bahwa dia jadi lebih baik.

Aku tahu bagaimana kedengarannya. Aku sudah mencoba menjelaskannya pada Vinka dan gagal, dan aku akan gagal lagi di sini, tapi aku akan mencoba.

Devan Alaric, dalam sebelas hari itu, adalah pacar terbaik yang pernah kupunya.

Dia mengantar ibuku ke rumah sakit untuk kontrol rutin pada hari Kamis, karena aku ada syuting dan Sena ada ujian, dan dia melakukannya tanpa memberitahuku sampai selesai — dan waktu aku hampir marah tentang itu, ibuku meneleponku duluan dan bicara selama dua belas menit tentang betapa sopannya anak itu dan bahwa dia membawakan roti.

Dia memperbaiki mesin jahit tua di ruang depan rumah kami. Yang hitam. Yang berpedal. Yang sudah tidak dipakai sejak ayahku meninggal dan tidak pernah ada yang berani menyentuhnya.

Dia menemukan bahwa Sena akan wisuda dalam empat bulan dan mendaftarkan namanya ke sebuah program magang di kantor pusat, dan tidak memberitahu siapa pun, dan Sena baru tahu waktu emailnya masuk.

Setiap satu dari hal-hal itu bagus.

Setiap satu dari hal-hal itu adalah kebaikan sungguhan yang dilakukan tanpa pamrih oleh seseorang yang benar-benar peduli.

Dan setiap satu dari hal-hal itu adalah orang yang sedang membereskan ruangan sebelum dia keluar dari pintu.


Aku menyadarinya pada hari kedelapan.

Aku sedang membuka lemari kamar mandi untuk mencari sesuatu.

Sikat giginya masih di gelas.

Dan di rak bawah, dalam kotak plastik kecil, ada tiga barangnya yang lain — pisau cukur, sisir, satu botol kecil obat sakit kepala yang dia minum kalau kurang tidur.

Semuanya masih di sana.

Tapi kotak plastik itu bukan punyaku.

Kotak plastik itu tidak ada di rak itu sepuluh hari lalu. Barang-barangnya dulu berserakan — pisau cukur di tepi wastafel, sisir di atas mesin cuci, botol obat di tempat yang berbeda setiap minggu.

Seseorang telah mengumpulkan semuanya jadi satu, memasukkannya ke dalam kotak, dan menaruhnya di rak bawah.

Rapi. Terpusat. Siap.

Aku berdiri di kamar mandiku sendiri dengan pintu lemari terbuka selama sekitar dua menit.

Lalu aku menutupnya dan tidak mengatakan apa pun tentang itu, tidak pada hari itu, tidak pada hari-hari berikutnya, dan aku tidak tahu sampai sekarang apakah dia melakukannya dengan sadar.

Kemungkinan besar tidak.

Kemungkinan besar tangannya mengerjakannya sendiri, seperti kaki yang menghitung langkah, seperti tubuh yang memilih kursi berjarak dua meter tanpa satu detik pertimbangan.

Tubuh orang itu selalu tahu duluan.


Hari kesembilan, aku berhenti meraih.

Aku ingin sangat jujur tentang bagian ini, karena inilah bagian yang paling memalukan dari seluruh cerita ini kalau dilihat dari sisiku.

Selama sebelas tahun aku adalah orang yang menyeberangi jarak.

Aku menyodorkan tangan di kantin di depan seratus orang. Aku menariknya naik angkot. Aku menghitung sampai empat puluh, dua kali, sepuluh tahun berjarak. Aku mengambil tangannya sendiri waktu aku menangis dan melingkarkannya ke punggungku karena aku tahu dia tidak akan melakukannya.

Aku tidak pernah keberatan. Aku ingin itu tercatat. Aku tidak pernah, sekali pun, merasa itu tidak adil, karena aku tahu kenapa dia begitu, dan karena setiap kali dia membalas dengan cara yang membuat seluruh usahaku terasa murah harganya.

Tapi pada hari kesembilan, kami duduk di sofa menonton sesuatu, dan tangannya ada di antara kami, telapak menghadap ke atas.

Terbuka.

Menunggu.

Dan aku melihatnya, dan aku tahu persis apa artinya, dan aku tahu bahwa buat laki-laki itu meletakkan telapak tangan terbuka di sofa adalah setara dengan berteriak.

Aku tidak mengambilnya.

Aku duduk di sana selama sekitar empat menit dengan tangan di pangkuanku sendiri dan menonton acara yang tidak kuikuti, dan aku merasakan tangan itu tetap terbuka di sebelahku selama empat menit itu, dan aku tidak mengambilnya.

Lalu dia menutupnya dan memakainya untuk mengambil gelas.


Aku menangis di kamar mandi setelah dia pulang malam itu, dengan air keran menyala, di apartemen yang tidak ada siapa-siapa dan tidak ada yang perlu ditutupi.

Bukan karena dia tidak mengulanginya.

Karena aku mengerti, akhirnya, apa yang sudah kulakukan.

Aku selalu berpikir kesabaranku adalah kebaikan. Sebelas tahun menyeberangi jarak itu, setiap kali, tanpa mengeluh — aku pikir itu cinta.

Dan mungkin memang.

Tapi ada bagian lain yang baru kulihat pada hari kesembilan dengan tangan di pangkuanku sendiri:

Setiap kali aku menyeberang, dia tidak perlu.

Sebelas tahun aku memastikan laki-laki itu tidak pernah sekali pun harus merasakan bagaimana rasanya kalau tidak ada yang datang.

Aku menyebutnya sayang.

Ternyata itu juga bentuk lain dari perlindungan, dan aku belajar melindungi orang dengan cara yang sama seperti dia: dengan mengerjakannya sendiri, diam-diam, tanpa pernah menanyakan apakah orangnya ingin dilindungi.

Kami tidak berbeda sama sekali.

Kami cuma memakai arah yang berlawanan.


Hari kesepuluh, Vinka memaksaku makan siang.

“Kak, gue mau ngomong dan lo nggak boleh motong.”

“Oke.”

“Gue mikir gue harus resign.”

Aku menaruh sumpitku.

“Vin.”

“Gue mikirin ini empat hari,” katanya, cepat, dengan mata di meja. “Gue pegang rahasia itu dua hari, Kak. Gue duduk di sebelah lo dua hari. Gue nggak bisa jadi manajer lo kalau gue bisa ngelakuin itu.”

“Vinka—”

“Dan gue nggak bisa jadi temen lo kalau gue kerja sama lo.” Suaranya pecah. “Gue nggak bisa dua-duanya, Kak. Gue udah sepuluh tahun nyoba dan minggu lalu gue ketahuan nggak bisa.”

Dan aku duduk di restoran itu dan melihat perempuan yang sudah bersamaku sejak umur tujuh belas menawarkan untuk pergi supaya aku tidak perlu memutuskan apa pun tentang dia.

Semua orang di sekitarku melakukan hal yang sama.

Semua orang.

“Vin.”

“Kak—”

“Vinka, lihat aku.”

Dia mengangkat kepala.

“Kamu nggak resign,” kataku. “Kamu tetep di sini. Dan kalau suatu hari nanti kamu pegang rahasia lagi dan kamu nggak tahan, kamu cerita lagi. Itu aturannya sekarang.”

“Kak, itu bukan profesional—”

“Aku nggak butuh manajer yang profesional, Vin. Aku bisa nyewa lima.” Aku menahan tatapannya. “Aku butuh orang yang nggak tahan.”

Vinka menangis di restoran pada pukul satu siang dan aku memberinya tisu dan tidak menangis, dan kalau ada yang bertanya kenapa aku tidak menangis, jawabannya adalah bahwa aku sudah tidak punya.


Hari kesebelas, Devan menelepon pukul tujuh pagi.

Aku tahu dari deringnya bahwa itu bukan telepon biasa. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana. Dering ponsel semuanya sama.

“Halo.”

“Freya.”

Dan suaranya salah.

“Dev?”

“Bapakku masuk ICU semalem.”

Aku sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai.

“Kamu di mana?”

“Rumah sakit.”

“Yang di Jakarta Timur?”

“Yang baru. Aku pindahin dia empat hari lalu.” Ada bunyi di seberang, pengumuman, roda. “Freya, aku nggak nelepon buat—”

“Aku ke sana.”

“Nggak usah.”

“Devan.”

“Freya, kamu ada kerjaan hari ini. Aku cek. Ada dua.” Suaranya rata dan lelah dan sepenuhnya masuk akal. “Aku nggak nelepon buat minta kamu dateng. Aku nelepon karena—”

Dia berhenti.

Aku berdiri di kamarku pukul tujuh lewat dua pagi dengan ponsel di telinga dan menunggu.

Aku menunggu selama sekitar delapan detik.

“Karena apa, Dev?”

Dan Devan Alaric, dari sebuah lorong rumah sakit di Jakarta pada pagi hari Rabu, dengan ayahnya di dalam ruangan yang tidak boleh dimasuki siapa pun, berkata:

“Karena kamu satu-satunya orang yang kepikiran buat aku telepon.”

Aku menutup mataku.

“Itu aja,” katanya. “Kamu nggak usah dateng. Aku cuma—”

“Devan.”

“Iya.”

“Kamu barusan minta sesuatu,” kataku, pelan.

Hening di seberang.

“Nggak,” katanya.

“Iya.”

“Freya, aku beneran nggak—”

“Aku tahu kamu nggak sengaja,” kataku. “Itu bagian terbaiknya.”

Aku membuka lemari dan mengambil apa pun yang paling dekat.

“Aku ke sana,” kataku. “Aku bakal telat dua jam ke lokasi dan itu urusan aku. Jangan bantah, jangan hitung, jangan bilang apa-apa.”

Dan untuk pertama kalinya dalam sebelas hari, Devan tidak membantah.

“Oke,” katanya.