Chapter Nineteen

Satu Malam yang Terlalu Ramai

POV: Patricia Davina
Sisa: 21 Hari

Pada pukul lima sore, Aksara Senja sudah kehabisan kursi.

Orang berdiri di antara rak, duduk di tangga, dan memenuhi trotoar dengan gelas kopi Bimo. Lampu kecil menyala di atas kepala. Foto-foto lama membuat dinding toko terlihat seperti album yang dibuka untuk seluruh kota.

Aku berdiri di balik kasir bersama Aditya, mencocokkan jumlah tamu dengan daftar.

“Seratus dua belas,” kataku.

“Kamu bilang delapan puluh kursi berlebihan.”

“Aku bilang?”

“Saya yang bilang.”

“Berarti kamu salah.”

“Aneh. Rasanya tetap seperti saya yang menang.”

Kirana naik ke kursi dan membacakan cerita pendek. Tante Lilis memimpin diskusi tentang buku hijau, lalu menangis di baris ketiga dan memarahi siapa pun yang menawarkan tisu. Pak Harun tertidur di barisan depan, tetapi bangun tepat saat tepuk tangan dan ikut berdiri paling cepat.

Semuanya berjalan lebih hidup daripada rencana terbaikku.

Di sudut anak, Kirana menjaga meja peminjaman dengan kartu buatan tangan. Setiap anak yang membawa pulang buku mendapat stempel matahari di punggung tangan. Seorang anak meminta dua, satu untuk adiknya yang tidak bisa datang. Kirana memberinya tiga karena, menurutnya, cadangan adalah bagian dari administrasi.

Di depan, Bimo kehabisan Kopi Mas Toko dalam empat puluh menit. Dia mengganti fotonya dengan tulisan HABIS KARENA PEMILIK TERLALU MENARIK. Aditya menutup papan itu dengan kantong kertas. Pengunjung justru memotretnya lebih banyak.

“Ini merusak reputasi toko,” katanya.

“Toko buku yang laku?” tanyaku.

“Pemilik yang dijadikan menu.”

“Kamu bilang butuh pendapatan.”

Dia menatapku. “Kalau nanti ada menu Patricia?”

“Harganya premium.”

“Susah dipesan?”

Aku mendekat sambil menyerahkan uang kembalian. “Tergantung siapa yang memesan.”

Tangannya salah memasukkan satu lembar uang ke laci. Aku memperbaikinya sambil tersenyum.

Seorang ibu pemilik kios bunga menghampiri dan menggenggam tanganku. “Terima kasih sudah membuat toko ini ramai lagi.”

“Aditya yang—”

“Dia menjaga tempatnya. Kamu mengingatkan orang untuk kembali.”

Kalimat itu seharusnya membuatku bangga. Sebaliknya, rasa bersalah naik sampai tenggorokan. Orang-orang ini mengira aku datang untuk menghidupkan toko, padahal rencana pertamaku adalah membuat pemiliknya cukup nyaman untuk menjual.

Maya muncul membawa dua kotak donasi. “Jangan pasang wajah mau mengaku dosa sekarang. Ada antrean beli buku.”

“Aku terlihat begitu?”

“Kamu memegang mesin kartu terbalik.”

Setelah ibu itu pergi, pelanggan lain datang bercerita bahwa dia pertama kali melamar istrinya di rak puisi. Seorang mahasiswa mengatakan toko ini memberinya tempat belajar saat kosnya kebanjiran. Pak Harun, yang ternyata terbangun, menunjukkan kursi tempat dia membaca koran setiap pagi setelah pensiun karena rumah terasa terlalu sunyi.

Setiap cerita menambah sesuatu yang tidak ada dalam analisis valuasi. Bukan angka besar, tetapi alasan-alasan kecil yang bertumpuk sampai bangunan ini terasa jauh lebih berat daripada luas tanahnya.

Aku memasukkan transaksi sambil menghitung berapa banyak orang yang akan kehilangan rutinitas jika aku berhasil melakukan pekerjaan awalku.

Kirana muncul dengan dua stempel matahari di pipi karena salah menekan tangannya sendiri. “Kak Patricia nanti tetap ikut program baca, kan?”

“Kalau diizinkan.”

“Kakak kan kerja di sini.”

“Belum resmi.”

Dia melihat Aditya. “Om, resmikan.”

Aditya menoleh kepadaku. “Berkas pegawainya belum lengkap.”

“Apa yang kurang?” tanyaku.

“Jawaban soal tunjangan.”

Panas naik ke wajahku. Kirana tidak paham, tetapi Bimo yang lewat hampir menjatuhkan baki kopi karena tertawa.

Aku menempelkan satu stempel matahari di dahinya sebagai hukuman. Kerumunan di sekitar kami kembali bergerak, hangat dan akrab, membuat kebohonganku terasa makin tidak pantas berada di sana.

Aku membaliknya dan kembali bekerja.

Raka datang menjelang sesi terakhir. Dia berdiri di sisi ruangan, mengamati aku dan Aditya bergerak di balik kasir tanpa saling memberi instruksi. Saat jeda, dia menyerahkan flashdisk kecil.

“Konsep awal dan hitungan kasar,” katanya. “Biaya naik. Kamar turun sembilan. Tapi ada nilai promosi dan kemungkinan insentif konservasi.”

“Aku pelajari malam ini.”

“Ada satu hal lagi,” kata Raka. “Kalau mau mempertahankan merek toko, kita butuh persetujuan pemilik, bukan cuma bangunannya.”

“Aku tahu.”

“Dia sudah tahu soal desain ini?”

Aku diam satu detik terlalu lama.

Raka mengembuskan napas. “Kamu masih belum bicara.”

“Aku menunggu angka yang bisa dipertanggungjawabkan.”

“Kamu menunggu datang sebagai penyelamat supaya tidak perlu datang sebagai orang yang salah.”

Kalimat itu mengenai sasaran. Aku memasukkan flashdisk ke saku agar tanganku punya pekerjaan.

“Malam ini,” kataku. “Setelah acara.”

Raka menatapku seperti ingin bertanya apakah aku benar-benar akan melakukannya, lalu memilih tidak.

Tatapannya berpindah ke Aditya yang sedang membantu Kirana memasang mikrofon. “Kamu serius soal tempat ini.”

“Iya.”

“Dan pemiliknya?”

Aku tidak menjawab.

Raka tersenyum tipis, tidak terluka, hanya seolah akhirnya memastikan sesuatu yang sudah lama dia duga. “Tenang. Aku arsitek, bukan kompetitor tender.”

“Raka—”

“Kita pernah punya kemungkinan,” katanya pelan. “Tapi kamu tidak pernah melihatku seperti barusan melihat dia.”

Dia tidak meminta penjelasan. Hanya menepuk bahuku, lalu ikut membeli dua buku agar antrean tampak lebih panjang.

Setelah sesi berakhir, Aditya menyerahkan sebuah novel tipis kepadaku. Sampulnya biru tua, bekas tetapi sudah diperbaiki rapi.

“Hadiah pegawai tetap?” tanyaku.

“Masa percobaan belum selesai.”

“Lalu?”

“Hadiah pelanggan yang terlalu banyak bekerja.”

Di halaman pertama ada stempel matahari tenggelam dengan tinta biru baru. Di bawahnya, sebuah catatan pensil pendek:

Untuk orang yang selalu datang membawa rencana, tapi membuat tempat ini terasa seperti rumah tanpa sengaja.

Aku membaca dua kali. Ketika mengangkat wajah, Aditya pura-pura sibuk menumpuk struk.

“Ini romantis,” kataku.

“Itu deskripsi inventaris.”

“Tulisanmu buruk kalau bohong.”

“Tulisan saya memang buruk.”

Aku menutup buku, lalu memeluknya ke dada. “Terima kasih.”

“Buku bekas.”

“Bukan bukunya.”

Dia akhirnya menatapku. Di tengah keramaian, suara orang, dan bunyi gelas, ruang di antara kami terasa hening.

“Sama-sama,” katanya.

Aku ingin membuka catatan Raka, menarik Aditya ke lantai dua, dan mengatakan semuanya. Namun Tante Lilis sudah memanggil dari tengah ruangan sebelum keberanian itu menjadi tindakan.

Tante Lilis tiba-tiba menarik kami ke tengah ruangan. “Foto ulang tahun! Pemilik toko dan calon pemilik hati di depan.”

“Tante,” protes Aditya.

“Cepat. Orang-orang mau pulang.”

“Saya bisa jadi pemilik toko saja,” kata Aditya.

“Kalau begitu Patricia jadi calon pemilik hati sendiri?” Tante Lilis bertanya.

Pak Harun mengangkat tangan. “Saya bisa berdiri di belakang sebagai saksi.”

“Saksi apa, Pak?”

“Kurang tahu. Tadi baru bangun.”

Tawa pecah. Bahkan Aditya menyerah dan berjalan ke depan kue.

Maya sudah mengangkat ponsel. Bimo berdiri di belakangnya sambil membuat gerakan hati dengan tangan. Kami didorong berdiri rapat di depan kue.

“Senyum!” teriak seseorang.

Tepat sebelum kamera mengambil gambar, aku mengecup pipi Aditya.

Sorakan memenuhi toko. Aditya membeku, telinganya tidak memerah, tetapi tangannya yang memegang pisau kue berhenti di udara.

Aku mendekat ke telinganya. “Ciuman yang benar kutagih setelah toko sepi.”

Dia masih menatap kamera. “Aku tutup lebih cepat kalau kamu terus bicara begitu.”

“Ancaman yang menarik.”

Kamera mengambil foto kedua saat kami sama-sama gagal menahan senyum.

Di balik kerumunan, seorang pria berdiri dekat pintu dengan setelan gelap dan ekspresi yang tidak ikut merayakan.

Pak Surya.

Tatapannya berpindah dari tanganku di lengan Aditya, ke posisi tubuhku di balik meja kasir, lalu ke papan proyek ulang tahun yang mencantumkan namaku sebagai koordinator.

Dia tidak mengatakan apa pun.

Itu jauh lebih mengkhawatirkan.