Chapter Twenty Five
Tanda Tangan
POV: Aditya Pratama
Sisa: 12 Hari
Notaris Hendra datang membawa dua salinan akta dan satu pertanyaan sederhana.
Sebelum dia tiba, aku menyapu lantai dua dua kali, mengatur tiga kursi yang tidak akan dipakai, dan memindahkan pena dari kanan ke kiri lalu kembali ke kanan. Kesibukan kecil membuat pukul sembilan datang tanpa harus kupikirkan.
Aku juga menyimpan novel biru Patricia di rak paling atas. Buku itu sudah kering dan rapi, siap dikembalikan. Sticky note tentang pria yang tidak mau bicara masih terlihat di salah satu halaman. Aku menutupnya agar tidak perlu merasa dihakimi oleh tokoh fiksi.
“Anda yakin?”
Aku duduk di meja restorasi lantai dua. Di bawah, program baca Sabtu berlangsung seperti biasa. Suara anak-anak naik melalui tangga, diselingi tawa Tante Lilis dan langkah Patricia yang mondar-mandir membagikan camilan.
“Yakin,” jawabku.
Akta itu menjual tanah dan bangunan kepada Nawasena dengan syarat finalisasi pembayaran pada tenggat. Aku mendapat waktu sampai malam ini untuk berubah pikiran. Setelah ditandatangani dan didaftarkan, pembatalan tidak bisa dilakukan sepihak.
“Pihak pembeli juga memasukkan klausul akses survei mulai tiga hari lagi,” kata Notaris Hendra. “Tidak ada pembongkaran sebelum pembayaran final, tetapi tim teknis boleh mengukur dan menandai area.”
Aku membayangkan orang asing menempelkan angka pada rak Ibu. “Saya mengerti.”
“Inventaris tidak termasuk penjualan.”
“Saya sudah mulai mengepak.”
Dia melihat kardus di sudut, lalu kembali ke akta. Sikap profesionalnya hampir melegakan. Tidak ada nasihat tentang kenangan. Tidak ada pertanyaan mengenai perempuan yang tertawa di bawah. Hanya halaman-halaman yang harus diberi paraf.
Notaris menjelaskan setiap halaman. Aku sudah membacanya tiga kali, tetapi tetap mendengarkan. Harga penjualan menutup seluruh utang. Arif mendapat pesangon. Aula komunitas disewa enam bulan untuk program baca. Sebagian dana kutitipkan dalam rekening khusus agar anak-anak tetap bisa meminjam buku.
Semuanya sudah dipikirkan.
Kecuali Patricia.
Namanya tidak muncul di satu halaman pun, tetapi hampir setiap keputusan membawanya masuk. Jarak kamar sementara di Yogyakarta dari bandara. Kemungkinan penerbangan akhir pekan. Harga tiket jika aku pulang dua kali sebulan. Semua perhitungan itu mengasumsikan dia masih ingin melihatku setelah tahu aku menandatangani tanpa bicara.
Asumsi paling tidak masuk akal justru tidak kutulis di buku besar.
Dari lantai bawah, suaranya terdengar saat menirukan kelinci dari buku anak. Intonasinya masih buruk. Anak-anak mengoreksi bersama-sama. Tawanya menyusul, lepas dan terlalu dekat.
Pena di tanganku berhenti di atas garis.
“Kita bisa tunda,” kata Notaris Hendra. “Belum ada kewajiban menandatangani hari ini.”
Ponselku tergeletak di samping akta. Aku bisa memanggil Patricia naik. Bisa menunjukkan semua dokumen dan meminta dia memilih di depanku.
Namun aku teringat lingkaran lelah di matanya, laporan tim empat belas orang, dan caranya terus berkata akan memperbaiki semuanya.
Jika aku bertanya, dia mungkin akan memilih toko.
Jika dia memilih toko, aku tidak tahu apakah itu karena mencintaiku atau karena ingin menebus cara dia datang.
Aku menandatangani.
Sebelum ujung pena menyentuh kertas, aku melihat kembali pagi pertama Patricia masuk dengan sepatu mahal dan alasan mencari buku arsitektur. Aku mengingat tangannya di atas tanganku saat kami mengunci pintu, cara dia tidur di bahuku, dan janji tentang sesuatu yang bagus.
Semua ingatan itu hanya membutuhkan dua detik. Pena tetap turun.
Tinta hitam masuk ke kertas tanpa suara. Tidak ada musik, hujan, atau sesuatu yang menandai hidup sebelum dan sesudah. Hanya namaku, satu garis, dan tawa Patricia yang masih terdengar dari bawah.
Notaris membubuhkan stempel. “Salinan final saya kirim setelah pendaftaran.”
Aku mengangguk.
Begitu dia pergi, Bimo naik. Dia melihat akta di meja dan langsung tahu.
“Kamu tanda tangan.”
“Iya.”
“Tanpa bicara sama dia.”
“Sudah selesai.”
“Jangan pakai nada tenang seolah itu membuat keputusanmu masuk akal.”
Aku merapikan salinan dokumen. “Program baca aman. Utang lunas. Arif dapat pesangon.”
“Dan Patricia?”
“Proyeknya jalan.”
“Itu bukan pertanyaanku.”
Bimo menarik kursi, tetapi tidak duduk. Tangannya mencengkeram sandaran.
“Kamu mau menyebut ini cinta?” tanyanya.
“Saya nggak menyebut apa-apa.”
“Bagus, karena ini bukan romantis. Kamu takut dia memilihmu, jadi kamu menghapus pilihan itu sebelum dia sempat bicara.”
“Kalau saya menunggu, terlambat.”
“Kamu bahkan tidak tahu apa yang sedang dia kerjakan.”
“Saya lihat denahnya.”
Bimo berhenti. “Kamu bertanya soal denah itu?”
“Nggak perlu.”
“Tentu. Kenapa bertanya kalau salah paham bisa dipelihara dengan jauh lebih efisien?”
Aku berdiri. “Saya lihat hotel mengelilingi toko. Proyek itu tetap jalan.”
“Mengelilingi bukan berarti menggantikan.”
Kalimatnya membuat ruangan terasa miring.
“Maksudmu?”
“Maksud saya, mungkin lain kali lihat seluruh kertas sebelum mengorbankan hidup demi setengah gambar.”
“Kamu tahu sesuatu?”
“Saya tahu dia bekerja tiap malam dan datang ke sini dengan mata seperti belum tidur. Sisanya, tanya sendiri.”
“Terlambat untuk apa? Menjual toko atau mendengar kebenaran?”
Aku tidak menjawab.
Bimo tertawa pendek tanpa humor. “Kamu sudah memutuskan dia akan lebih bahagia tanpa kamu. Hebat. Sekarang kamu bisa pergi sambil merasa jadi orang baik.”
Dia turun dengan langkah keras.
Aku membuka tas Patricia yang masih berada di bawah meja, tetapi gulungan denah sudah tidak ada. Hanya kartu nama Raka dan satu lembar daftar tugas dengan sebagian besar kotak belum dicentang. Baris terakhir berbunyi: Bicara dengan A setelah keputusan investor.
Huruf A bisa berarti apa saja. Aksara Senja. Anggaran. Atau aku.
Untuk pertama kalinya sejak pena menyentuh akta, aku ingin mengejar notaris. Namun tanda tanganku sudah dipindai, salinan pembeli sudah dikirim, dan rasa takut kembali menyamar sebagai logika. Kalau proposalnya benar-benar menyelamatkan toko, Pak Surya pasti akan menghubungiku. Kalau tidak, pertanyaan hanya akan membuat Patricia merasa gagal dua kali.
Aku melipat daftar itu dan memasukkannya kembali. Bahkan setelah Bimo pergi, aku masih mencari alasan untuk tidak bertanya.
Aku tetap duduk sampai suara program baca selesai. Ketika anak-anak pulang, Patricia naik membawa dua kopi. Dia berhenti di anak tangga terakhir dan melihat wajahku.
“Kamu kenapa?”
“Debu.”
“Debu membuat mata merah?”
“Buku lama.”
Kebohongan ketiga dalam tiga hari. Mungkin kejujuran memang seperti otot. Semakin tidak dipakai, semakin mudah membiarkannya mati.
Dia menyipitkan mata, jelas tidak percaya, lalu berlutut sedikit agar wajah kami sejajar.
“Aku bisa mengusir semua orang kalau kamu butuh sepi,” katanya.
“Tante Lilis akan melawan.”
“Aku punya pengalaman menghadapi dewan investor. Satu tante tidak menakutkan.”
Dari bawah, Tante Lilis berteriak bahwa dia mendengar itu.
Patricia menutup mata, kalah. Untuk sesaat aku tertawa. Suaranya terdengar asing, tetapi dia ikut tersenyum seolah itu hasil yang diinginkannya.
Patricia menaruh kopi, lalu berdiri di depanku. Kedua tangannya memegang wajahku. Ibu jarinya mengusap kulit di bawah mata.
“Kalau sedang ingin pergi,” katanya pelan, “kamu boleh minta ditahan.”
“Kalau orangnya sudah memutuskan?” tanyaku.
“Keputusan bisa dibicarakan.”
“Kamu percaya itu?”
“Aku sedang belajar.”
Tatapannya tidak bergeser. Mungkin dia sedang bicara tentang rapat. Mungkin tentang kami. Aku hanya perlu mengeluarkan akta dari bawah tanganku dan memberinya konteks.
Seluruh tubuhku menegang.
Dia tidak tahu. Dia mengira sedang menawarkan kenyamanan untuk hari yang buruk, bukan menjawab keputusan yang baru kubuat.
Aku hampir berkata, Tahan saya.
Hampir menunjukkan akta yang masih hangat dari mesin salin.
Sebaliknya, aku menutup mata ketika Patricia mengecup keningku.
Sentuhannya lembut dan singkat. Tangan di wajahku membuatku merasa dipilih pada hari yang sama ketika aku memastikan dia tidak akan pernah diberi kesempatan memilih.
“Minum sebelum dingin,” katanya.
Aku membuka mata. Dua kopi berada di meja. Di bawah salah satunya, ujung akta penjualan masih terlihat.
Aku menggeser cangkir sampai menutupinya.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan reading
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup