Chapter Sixteen
Jangan Jatuh Cinta
POV: Aditya Pratama
Sisa: 25 Hari
Tante Lilis benar-benar memukul lenganku karena harga buku itu.
“Empat ratus ribu?” serunya. “Kamu ditipu!”
“Harga awalnya tujuh ratus.”
“Berarti kamu ditipu dengan diskon.”
Dia memeluk buku hijau itu ke dada sambil memeriksa setiap halaman. Ketika menemukan puisi tentang jendela, suaranya berhenti. Ibu jarinya menyentuh satu baris yang dulu selalu salah dibaca suaminya.
Patricia berdiri di sampingku. Tangannya masih hangat di telapak tanganku meski genggaman kami sudah terlepas sejak masuk.
“Ini bukunya,” bisik Tante Lilis.
Tidak ada yang menertawakan matanya yang basah. Bahkan Patricia tidak mencoba mengubah momen itu menjadi komentar. Dia hanya menaruh kotak tisu di dekat perempuan itu, lalu berbalik membereskan bungkus buku agar Tante Lilis punya waktu.
Beberapa menit kemudian, rasa haru itu berakhir ketika Tante Lilis menunjuk kami bergantian.
“Terima kasih. Sekarang kalian boleh lanjut kencannya.”
“Bukan kencan,” kataku.
“Sudah resmi,” kata Patricia bersamaan.
Aku menoleh. Dia mengangkat dagu, menantangku membantah kata-katanya sendiri dari depan toko tadi.
Tante Lilis tersenyum puas. “Bagus. Tante pulang sebelum mengganggu penutupnya.”
Lonceng berbunyi. Kami ditinggalkan berdua dengan buku-buku, cahaya sore, dan satu percakapan yang belum selesai.
Patricia mengambil buku hijau pengganti yang tadi sempat kami beli salah. “Ini mau ditaruh di mana?”
“Lantai dua. Rak koleksi.”
Dia membawanya naik tanpa menunggu bantuan. Aku mengikutinya, berusaha tidak memikirkan kata penutup yang baru diucapkan dua perempuan dalam waktu kurang dari lima menit.
Sepanjang perjalanan pulang dari pasar, lengannya melingkar di pinggangku. Setiap lampu merah memberi kesempatan untuk mengatakan bahwa kami tidak perlu menyelesaikan percakapan tadi. Aku tidak pernah mengatakannya. Ketika dia menggenggam tanganku di depan toko, aku bahkan membalas sebelum sempat mengingat semua alasan untuk berhati-hati.
Sekarang dia berada di ruang tempat aku biasa memperbaiki benda-benda rusak, menatapku seolah satu-satunya hal yang belum selesai di sana adalah kami.
Di lantai dua, Patricia meletakkan buku di meja restorasi, lalu berbalik. Ruangan itu sempit. Sinar matahari masuk melalui jendela kecil, jatuh pada debu yang bergerak pelan di antara kami.
“Jadi?” tanyanya.
“Jadi apa?”
“Penutup kencan.”
Aku merapikan posisi buku. “Tante Lilis sudah dapat pesanannya.”
“Itu tujuan perjalanan. Bukan penutup.”
“Saya mengantar pulang.”
“Naik motor empat puluh menit bukan hadiah. Pinggangku sakit.”
“Tadi pegangnya erat.”
“Supaya tidak jatuh.”
“Jalannya lurus.”
“Kamu banyak alasan untuk orang yang belum memberiku bonus pelanggan loyal.”
Aku tahu ke mana arah percakapan ini. Tetap saja aku memilih bertanya, mungkin karena ingin mendengarnya tanpa perlindungan lelucon.
“Bonus apa?”
Patricia mendekat satu langkah. “Makan malam sudah kamu hindari.”
“Belum masa evaluasi.”
“Payung sudah kembali.”
“Dua hari terlambat.”
“Kontrak membaca kupatuhi.”
“Kamu melewatkan satu cerita.”
Dia mendekat lagi sampai jarak di antara kami tinggal cukup untuk satu tarikan napas.
“Baik,” katanya. “Aku sedang minta kamu mencium aku.”
Semua balasan yang sudah kusiapkan hilang.
Dia mengucapkannya tanpa senyum, tanpa memiringkan kepala seolah itu candaan. Tatapannya lurus dan berani, tetapi jari tangan kirinya meremas ujung kemeja sendiri. Satu-satunya tanda dia juga tidak sepenuhnya tenang.
“Kamu bisa berubah pikiran,” kataku.
“Bisa.”
“Kalau saya mendekat, bilang kalau mau berhenti.”
“Aditya.” Dia mengembuskan napas pelan. “Kalau kamu terus memberi instruksi, aku akan mencium kamu duluan.”
Kalimat itu hampir membuatku tersenyum. Hampir. Karena di balik keberaniannya, aku bisa melihat dia sedang menunggu jawabanku dengan cara yang belum pernah dia lakukan dalam negosiasi apa pun.
Aku menginginkan ini sejak buku terbalik. Mungkin bahkan sejak dia meletakkan proposal di meja dan menatapku seperti penolakan adalah bahasa asing yang akan dia pelajari hanya untuk mengalahkanku.
Namun aku juga tahu siapa dia. Tahu kenapa pertama kali datang. Tahu ada dua puluh lima hari sebelum dunianya menelan tempat ini.
Aku bergerak mendekat. Patricia tidak mundur.
“Saya perlu tahu satu hal,” kataku.
“Apa?”
“Ini bagian dari pekerjaanmu atau benar-benar kamu mau?”
Pertanyaanku membuat bahunya menegang. Selama satu detik aku berharap dia memahami seluruh maksudnya, mengaku, lalu memberi kami kesempatan memulai dari kebenaran.
Dia tidak mengaku.
Sebaliknya, tangannya naik ke kerahku. Jemarinya menarik kain sedikit, menghapus sisa jarak.
“Kalau ini pekerjaan,” bisiknya, “aku tidak akan segugup ini.”
Itu belum seluruh kebenaran. Tapi kegugupannya nyata. Pilihannya saat ini juga nyata.
Aku memberi waktu satu napas lagi agar dia bisa mundur.
Patricia menarik kerahku lebih dekat.
Aku menciumnya.
Singkat. Pelan. Tidak ada benturan atau alasan palsu. Bibirnya hangat, diam selama sepersekian detik, lalu membalas dengan keyakinan yang membuat tanganku hampir naik ke pinggangnya.
Aku menghentikan diri lebih dulu.
Jarak kami hanya beberapa sentimeter. Napas Patricia menyentuh wajahku. Matanya terbuka perlahan, dan ekspresinya berubah dari terkejut menjadi tidak puas.
“Aku belum bilang cukup,” katanya.
“Saya tahu.”
“Lalu kenapa berhenti?”
Aku tidak bisa menjawab karena setiap detik membuat pergi nanti semakin sulit. Jadi aku memilih jawaban yang masih benar.
“Karena saya mau memastikan kamu masih menginginkannya setelah tahu rasanya.”
Patricia menatapku, lalu menarik kerahku satu sentimeter lagi. “Evaluasinya positif.”
Tawa kecil lepas sebelum bisa kutahan. Dahinya hampir menyentuh daguku. Kedekatan itu terasa lebih berbahaya daripada ciuman karena tidak ada sesuatu yang bisa disebut selesai.
Dia mengejarku setengah langkah. Tangan di kerahku belum lepas. Aku hampir menyerah, hampir menutup jarak lagi dan membiarkan satu ciuman menjadi dua, lalu sesuatu yang akan jauh lebih sulit kutinggalkan.
Dua puluh lima hari.
Angka itu berdiri di antara kami seperti dinding yang hanya bisa kulihat sendiri.
Aku menahan pergelangan tangannya, bukan untuk melepaskan, hanya agar ada sesuatu yang mencegahku menariknya lebih dekat.
“Jangan jatuh cinta sebelum toko ini tutup.”
Aku mengatakannya setengah bercanda. Kalimat itu terdengar buruk bahkan sebelum selesai.
Patricia menatapku. “Aku tidak pernah jatuh.”
“Nggak?”
“Aku selalu memilih tempat mendarat.”
Keberaniannya kembali, tetapi napasnya masih belum teratur. Dia menyentuh bibirnya sendiri, lalu tersenyum kecil seolah baru memenangkan negosiasi yang belum selesai.
“Dan untuk catatan,” lanjutnya, “aku akan menagih sisanya.”
“Masih dalam evaluasi.”
“Aku baru saja lulus.”
Dia berjalan ke tangga. Di anak tangga pertama, dia berbalik. “Besok jangan pura-pura tidak terjadi apa-apa.”
“Kamu juga.”
“Aku tidak pernah pura-pura.”
Sebelum turun, dia menyentuh ujung jariku. Bukan genggaman, hanya sapuan singkat yang membuatku tahu dia juga sedang memastikan kejadian barusan nyata.
Aku tetap berdiri di lantai dua sampai lonceng pintu berbunyi. Di meja restorasi, buku hijau yang salah terbeli tergeletak terbuka. Satu garis pensil milik orang asing melewati kalimat tentang pulang ke tempat yang sama dan menemukan dirinya sudah berubah.
Aku menutup bukunya.
Di lantai bawah, cangkir Patricia masih berada di samping kasir. Ada bekas lipstik tipis di tepinya. Aku membilasnya lebih lama daripada perlu, lalu menyimpan cangkir itu di tempat biasa—seolah besok, lusa, dan semua hari setelahnya sudah dijanjikan kepada kami.
Aku menatapnya sampai hilang di lantai bawah, membawa kebohongan paling besar di antara kami sambil mengatakan kalimat itu dengan percaya diri.
Setelah pintu toko berbunyi dan langkahnya menjauh, aku membuka laptop. Ada email pengingat dari lembaga arsip Yogyakarta.
Batas akhir konfirmasi posisi: tujuh hari lagi.
Di layar yang sama, tanggal proyek Nawasena masih terbuka di kalender.
Dua batas waktu. Dua jalan keluar. Dan bekas ciuman yang membuatku tidak ingin memilih salah satunya.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta reading
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup