Chapter Nine

Hujan Setelah Jam Delapan

POV: Patricia Davina
Sisa: 36 Hari

Hujan mulai turun pukul tujuh lewat dua puluh dan berubah menjadi dinding air sebelum toko tutup.

Aku berdiri di balik kaca, memandang trotoar yang sudah berubah menjadi aliran cokelat. Mobilku terparkir dua blok dari sini. Payung tidak ada. Sepatu yang menurut Aditya sudah benar untuk tangga jelas tidak dirancang untuk menyeberangi sungai dadakan.

“Tunggu reda,” katanya dari belakang kasir.

“Menurut aplikasi, hujan berhenti tiga puluh menit lagi.”

Petir menyambar. Lampu toko berkedip.

Aditya melihat layar ponselku. “Aplikasimu juga bilang sore ini cerah.”

“Prediksi bisa berubah.”

“Tapi kamu percaya tiga puluh menitnya?”

Aku memasukkan ponsel ke tas. “Aku akan menunggu berdasarkan observasi langsung.”

Pukul delapan lewat lima belas, papan sudah dibalik ke sisi TUTUP dan hujan justru makin deras. Aku duduk di bangku belakang meja kasir sementara Aditya mengeluarkan dua bungkus mi instan dari laci.

“Itu stok darurat?” tanyaku.

“Makan malam.”

“Setiap hari?”

“Nggak.”

“Berapa kali minggu ini?”

Dia mengisi ketel. “Kamu selalu mengaudit makanan orang?”

“Aku sedang menilai keberlanjutan operasional.”

“Empat kali.”

“Itu bukan makan malam. Itu permintaan bantuan dari lambung.”

Sepuluh menit kemudian, kami makan mi dari mangkuk bergambar bunga yang warnanya sudah pudar. Uap hangat memenuhi sisi sempit meja kasir. Hujan menabuh atap seng belakang dengan suara yang membuat toko terasa terpisah dari seluruh kota.

“Kamu suka pekerjaanmu?” Aditya bertanya.

“Aku bagus dalam pekerjaanku.”

“Bukan itu pertanyaannya.”

Aku meniup mi. “Biasanya dua hal itu sama.”

“Biasanya?”

“Aku suka menyelesaikan sesuatu. Melihat tanah kosong berubah jadi tempat yang dipakai orang. Membuat seratus masalah berhenti menghalangi satu sama lain.”

“Kedengarannya melelahkan.”

“Kedengarannya seperti pekerjaan.”

“Kamu selalu pulang malam?”

“Kalau perlu.”

“Ada yang menunggu?”

Pertanyaan itu terlalu sederhana. Aku memutar garpu pelan. Apartemenku selalu rapi karena tidak ada siapa pun yang mengacaukannya. Lampu menyala otomatis. Kulkas berisi air mineral, kopi botol, dan makanan yang dipesan aplikasi. Tidak ada yang menunggu selain agenda besok.

“Ada laporan bulanan,” jawabku.

“Orang tuamu?”

Aku mengaduk kuah yang tinggal setengah. “Tinggal di kota lain. Kami bicara dua minggu sekali, biasanya soal kerjaan dan kapan aku menikah.”

“Jawabanmu?”

“Kerjaan baik. Pernikahan menunggu proses tender.”

Dia tertawa pelan. “Berapa vendor yang lolos?”

“Belum ada yang memenuhi spesifikasi.”

“Spesifikasinya terlalu tinggi?”

Aku mengangkat wajah. “Kamu mau mendaftar?”

Aditya tidak terlihat kaget. Dia meletakkan garpu, menyandarkan lengan di meja, lalu menatapku dengan ketenangan yang mulai terasa seperti tantangan.

“Dokumennya apa saja?”

Kali ini aku yang tertawa, tetapi napasku tidak kembali teratur secepat seharusnya. “Pengalaman minimal lima tahun menghadapi perempuan sulit.”

“Bisa diganti pengalaman mengelola toko rugi?”

“Relevan. Sama-sama butuh kesabaran.”

Kami saling menatap di atas dua mangkuk mi instan. Hujan membuat ruang di sekitar kami terdengar jauh. Untuk beberapa detik, godaan itu berhenti terasa seperti permainan.

Aditya tersenyum kecil, tetapi tidak mengejar jawaban lain. “Kasihan laporannya.”

“Kamu sendiri? Setelah tutup, pulang ke mana?”

Dia menunjuk langit-langit. “Kadang tidur di ruang belakang lantai dua kalau kemalaman.”

“Itu bukan pulang.”

“Ada kasur.”

“Gudang juga bisa punya kasur. Tetap gudang.”

“Berarti kita sama-sama ditunggu benda mati.”

Aku tertawa, lalu menyadari ujung rambutku basah. Tadi aku membantu menarik kardus dari dekat jendela yang bocor. Air menetes ke kerah kemeja.

Aditya berdiri tanpa bicara dan kembali membawa handuk kecil. Dia berhenti di belakangku, lalu mengusap ujung rambutku perlahan.

Gerakannya sangat biasa, hampir domestik. Justru itu yang membuat tubuhku diam.

“Kalau dibiarkan, bajumu ikut basah,” katanya.

“Ini layanan tambahan?”

“Pencegahan supaya pelanggan nggak menyalahkan toko kalau besok sakit.”

Tangannya bergerak mendekati tengkuk. Handuk menyentuh kulit di bawah rambut. Aku memiringkan kepala, sengaja menyandarkannya sedikit ke telapak tangannya.

“Termasuk harga buku?” tanyaku.

Tangannya berhenti.

“Tagihannya saya kasih nanti.”

“Mahal?”

“Tergantung kamu terus bergerak atau diam.”

Aku menoleh. Wajahnya dekat, tapi kali ini tidak ada tangga yang bisa disalahkan. Matanya turun sesaat ke bibirku sebelum kembali naik.

Petir menyambar lagi.

Semua lampu mati.

Aku berdiri terlalu cepat, lutut membentur meja. “Aku tidak takut gelap.”

“Saya belum bilang apa-apa.”

“Aku cuma memberi informasi.”

Aku melangkah ke arah yang kukira lorong utama dan langsung menabrak ujung rak.

“Itu satu,” suara Aditya terdengar di kegelapan.

“Satu apa?”

“Rak yang kamu tabrak.”

“Aku tahu.”

Aku mengubah arah, berjalan dua langkah, lalu bahuku mengenai rak lain.

“Dua.”

“Rak-raknya bergeser.”

“Sejak listrik mati?”

“Kayunya memuai karena kelembapan.”

“Cepat sekali.”

Aku bergerak lagi dan ujung tas menyapu tumpukan buku hingga salah satunya jatuh.

“Tiga,” katanya.

“Kalau kamu bisa menghitung, kenapa tidak menyalakan senter?”

Cahaya ponsel muncul dua meter di depanku. Aditya berdiri dengan senyum yang jelas terlihat sekarang.

“Saya ingin tahu reaksimu terhadap sistem tata ruang yang tidak efisien.”

“Lucu.”

Dia mendekat dan mengulurkan tangan. “Sini.”

“Aku bisa jalan sendiri.”

“Tiga rak punya pendapat lain.”

Aku menerima tangannya. Jemarinya menutup telapak tanganku, hangat dan mantap. Dia berjalan di depan, menuntunku melewati lorong sempit menuju tangga.

“Mau ke mana?”

“Lantai dua. Ada lampu darurat.”

Di ruang belakang, lampu kecil bertenaga baterai menyala redup. Aku melihat meja restorasi, tumpukan kardus, dan sebuah foto berbingkai di dinding. Perempuan dalam foto berdiri di depan Aksara Senja versi lama sambil memegang stempel matahari tenggelam. Senyumnya lebar. Aditya yang jauh lebih muda berdiri di sampingnya dengan rambut terlalu panjang.

“Ibumu?”

Dia mengangguk. “Hari jadi toko yang ketiga puluh.”

Aku menatap foto lebih dekat. Di meja depan mereka ada tumpukan buku anak dan kue dengan lapisan krim yang miring.

“Dia kelihatan bahagia.”

“Hari itu hujan juga. Atap bocor, listrik mati dua kali, kuenya jatuh sebelum dipotong.”

“Lalu kenapa senyumnya begitu?”

“Karena empat puluh anak tetap datang.” Aditya berdiri di sampingku. “Ibu bilang tempat yang disukai orang nggak harus sempurna. Harus cukup hangat supaya mereka mau menunggu hujan reda.”

Aku melihat pantulan kami di kaca foto. Bahu hampir bersentuhan, tangan masih menyatu. Aksara Senja tidak sempurna. Aku bahkan punya daftar dua puluh tiga hal yang perlu diperbaiki. Namun malam ini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak terburu-buru pulang ke tempat yang lebih rapi.

“Kamu terlihat seperti anggota band yang gagal audisi.”

“Ibu suka rambut panjang.”

“Ibumu punya toleransi tinggi.”

Dia tertawa. Aku mendekati foto, masih menggenggam tangannya. Baru setelah beberapa detik aku menyadari listrik darurat sudah menyala dan dia tidak lagi perlu menuntunku.

Aditya juga menyadarinya. Tatapannya turun ke tangan kami.

Lampu utama kembali hidup dengan dengung keras.

Dia mulai melonggarkan genggaman.

Aku merapatkan jari-jari kami sampai bertaut.

“Kalau lupa,” kataku pelan, “jangan buru-buru ingat.”

Aditya tidak menjawab. Ibu jarinya bergerak sekali di punggung tanganku. Sentuhan kecil itu terasa seperti jawaban yang lebih jujur daripada kalimat apa pun.

Kami turun sambil tetap bergandengan. Baru di depan meja kasir dia melepaskannya untuk mengambil dua mangkuk yang sudah dingin.

Hujan mereda pukul sembilan lewat dua puluh. Aditya menyerahkan payung hitam besar dari bawah meja.

“Besok kembalikan,” katanya.

“Kalau aku lupa?”

“Saya tagih.”

Aku membuka payung di depan pintu. “Seperti layanan mengeringkan rambut?”

“Tagihan yang itu lebih mahal.”

Kali ini aku yang kehilangan balasan selama satu detik.

Aku berjalan ke mobil dengan payungnya, meski hujan sudah cukup ringan untuk diterobos tanpa perlindungan. Keesokan pagi, payung itu sengaja kutinggalkan di apartemen.