Chapter Five

Klub Baca dan Empat Orang Kepo

POV: Patricia Davina
Sisa: 41 Hari

Aku datang untuk membuktikan bahwa aku sudah membaca delapan bab.

Aku tidak datang untuk duduk dalam lingkaran bersama empat orang asing, memegang teh terlalu manis, dan mempertanggungjawabkan pendapatku tentang tokoh fiksi seperti sedang menjalani uji kelayakan direksi.

Namun begitulah posisiku pukul enam sore di lantai dua Aksara Senja.

“Kita punya anggota baru,” kata Tante Lilis, perempuan berkacamata merah yang baru kukenal tiga menit lalu dan sudah memanggilku sayang dua kali. “Namanya Patricia. Dekat sama Aditya.”

“Dekat dalam arti jarak tempat duduk,” koreksiku.

Aditya meletakkan teko teh di meja rendah. “Dia tadi pilih kursinya sendiri.”

“Ada kursi kosong lain di sana.” Tante Lilis menunjuk bangku di seberang ruangan. “Tapi kamu duduk di sebelah dia.”

Aku menoleh. Memang ada kursi kosong. Informasi yang seharusnya kusurvei sebelum duduk.

“Posisi ini paling dekat pintu,” kataku.

“Pintunya di belakang kamu,” ujar seorang anak perempuan berkuncir dua.

Namanya Kirana, sepuluh tahun, pemegang buku paling tebal di ruangan, dan tampaknya musuh alami kebohongan orang dewasa.

Selain Tante Lilis dan Kirana, klub baca sore itu terdiri dari Pak Harun, pensiunan guru yang tertidur setiap kali orang lain bicara, serta Nisa, mahasiswa sastra yang membawa enam stabilo. Empat orang kepo dan Aditya yang berdiri di pinggir lingkaran sambil menikmati kehancuran wibawaku.

Aku mengangkat cangkir. “Aku kira pertemuannya minggu depan.”

“Itu pertemuan rutin,” kata Aditya. “Yang ini tambahan.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Kalau bilang, kamu tetap datang?”

“Tentu.”

Dia melirik buku di pangkuanku. “Sudah baca?”

“Delapan bab.”

“Dari bukunya?”

Tante Lilis langsung tertawa. Aku tersenyum tanpa memperlihatkan gigi. “Ada yang mau mulai diskusi atau kita semua berkumpul untuk mengaudit kebiasaan bacaku?”

“Dua-duanya bisa,” jawab Kirana.

Aditya duduk di sebelahku. Lutut kami nyaris bersentuhan. Dia bisa memilih kursi lain, sama seperti aku tadi. Ketika aku menggeser kaki sedikit mendekat, dia menatap lurus ke depan, tetapi jarinya salah meletakkan sendok di piring kecil.

Kemenangan kecil. Aku menerimanya.

Nisa membuka diskusi dengan pertanyaan tentang alasan tokoh utama pulang ke rumah ibunya. Aku sudah menyiapkan jawaban dari tiga ulasan berbeda.

“Kepulangannya adalah representasi konflik antara identitas personal dan ruang domestik yang membentuk memori,” kataku.

Ruangan hening.

Pak Harun terbangun. “Sudah makan?”

“Bukan itu pertanyaannya, Pak,” kata Tante Lilis.

Nisa tampak terkesan. Kirana menyipitkan mata.

Aku melanjutkan sebelum siapa pun sempat menyelidiki. “Rumah itu bukan sekadar bangunan. Itu simbol dari versi dirinya yang belum selesai dia hadapi.”

“Tapi di bab lima dia belum masuk rumah,” kata Kirana.

Aku berhenti.

Anak itu membuka bukunya dan menunjukkan halaman yang diberi sticky note. “Dia masih menginap di penginapan karena kuncinya hilang. Baru masuk rumah di bab sembilan.”

Tiga ulasan internet yang kubaca semalam ternyata membahas keseluruhan novel, bukan delapan bab pertama.

Tante Lilis memiringkan kepala. “Kamu sudah baca sampai mana, Sayang?”

“Secara tekstual atau konseptual?”

Aditya menunduk. Bahunya bergerak sekali. Dia sedang menahan tawa.

Aku menyenggol sepatunya dengan ujung sepatuku. “Ada yang lucu?”

“Belum. Saya menunggu penjelasan konseptualnya.”

“Aku sedang membangun konteks.”

“Dari ulasan internet?” tanya Kirana.

Aku menatapnya. “Kamu mau magang di perusahaanku?”

“Dibayar?”

“Dia cocok,” gumam Aditya. “Langsung menanyakan hal penting.”

Tawa pecah di sekeliling meja. Panas merayap ke wajahku. Aku terbiasa menghadapi pertanyaan investor, sanggahan dewan, dan presentasi bernilai miliaran. Tidak ada pelatihan profesional yang menyiapkanku untuk dibongkar anak sepuluh tahun karena belum membaca bab sembilan.

Aku menutup buku. “Baik. Aku belum sampai bagian rumah. Tapi pendapatku tetap masuk akal.”

“Masuk akal,” kata Aditya.

Aku menoleh, curiga pada bantuan yang datang terlalu cepat.

Dia mengambil buku dari pangkuanku dan membuka halaman yang ujungnya kutandai dengan kertas struk. “Di sini tokohnya bilang dia terus bermimpi tentang suara engsel pintu. Patricia tadi bilang ruang bisa membentuk ingatan. Dia belum tahu rumahnya seperti apa, tapi dia memperhatikan suara yang diingat tokohnya.”

Semua mata berpindah kepadaku.

Itu memang satu-satunya bagian yang kubaca ulang karena kalimatnya mengganggu. Suara pintu yang tidak pernah berubah meski orang-orang di baliknya sudah pergi.

“Jadi,” lanjut Aditya, “mungkin maksudnya bukan rumah sebagai bangunan. Bisa juga hal kecil yang membuat seseorang merasa masih punya jalan pulang.”

Dia tidak mengatakan bahwa aku benar. Dia juga tidak berbohong untuk menutup kekuranganku. Dia hanya mengambil satu pengamatan yang sungguh milikku dan memberinya ruang agar tidak tenggelam oleh jawaban yang kucuri.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali seseorang membantuku tanpa membuatku terlihat lemah.

“Nah,” kata Tante Lilis, tersenyum lebar. “Baru datang tiga hari sudah saling menerjemahkan.”

“Kami sedang membahas buku,” kataku.

“Tentu.”

“Tidak ada hal lain.”

“Tante juga belum bilang ada.”

Aditya mengembalikan bukuku. Jemarinya menyentuh bagian dalam pergelangan tanganku, ringan dan singkat. Aku tidak yakin itu sengaja. Yang kutahu, dia tidak langsung memindahkan tangannya.

Aku menurunkan suara. “Terima kasih.”

“Nanti baca bab sembilan.”

“Aku sedang tulus.”

“Saya juga.”

“Kamu selalu merusak momen?”

“Supaya nggak cepat habis.”

Jawabannya membuatku lupa menyiapkan balasan. Tatapannya bertahan satu detik lebih lama, lalu Kirana menyodorkan piring biskuit di antara wajah kami.

“Mau?” tanyanya.

Aku mengambil dua karena merasa anak itu sengaja melakukannya.

Diskusi berlanjut. Kali ini aku berhenti memakai istilah dari ulasan dan mengatakan hal yang benar-benar kupikirkan: tokoh utama menjual rumah karena takut mengakui bahwa dia masih membutuhkannya. Pak Harun menganggap dia seharusnya menyewakan saja. Nisa bicara tentang trauma spasial. Tante Lilis bilang semua masalah bisa selesai kalau tokohnya mau menelepon kakaknya.

Pendapat terakhir itu sederhana, tidak canggih, dan mungkin benar.

Di akhir pertemuan, aku membantu mengumpulkan cangkir. Aditya mengambil tiga dari tanganku sebelum aku sempat menolak.

“Aku bisa bawa sendiri.”

“Saya tahu.”

“Lalu kenapa diambil?”

“Karena bisa bukan berarti harus.”

Dia turun ke lantai satu. Aku berdiri beberapa saat dengan satu cangkir tersisa, kesal karena kalimat biasa itu terasa terlalu pribadi.

Tante Lilis muncul di sampingku membawa kotak biskuit. “Aditya jarang bawa orang ke atas.”

“Aku naik sendiri.”

“Lebih jarang lagi dia membiarkan orang naik sendiri.”

“Kami baru kenal.”

“Bagus. Berarti belum terlambat.”

“Untuk apa?”

Dia mengedip. “Sabtu depan datang lagi. Kita bahas akhir bukunya. Kalau sudah selesai, mungkin kamu juga tahu jawaban pertanyaan lain.”

Aku seharusnya mengecek kalender. Sabtu depan ada makan siang dengan calon mitra operator hotel, lalu peninjauan desain bersama Raka. Aku seharusnya bilang akan mencoba.

“Iya,” jawabku.

Kata itu keluar sebelum tujuan awalku sempat mengingatkan diri.

Saat turun, Aditya berdiri di belakang kasir mencuci cangkir dalam baskom kecil. Lengan kemejanya digulung, tangan basah sampai pergelangan. Dia mengangkat kepala ketika mendengar langkahku.

“Sudah mendaftar jadi anggota tetap?”

“Aku hanya datang minggu depan.”

“Begitu biasanya dimulai.”

“Jangan terlalu percaya diri. Aku datang karena ingin menyelesaikan buku.”

“Tentu.”

Aku menyandarkan siku di meja kasir. “Dan mungkin untuk memastikan kamu tidak salah menafsirkan pendapatku lagi.”

“Saya tadi menyelamatkan pendapatmu.”

“Aku tidak butuh diselamatkan.”

Dia mengeringkan tangan, lalu berhenti tepat di depanku. Meja kasir menjadi satu-satunya jarak.

“Saya tahu,” katanya pelan. “Tapi sesekali boleh dibantu.”

Untuk kedua kalinya malam itu, aku tidak punya jawaban cepat.

Lonceng pintu berbunyi ketika Tante Lilis dan yang lain turun. Suara ramai memenuhi toko lagi. Aku mundur satu langkah, mengangkat buku sebagai alasan, lalu berjalan ke pintu.

Di luar, udara malam terasa lebih dingin. Aku membuka kalender di ponsel dan memindahkan jadwal makan siang Sabtu tanpa berpikir terlalu lama.

Empat puluh satu hari tersisa untuk mendapatkan tanda tangannya.

Namun ketika menuliskan agenda baru, yang kuketik bukan pendekatan akuisisi.

Aku menulis: Klub baca Aksara Senja.