Chapter Eight
Laporan Kemajuan Nol Persen
POV: Patricia Davina
Sisa: 38 Hari
“Kemajuan akuisisi?” tanya Pak Surya.
“Jalur komunikasi dengan pemilik sudah terbuka.”
“Tanda tangan?”
“Belum.”
“Pembahasan harga?”
“Belum masuk tahap itu.”
“Kesediaan menjual?”
Aku menatap tabel di layar rapat. Tiga pertanyaan, tiga jawaban yang kalau diterjemahkan oleh orang jujur berarti nol.
“Pemilik mulai mempercayai saya.”
Pak Surya melepas kacamatanya. Dia tidak marah. Akan lebih mudah kalau marah, karena aku bisa menganggap tekanannya tidak rasional. Sebaliknya, dia membuka jadwal proyek dan menunjuk tanggal yang dilingkari merah.
“Tiga puluh delapan hari. Investor meminta pembaruan tertulis Jumat ini.”
“Saya akan siapkan.”
“Bawa sesuatu yang bisa diukur, Patricia.”
“Saya juga sedang memetakan alasan penolakan dan fungsi sosial lokasi,” kataku. “Keputusan pemilik tidak murni finansial.”
“Bagus. Tapi memahami alasan bukan hasil akhir.” Pak Surya menutup berkas. “Saya memberi kamu kebebasan memilih pendekatan karena rekam jejakmu. Jangan membuat saya menyesal harus menjelaskan kebebasan itu kepada dewan.”
Nada suaranya tetap tenang. Justru karena itu, beban kalimatnya terasa penuh. Pak Surya bukan orang yang menuntut mustahil; dia orang yang sudah membela penunjukanku saat beberapa komisaris menyebutku terlalu muda. Kegagalanku tidak hanya akan mengenai satu proyek.
Rapat selesai enam menit lebih cepat. Itu bukan pertanda baik.
Begitu pintu tertutup, Maya menggeser kursinya ke sampingku dan membuka dashboard rahasia yang kukira sudah kuhapus.
“Aku punya sesuatu yang bisa diukur.”
“Kalau kamu menunjukkan kolom kontak mata, aku pecat.”
“Durasi kunjungan meningkat dari empat puluh menit menjadi tiga jam dua belas menit. Jumlah kopi bersama: empat. Jumlah sentuhan terkonfirmasi: dua.”
Aku memutar kepala. “Kamu menghitung sentuhan?”
“Satu di rak, satu saat tangga. Yang tangga punya durasi berapa detik?”
“Kenapa kamu tahu soal tangga?”
“Karena laporanmu tadi pagi berbunyi, ‘Sistem inventaris buruk, rak perlu perbaikan, pemilik punya refleks bagus dan telapak tangan hangat.’”
Aku mengambil laptopnya. Benar. Kalimat terakhir itu ada di catatan yang kukirim pukul satu dini hari.
“Itu observasi lapangan.”
“Tentu. Bagaimana kemajuan tanda tangan?”
“Dia nyaman sama aku.”
“Bukan pertanyaanku.”
“Aku mendapat informasi tentang ibunya dan sejarah toko.”
“Tanda tangan?”
Aku menutup laptop sedikit lebih keras. “Nol persen.”
Maya menyandarkan dagu di telapak tangan. “Tapi kemajuan bikin kamu jatuh cinta pada lengan yang digulung?”
“Keluar dari ruanganku.”
“Ini ruang rapat.”
Aku yang keluar lebih dulu.
Sore harinya, aku datang ke Aksara Senja dengan dua tujuan: melanjutkan inventaris dan membuktikan kepada Maya bahwa kedekatanku dengan Aditya tetap berada dalam kontrol.
Tujuan kedua gagal sebelum aku sempat masuk.
Aditya sudah membuka pintu sedikit ketika tanganku baru terangkat untuk mengetuk. Dia berdiri di baliknya sambil memegang satu cangkir kopi.
“Kamu menungguku?” tanyaku.
“Saya dengar langkah.”
“Dari dalam?”
“Sepatumu berisik.”
Aku melihat sepatu datarku, lalu ke trotoar yang ramai. “Alasan yang buruk.”
Dia menyerahkan kopi. “Kalau begitu saya nggak menunggu.”
Aku menerimanya sebelum dia berubah pikiran. Suhunya pas dan gulanya sesuai. Hal kecil itu terasa lebih berbahaya daripada tangan di pinggang kemarin. Sentuhan bisa disebut refleks. Mengingat takaran kopi membutuhkan perhatian.
“Ada yang jatuh dari tasmu,” katanya.
Kartu akses kantor muncul di antara jari-jarinya.
Darahku seperti turun ke telapak kaki.
Aku mengambilnya terlalu cepat. “Kamu menemukan di mana?”
“Di antara buku.”
“Kamu lihat?”
Pertanyaan bodoh. Nama perusahaan tercetak cukup besar untuk dibaca dari dua meter.
“Sulit nggak lihat foto orang yang tiap sore berdiri di depan saya.”
Aku membalik kartu, memeriksa seolah ada sesuatu yang bisa memberitahuku seberapa banyak dia tahu. “Maksudku, ada data karyawan di belakang.”
“Tertutup debu waktu saya temukan.”
Jawabannya tidak benar-benar menjawab. Aku mengangkat wajah, berusaha membaca ekspresinya. Tenang seperti biasa. Tidak ada sindiran, tidak ada jarak baru.
Dia tahu aku bekerja di Nawasena sejak hari pertama. Tidak ada alasan baginya mencurigai hal lain hanya karena kartu itu. Aku memasukkannya ke dompet.
“Terima kasih.”
“Sama-sama, Bu Direktur.”
“Aku sudah melarang panggilan itu.”
“Kartunya mengingatkan.”
Dia berbalik ke meja kasir. Aku mengikutinya, sedikit terlalu waspada pada setiap gerakan.
“Pekerjaanmu memang apa?” tanyanya sambil membuka buku catatan stok. “Selain membuat spreadsheet dan memarahi debu.”
“Mengembangkan properti.”
“Artinya?”
“Mengatur ruang supaya berguna.”
“Banyak memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain?”
Jari-jariku mengencang di sekitar cangkir. “Kadang.”
“Mereka selalu mau pindah?”
“Tugasku mencari kesepakatan yang masuk akal.”
“Buat siapa?”
Aku menatapnya. Nada suaranya tidak menuduh. Pertanyaannya bisa sepenuhnya biasa, tetapi rasa bersalah membuat setiap kata terdengar seperti pisau yang baru diasah.
“Buat sebanyak mungkin pihak,” jawabku.
Dalam presentasi perusahaan, kalimat itu biasanya cukup. Kami bicara tentang jumlah lapangan kerja, peningkatan nilai kawasan, dan arus ekonomi. Tidak ada slide tentang satu anak yang meminjam buku tanpa bayar atau seorang laki-laki yang menyimpan tulisan ibunya di rak paling atas.
Aku tetap percaya Hotel Arunika akan berguna. Aku juga mulai mengerti bahwa kegunaan baru bisa menghapus sesuatu yang tidak pernah masuk hitungan.
Dia mengangguk, lalu menunduk pada buku catatan. Percakapan selesai begitu saja.
Aku seharusnya lega. Sebaliknya, aku berjalan mengitari meja dan berdiri di sisinya, cukup dekat hingga lengan kami hampir bersentuhan.
“Kamu kenapa?” tanyaku.
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Dari tadi menatapku.”
“Kamu juga menatap saya.”
Aku memutar tubuh menghadapnya. Jarak kami menyusut sampai aku bisa melihat garis lelah tipis di bawah matanya. “Kamu selalu menatap pelanggan selama itu?”
Dia tidak mundur. Tangannya masih berada di meja, mengurung ruang kecil di antara tubuhku dan tumpukan buku.
“Nggak,” katanya. “Cuma yang datang buat sesuatu selain buku.”
Kalimat itu mengenai dua tempat sekaligus.
Aku datang untuk tanda tangannya.
Namun saat berdiri sedekat ini, aku juga menginginkan sesuatu yang sama sekali tidak ada di proposal.
“Kalau aku bilang aku datang untuk kopinya?” tanyaku.
“Kedai Bimo dua pintu dari sini.”
“Kalau aku bilang karena pemiliknya?”
Tangannya kehilangan pekerjaan. Pulpen yang tadi hendak diambil berhenti di bawah jarinya.
“Saya akan tanya pemiliknya bagian mana,” jawabnya.
Aku mengangkat dagu. “Bagian yang suka memberi jawaban menyebalkan.”
“Banyak pilihan berarti.”
“Bagian yang ingat jumlah gula.”
Sorot matanya berubah sedikit. “Itu keluhan atau pujian?”
“Aku belum memutuskan.”
“Kalau begitu jangan dilaporkan dulu.”
“Siapa bilang aku membuat laporan tentang kamu?”
“Kamu membuat spreadsheet untuk buku. Saya nggak yakin manusia aman dari tabelmu.”
Aku ingin mengatakan dia memang sudah masuk ke laporan, lengkap dengan statistik senyum dan sentuhan versi Maya. Namun cara dia menatapku membuat pengakuan itu terasa lebih intim daripada seharusnya.
Itu bukan penolakan. Juga bukan kemenangan. Tatapannya terlalu serius untuk kuanggap permainan biasa.
Aku mundur setengah langkah sebelum keberanianku menuntut jawaban yang belum siap kuberikan dengan jujur.
Aditya menarik napas, kemudian mengambil selembar kertas dari bawah meja. “Bulan depan Aksara Senja ulang tahun keempat puluh satu.”
“Kamu mengalihkan topik.”
“Iya.”
Kejujurannya membuatku tertawa. “Lalu?”
“Biasanya ada diskusi buku dan program anak. Tahun ini saya belum menyiapkan apa-apa.”
“Berapa pengunjung tahun lalu?”
“Sekitar lima puluh.”
“Target tahun ini?”
“Lima puluh orang yang senang.”
“Itu bukan target yang bisa dievaluasi.”
“Bisa. Tanya mereka sebelum pulang.”
Aku menghela napas dan menarik kertas ke arahku. Tanpa sadar, aku mulai membagi acara menjadi program, anggaran, promosi, dan penanggung jawab. Aditya memperhatikan tulisan tanganku memenuhi halaman.
“Kamu selalu begini?”
“Begini bagaimana?”
“Mengubah permintaan kecil jadi proyek.”
Pulpennya berhenti di tanganku. Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi mengenai sesuatu yang tidak ingin kuperiksa sekarang.
“Kalau dikerjakan, sekalian benar,” jawabku.
“Kadang orang cuma butuh dibantu. Nggak harus diselamatkan.”
Aku mengembalikan pulpennya. “Berarti minta bantuan yang spesifik.”
“Kamu minta bantuanku?”
“Saya mempertimbangkan.”
“Minta yang benar.”
Dia menatapku, jelas mengenali kalimatnya sendiri dari tangga kemarin.
“Bantu saya menyusun acaranya,” katanya.
Aku seharusnya menghitung apakah kegiatan itu mendekatkanku pada akuisisi. Seharusnya aku memakai kesempatan untuk melihat data pelanggan, komunitas, dan biaya toko.
Namun yang membuatku menjawab iya adalah cara dia akhirnya meminta sesuatu dariku tanpa aku tawarkan lebih dulu.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen reading
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup