Chapter Thirty One
Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
POV: Aditya Pratama
Sisa: 3 Hari
Tante Lilis datang membawa album foto dan keyakinan bahwa minggu depan masih tersedia.
“Kita perlu membuat jadwal tiga bulan,” katanya sambil menaruh album di meja klub baca. “Kalau tidak, orang-orang ini terus memilih buku berdasarkan sampul.”
“Sampul itu bagian dari buku,” kata Bimo.
“Kamu memilih buku karena warna sampulnya cocok dengan mesin kopi.”
“Itu kurasi visual.”
“Itu kemalasan.”
Percakapan mereka membuat enam anggota lain tertawa. Aku berdiri di belakang meja kasir, menyusun cangkir kertas yang sudah tersusun rapi sejak sepuluh menit lalu.
Kursi di ujung meja kosong.
Patricia biasanya duduk di sana, menggeser kursinya sedikit terlalu dekat, lalu mengaku sudah membaca buku yang bahkan belum dibuka plastiknya. Hari ini dia masih di luar kota. Pesan terakhirnya datang pukul satu pagi: foto tumpukan kontrak dengan tulisan Aku mulai membenci semua jenis kertas kecuali buku.
Aku membalas bahwa buku juga kertas.
Dia mengirim emoji marah dan tidak menghubungi lagi sejak pagi.
“Mas Aditya, lihat.”
Kirana menarik ujung lenganku. Dia membawa gambar dengan krayon: toko hijau, matahari oranye, dan dua orang berdiri di depan pintu. Sosok laki-laki dibuat terlalu tinggi. Sosok perempuan memakai sepatu merah dan memegang sesuatu yang tampak seperti pedang.
“Itu apa?” tanyaku.
“Penggaris.”
“Kenapa besar sekali?”
“Kak Patricia suka mengukur semuanya.”
Bimo melihat dari balik bahuku. “Akurat. Tapi seharusnya ada api di belakangnya.”
Kirana menambahkan tiga garis merah di sekitar rambut sosok perempuan.
“Bukan api sungguhan,” kataku.
“Terlambat,” jawab Bimo. “Sekarang dia direktur elemen api.”
Aku menyimpan gambar itu di bawah meja kasir agar tidak terlipat. Kirana memintaku menempelkan minggu depan, setelah dia membawa gambar tambahan untuk jendela.
“Nanti kita lihat,” kataku.
Jawaban itu cukup baginya. Seharusnya tidak.
Pertemuan dimulai dengan buku tentang seorang anak yang mencari rumah. Aku membaca dua halaman, lalu menyerahkan giliran kepada Tante Lilis karena suaraku berubah saat tokohnya berkata semua tempat akan terasa jauh kalau tidak ada orang yang menunggu.
Tante Lilis tidak bertanya. Dia hanya mengambil buku dan melanjutkan.
Setelah bacaan selesai, dia meminta semua orang menyebutkan tempat yang paling mereka rindukan. Arif memilih dapur neneknya. Kirana memilih sudut dekat jendela toko karena matahari sore membuat halaman buku berwarna emas. Bimo memilih kedai yang membayar tepat waktu, lalu menghindari tatapan Tante Lilis.
“Mas Aditya?” tanya Kirana.
Aku melihat kursi kosong di ujung meja.
“Belum tahu.”
“Kok orang dewasa sering nggak tahu?”
“Karena mereka menghabiskan terlalu banyak waktu pura-pura tahu.”
Tante Lilis mengangguk serius. “Nah, itu baru jawaban klub baca. Tidak berguna, tetapi terdengar dalam.”
Mereka tertawa. Aku ikut tersenyum, lalu membayangkan Patricia akan menuduhku mengutip buku yang tidak pernah dia selesaikan. Ketiadaannya punya bentuk yang jelas: ruang kosong di kursi, cangkir yang tidak perlu dibuat, dan tidak adanya suara sepatu yang biasanya memotong semua percakapan.
Aku melihat sekeliling meja. Arif membagikan kue. Kirana menggambar api lebih banyak. Bimo pura-pura sibuk dengan mesin kopi agar tidak perlu menatapku. Semua orang menganggap ini Sabtu biasa.
Aku membiarkan mereka percaya.
Menjelang akhir, Tante Lilis membuka album yang dibawanya. Isinya foto kegiatan selama empat tahun: anak-anak membaca di lantai, rak yang kami perbaiki, ulang tahun toko, dan gambar buram Patricia sedang berdiri di kursi sambil memasang hiasan.
“Ini untuk arsip,” katanya. “Minggu depan kita isi bagian terakhir dengan foto kelompok baru. Yang ulang tahun kemarin terlalu ramai.”
“Bagian terakhir?” tanyaku.
“Kalau penuh, beli album kedua. Jangan pelit.”
Dia menyodorkan album kepadaku. Di sampul dalam, semua anggota menulis nama. Ada ruang kosong yang sengaja disisakan di bawah tulisan Kirana.
“Itu buat Kak Patricia,” katanya. “Suruh tanda tangan kalau datang.”
Jari-jariku menahan halaman terlalu kuat.
“Iya.”
Satu kebohongan kecil lagi masuk ke ruangan yang penuh orang baik.
Ponselku bergetar. Pesan dari Notaris Hendra muncul di layar: pendaftaran telah selesai, transaksi tidak dapat dibatalkan sepihak, dan serah terima dilakukan pada hari tenggat pukul sembilan pagi.
Tiga hari.
Aku bisa menelepon Pak Surya, meminta addendum, atau setidaknya memberi Patricia kesempatan menggunakan proposalnya. Namun semua pilihan itu membutuhkan satu hal yang terus kuhindari: mengakui bahwa aku sudah menandatangani sebelum tahu apa yang dia perjuangkan.
Jempolku sempat menyentuh namanya di layar. Aku bahkan menyusun kalimat pertama di kepala: Saya menjual toko dua belas hari lalu.
Setelah itu, tidak ada versi percakapan yang tidak berakhir dengan suaranya terluka.
Dalam satu versi, dia diam. Dalam versi lain, dia marah dan membatalkan seluruh perjalanan pulang. Dalam versi yang paling kutakuti, dia berkata akan memperbaikinya, lalu langsung menghubungi sepuluh orang untuk mengorbankan lebih banyak hal.
Aku mengunci layar. Sekali lagi, aku menilai reaksi yang belum terjadi dan menyebutnya alasan untuk diam.
“Kamu kelihatan seperti orang yang baru menerima tagihan hidup,” kata Bimo.
“Notaris.”
Dia membaca wajahku. “Sudah final?”
Aku mengangguk.
“Masih ada telepon.”
“Nggak bisa dibatalkan sepihak.”
“Bicara bukan pembatalan.”
Sebelum aku menjawab, Tante Lilis berdiri dan mengumumkan jadwal minggu depan. Semua orang mulai menyebut makanan yang akan dibawa. Kirana ingin membuat puding. Arif menawarkan teh. Tidak ada yang tahu meja ini akan hilang sebelum puding sempat mengeras.
“Kita lanjut minggu depan, ya?” tanya Tante Lilis.
Aku melihat album di tanganku, gambar di bawah kasir, dan kursi kosong yang terus menarik pandanganku.
“Toko ini belum tutup.”
Kalimat itu terdengar seperti fakta bagi mereka. Di telingaku, itu penyangkalan paling rapuh yang pernah kubuat.
Mereka pulang satu per satu. Lonceng berbunyi setiap kali pintu terbuka, lalu menyisakan ruang yang semakin sunyi. Kirana memeluk pinggangku sebelum pergi dan mengingatkan agar gambarnya tidak hilang.
Aku berjanji akan menjaganya.
Setelah pintu tertutup, Bimo mengunci mesin kopi dan berdiri di depan meja.
“Tinggalkan alamat.”
“Buat apa?”
“Supaya orang bisa menemukanmu.”
“Kamu punya nomor saya.”
“Saya bukan orang yang akan datang membawa jawaban bukan tentang kontrak.”
Aku menatapnya. “Dia belum mengatakan itu.”
“Belum. Tapi kamu tahu dia akan datang.”
“Kalau saya meninggalkan alamat, dia akan mengejar karena merasa bersalah.”
“Kamu benar-benar berkomitmen menjadi orang paling menyebalkan di ruangan kosong.”
“Tante Lilis baru pulang. Gelarnya masih milik dia.”
Bimo tidak tertawa. Humor yang biasanya menyelamatkan kami jatuh begitu saja.
“Saya tidak akan memberi tahu dia,” kataku. “Bukan sekarang.”
“Lalu kapan?”
Aku tidak punya jawaban.
Bimo mengambil jaketnya. Di pintu, dia berhenti tanpa menoleh. “Kalau kamu ingin menghilang, jangan paksa saya menyebutnya pengorbanan.”
Setelah dia pergi, aku membalik papan ke sisi TUTUP. Album foto kusimpan bersama gambar Kirana di kotak barang pribadi. Ruangan klub baca kini hanya menyisakan meja dan kursi kosong.
Di halaman terakhir album, kutemukan foto ulang tahun toko. Patricia berada di sudut, tidak melihat kamera. Dia sedang memegang piring Kirana sambil membungkuk mendengarkan sesuatu. Tidak ada strategi di wajahnya, tidak ada tanda tangan yang sedang dikejar. Hanya seseorang yang sudah masuk terlalu jauh ke kehidupan kami untuk disebut pelanggan palsu.
Aku memasukkan foto itu kembali dan menutup album sebelum pikiran untuk menunggu pulang terasa seperti keputusan yang masuk akal.
Aku membuka gulungan selotip baru, mengambil kotak terakhir, lalu berdiri di depan rak peninggalan Ibu.
Satu per satu, buku-buku masuk ke dalam kardus.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri reading
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup