Chapter Seven
Hari Ketujuh
POV: Aditya Pratama
Sisa: 39 Hari
Aku menemukan kartu itu saat mencari kain pembersih.
Benda kecil berwarna putih terselip di antara dua novel lama milik ibu. Logo Nawasena Development tercetak di sudut kiri. Di tengahnya ada foto Patricia dengan rambut disanggul, blazer gelap, dan ekspresi yang terlihat seperti bisa membuat satu ruang rapat meminta maaf tanpa tahu kesalahan mereka.
Di bawah foto tertulis namanya, lalu jabatan yang sudah pernah dia ucapkan pada hari pertama.
DIRECTOR OF DEVELOPMENT.
Aku seharusnya tidak terkejut. Dia datang membawa proposal Nawasena. Dia tidak pernah menyembunyikan tempat kerjanya saat pertama masuk. Namun selama enam hari terakhir, dia bertingkah seolah kunjungannya sebagai pelanggan tidak lagi berhubungan dengan proyek itu.
Aku sempat membiarkan diriku percaya mungkin memang begitu.
Laptop tua di meja lantai dua butuh hampir lima menit untuk menyala. Aku memasukkan namanya ke mesin pencari. Hasil pertama adalah halaman profil perusahaan.
Patricia Davina, direktur pengembangan termuda di Nawasena. Delapan tahun pengalaman. Memimpin akuisisi kawasan komersial. Foto di samping profil memperlihatkan dia berdiri di depan maket Hotel Arunika.
Maket itu memakai seluruh Koridor Cempaka.
Di tempat Aksara Senja berdiri, ada jalur kendaraan menuju lobi.
Aku memperbesar gambar, walau tidak ada yang perlu dipastikan lagi. Garis putih miniatur melewati toko, meja kasir, rak buku ibu, dan lantai dua tempat aku duduk sekarang. Semuanya berubah menjadi akses masuk yang bersih dan terang.
Di bawah artikel, ada keterangan proyek ditargetkan menyelesaikan akuisisi dalam empat puluh lima hari.
Hari pertama dia datang adalah empat puluh lima hari sebelum tenggat.
Semua kejanggalan tiba-tiba masuk ke tempatnya. Pertanyaan tentang biaya operasional. Tawaran membantu inventaris. Cara matanya mengukur ruangan sebelum pura-pura tertarik pada rak. Pakaian santai yang dipilih terlalu hati-hati. Buku yang benar-benar dia paksa baca agar punya alasan kembali.
Sentuhan tangannya di atas tanganku kemarin ikut berubah arti.
Aku menutup laptop.
Suara pintu kedai Bimo dibanting terdengar bahkan sebelum langkahnya naik tangga. Dia muncul membawa dua gelas kopi dan langsung berhenti ketika melihat kartu akses di meja.
“Itu punya dia?”
Aku mengangguk.
Bimo mengambilnya, membaca bagian depan, lalu melihat layar laptop yang belum sepenuhnya gelap. “Dia masih menjalankan proyeknya.”
“Kelihatannya begitu.”
“Kelihatannya?” Dia menunjuk maket hotel. “Toko kamu hilang di gambar itu, Dit.”
Aku mengambil kembali kartu itu dari tangannya. “Saya bisa lihat.”
“Terus?”
“Terus apa?”
“Kalau dia datang, kasih kembali kartu ini lalu bilang jangan datang lagi.”
Aku memasukkannya ke laci meja. “Kenapa?”
Bimo menatapku seolah aku baru bertanya kenapa air hujan basah. “Karena dia bohong.”
“Dia nggak pernah bilang berhenti bekerja untuk Nawasena.”
“Dia datang pakai baju santai, pura-pura jadi pelanggan, ikut klub baca, bantu inventaris. Buat apa kalau bukan supaya kamu lengah?”
Aku tidak punya jawaban yang membelanya. Itu yang paling mengganggu.
Bimo duduk di meja restorasi. “Kamu suka sama dia.”
“Baru tujuh hari.”
“Bukan penyangkalan yang bagus.”
“Saya cuma bilang baru tujuh hari.”
“Dan dalam tujuh hari kamu sudah menyimpan struk belanja dia.”
Aku menoleh. “Kamu buka laci saya?”
“Aku cari nota kopi.”
“Di laci kuitansi penting?”
“Berarti kamu mengakui struk dia penting.”
Aku memilih diam. Bimo menyandarkan siku ke meja, kali ini ekspresinya lebih serius.
“Dit, kalau kamu biarkan, dia akan terus mendekat sampai dapat tanda tangan. Kamu yang nanti hancur.”
“Tokonya memang mungkin harus dijual.”
“Itu keputusan lain.”
“Nggak sepenuhnya.” Aku melihat tumpukan surat tagihan. “Saya sudah tiga bulan menutup biaya toko dari tabungan. Atap belakang perlu diganti. Gudang menunggak. Kalau saya menolak Nawasena, belum tentu enam bulan lagi tempat ini masih bisa buka.”
Aku mengambil lembar hitungan terakhir dan mendorongnya kepada Bimo. Angka merah di bagian bawah lebih besar daripada pendapatan toko selama dua bulan. Dia membaca, kemudian berhenti marah cukup lama untuk mengembuskan napas.
“Kenapa nggak bilang separah ini?”
“Karena kamu akan menawarkan pinjaman.”
“Memangnya salah?”
“Kedaimu baru lunas mesin espresso.”
“Aku bisa jual menu Kopi Penyangkalan lebih mahal.”
“Nggak ada yang mau minum kopi bernama begitu.”
“Kamu minum.”
“Karena gratis.”
Dia melipat lembar hitungan itu dengan kesal. Di balik semua suaranya, Bimo selalu menjadi orang pertama yang menawarkan bahu, uang, atau tenaga. Mungkin itu sebabnya aku tidak pernah memperlihatkan angka-angka ini. Menerima bantuan terasa terlalu mirip menjadi beban.
“Kalau begitu jual karena kamu memilih jual. Bukan karena direktur cantik bikin kamu lupa membaca kontrak.”
“Saya nggak akan lupa.”
“Bagian direktur cantiknya nggak dibantah.”
Aku mendorong salah satu gelas kopi kembali kepadanya. “Pulang.”
Bimo tidak bergerak. “Kamu akan mengusir dia?”
Aku memandang kartu akses di laci yang belum kututup.
Kemarin, Patricia menahan tanganku di pinggangnya dan menantangku tetap tinggal. Beberapa menit kemudian, dia duduk di lantai sambil membersihkan buku ibu tanpa sekali pun mengeluh tentang debu. Ketika melihat nama ibu di halaman depan, seluruh taktik di wajahnya hilang. Dia tidak bertanya berapa harga toko atau apakah kenangan bisa dipindahkan. Dia hanya membersihkan sampul paling rapuh dengan gerakan pelan.
Itu juga mungkin bagian dari strategi.
Masalahnya, aku tidak yakin semua yang terjadi di antara kami palsu. Aku lebih tidak yakin apakah aku ingin mengetahuinya sekarang.
“Belum,” jawabku.
“Belum mengusir?”
“Belum mau.”
“Karena kamu mau memberinya kesempatan menjelaskan?”
Aku menggeleng. “Kalau saya mengaku sudah tahu, dia akan menjelaskan karena terdesak. Saya nggak tahu jawaban seperti apa yang akan keluar.”
“Jadi rencanamu apa? Membiarkan dia terus bohong sambil kamu pura-pura bodoh?”
“Saya nggak pura-pura bodoh.”
“Syukurlah. Berarti alami.”
Aku menatapnya sampai dia berhenti tersenyum.
Kebenarannya lebih buruk dari lelucon Bimo. Aku belum siap menghentikan apa yang baru mulai tumbuh, tetapi juga belum cukup berani meminta kejujuran yang mungkin akan mengakhirinya. Membiarkan Patricia terus datang memberiku waktu, sekaligus membuatku ikut membangun kebohongan yang sama.
Aku tahu itu sejak saat memilih menutup laci.
Bimo mengusap wajah. “Ini keputusan buruk.”
“Kaosmu kemarin mendukung keputusan buruk.”
“Kaos kedai bukan nasihat hidup.”
“Terlambat menjelaskan.”
Dia berdiri dengan kesal. Di ujung tangga, dia berhenti. “Setidaknya bilang kamu tahu.”
Aku tidak menjawab.
Setelah dia pergi, aku turun ke lantai satu. Cahaya sore masuk melalui etalase, memotong debu menjadi garis-garis tipis. Rak kosong yang kami perbaiki kemarin berdiri lebih lurus. Di lantai dekat pintu masih ada bekas sol sepatunya.
Aku mencoba membayangkan toko tanpa kehadiran Patricia selama tiga puluh sembilan hari berikutnya.
Bayangannya terlalu mudah karena tempat ini sudah sepi jauh sebelum dia datang.
Mungkin itu alasan sebenarnya aku tidak mau mengusirnya. Bukan karena menganggap kebohongannya kecil. Bukan karena percaya aku bisa mengubah tujuannya. Aku hanya tahu hari-hari terakhir toko mungkin sudah dimulai, dan selama seminggu ini dia membuatnya terasa seperti tempat hidup lagi, bukan ruang yang perlahan menunggu lampunya mati.
Kalau waktunya memang terbatas, aku ingin sedikit lebih banyak.
Keputusan itu egois. Aku tidak mencoba menyebutnya lain.
Aku membersihkan kartu akses dengan kain, memastikan tidak ada debu di foto, lalu meletakkannya di bawah meja kasir agar mudah kukembalikan besok.
Tanpa berpikir, aku mengambil satu cangkir kertas dan menuangkan kopi dari teko. Satu sendok gula, sedikit susu—takaran yang dia minum dua hari terakhir. Setelah semuanya tercampur, aku baru sadar Patricia belum tentu datang hari ini.
Aku tetap menaruhnya di sisi meja tempat dia biasa berdiri.
Lalu aku membuka kalender toko. Pada tanggal tenggat proyek, kutarik satu lingkaran dengan pensil.
D-0.
Tiga puluh sembilan hari dari sekarang.
Aku menutup kalender, turun dari bangku, dan menyalakan lampu etalase lebih awal.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh reading
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup