Chapter One

Unit Kedua Belas

POV: Patricia Davina
Sisa: 45 Hari

Aku tiba di Koridor Cempaka dengan keyakinan bahwa semua orang punya harga.

Bukan pemikiran yang cantik, memang. Tapi selama delapan tahun bekerja di bidang pengembangan properti, aku belum pernah menemukan penolakan yang benar-benar berarti tidak. Biasanya kata itu cuma berarti angka yang ditawarkan kurang besar, jadwal pembayaran kurang cepat, atau orang yang bicara kurang sabar.

Hari ini aku membawa ketiganya.

Proposal dengan angka empat puluh persen di atas harga pasar ada di tangan kiri. Jadwal pembayaran paling cepat yang pernah disetujui divisi keuangan ada di tablet. Kesabaranku—yang oleh Maya disebut lebih tipis daripada kertas struk—sudah kupaksa bertahan sejak turun dari mobil.

Tinggal satu unit.

Sebelas ruko di deretan ini sudah menjadi milik Nawasena Development. Unit kedua belas berdiri di ujung koridor dengan cat hijau tua yang mengelupas, jendela penuh debu, dan papan kayu bertuliskan AKSARA SENJA. Huruf A terakhirnya miring seperti sedang mempertimbangkan resign.

Lonceng kuningan di atas pintu berbunyi sumbang saat aku masuk.

Udara di dalam berbau kertas tua, kayu lembap, dan kopi yang sudah terlalu lama berada di dalam teko. Rak-raknya tidak seragam. Sebagian terlalu tinggi, sebagian condong seperti punya masalah kepercayaan. Di sudut kanan, satu rak kosong berdiri dengan papan alas retak.

Aku belum memutuskan apakah debu di tempat ini adalah estetik vintage atau bukti bahwa pemiliknya bermusuhan dengan kemoceng.

Laki-laki di balik meja kasir mengangkat kepala dari sebuah buku yang sedang dia perbaiki. Kemeja abu-abunya digulung sampai siku. Ada noda tinta biru di sisi telunjuknya. Dia melihatku sekali, lalu pandangannya turun ke map berlogo perusahaan di tanganku.

Tidak gugup. Tidak buru-buru berdiri. Tidak juga memasang senyum yang biasanya muncul setelah seseorang membaca jabatan di kartu namaku.

Menarik.

“Selamat sore,” kataku.

“Sore.”

Hanya itu.

Aku berjalan ke meja kasir dan menyodorkan kartu nama. “Saya Patricia Davina, Direktur Pengembangan Nawasena Development.”

Dia menerima kartu itu, membacanya sebentar, lalu meletakkannya di samping stempel berbentuk matahari tenggelam.

“Aditya.”

Aku menunggu nama belakang, jabatan, atau minimal gestur mempersilakan duduk. Tidak ada.

“Saya tahu Bapak pemilik bangunan ini.”

“Kalau nggak tahu, proposalnya salah alamat.”

Kalimatnya datar, tetapi sudut bibirnya bergerak nyaris tak terlihat. Aku belum lima menit di sini dan laki-laki ini sudah mencoba membuatku kehilangan ritme.

Aku menarik kursi kayu di depan meja. Kakinya menggesek lantai dengan suara yang cukup keras untuk membangunkan tiga generasi pemilik toko.

“Saya datang membawa penawaran final.”

“Yang dua sebelumnya belum final?”

“Yang ini lebih final.”

Sekarang jelas dia tersenyum. Tipis sekali, seolah senyum juga termasuk stok langka yang harus dijaga.

Aku membuka proposal dan memutarnya ke arahnya. “Nilai pembeliannya sudah kami naikkan. Biaya relokasi ditanggung penuh. Kami juga menyediakan kompensasi untuk penghentian usaha dan bantuan mencari lokasi baru.”

Dia tidak menyela. Itu bagus. Orang yang membiarkan lawan bicara menyelesaikan presentasi biasanya sudah mulai mempertimbangkan.

Aku menjelaskan skema pembayaran, jadwal pengosongan, sampai peluang kawasan ini setelah Hotel Arunika berdiri. Aku menunjukkan visual promenade retail dengan pepohonan tertata, lampu hangat, dan manusia-manusia stok foto yang terlalu bahagia memegang paper bag.

Aditya membaca setiap halaman perlahan. Terlalu perlahan.

Seorang ibu masuk mencari buku resep lama. Dia meninggalkanku di tengah kalimat, mengambilkan buku dari rak belakang, lalu membungkusnya dengan kertas koran. Si ibu membayar sebagian dengan uang receh. Aditya menghitung tanpa menunjukkan sedikit pun ketidaksabaran.

Aku menghabiskan tiga menit menatap noda air berbentuk pulau di meja kasir.

Setelah pelanggan itu pergi, dia kembali duduk dan menyelesaikan halaman terakhir proposal.

“Penawarannya bagus,” katanya.

Aku menahan senyum kemenangan. “Saya senang kita sepakat.”

“Kita nggak sepakat.” Dia menutup map dengan rapi. “Saya bilang penawarannya bagus.”

“Apa bedanya?”

“Penawaran bagus bisa tetap ditolak.”

Aku menyandarkan punggung. “Boleh saya tahu bagian mana yang belum memenuhi harapan?”

“Nggak ada.”

“Nilainya?”

“Cukup.”

“Lokasi pengganti?”

“Bagus.”

“Jadwal pembayaran?”

“Cepat.”

Aku mengambil napas. “Lalu masalahnya apa?”

Aditya memandang sekeliling toko, bukan dengan sentimentalitas berlebihan, hanya seperti seseorang memastikan benda-benda di sekitarnya masih berada di tempat semula.

“Saya belum mau menjual.”

Kata belum adalah celah. Aku terbiasa bekerja dengan celah.

“Berarti ada kondisi yang bisa mengubah keputusan itu.”

“Mungkin.”

“Kondisi apa?”

“Kalau saya tahu, saya akan bilang.”

Aku mengeluarkan lembar analisis valuasi. “Toko ini mengalami penurunan transaksi selama tiga tahun. Biaya perawatan bangunan naik. Dari sisi usaha, mempertahankan lokasi ini—”

“Kurang efisien?”

“Tidak sehat.”

“Kedengarannya seperti kurang efisien dengan jas lebih mahal.”

Aku menatapnya. Dia balas menatap tanpa defensif, tanpa marah. Justru itu yang mengganggu. Penolakan emosional bisa dipatahkan dengan angka. Keserakahan bisa ditangani dengan angka yang lebih besar. Namun laki-laki ini bahkan tidak terlihat sedang mempertahankan diri.

“Pak Aditya, pembangunan ini melibatkan ratusan pekerja dan investasi besar. Sebelas pemilik lain sudah menyetujui. Satu unit ini menentukan seluruh proyek.”

“Saya tahu.”

“Aku cuma butuh satu tanda tangan.”

Untuk pertama kalinya, tatapannya berubah. Bukan melunak. Lebih seperti dia sedang memeriksa apakah aku benar-benar percaya pada kalimatku sendiri.

“Kalau cuma tanda tangan, punya Ibu sendiri juga ada.”

“Anda tahu maksud saya.”

“Tahu.”

Dia melirik jam dinding bundar di atas rak. Jarum panjangnya menunjuk angka sebelas. Pukul tujuh lewat lima puluh lima.

“Kami tutup jam delapan,” katanya.

“Saya hanya perlu sepuluh menit lagi.”

“Lima menit.”

“Ini pembicaraan bernilai miliaran.”

“Jamnya tetap punya enam puluh menit.”

Aku hampir tertawa karena kesal. “Anda mengusir calon pembeli?”

“Toko ini belum tutup.” Dia membalik papan kecil di meja, dari tulisan SEDANG INVENTARIS menjadi SILAKAN KE KASIR. “Masih ada lima menit untuk pembeli. Bukan pengembang.”

Lonceng pintu berbunyi lagi. Seorang anak berseragam sekolah masuk sambil terengah, menanyakan komik titipan. Aditya langsung berdiri dan mengambil bungkusan dari bawah meja. Wajahnya yang tadi hampir tanpa ekspresi menjadi sedikit lebih hangat ketika anak itu membayar dengan lembaran uang kusut.

Aku merapikan proposal, memasukkannya ke map, lalu berdiri.

“Penawaran ini berlaku tujuh hari.”

“Baik.”

“Setelah itu nilainya bisa berubah.”

“Baik.”

“Saya akan kembali.”

Kali ini matanya singgah padaku sedikit lebih lama. “Saya menduga begitu.”

Aku keluar tepat ketika dia membalik papan pintu ke sisi TUTUP. Lonceng sumbang itu berbunyi di belakangku seperti tawa pendek.

Di dalam mobil, layar ponselku sudah dipenuhi pesan Maya. Belum sempat kubalas, nama Pak Surya muncul sebagai panggilan masuk.

“Bagaimana unit terakhir?” tanyanya tanpa pembuka.

Aku melihat melalui jendela. Di balik kaca toko, Aditya sedang mengembalikan proposal ke dalam map seolah baru selesai membaca menu yang tidak ingin dia pesan.

“Belum tanda tangan.”

Hening dua detik.

“Opsi pembelian dan komitmen investor berakhir empat puluh lima hari lagi,” kata Pak Surya. “Tidak ada perpanjangan. Kalau satu unit gagal, semua desain, akses, dan pendanaan harus ditinjau ulang. Kamu paham konsekuensinya?”

Timku dibubarkan. Proyek dialihkan. Semua orang yang menganggap aku terlalu muda untuk kursi direktur akan mendapat bukti yang mereka tunggu.

“Paham.”

“Selesaikan.”

Panggilan berakhir.

Lampu toko padam satu per satu. Sebelum lampu terakhir mati, Aditya menoleh ke arah mobilku. Aku tidak tahu apakah dia bisa melihatku di balik kaca gelap, tetapi aku tetap duduk tegak.

Empat puluh lima hari.

Satu toko tua.

Satu laki-laki yang tidak tertarik pada angka.

Aku menyalakan mesin sambil tersenyum tipis.

Baiklah. Kalau dia tidak mau bicara dengan pengembang, aku akan mencari tahu kepada siapa dia mau bicara.