← Jangan Pergi

Chapter Twelve

Basement P2

POV: DevanSekarang

Hal yang kuperingatkan tiga minggu sebelumnya terjadi pada hari Kamis pukul sembilan belas lewat empat puluh, dan aku tidak merasa puas sedikit pun.

Itu salah satu hal yang tidak pernah diceritakan orang tentang pekerjaan ini. Ketika kamu bilang sebuah rencana akan patah di titik tertentu, dan rencana itu betul-betul patah di titik itu, kamu tidak merasa menang. Kamu merasa seperti orang yang menunjuk retakan di dinding lalu dinding itu roboh menimpa orang lain.

Bukan bencana besar. Tidak ada yang muncul di berita. Sekitar dua persen pengguna di wilayah baru mendapat respons yang lebih lambat dari seharusnya selama empat jam, dan sekitar dua ratus di antaranya menulis keluhan, dan sekitar sebelas ribu tidak menulis apa-apa dan berhenti membuka aplikasinya.

Sebelas ribu yang diam itu yang membuatku tinggal di kantor sampai lewat tengah malam.

Ruang kerja lantai dua puluh tiga malam itu berisi sembilan orang, tiga kotak pizza yang tidak habis, dan satu layar besar di dinding yang menampilkan grafik yang seharusnya tidak berbentuk seperti itu.

“Kita rollback aja,” kata salah satu engineer, untuk ketiga kalinya.

“Nggak.”

“Dev, ini udah tiga jam—”

“Kalau kita rollback sekarang, dua persen ini balik normal dan kita nggak akan pernah tahu kenapa,” kataku. “Terus tiga bulan lagi kita buka wilayah berikutnya dan ini kejadian lagi, tapi bukan dua persen.”

Ruangan diam.

“Berapa persen?”

“Dua puluh satu.”

Tidak ada yang bicara soal rollback lagi setelah itu.

Kami menemukan penyebabnya pukul dua belas lewat empat puluh. Bukan hal besar. Bukan hal pintar. Satu asumsi yang dituliskan seseorang delapan bulan lalu di kota lain, yang benar untuk semua orang kecuali orang-orang yang koneksinya putus-putus di tengah percakapan — dan orang-orang yang koneksinya putus-putus di tengah percakapan kebetulan berjumlah sebelas ribu di wilayah ini dan hampir nol di wilayah tempat asumsi itu ditulis.

Aku menatap baris itu selama beberapa detik.

Aku memikirkan seseorang di sebuah kota kecil, jam setengah tiga pagi, mengetik sesuatu yang tidak bisa dia katakan pada manusia mana pun, lalu layarnya berputar terlalu lama, lalu dia menutup aplikasinya dan tidak membukanya lagi.

Sebelas ribu orang.

Airin pulang jam sebelas setelah aku memaksanya.

“Kamu juga pulang,” katanya di depan lift.

“Sebentar lagi.”

“Dev.”

“Ada tiga hal. Satu jam.”

Dia menatapku dengan tatapan yang sudah kuhafal — perempuan kedua dalam hidupku yang tidak percaya pada angka rata-rata — lalu menyerah dan masuk lift.

Aku selesai pukul satu lewat lima puluh.


Lantai dua puluh tiga kosong dan gelap kecuali sekitar tiga meter di sekitar mejaku.

Aku mematikan layar, menegakkan punggung, dan mendengar sesuatu.

Bunyi kertas.

Aku menoleh, dan di ruang tunggu kecil dekat lift, di sofa panjang yang belum sekali pun dipakai orang, seseorang duduk bersila dengan kaki telanjang dan laptop di pangkuan.

“Jangan kaget,” katanya, tanpa mengangkat kepala. “Aku udah di sini dari jam sebelas.”

Aku berdiri sekitar dua detik lebih lama dari yang wajar.

“Kenapa kamu masih di sini?”

“Rekaman voice-over di lantai sembilan. Selesai jam sepuluh.” Dia menutup laptop. “Terus aku naik. Terus resepsionisnya bilang lantai dua puluh tiga masih ada orang. Terus aku duduk.”

“Empat jam.”

“Tiga jam empat puluh.” Dia meregangkan leher. “Aku bales email. Produktif banget malahan.”

Ada kantong kertas di meja kecil di depannya.

“Itu apa?”

“Nasi goreng.” Dia mendorongnya ke arahku dengan kaki. “Dari tempat yang buka sampai jam dua. Bukan yang di bawah apartemen kamu di Amerika, tapi ya konsepnya sama.”

Aku menatap kantong itu.

“Devan, itu bakal dingin kalau kamu pelototin terus.”

Aku duduk di kursi di seberangnya dan makan nasi goreng jam dua pagi di ruang tunggu kantor, dan dia duduk bersila di sofa sambil melihat ke luar jendela, dan tidak ada yang bicara selama enam menit.

Itu enam menit paling tenang yang pernah kualami di Jakarta.

Ponselnya bergetar di sofa. Dia meliriknya, menghela napas, dan memutar layarnya ke arahku.

Vinka (01:47): kak lo di mana
Vinka (01:47): kak
Vinka (01:51): oke gue nggak nanya
Vinka (01:52): tapi kalau lo diculik tolong kirim emoji apel
Vinka (01:58): kak gue serius gue nggak bisa tidur
Vinka (02:03): gue lagi hapusin chat gue satu satu btw
Vinka (02:03): ada 4.219
Vinka (02:04): gue baru sampe 30

“Dia beneran ngapus satu-satu?” tanyaku.

“Dari malam peluncuran.” Freya mengetik sesuatu. “Ada tombol hapus semua, katanya kamu bilang gitu.”

“Ada.”

“Dia nggak mau pakai.”

“Kenapa?”

“Katanya dia mau baca dulu semuanya.” Freya menaruh ponselnya. “Katanya dia penasaran sama dirinya sendiri empat tahun lalu.”

Aku memikirkan itu sambil mengunyah.

“Itu... sebenernya alasan yang bagus banget,” kataku.

“Aku tahu.” Dia menyandarkan kepala ke sandaran sofa. “Vinka kadang bego, kadang tiba-tiba ngomong hal yang bikin aku diem tiga hari.”

Aku menghabiskan nasi goreng itu sampai bersih, yang tidak pernah kulakukan pada makanan apa pun sejak pindah ke Amerika.

“Enak?”

“Enak.”

“Bagus. Mahal itu.”

“Berapa?”

“Dua puluh delapan ribu.”

“Itu nggak mahal.”

“Aku tahu,” katanya. “Aku cuma pengin kamu tanya sesuatu ke aku.”

Aku meletakkan sendok.


Kami turun ke basement pukul dua lewat dua puluh.

P2. Lantai kedua, sudut barat, tempat mobilku diparkir setiap hari karena letaknya paling dekat tangga darurat dan paling jauh dari lift, yang berarti tidak pernah ada orang.

Mobilnya diparkir tiga slot dari mobilku. Supirnya sudah dipulangkan jam sebelas.

“Kamu nyetir sendiri?” tanyaku.

“Kadang. Kalau lagi pengin marah sambil nyetir.”

“Kamu lagi marah?”

“Belum.”

Lampu basement itu jenis yang menyala terlambat saat mendeteksi gerakan, jadi kami berjalan melalui tiga lingkaran cahaya yang menyala satu per satu di belakang kami dan mati lagi.

Dia berhenti di antara dua mobil.

Dan dia tidak berkata apa-apa. Dia cuma berdiri di sana, bersandar ke pintu mobilnya, dan menunggu.

Kalau kamu mau cerita, kamu yang harus mulai.

Aku berdiri di sana selama dua puluh detik penuh.

“Bulan Maret dua ribu sembilan belas,” kataku.


Aku menceritakannya semua.

Klip lima puluh detik itu. Pertanyaan terakhir. Jeda sepersekian detik yang tidak akan ditangkap siapa pun di dunia ini kecuali satu orang. Jawabannya yang terdengar seperti lelucon.

Tiket yang kupesan pukul dua pagi dan harganya setara sewa apartemen dua bulan.

Empat hari. Hari pertama tidur. Hari kedua mencari jadwal. Hari ketiga, mal, lantai tiga, sisi selatan, karena dari sana wajah orang yang berdiri tidak terlihat dari bawah.

Satu jam sepuluh menit menyusun empat versi kalimat pembuka.

Dua puluh delapan anak tangga eskalator turun.

Dan dua puluh delapan anak tangga naik lagi.

Aku menceritakannya dengan urutan yang rapi dan kalimat yang pendek, karena itu satu-satunya cara aku bisa menceritakan apa pun, dan karena kalau aku berhenti di tengah aku tidak akan bisa mulai lagi.

Saat aku selesai, dia tidak bergerak sama sekali.

Basement itu sunyi seperti dasar sumur. Ada bunyi pipa di suatu tempat di atas kami. Lampu di lorong ketiga mati sendiri karena tidak ada yang bergerak.

Dia berjalan dua langkah ke samping dan duduk di atas balok beton pembatas parkir, dengan sepatu dilepas dan diletakkan rapi di sebelahnya.

Dia duduk di sana cukup lama.

“Apa isinya?” katanya akhirnya.

“Apanya?”

“Empat versi itu. Kalimat pembukanya.”

Aku tidak menjawab.

“Devan.”

“Yang pertama kepanjangan,” kataku. “Yang kedua bunyinya kayak nyalahin. Yang ketiga bagus tapi ngandaikan kamu seneng lihat aku.”

“Yang keempat?”

Aku menatap lantai basement.

“Dua kata.”

“Apa?”

“Nggak jadi kupakai.”

“Apa, Devan.”

“‘Aku pulang,’” kataku.

Dia menutup matanya.

Dia duduk di balok beton itu dengan mata tertutup selama mungkin sepuluh detik, dan tidak ada satu pun otot di wajahnya yang bergerak, dan aku berdiri di sana sambil menyadari bahwa aku baru saja melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

“Kamu buang yang keempat,” katanya, masih dengan mata tertutup.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Terlalu berani.”

“Terlalu berani.” Dia membuka mata. “Dua kata itu terlalu berani buat kamu.”

“Iya.”

“Kamu berdiri di depan tiga ratus orang minggu lalu.”

“Itu beda.”

“Bedanya apa, Dev?”

“Kalau tiga ratus orang nggak suka, aku nggak rugi apa-apa,” kataku.

Dan begitu kalimat itu keluar, aku mendengarnya sendiri, dari luar tubuhku, seperti pagi hari di depan pagar sekolah sepuluh tahun lalu.

Dia mendengarnya juga.

“Kamu naik lagi,” katanya.

“Iya.”

“Dua puluh delapan anak tangga.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan aku memberikan alasan-alasan itu. Semuanya. Aku sudah menyusunnya di pesawat selama dua puluh tiga jam pada tahun 2019 dan aku belum pernah membongkarnya sejak itu, jadi kalimatnya keluar dengan mudah, seperti barang yang disimpan rapi di kotak yang benar.

Dia sedang bekerja. Ada dua ratus orang dengan ponsel. Aku orang nomor sembilan dari sembilan di sebuah tim kecil. Sudah tiga tahun. Mungkin dia sudah punya orang lain.

Dan yang terakhir, yang paling rapi:

“Dan kalau aku muncul, aku cuma bakal bikin hidupmu lebih rumit,” kataku. “Kamu lagi baik-baik aja.”

Dia tertawa.

Satu kali, pendek, tanpa isi apa pun, dan bunyinya di basement kosong itu membuat sesuatu di tengkukku berdiri.

“Aku baik-baik aja,” ulangnya.

“Freya—”

“Tahun dua ribu sembilan belas.” Dia menegakkan badan dari pintu mobil. “Kamu tahu apa yang terjadi di tahun itu?”

“Nggak.”

“Aku dua puluh satu. Aku baru keluar dari agensi pertama aku karena mereka nahan enam puluh persen honorku selama dua tahun pakai klausul yang aku tanda tangan waktu umur sembilan belas dan nggak aku baca.” Suaranya rata sekali. “Aku ngurus itu sendirian selama sebelas bulan. Aku nggak bisa cerita ke ibuku karena duitnya buat ibuku. Aku nggak bisa cerita ke Vinka karena Vinka kerja di agensi yang sama dan bakal kena juga.”

Aku tidak bisa bergerak.

“Aku menang, akhirnya. Sebagian.” Dia mengangkat bahu. “Dan tiga minggu setelah semua itu selesai, aku ada acara di mal, dan aku foto sama dua ratus orang selama empat puluh menit sambil senyum.”

Sesuatu di dalam dadaku turun sangat jauh dan tidak berhenti.

“Aku nggak tahu,” kataku.

“Iya.”

“Freya, aku nggak—”

“Aku tahu kamu nggak tahu, Devan.” Dia menatapku. “Itu bukan salah kamu. Kamu di Amerika. Kita nggak ngobrol. Kamu nggak punya cara buat tahu.”

“Terus kenapa—”

“Karena kamu bilang ‘kamu lagi baik-baik aja’,” katanya. “Dengan yakin. Kamu berdiri di lantai dua, lihat aku dari jauh selama dua belas menit, terus kamu ambil kesimpulan tentang seluruh hidup aku, terus kamu naik lagi.”

Aku membuka mulut dan tidak ada apa pun di dalamnya.

“Itu yang kamu lakuin, Devan. Itu yang selalu kamu lakuin.” Dia mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Kamu ngitung dari jauh, terus kamu percaya sama hitungan kamu lebih dari kamu percaya sama aku.”


Lampu di lorong kedua mati.

Kami berdiri dalam gelap sebagian, dengan satu lampu di atas kepala kami yang masih menyala karena kami masih sesekali bergerak.

“Aku mau cerita sesuatu,” katanya akhirnya, dan nadanya berubah, dan aku tahu ke mana ini akan pergi sebelum dia melanjutkan.

“Freya.”

“Kontrak itu tiga tahun.”

“Freya, jangan—”

“Kamu bilang aku yang harus mulai kalau aku mau kamu cerita.” Dia menatapku. “Sekarang giliran aku, dan kamu nggak boleh pergi.”

Aku tidak pergi.

“Kontrak itu tiga tahun, eksklusif, dan nilainya seratus delapan puluh juta,” katanya. “Dibayar di depan setengah.”

Aku merasakan darah turun dari wajahku.

“Ayahku ninggalin utang seratus dua puluh juta ke tiga orang,” lanjutnya, sangat tenang, seperti orang membacakan daftar belanja. “Dua di antaranya sodara sendiri, yang jauh lebih parah daripada bank, karena bank nggak dateng ke rumah pas Lebaran. Ibuku jahit sampai jam sebelas malam dari bulan Februari. Sena kelas satu SMP dan aku baru tahu belakangan dia berhenti jajan sejak Oktober.”

“Kamu nggak pernah—”

“Aku nggak pernah cerita. Iya.” Dia mengangguk. “Aku tahu. Itu bagian aku.”

Basement itu terasa sangat dingin.

“Aku cuma bilang ke kamu ‘aku dapet tawaran’,” katanya. “Itu doang. Aku nggak bilang berapa. Aku nggak bilang kenapa. Aku nggak bilang kalau aku nolak, rumah kami dijual dalam empat bulan.”

“Kenapa nggak?”

Dan untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, suaranya retak.

“Karena aku nggak mau kamu kasihan,” katanya.

Aku menutup mata.

“Aku nggak mau jadi anak yang bapaknya ninggalin utang,” lanjutnya. “Di sekolah itu aku udah jadi anak baru yang bapaknya meninggal. Aku nggak mau nambah satu lagi.” Dia menarik napas. “Aku pengin ada satu orang yang lihat aku dan nggak lihat itu semua. Dan orang itu kamu. Dan aku bahkan nggak sadar aku ngelakuin itu sampai sekitar lima tahun kemudian.”

Aku berdiri di basement P2 pada pukul dua lewat empat puluh dan menyadari, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa aku sudah menghabiskan sepuluh tahun menghitung ulang malam itu dengan data yang salah.

Aku melakukannya lagi sekarang. Refleks. Aku tidak bisa mencegahnya.

Seratus delapan puluh juta. Tiga tahun. Utang seratus dua puluh. Empat bulan.

Kalau aku tahu angka-angka itu pada malam itu, di teras rumahnya, apa yang akan kukatakan?

Aku menghitungnya di sana, sambil berdiri, dalam waktu sekitar empat detik.

Dan jawabannya menghantamku seperti sesuatu yang jatuh dari atas.

Aku akan bilang hal yang sama persis.

Karena kalau angkanya sebesar itu, maka argumenku jadi lebih kuat, bukan lebih lemah. Kalau ada empat bulan sebelum rumah dijual, maka mengatakan apa pun yang membuatnya ragu jadi lebih tidak bertanggung jawab, bukan kurang.

Data yang lebih lengkap akan menghasilkan jawaban yang sama.

Yang berarti masalahnya tidak pernah datanya.

“Devan.”

“Ya.”

“Kamu lagi ngitung.”

Aku mengangkat kepala.

“Nggak.”

“Kamu lagi ngitung,” ulangnya, dan suaranya sangat lelah. “Aku bisa lihat. Aku selalu bisa lihat.”


“Aku mau nanya satu hal,” katanya. “Cuma satu. Terus aku pulang.”

“Oke.”

“Malam itu aku nanya ‘kamu mau aku gimana’.”

“Iya.”

“Kamu inget jawaban kamu?”

“Iya.”

“Ulangin.”

Aku tidak ingin.

“Ulangin, Devan.”

“Aku bilang kamu harus ambil,” kataku. “Aku bilang jangan pikirin aku. Aku bilang aku nggak mau jadi alasan kamu ragu.”

Dia mengangguk pelan, beberapa kali.

“Kamu tahu nggak aku nunggu apa?”

“Freya—”

“Aku nggak nunggu kamu nyuruh aku tinggal,” katanya. “Aku udah tahu aku bakal berangkat. Tiketnya udah dibeli. Kopernya udah di depan pintu. Nggak ada satu kalimat pun di dunia ini yang bisa bikin aku nggak berangkat.”

Dia berhenti.

“Aku cuma pengin kamu keberatan.”

Basement itu sunyi.

“Itu doang,” katanya. “Satu kalimat yang isinya kamu nggak suka aku pergi. Bukan nyuruh. Bukan nahan. Cuma... keberatan. Supaya aku tahu ada satu orang di dunia ini yang rugi kalau aku hilang.”

Aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan dalam sepuluh tahun terakhir, dan butuh beberapa detik sebelum aku mengenalinya sebagai rasa sakit fisik, di suatu tempat di belakang tulang dada.

“Aku keberatan,” kataku.

“Aku tahu itu sekarang.” Dia tersenyum, dan itu senyum paling buruk yang pernah kulihat. “Aku tahu sekarang, Devan. Kamu terbang dua puluh tiga jam buat berdiri di lantai tiga mal. Aku tahu.”

“Terus kenapa—”

“Karena aku butuhnya waktu itu,” katanya.


Dia membuka pintu mobilnya.

“Freya.”

“Aku capek, Dev. Beneran capek. Ini jam tiga kurang.” Dia melempar tasnya ke kursi penumpang. “Dan aku nggak marah sama kamu, itu yang paling nyebelin. Aku pengin marah. Aku udah nyiapin marah selama sepuluh tahun.”

“Aku minta maaf.”

Dia berhenti.

“Jangan,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena kamu minta maaf buat hal yang salah.” Dia menatapku dari balik pintu mobil yang terbuka. “Kamu bakal minta maaf karena kamu ngambil keputusan sendirian. Itu yang kamu pikir salahnya, kan?”

Aku tidak menjawab, karena itu memang persis yang ada di kepalaku.

“Itu bukan salahnya,” katanya. “Itu gejalanya.”

Dan dia berbalik untuk masuk ke mobil.


Aku tidak memutuskan untuk melakukannya.

Aku ingin sangat jelas soal ini, karena aku sudah menghabiskan sepuluh tahun memastikan bahwa setiap hal yang kulakukan adalah hasil dari sebuah keputusan.

Tanganku bergerak dan aku menangkap pergelangan tangannya.

Kulit ke kulit. Jari-jariku melingkar penuh. Persis seperti yang dia lakukan padaku di ruang kelas kosong pada suatu hari Selasa di bulan November tahun 2015, dari arah yang berlawanan.

Dia berhenti sepenuhnya.

Lampu di atas kami menyala lebih terang karena ada gerakan.

Dia tidak menarik tangannya. Dia tidak menoleh. Dia berdiri di sana dengan satu kaki sudah di dalam mobil dan pergelangan tangan di genggamanku, dan aku merasakan nadinya, cepat sekali, jauh lebih cepat dari yang ditunjukkan wajahnya.

Dan aku memegangnya selama mungkin tiga detik.

Tiga detik di mana ada satu kalimat di dadaku yang bentuknya sudah lengkap, yang sudah ada di sana sejak pukul dua lewat empat puluh, yang cuma perlu dikeluarkan.

Tiga detik.

Lalu aku melepaskannya.


Dia menoleh perlahan.

Dan ekspresi di wajahnya pada detik itu adalah hal yang akan kubawa sampai mati.

Bukan marah. Bukan kecewa. Sesuatu yang jauh lebih sepi dari keduanya — ekspresi seseorang yang baru saja melihat sebuah pintu terbuka lima sentimeter lalu ditutup lagi dari dalam, dan yang sudah pernah berdiri di depan pintu itu sepuluh tahun lalu dan tahu persis bunyinya.

“Oh,” katanya.

Satu kata.

Kata yang sama yang selalu kupakai. Dia mengucapkannya persis seperti aku mengucapkannya.

“Freya—”

“Nggak apa-apa.” Dia masuk ke mobil. “Beneran. Nggak apa-apa.”

“Aku—”

“Devan.” Dia memegang gagang pintu, siap menutupnya, dan menatapku untuk terakhir kalinya malam itu. “Kamu tahu kenapa aku nggak bisa marah sama kamu?”

“Kenapa?”

“Karena aku ngeliat kamu barusan,” katanya. “Aku ngeliat kamu megang tangan aku dan aku ngeliat sesuatu di muka kamu, dan aku tahu — aku tahu — kamu pengin ngomong sesuatu.”

Aku tidak menyangkal.

“Dan kamu nggak bisa,” katanya. “Bukan nggak mau. Nggak bisa.”

Dia menarik pintunya.

“Dan itu bikin aku sedih banget, Dev. Bukan marah. Sedih.”

Pintu tertutup.


Mobilnya keluar dari basement pukul tiga kurang sepuluh.

Aku berdiri di antara dua garis parkir di lantai P2 sampai lampu di atas kepalaku mati sendiri karena tidak ada lagi yang bergerak.

Lalu aku berdiri di dalam gelap selama entah berapa lama.

Ada satu hal yang tidak dia tahu, dan yang tidak akan pernah kuceritakan, karena menceritakannya tidak akan memperbaiki apa pun.

Tiga detik itu — tiga detik ketika aku memegang pergelangan tangannya di bawah lampu basement yang menyala terlalu terang — bukan tiga detik di mana aku tidak tahu harus bilang apa.

Aku tahu persis.

Kalimatnya sudah lengkap. Tersusun. Siap. Ada di belakang gigiku dan cuma perlu didorong keluar, dan panjangnya kurang dari sepuluh kata.

Yang terjadi bukan aku kehilangan kata-kata.

Yang terjadi adalah aku menghitung.

Dalam tiga detik itu, kepalaku — kepala yang sama yang membuatku bernilai bagi tujuh ratus orang di perusahaan ini, kepala yang menemukan retakan di dinding sebelum dinding itu roboh — melakukan apa yang selalu dilakukannya. Dia mengambil satu kalimat dan mencari kasus di mana kalimat itu patah.

Dan dia menemukannya dalam waktu kurang dari tiga detik, karena dia sangat, sangat bagus dalam pekerjaannya.

Kalau kamu bilang itu sekarang, dia harus jawab. Dan dia lagi capek. Dan dia jam tiga pagi. Dan besok dia ada kerjaan. Dan kamu bakal jadi satu hal lagi yang harus dia urus.

Semua benar. Setiap butirnya benar.

Aku melepaskan tangannya.


Aku tidak pulang sampai jam empat.

Aku duduk di dalam mobilku di basement yang sama, dengan mesin mati, dan aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan kalau kepalaku ribut dan aku tidak bisa berjalan.

Aku menghitung.

Aku sampai di angka tiga ribu dua ratus, dan kepalaku masih belum diam, dan pada angka tiga ribu dua ratus satu aku berhenti karena aku akhirnya melihat sesuatu yang seharusnya kulihat sepuluh tahun lalu.

Menghitung tidak pernah membuat kepalaku diam.

Menghitung cuma membuatku sibuk sampai perasaannya lewat sendiri.

Aku sudah melakukan itu sejak umur tiga belas, di sebuah gedung ber-AC dengan karpet biru, dan aku menyebutnya berpikir jernih, dan selama lima belas tahun tidak ada satu orang pun yang mengoreksiku.

Kecuali satu.

Menurut aku kepala kamu nggak bisa diem, terus kamu kasih dia kerjaan biar nggak berisik.

Halte. Hujan. Tahun 2015. Anak perempuan tujuh belas tahun dengan jaket kebesaran yang mengatakan kebenaran paling akurat tentang hidupku dalam waktu delapan detik, sambil menunggu angkot.

Aku menyalakan mesin pukul empat kurang seperempat.

Dan sepanjang jalan pulang, di jalanan Jakarta yang untuk pertama kalinya kosong, aku tidak menghitung apa pun.

Aku cuma merasakannya, sepenuhnya, sampai selesai.

Itu jauh lebih buruk.

Dan itu, sejauh yang bisa kuingat, adalah hal paling berani yang pernah kulakukan.