Chapter Three

Buku yang Terbalik

POV: Patricia Davina
Sisa: 43 Hari

Masalah pertama dalam menyamar sebagai pelanggan toko buku adalah aku harus membeli buku.

Masalah keduanya, Aditya mengawasi dari belakang meja kasir seolah sedang menunggu kapan aku mengaku bahwa pengetahuanku tentang sastra berhenti di kutipan Instagram.

Aku berjalan menyusuri rak fiksi dengan langkah pelan. Bukan karena tertarik, melainkan karena labelnya tidak membantu. Sastra Indonesia. Sastra terjemahan. Klasik. Kontemporer. Realisme magis. Nama terakhir terdengar seperti divisi konsultan yang terlalu mahal.

“Cari sesuatu?” tanyanya.

“Bacaan.”

“Itu mempersempit pilihannya jadi sekitar delapan ribu buku.”

Aku menarik satu novel dari rak terdekat dan membaca tulisan di sampul. “Aku suka sesuatu yang… eksistensial.”

“Eksistensial seperti apa?”

“Yang menggugat struktur.”

“Struktur apa?”

“Kehidupan.”

Dia bersandar pada meja. “Tadi siang cari definisinya di internet?”

Aku menoleh perlahan. “Aku tahu arti eksistensial.”

“Saya belum bilang Ibu nggak tahu.”

“Kamu baru saja menuduhku.”

“Saya bertanya.”

“Dengan wajah menuduh.”

“Wajah saya memang begini.”

Aku menahan tatapannya, lalu kembali ke buku di tangan. Sampulnya bergambar rumah merah di bawah bulan pucat. Aku membukanya di bagian tengah dan berusaha membaca satu paragraf.

Kalimat pertama terasa aneh. Huruf-hurufnya seperti sengaja dijatuhkan dari atas. Aku berkedip, memiringkan kepala sedikit, lalu menyadari rumah merah di sampul sebenarnya sedang terbalik. Buku itu kupegang dengan punggung menghadap bawah.

Tidak masalah. Aku bisa membaliknya sekarang.

Namun ketika mataku bergerak ke meja kasir, Aditya sedang melihatku.

Membalik buku berarti mengaku salah. Tetap memegangnya berarti terlihat bodoh.

Aku memilih pilihan kedua karena setidaknya terlihat konsisten.

Aku berjalan ke kursi dekat jendela, duduk, dan mempertahankan buku itu dalam posisi yang sama. Satu menit. Mungkin dua. Aku membalik halaman yang tidak bisa kubaca dengan ekspresi serius.

Bayangan jatuh di atas pangkuanku.

Aditya berdiri di depan kursi. Dia mengambil ujung buku dengan dua jari, memutarnya seratus delapan puluh derajat, lalu mengembalikannya tanpa komentar.

Aku menatap halaman yang kini masuk akal.

“Desain sampulnya membingungkan,” kataku.

“Tentu.”

“Siapa pun bisa salah.”

“Tiga menit cukup lama untuk sebuah kesalahan.”

“Kamu menghitung?”

“Tokonya sepi.”

Ada tawa di matanya, meski wajahnya masih tenang. Aku menutup buku dan bangkit. Jarak kami tinggal setengah langkah.

“Baik. Karena kamu ahli, rekomendasikan satu buku.”

“Kriterianya?”

“Tidak terlalu tebal. Tidak ada keluarga bangsawan Rusia. Tidak ada orang menderita selama tiga ratus halaman hanya untuk mati di akhir.”

“Tadi katanya suka yang eksistensial.”

“Aku suka eksistensial yang efisien.”

Dia akhirnya tertawa kecil. Bukan senyum tipis seperti kemarin, melainkan suara rendah yang cepat hilang. Anehnya, keberhasilan membuatnya tertawa terasa lebih memuaskan daripada membuat satu ruang rapat menyetujui presentasiku.

Aditya berjalan ke rak paling belakang. Aku mengikutinya melewati lorong sempit yang hanya cukup untuk satu orang. Saat dia berhenti mendadak, aku hampir menabrak punggungnya.

“Yang ini.” Dia mengambil novel bersampul biru pudar. “Tentang seorang perempuan yang pulang ke kota kecil untuk menjual rumah ibunya.”

“Berhasil dijual?”

“Baca.”

“Akhirnya bahagia?”

“Tergantung definisi bahagia.”

Aku menerima buku itu. Di halaman judul ada stempel tinta biru berbentuk matahari tenggelam dengan tulisan Aksara Senja melengkung di bawahnya.

“Kalau tujuan dia menjual rumah, akhir bahagia berarti rumahnya terjual.”

“Kalau setelah pulang dia sadar rumah itu satu-satunya tempat yang dia punya?”

“Tetap harus ada keputusan.”

“Ada.” Aditya mengambil buku lain dari rak atas. “Tapi keputusan terbaik bukan selalu saat target awal tercapai.”

“Itu terdengar seperti pembelaan untuk karakter yang tidak kompeten.”

“Atau karakter yang berubah.”

“Kalau semua orang berubah di tengah jalan, rencana tidak ada gunanya.”

“Rencana dibuat sebelum orang tahu semuanya.”

Aku hendak membalas, tetapi seorang pelanggan lewat di ujung lorong. Kami sama-sama bergeser agar memberi jalan dan justru terjebak lebih rapat di antara dua rak.

Tanganku masih memegang punggung buku. Tangan Aditya turun untuk mengambil buku yang sama, mungkin hendak menunjukkan sesuatu. Jari kami bertemu.

Dia diam.

Aku juga.

Sentuhannya ringan, cuma sisi telunjuk di atas buku tua. Aku bisa menarik tangan dengan mudah. Sebaliknya, aku membiarkannya di sana, lalu mengangkat wajah.

Tatapan Aditya berpindah dari tangan kami ke mataku. Untuk pertama kali sejak aku masuk, dia kehilangan jawaban cepatnya.

Aku maju sepersekian langkah. “Semua pelanggan dapat pelayanan sedekat ini?”

Napasnya berhenti cukup lama untuk kusadari. Tangannya belum bergerak.

Lalu dia memiringkan kepala, kembali menjadi laki-laki menyebalkan yang terlalu tenang.

“Cuma pelanggan yang membaca buku terbalik,” katanya. “Butuh pengawasan khusus.”

Aku menarik tangan lebih dulu, bukan karena kalah. Hanya karena kalau diteruskan, senyumku akan terlalu jelas.

“Aku ambil buku ini.”

“Yang terbalik atau yang saya rekomendasikan?”

“Yang kamu rekomendasikan.”

“Sayang sekali. Yang satu lagi cocok sama cara baca Ibu.”

“Berhenti memanggilku Ibu. Aku datang sebagai pelanggan biasa.”

“Baik, Bu Pelanggan Biasa.”

Aku mengikutinya kembali ke kasir. Dia memeriksa kondisi buku, menempelkan label harga kecil, lalu membuka stempel. Gerakannya teliti. Bantalan tinta disentuh dua kali, stempel ditekan ke halaman dalam, dan matahari kecil itu muncul dengan warna biru tua.

“Kenapa semua buku diberi stempel?” tanyaku.

“Supaya ingat pernah singgah di sini.”

“Buku tidak bisa ingat.”

“Pemiliknya bisa.”

Jawaban itu keluar begitu saja, tanpa nada puitis yang dibuat-buat. Aku melihat sisi jarinya yang ternoda tinta, kemudian papan BUKA di balik kaca pintu.

Sebuah toko rugi yang memberi cap pada buku agar pembeli mengingatnya. Tidak efisien. Tidak terukur. Anehnya, tidak terasa sia-sia.

Aditya menyebut jumlah yang harus kubayar. Aku menyerahkan kartu.

“Ada kebijakan pengembalian?”

“Kalau bukunya rusak.”

“Kalau akhirnya buruk?”

“Itu bukan kerusakan.”

“Kalau karakternya mengambil keputusan bodoh?”

“Mungkin pembacanya yang belum paham.”

“Pelayanan pelangganmu mengerikan.”

“Tapi tetap beli.”

Aku menerima buku dan struk. Tangannya bersih kali ini; sentuhan tadi tidak terulang. Ketiadaannya justru terasa lebih mengganggu daripada seharusnya.

Ketika aku sampai di pintu, dia memanggil, “Patricia.”

Aku menoleh. Itu pertama kalinya namaku keluar dari mulutnya tanpa jabatan. Suaranya membuat dua suku kata itu terdengar seperti sesuatu yang sedang dia uji.

“Datang lagi besok.”

“Itu permintaan pemilik toko atau strategi supaya pelanggan membeli lebih banyak?”

“Pengawasan khususnya belum selesai.”

Aku mendorong pintu. Lonceng kuningan berbunyi sumbang di atas kepala.

“Kita lihat nanti,” jawabku, padahal kami berdua tahu aku akan kembali.

Di mobil, buku itu tergeletak di kursi penumpang. Aku memotret sampulnya dan mengirimkannya kepada Maya.

Cari ringkasan lengkap. Termasuk akhir cerita.

Balasannya datang satu menit kemudian.

Kupikir pendekatan personal berarti ngobrol, bukan ikut ujian susulan Bahasa Indonesia.

Aku mengabaikannya, membuka halaman pertama, lalu memaksa diri membaca tiga paragraf. Lima menit kemudian, ponselku sudah berada di tangan untuk mencari arti satu metafora tentang hujan dan kepulangan.

Ini harga yang tidak tertulis di proposal mana pun: agar kebohonganku bertahan, aku benar-benar harus membaca buku itu.

Aku bertahan sampai halaman sembilan sebelum menyerah dan menutup buku di atas setir. Cerita itu bergerak lambat, tetapi satu kalimat tentang rumah yang tetap mengenali langkah pemiliknya menempel di kepala. Aku membukanya lagi, mengambil pensil dari tas, lalu memberi garis kecil di margin.

Ponselku menyala karena pesan Maya.

Kemajuan tanda tangan?

Aku mengetik nol persen, menghapusnya, lalu menjawab bahwa kontak awal berjalan baik.

Untuk pertama kali dalam sebuah laporan, aku sengaja tidak menuliskan bagian yang paling kuingat: satu sentuhan di rak sempit dan caranya menyebut namaku ketika meminta aku kembali.