Chapter Fourteen
Protokol
POV: Devan — Sekarang
Aku bangun pukul lima lewat sepuluh, yang berarti aku tidur sekitar empat jam, yang berarti aku seharusnya merasa buruk.
Aku tidak merasa buruk.
Aku berbaring di kasur selama dua belas menit — dan aku tahu dua belas menit karena tentu saja aku tahu — sambil menatap langit-langit kos yang catnya mengelupas di satu sudut, dan aku menjalankan sesuatu di kepalaku yang belum pernah kujalankan seumur hidupku.
Aku mencoba menyusun protokol.
Ini kebiasaan buruk dan aku sadar sepenuhnya bahwa ini kebiasaan buruk. Tapi aku tidak punya perangkat lain. Kalau ada situasi baru, aku menyusun aturan; kalau aturannya jelas, aku bisa berfungsi. Itu cara kerjaku sejak umur tiga belas.
Masalahnya: aku tidak punya satu pun data untuk situasi ini.
Terakhir kali aku punya pacar, aku delapan belas tahun, dan seluruh protokolnya disusun oleh Freya Anindita dan terdiri dari sekitar empat aturan, dan tiga di antaranya tentang cara menghindari Vinka.
Sekarang aku dua puluh delapan. Dia dua puluh delapan. Dia salah satu wajah yang paling banyak dilihat orang di negara ini. Aku memimpin tim di perusahaan yang membayarnya.
Aku menyerah pada menit kedua belas dan bangun.
Aku sampai kantor pukul tujuh, dua jam lebih awal dari yang perlu.
Airin sudah ada di sana, karena Airin selalu sudah ada di sana.
“Pagi.”
“Pagi.”
Dia mengangkat kepala dari layarnya, menatapku selama sekitar dua detik, dan kembali mengetik.
“Tidurnya cukup?”
“Empat jam.”
“Kelihatannya delapan.”
Aku duduk di mejaku dan menyalakan layar.
“Dev.”
“Ya.”
“Insiden Kamis kemarin udah beres semua?”
“Beres.”
“Bagus.” Jeda. Suara ketikan berhenti. “Terus kenapa kamu senyum?”
Aku berhenti bergerak.
“Aku nggak senyum.”
“Kamu senyum sekitar tujuh detik waktu buka laptop,” kata Airin, tanpa menoleh. “Aku nggak nanya kenapa. Aku cuma pengin kamu tahu bahwa ini gedung yang isinya orang perhatian.”
Aku menatap layarku selama beberapa saat.
“Oke,” kataku.
“Bagus.” Ketikan dimulai lagi. “Dan Dev?”
“Ya.”
“Kalau ada yang perlu didisclose ke HR, kamu yang bilang duluan. Bukan aku yang nanya.”
Freya datang pukul sepuluh untuk sesi approval yang menurut Vinka tidak bisa dilakukan lewat email.
Aku sudah menyusun rencana untuk ini juga. Rencananya sederhana: aku tidak akan berada di lantai yang sama.
Aku berada di lantai yang sama dalam waktu enam menit.
Bukan karena aku memilih. Airin memanggil setengah tim ke ruang rapat besar untuk membahas fase berikutnya, dan ruang rapat besar ada di lantai dua puluh dua, dan sesi approval juga di lantai dua puluh dua, dan pintunya bersebelahan.
Dia keluar dari ruangan sebelah tepat ketika aku lewat.
Kami berpapasan di koridor dengan enam orang lain di antara kami.
“Pagi, Pak Devan,” katanya.
“Pagi.”
Itu saja. Dua detik. Dia berjalan terus. Aku berjalan terus.
Dan aku harus berhenti di depan pintu ruang rapat selama sekitar tiga detik untuk mengingat kembali kenapa aku ada di sana.
Pak Devan.
Dia memanggilku “Pak Devan” dengan nada yang seratus persen profesional dan tidak bisa dituduh apa pun oleh siapa pun, dan aku tahu — aku tahu — bahwa dia melakukannya dengan sengaja, dengan penuh kesadaran, sebagai serangan.
Aku duduk di rapat itu selama lima puluh menit dan tidak bisa mengingat lebih dari setengahnya.
Ada satu hal yang tidak pernah kupertimbangkan sebelumnya, dan yang kupelajari dalam sembilan jam pertama.
Menjadi orang yang tidak menunjukkan apa-apa adalah keahlian yang kubangun selama lima belas tahun. Aku bagus dalam hal itu. Aku pernah duduk di ruang rapat sambil mendengar keputusan yang membatalkan pekerjaan enam bulanku, dan tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang tahu.
Ternyata keahlian itu cuma bekerja satu arah.
Aku sangat bagus menyembunyikan hal-hal yang menyakitkan.
Aku sama sekali tidak punya perangkat untuk menyembunyikan yang sebaliknya.
Pukul sebelas, seorang anak dari tim data menaruh laporan di mejaku dan berkata “ini yang Mas minta kemarin”, dan aku berkata “makasih ya”, dan dia berdiri di sana selama dua detik.
“Mas oke?”
“Oke.”
“Mas biasanya cuma ngangguk.”
Pukul satu, di antrean makan siang, seseorang menabrakku dan minta maaf tiga kali, dan aku bilang tidak apa-apa dengan nada yang jelas-jelas keliru, karena orang itu menoleh dua kali sambil berjalan pergi.
Pukul tiga, Airin lewat mejaku dan menaruh permen di sebelah keyboard-ku tanpa berkata apa-apa.
Aku menatap permen itu selama sekitar satu menit.
Lalu aku memakannya, karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan terhadap permen.
Ponselku bergetar di tengah rapat pagi itu, di menit ke dua puluh delapan.
Freya: pak devan
Aku memiringkan layar ke arah paha.
Aku: jangan
Freya: jangan apa pak
Aku: freya
Freya: iya pak
Freya: saya cuma mau konfirmasi soal approval look 3 pak
Freya: apakah bapak berkenan
Aku menaruh ponsel menghadap ke bawah di atas meja rapat dan menatap layar proyektor dengan konsentrasi yang tidak dibutuhkan oleh slide berisi empat poin.
Getar lagi.
Freya: bapak diem aja
Freya: bapak marah?
Freya: bapak jangan marah dong
Anak engineer di sebelahku menoleh karena aku mengeluarkan suara.
“Nggak apa-apa,” kataku.
Vinka menyergapku di pantry pukul empat sore.
Dia menutup pintu. Sepenuhnya. Pantry itu punya pintu dan dalam tiga minggu aku belum pernah melihat siapa pun menutupnya.
“Mas Devan.”
“Vinka.”
“Duduk.”
“Ini pantry. Nggak ada kursi.”
“Berdiri kalau gitu.” Dia mengeluarkan tabletnya. “Gue punya sesuatu.”
Di layar, sebuah dokumen. Judulnya, dalam huruf tebal:
PROTOKOL DEVAN–FREYA (RAHASIA)
Disusun oleh: Vinka. Versi 1.0
Aku menatap layar itu selama beberapa detik.
“Kamu bikin dokumen.”
“Gue manajer, Mas. Gue bikin dokumen buat semua hal.”
“Vinka, kamu tahu dari mana—”
“Mas.” Vinka menatapku dengan wajah lelah. “Kemarin Kak Freya masuk ke van pagi ini terus bilang ‘pagi Vin’ pakai nada yang belum pernah gue denger sejak dua ribu delapan belas. Gue nggak perlu bukti. Gue perlu dokumen.”
Dia menggulir ke bawah.
“Pasal satu. Nggak ada yang boleh tahu. Nggak ada. Termasuk Mas punya temen yang jualan kopi itu.”
“Gilang udah tahu.”
“YA AMPUN.”
“Dia nebak sendiri.”
“Kapan?”
“Jam tujuh pagi.”
“Mas baru jadian jam sepuluh malem!”
“Dia kirim pesan,” kataku. “Isinya cuma ‘akhirnya’.”
Vinka menutup mata dan menghela napas seperti orang yang kehilangan sesuatu.
“Pasal dua,” lanjutnya. “Nggak ada kontak fisik di gedung ini. Nol. Nggak ada nyentuh bahu, nggak ada benerin rambut, nggak ada—”
“Oke.”
“—dan gue serius soal ini, Mas, karena Kak Freya tuh nggak bisa nahan diri. Sama sekali. Nol pengendalian. Gue udah sepuluh tahun sama dia.”
“Aku tahu.”
“Mas nggak tahu.”
“Aku tahu,” kataku, dan aku mendengar sesuatu di suaraku sendiri yang membuat Vinka mendongak.
Dia menatapku beberapa saat.
“Oke,” katanya, lebih pelan. “Mas tahu.”
Dia menggulir lagi.
“Pasal tiga. Kalau mau ketemu, jangan di tempat yang ada orang. Jangan restoran. Jangan bioskop malem. Jangan mal weekend.” Dia menghitung dengan jari. “Bioskop pagi boleh. Jam sepuluh pagi hari kerja. Isinya cuma ibu-ibu sama orang yang lagi bolos.”
“Itu spesifik banget.”
“Gue udah sepuluh tahun ngurusin ini, Mas. Gue tahu jam berapa aja Indonesia nggak ngeliatin.”
“Pasal empat?”
Vinka mengunci tabletnya dan menaruhnya di dada.
“Pasal empat nggak ada di dokumen,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena ini bukan buat dokumen.” Dia menatapku lurus. “Mas, gue mau bilang satu hal, terus gue kembali jadi manajer profesional.”
“Oke.”
“Gue kenal Kak Freya dari umur tujuh belas,” kata Vinka. “Gue ada di sekolah itu. Gue lihat dia tiap hari selama delapan bulan pas dia lagi...” Dia melambaikan tangan. “Pas dia lagi kayak gitu.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Terus gue lihat dia setelah itu,” lanjutnya. “Sepuluh tahun. Gue lihat semuanya. Dan gue mau Mas ngerti sesuatu: Kak Freya tuh nggak pernah rusak. Dia baik-baik aja. Dia sukses, dia kuat, dia bikin gue kagum tiap hari.”
“Aku tahu.”
“Tapi ada satu hal yang berubah dan nggak pernah balik,” kata Vinka. “Dia jadi orang yang nggak pernah minta apa-apa ke siapa pun.”
Pantry itu sunyi.
Aku merasakan sesuatu yang sangat dingin bergerak turun dari tengkuk ke punggung.
“Gue nggak tahu kenapa,” kata Vinka. “Gue nggak nanya. Tapi Mas kelihatannya tahu.”
Aku bertemu dengannya pukul enam sore, di tangga darurat antara lantai dua puluh dua dan dua puluh tiga, karena itu satu-satunya tempat di gedung itu yang tidak punya kamera dan tidak pernah dipakai siapa pun.
Dia sudah di sana, duduk di anak tangga keempat dari atas, sepatu dilepas.
“Kamu duluan,” kataku.
“Aku selalu duluan.” Dia menggeser sedikit. “Duduk.”
Aku duduk di sebelahnya. Ada jarak sekitar sepuluh senti.
“Hari ini gimana?” tanyanya.
“Buruk.”
“Buruk?”
“Aku salah baca satu grafik. Dua kali. Anak buahku sampai nanya apa aku sakit.”
Dia tertawa, dan suaranya memantul di sumur tangga.
“Bagus.”
“Bagus?”
“Iya. Bagus banget.” Dia menyandarkan bahunya ke bahuku. “Aku hari ini nggak bisa inget nama orang. Aku manggil creative director ‘Mas’ selama empat jam. Namanya Bagus. Aku hafal namanya dari dua tahun lalu.”
Kami duduk di sana beberapa saat.
Lalu dia mengulurkan tangan, telapak menghadap ke atas, di atas lututnya.
Aku menatapnya.
“Apa?” tanyaku.
“Ya, pegang.”
“Oh.”
“Devan.”
“Iya.”
Dan aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya, dan itu adalah hal paling canggung yang kulakukan sepanjang dua puluh delapan tahun hidupku.
Sungguh. Aku menciumnya semalam di dapur apartemennya dan itu terasa seperti hal paling wajar di dunia, dan sekarang aku duduk di tangga darurat dan tidak tahu berapa besar tekanan yang benar untuk sebuah genggaman tangan.
Terlalu erat terasa aneh. Terlalu longgar terasa seperti tidak mau.
Aku mengubah posisinya tiga kali.
Freya mulai bergetar di sebelahku.
“Kamu ketawa.”
“Nggak.”
“Kamu ketawa.”
“Aku—” Dia menutup mulutnya. “Devan, kamu tuh baru aja mikirin ini kayak lagi ngerjain soal.”
“Iya.”
“Kamu ngaku?”
“Aku selalu ngaku kalau ditanya.” Aku menatap tangan kami. “Aku cuma nggak pernah cerita kalau nggak ditanya.”
Dia berhenti tertawa.
Dan dia menggeser jari-jarinya, pelan, sampai masuk di antara jari-jariku, dan menguncinya.
“Gini,” katanya. “Udah. Nggak usah dipikirin lagi. Ini posisinya. Selesai.”
“Oke.”
“Kalau bingung, ya gini terus.”
“Oke.”
Kami duduk di tangga darurat lantai dua puluh dua selama dua puluh menit, tidak melakukan apa pun, sampai bunyi pintu di lantai bawah membuat kami berdua berdiri terlalu cepat seperti dua anak SMA.
Yang mana, harus kuakui, cukup akurat.
Malamnya, sekitar pukul sebelas, ponselku bergetar.
Freya: dev
Aku: hm
Freya: hari ini gimana
Aku: kamu udah nanya tadi
Freya: aku nanya lagi
Aku duduk di tepi kasur di kos yang catnya mengelupas di satu sudut, dan aku menatap dua kata itu cukup lama.
Aku nanya lagi.
Dia melakukannya dengan sengaja. Aku tahu itu, karena dia tidak melakukan apa pun tanpa sengaja.
Kalau aku tidak bisa mulai, dia akan bertanya. Berulang-ulang. Setiap hari kalau perlu. Dia sudah menemukan cara masuk dan dia akan memakainya sampai aku tidak butuh lagi.
Ada bagian dari diriku yang merasa malu tentang itu — bagian yang berhitung, yang tahu persis berapa besar beban yang baru saja kupindahkan ke bahu orang lain, dan yang sudah mulai menyusun argumen tentang kenapa ini tidak adil bagi Freya dalam jangka panjang.
Aku mematikan bagian itu.
Bukan menyelesaikannya. Cuma mematikannya, untuk malam itu, dengan sadar, seperti orang menutup pintu ruangan yang belum dia bereskan.
Aku akan menyesali itu nanti. Sekitar sebelas minggu lagi, di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur.
Tapi malam itu aku cuma mengetik.
Aku: bagus
Aku: hari ini bagus
Freya: nah
Freya: tidur sana
Freya: pak devan
- 1 Punggung Itu
- 2 Tujuh Puluh Delapan
- 3 Tiga Minggu
- 4 Yang Ketiga
- 5 Jaket
- 6 Sembilan Menit
- 7 Berhenti Sopan
- 8 Secara Objektif
- 9 Temenku, Kerja IT
- 10 Dua Jam Empat Menit
- 11 Nomor Tujuh Belas
- 12 Basement P2
- 13 Empat Puluh
- 14 Protokol reading
- 15 Siomay
- 16 Studio 4, Baris H
- 17 Kaus Abu-abu
- 18 Enam Belas Jam
- 19 Rute Panjang
- 20 Rumah yang Tidak Pernah Kudatangi
- 21 Empat Meja
- 22 Lantai Dua
- 23 Empat Belas Detik
- 24 Dua Hari
- 25 Rabu
- 26 Jam ke-24
- 27 Tiga Puluh Satu
- 28 Panggung Kecil
- 29 Jakarta Timur
- 30 Hari Selasa
- 31 Setiap Poinnya Benar
- 32 Sebelas Hari
- 33 Teras
- 34 Pak Hendra
- 35 Tiga Kata
- 36 Meja Dapur