Chapter Six
Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
POV: Patricia Davina
Sisa: 40 Hari
Aku menyelesaikan novel itu pukul dua lewat tiga belas pagi dan membenci kenyataan bahwa Aditya benar.
Akhir terbaiknya bukan rumah terjual atau rumah dipertahankan. Tokoh utamanya memilih pulang, lalu menjual sebagian tanah agar bisa memperbaiki rumah bersama kakaknya. Target awalnya gagal, tetapi untuk pertama kalinya dia membuat keputusan setelah mengetahui apa yang sebenarnya dia inginkan.
Aku menutup buku dengan perasaan sedang diceramahi oleh seratus delapan puluh tujuh halaman.
Pukul lima sore, aku sudah kembali di Aksara Senja dengan alasan yang jauh lebih masuk akal: membantu inventaris.
“Aku punya pengalaman mengelola aset,” kataku.
Aditya berdiri di depan rak kosong yang alasnya retak. “Buku bukan aset tetap.”
“Kalau dibeli dan menghasilkan pendapatan, secara akuntansi—”
“Saya menyesal bertanya.”
“Kamu tidak bertanya.”
“Lebih menyesal lagi.”
Dia memegang papan alas rak dengan satu tangan dan obeng dengan tangan lain. Hari ini kemejanya biru tua, lengan digulung seperti biasa. Aku mulai curiga dia sengaja melakukan itu karena tahu ada bagian kecil otakku yang berhenti bekerja setiap melihat urat tipis di lengannya.
Bukan masalah. Aku punya bagian otak lain yang masih bisa menyusun strategi.
Inventaris memberiku akses wajar ke daftar stok, catatan penjualan, dan kemungkinan dokumen biaya operasional. Aku tidak berniat mencuri informasi. Aku hanya ingin melihat apa yang membuat toko ini bertahan ketika semua hitungan menyuruhnya berhenti.
Itu perbedaan penting. Setidaknya menurutku.
“Aku bisa bantu input stok,” kataku. “Spreadsheet-mu pasti mengerikan.”
“Saya nggak punya spreadsheet.”
Aku menatapnya dengan ngeri yang tulus. “Lalu kamu mencatat delapan ribu buku pakai apa?”
Dia menunjuk tiga buku besar di bawah meja kasir.
“Kertas?”
“Teknologi yang cukup stabil.”
“Kamu hidup di tahun berapa?”
“Tahun ketika baterai buku catatan nggak pernah habis.”
Aku membuka salah satu buku besar itu. Setiap transaksi ditulis dengan tanggal, judul, harga, dan tanda kecil berbentuk lingkaran atau segitiga. Beberapa baris tidak memiliki angka pembayaran sama sekali.
“Yang kosong ini apa?”
“Titipan.”
“Maksudnya belum dibayar?”
“Anak sekolah biasanya bayar akhir bulan.”
“Berapa banyak yang benar-benar kembali?”
“Cukup.”
“Itu bukan angka.”
Aditya mengambil buku catatan dari tanganku, tetapi tidak menutupnya. “Kalau mereka belum kembali, berarti bukunya masih dibaca.”
“Dan kalau tidak dibayar?”
“Berarti saya salah menghitung risiko.”
Aku hampir menjelaskan sistem deposit, kartu anggota, dan batas kredit sederhana. Lalu aku melihat satu nama yang muncul berulang dengan angka pembayaran nol: Kirana. Di samping tiap judul ada tanda matahari kecil.
“Kamu sengaja meminjamkannya gratis.”
“Dia selalu mengembalikan tepat waktu.”
“Itu bukan model bisnis.”
“Makanya kamu datang membantu.”
Dia mengambil tumpukan lain sebelum aku sempat membalas. Aku menatap buku besar itu lebih lama dari yang diperlukan. Angka-angkanya buruk, tetapi cara dia mencatat siapa yang perlu diberi waktu membuat kolom kosong terasa seperti keputusan, bukan kelalaian.
Lima belas menit kemudian, aku duduk di lantai dengan laptop terbuka, dikelilingi tumpukan buku dan bersin untuk ketujuh kalinya.
Aditya meletakkan sekotak tisu di sebelah lututku. “Alergi debu?”
“Bukan.”
Aku bersin lagi.
“Kelihatannya begitu.”
“Ini reaksi terhadap sistem katalog yang tidak efisien.”
“Sistemnya membuat hidung gatal?”
“Tubuhku menolak proses kerja yang buruk.”
Dia mengangguk serius. “Berat juga jadi direktur.”
Aku menatapnya dari balik tisu. Ada senyum kecil di wajahnya. Aku memutuskan akan membuatnya kehilangan senyum itu sebelum pulang.
Kesempatan datang ketika dia meminta bantuan mengambil kotak buku dari rak paling atas. Tangga geser kayu menempel pada rel di sepanjang rak. Aku menaikinya tanpa ragu sampai anak tangga keempat.
“Sepatumu licin,” kata Aditya dari bawah.
“Aku bisa naik tangga.”
“Kemarin kamu kalah sama buku yang terbalik.”
“Itu desain yang buruk.”
Aku menjangkau kotak di atas. Ujung jariku baru menyentuh kardus ketika roda tangga bergerak beberapa sentimeter. Tubuhku miring. Sebelum sempat mencengkeram rak, satu tangan menahan pinggangku dan satu lagi mengunci tangga.
“Diam,” katanya.
“Aku tidak bergerak.”
“Kamu sedang membantah. Itu termasuk bergerak buat kamu.”
Telapak tangannya terasa hangat menembus kain kemejaku. Jarak antara wajahku dan rak mungkin dua puluh sentimeter, tetapi seluruh kesadaranku berkumpul pada lima jari di pinggang.
Tangga kembali stabil. Aditya tidak langsung melepaskan tangan. Aku menoleh ke bawah dan menemukan wajahnya hanya sedikit lebih rendah dari posisiku. Dekat sekali. Cukup dekat untuk melihat noda tinta biru samar di sisi ibu jarinya.
“Sudah aman,” katanya.
Tangannya mulai menjauh.
Aku menaruh tanganku di atas punggung tangannya, menahannya tetap di pinggangku.
“Siapa bilang aku sudah aman?”
Untuk satu detik, dia benar-benar kehilangan ekspresi. Napasnya berhenti. Matanya turun ke tanganku, lalu kembali ke wajahku.
Aku tersenyum pelan. “Tangga ini masih bisa bergerak. Mungkin kamu perlu memegang lebih lama.”
“Kalau mau saya tetap pegang,” katanya, suaranya lebih rendah, “kamu nggak perlu menyalahkan tangga.”
Senyumku tertahan.
“Maksudnya?”
“Minta dengan jujur.”
Tangan yang tadi kutahan justru menekan sedikit lebih mantap, cukup untuk membuktikan dia tidak sedang berusaha kabur. Kini aku yang lupa apa rencana berikutnya.
Aditya menunggu, tenang, seolah waktu di toko memang selalu bergerak sesuai kemauannya.
“Aku… minta kotaknya,” kataku akhirnya.
Sudut bibirnya terangkat. “Tentu.”
Dia mengambil kotak itu dengan satu tangan, lalu membantuku turun. Ketika kakiku menyentuh lantai, jemarinya baru lepas dari pinggangku. Aku membenahi rambut meski tidak ada yang berantakan.
Kekalahan kecil. Sangat kecil. Tidak perlu dimasukkan laporan.
Kotak itu ternyata berisi buku-buku lama dengan sampul dilapisi plastik bening. Beberapa punya catatan harga dalam tulisan tangan. Di paling atas ada buku resep lusuh dengan noda tepung di tepinya.
“Ini belum masuk katalog?” tanyaku.
“Bukan untuk dijual.”
Aditya duduk di seberang kotak dan mengangkat buku resep itu. Gerakannya berubah lebih hati-hati.
“Punya ibumu?”
Dia mengangguk. “Ini koleksi yang dia simpan waktu pertama buka toko. Sebagian sudah rusak. Saya mau pindahkan ke rak atas setelah dibersihkan.”
Aku mengambil novel tipis yang punggungnya hampir lepas. Di halaman depan ada stempel matahari tenggelam yang tintanya sudah memudar dan nama seorang perempuan ditulis dengan pensil.
“Dia yang membuat stempelnya?”
“Iya. Katanya matahari tenggelam bukan tanda hari selesai. Cuma tanda lampu lain harus dinyalakan.”
Aku melihat sekeliling. Cat mengelupas, rak miring, dan lampu kuning yang tidak sama warna. Tiba-tiba semuanya terasa seperti sesuatu yang terus dinyalakan oleh satu orang setelah orang lain pergi.
“Kapan dia meninggal?” tanyaku pelan.
“Lima tahun lalu.”
“Maaf.”
“Sudah lama.”
Kalimatnya datar, tetapi ibu jarinya mengusap sudut buku resep dua kali. Aku tidak menanyakan hal lain. Untuk pertama kalinya sejak memulai operasi ini, dokumen toko yang mungkin ada di dalam kotak tidak terasa penting.
Kami membersihkan buku-buku itu sampai hampir pukul delapan. Aku berhenti mengarahkan percakapan. Aditya menceritakan bagaimana ibunya suka menyelipkan uang di dalam novel lalu lupa judulnya. Aku mengaku pernah menyimpan kontrak penting di dalam freezer karena menerima telepon saat mencari es batu. Dia tertawa cukup keras sampai harus menunduk.
“Kontraknya selamat?” tanyanya.
“Selamat. Harga diriku tidak.”
“Ada saksi?”
“Maya. Itu lebih buruk daripada rekaman CCTV karena dia bisa menceritakannya dengan efek suara.”
Aku menyerahkan buku yang sudah dibersihkan. Jari kami bertemu lagi, tetapi kali ini tidak ada tantangan. Aditya menerima buku itu dengan senyum yang masih tersisa. Momen tersebut begitu ringan sampai aku hampir lupa kedatanganku punya agenda lain.
Hampir.
Ketika hendak pulang, aku mengangkat laptop dan tas sekaligus. Sesuatu tersangkut di saku luar, tetapi aku hanya mendengar bunyi tipis tertelan suara lonceng pintu.
“Besok lanjut?” tanyaku dari ambang.
“Kalau tubuhmu masih sanggup menghadapi sistem katalog.”
“Aku bawa masker.”
“Bawa sepatu yang benar.”
“Kenapa? Kamu tidak mau menangkapku lagi?”
Aditya menatapku beberapa detik. “Saya nggak bilang begitu.”
Aku keluar sebelum dia bisa melihat senyumku terlalu jelas.
Di dalam toko, di sela dua buku peninggalan ibunya, kartu akses kantor berlogo Nawasena Development tergeletak dengan namaku tercetak penuh di bawah foto.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter reading
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup