Chapter Thirty Six
Toko Ini Belum Tutup
POV: Patricia Davina
Waktu: Enam bulan kemudian
Aditya berdiri di pintu dengan kunci lama di tangan.
Rambutnya sedikit lebih panjang. Kemejanya masih digulung sampai siku. Dia terlihat sama dan berbeda sekaligus, seperti buku yang sampulnya diganti tetapi halaman di dalamnya masih kukenal.
Selama enam bulan, aku membayangkan momen ini ratusan kali. Dalam sebagian besar versi, aku berlari dan memeluknya. Dalam beberapa versi buruk, aku menamparnya. Dalam satu versi yang dibuat setelah terlalu banyak kopi, aku menyuruh tim keamanan hotel menahannya sampai mau bicara.
Kenyataannya, aku hanya berdiri di balik meja kasir dan bertanya, “Kamu masuk pakai kunci siapa?”
“Bimo mengirimnya.”
“Tentu. Pengkhianat profesional.”
“Dia juga membeli tiket saya.”
“Pengkhianat dengan anggaran.”
Aditya menutup pintu. Lonceng berhenti bergerak, tetapi tubuhku belum.
“Saya baca semua suratmu,” katanya.
Dia kembali memakai saya. Jarak formal itu membuatku ingin melempar buku.
“Aku tidak menulis supaya kamu pulang.”
“Saya mengerti.”
“Aku juga tidak membangun toko ini untukmu.”
“Saya tahu.”
“Berhenti bilang kamu tahu.”
“Baik.”
Dia berdiri beberapa langkah dariku tanpa mencoba mendekat. Itu keputusan pertama malam ini yang benar.
“Kalau kamu datang untuk minta maaf,” kataku, “jangan bilang kamu pergi demi kebaikanku.”
“Saya pergi karena takut.”
Jawaban langsung itu mengambil sebagian amarah dari tanganku, tetapi tidak semuanya.
“Takut apa?”
“Takut kamu memilih saya lalu menyesal. Takut meminta sesuatu yang saya butuhkan. Takut kalau kamu melihat saya tetap ingin tinggal, kamu akan merasa harus menyelamatkan semuanya.”
“Lalu?”
“Saya tahu identitasmu sejak hari ketujuh dan tetap diam. Saya menandatangani penjualan tanpa bicara. Saya membaca pesanmu dan tetap naik kereta. Saya memakai cinta sebagai alasan untuk mengambil pilihanmu.”
Suaranya tidak meminta pengampunan. Hanya menyebut kesalahan satu per satu tanpa menyamarkannya sebagai pengorbanan.
“Itu bukan cinta yang baik,” katanya. “Itu ketakutan yang saya bungkus supaya terlihat baik.”
Aku menelan rasa penuh di tenggorokan. “Aku juga datang untuk memanipulasi kamu. Setelah perasaanku berubah, aku tetap menunggu karena ingin muncul sebagai pahlawan dengan solusi lengkap. Aku mengambil hakmu untuk tahu, sama seperti kamu mengambil hakku untuk memilih.”
“Saya minta maaf.”
“Aku juga.”
“Kenapa tidak membalas suratku?” tanyaku.
“Surat pertama membuat saya malu. Surat kedua membuat saya ingin pulang. Surat ketiga membuat saya sadar kalau pulang hanya karena kamu bilang cinta akan mengulangi kesalahan yang sama.”
“Jadi kamu memilih menyiksaku dengan diam?”
“Tidak.” Dia menerima kemarahan dalam pertanyaanku tanpa mundur. “Saya mulai terapi. Saya belajar mengatakan kebutuhan tanpa mengubahnya menjadi pengorbanan. Saya juga menulis balasan berkali-kali, lalu sadar saya masih mencoba menyusun kata yang menjamin kamu tidak marah.”
“Aku memang marah.”
“Sekarang saya tahu kamu berhak.”
Itu bukan jawaban yang romantis. Justru karena itu, aku percaya. Dia tidak pulang membawa satu gestur besar untuk menggantikan perubahan yang seharusnya dikerjakan perlahan.
Tidak ada musik. Tidak ada pelukan yang langsung menghapus enam bulan. Hanya kami berdiri di antara rak baru dan akhirnya mengatakan hal-hal yang dulu terlalu takut kami berikan.
Aditya melihat sekeliling. Jemarinya menyentuh tepi meja kasir baru, lalu logo matahari tenggelam pada kaca.
“Kamu mengembalikan semuanya.”
“Tidak semuanya.”
Tatapannya kembali kepadaku.
Aku keluar dari balik meja. “Ada satu hal yang belum sempat kukatakan.”
“Patricia—”
“Jangan potong. Aku sudah menunggu enam bulan dan satu perjalanan kereta yang sangat buruk.”
Dia diam.
“Aku mencintaimu.”
Kalimat itu tidak datang bersama kontrak, desain, atau jaminan bahwa dia akan tinggal. Hanya kebenaran yang akhirnya berdiri sendiri.
Napasnya lepas seperti sudah ditahan sejak malam toko dikunci.
“Saya mencintaimu sejak kamu membaca buku terbalik dan berdebat bahwa itu metode riset.”
“Itu terlalu awal. Standarmu rendah.”
“Saya pemilik toko hampir bangkrut. Pilihan saya terbatas.”
Aku tertawa dan menangis pada saat yang sama. Sangat tidak elegan. Sangat melegakan.
Dia mengangkat tangan, lalu berhenti sebelum menyentuh wajahku. “Boleh?”
“Belum.”
Tangannya turun. Ada kecewa, tetapi tidak ada desakan.
“Kamu pulang untuk apa?” tanyaku.
“Untuk meminta tempat. Bukan menganggap masih punya.” Dia menarik satu amplop dari tas. “Penerbit mengizinkan saya bekerja jarak jauh. Kalau posisi pengelola belum terisi, saya ingin melamar sebagai kurator. Dengan wawancara resmi, gaji wajar, dan hak kamu menolak.”
Aku menerima amplopnya. Di dalamnya ada riwayat kerja, rencana program satu tahun, dan surat rekomendasi dari penerbit. Pada halaman terakhir, Bimo menambahkan catatan tangan: Pelamar punya masalah komunikasi, tetapi bisa membuat kopi. Masa percobaan wajib.
“Rekomendasinya buruk,” kataku.
“Dia menulis versi pertama hanya dua kata.”
“Apa?”
“Terima saja.”
“Itu terdengar seperti ancaman.”
“Dia bilang sengaja.”
Aku menutup amplop. Kehadirannya tidak lagi berdiri sebagai syarat agar toko hidup. Toko sudah hidup. Dia datang untuk meminta ikut merawatnya, bukan menjadi alasan keberadaannya.
“Kamu terlambat enam bulan.”
“Saya sadar.”
“Empat puluh lima hari,” koreksiku. “Itu utangmu.”
Sudut bibirnya naik. “Boleh dicicil?”
“Ada bunga.”
“Berapa?”
Aku berhenti tepat di depannya dan menarik kerahnya sedikit. “Satu ciuman untuk setiap hari kamu meninggalkanku.”
Untuk pertama kalinya malam itu, ketenangannya benar-benar goyah. “Bunganya tinggi.”
“Risiko kredit.”
Tangannya kembali terangkat, kali ini berhenti di pinggangku. “Boleh saya mencicil yang pertama sekarang?”
Aku menahan tatapannya cukup lama agar dia tahu ini bukan pengampunan instan, bukan cara menutup percakapan, dan bukan janji bahwa semua luka sudah hilang.
Lalu aku mengangguk.
Aditya menciumku perlahan. Tidak ragu, tetapi tidak mengambil apa pun sebelum kuberikan. Tanganku menarik kerahnya lebih dekat. Ciuman itu menjadi lebih dalam, membawa enam bulan marah, rindu, dan kalimat yang tidak mendapat balasan. Tangannya mengencang di pinggangku; tanganku berpindah ke tengkuknya. Ketika napas kami terputus, dia berhenti dan menunggu.
Aku memilih mendekat lagi.
Kali ini dia mengambil alih ritme, membuat punggungku menyentuh sisi rak dan semua balasan cerdas hilang dari kepala. Tetap tidak lebih jauh dari yang kami pilih, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa pulang bukan kata pasif. Kadang pulang adalah keberanian meminta pintu dibuka setelah pernah menutupnya sendiri.
Aku mengakhiri ciuman lebih dulu dan menahan wajahnya dengan kedua tangan.
“Yang ini belum mengurangi utangmu banyak.”
“Saya menduga begitu.”
“Dan berhenti pakai saya.”
“Aku akan berusaha.”
“Lebih baik.”
Suara berbisik muncul dari balik pintu. Lalu sesuatu jatuh.
Aku membuka pintu dan menemukan Kirana, Tante Lilis, Bimo, Maya, serta hampir seluruh klub baca berdesakan di halaman.
Kirana mengangkat tangan. “Kami datang terlalu pagi?”
“Pembukaan besok pukul sembilan,” kataku.
Bimo melihat Aditya, lalu kerahnya yang kusut. “Kurator baru sudah melewati tahap wawancara praktis.”
Tante Lilis memukul lengannya dengan album foto.
Aditya berdiri di sampingku, kali ini tidak mundur. “Toko ini belum tutup.”
Kirana bersorak dan langsung berlari ke kursi khususnya. Yang lain masuk membawa makanan, buku, dan terlalu banyak pertanyaan. Dalam lima menit, Aksara Senja kembali berisik seperti tidak pernah kosong.
Menjelang pagi, ketika semua orang akhirnya pulang untuk kembali beberapa jam lagi, kami berdiri di depan pintu. Tangannya memegang kunci. Tanganku menumpuk di atasnya.
“Datang lagi besok.”
“Aku akan ada di sini.”
Kami memutar kunci bersama, lalu membalik papan lama ke sisi BUKA meski pembukaan resmi masih beberapa jam lagi.
Di meja kasir ada dua kopi baru. Kami meminumnya sambil berdiri berdekatan, tanpa rapat, kereta, atau angka di layar yang memanggil pergi.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, kami tidak sedang menghitung berapa menit sebelum pintu dikunci. Papan tua itu menghadap ke jalan dengan satu kata sederhana—BUKA—dan kopi kami akhirnya habis sebelum dingin.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup reading