Chapter Eighteen
Ulang Tahun Aksara Senja
POV: Patricia Davina
Sisa: 23 Hari
Tiga puluh meter lampu hias, delapan puluh kursi lipat, empat pembicara, dua belas anak, enam anggota klub baca, dan satu pemilik toko yang menganggap promosi lewat tulisan tangan di karton sudah cukup.
Aku mengambil alih.
“Kita tidak butuh delapan puluh kursi,” kata Aditya saat melihat daftar.
“Pendaftar daring sudah enam puluh tiga.”
“Kita punya pendaftaran daring?”
“Sejak kemarin.”
“Siapa yang membuat?”
Aku menatapnya.
“Pertanyaan bodoh,” katanya.
“Aku tidak mengubah isi acaranya,” jelasku. “Klub baca tetap menentukan program. Kirana dan anak-anak pilih cerita. Kamu putuskan buku yang dipromosikan. Aku cuma memastikan orang tahu kapan datang dan punya tempat duduk.”
Aditya memeriksa daftar pembagian tugas. “Biasanya orang yang mengambil alih juga mengambil semua keputusan.”
“Aku bisa memimpin tanpa menguasai.”
“Bisa?”
“Aku sedang mencoba.”
Dia menatapku sedikit lebih lama, seolah memahami kalimat itu tidak hanya membahas acara.
Lantai dua berubah menjadi pusat komando. Maya mengurus daftar tamu. Bimo menyediakan minuman. Tante Lilis dan anggota klub baca membuat dekorasi dari halaman fotokopi buku lama, meski bentuk akhirnya lebih mirip kelelawar daripada burung yang mereka rencanakan.
“Ini artistik,” kata Tante Lilis ketika aku menyarankan memotong ulang.
“Ini menyeramkan.”
“Sastra memang punya sisi gelap.”
Kirana menempelkan satu dekorasi terbalik. Tidak ada yang bisa membedakan.
Masalah pertama muncul ketika penyedia kursi membatalkan pengiriman. Masalah kedua, dua pembicara meminta jadwal yang sama. Masalah ketiga, Bimo mencetak menu kopi dengan foto Aditya yang kuambil saat dia tertidur di meja kasir.
“Hapus foto itu,” kata Aditya.
“Riset pasar bilang wajah lelah meningkatkan penjualan,” jawab Bimo.
“Riset pasar siapa?”
“Maya.”
Maya mengangkat tangan. “Saya hanya bilang target perempuan usia dua puluh lima sampai tiga puluh lima akan merespons.”
Aku mengambil lembar menu. Di bawah foto tertulis KOPI MAS TOKO — PAHIT, PENDIAM, SULIT DIBAWA PULANG.
“Cetak dua puluh lagi,” kataku.
Aditya menatapku. “Kamu ada di pihak siapa?”
“Pendapatan toko.”
Aku menelepon penyedia kursi lain, menyusun ulang sesi pembicara, lalu menyerahkan keputusan dekorasi kepada Tante Lilis meski hasilnya berpotensi menakuti anak-anak. Untuk pertama kalinya, aku tidak memperbaiki semua hal sesuai standarku. Aku hanya memastikan setiap orang bisa melakukan bagian mereka.
Maya datang membawa hasil cetak daftar tamu dan bertemu Bimo di tangga. Mereka saling menilai dari atas sampai bawah.
“Kamu yang memberi nama kopi aneh?” tanya Maya.
“Kamu yang membuat statistik sentuhan?” balas Bimo.
Aku dan Aditya bicara bersamaan.
“Dari mana kamu tahu?”
Keduanya mengabaikan kami.
“Kopi Penyangkalan laku dua puluh gelas minggu ini,” kata Bimo. “Datamu menghasilkan uang.”
“Aku minta komisi.”
“Aku bayar pakai Kopi Ikut Campur.”
“Tanpa gula. Aku sudah cukup manis.”
Bimo menatapku. “Temanmu lebih melelahkan daripada kamu.”
“Asisten,” koreksi Maya. “Dan saya dibayar untuk melelahkan orang.”
Aku meninggalkan mereka sebelum kolaborasi itu menghancurkan acara.
Ketika kembali ke lantai satu, Aditya sedang menempel daftar tugas di dinding.
“Apa?” tanyaku ketika dia terus melihatku.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu menatap selama dua belas detik.”
“Kamu menghitung?”
“Aku suka data.”
Dia menghaluskan ujung kertas. “Saya baru tahu kamu bisa membuat semua orang bekerja tanpa membuat mereka merasa disuruh.”
“Itu namanya delegasi.”
“Itu pujian.”
Aku kehilangan balasan sejenak. “Oh.”
“Direktur juga bisa bilang terima kasih.”
“Terima kasih.”
“Bagus. Masa percobaan meningkat.”
Aditya sedang memasang kabel lampu di atas rak. Aku menahan tangga, meski posisi ini mengingatkanku pada tangan di pinggang dan satu permintaan jujur yang gagal kuucapkan waktu itu.
“Geser sedikit ke kiri,” kataku.
“Lampunya atau saya?”
“Dua-duanya.”
“Kontrolnya luas sekali.”
“Kamu baru sadar?”
Dia turun. Saat melewatiku, bahunya menyentuh bahuku dengan sengaja. “Sudah dari hari pertama.”
Menjelang malam, semua orang pulang kecuali kami. Acara baru berlangsung lusa, tetapi toko sudah berubah. Lampu-lampu kecil melingkari rak. Foto lama Aksara Senja tergantung sepanjang dinding. Di meja kasir ada kotak berisi kartu ucapan dari pelanggan.
Aku berdiri di tengah lorong, memeriksa daftar terakhir di ponsel.
“Kursi datang besok. Sound system jam dua. Konsumsi sudah dikonfirmasi. Pembicara—”
Tangan Aditya melingkar dari belakang, menutup ponselku.
Aku diam.
Dadanya menyentuh punggungku. Dagunya hampir berada di atas kepalaku. Pelukannya tidak ragu, tetapi cukup longgar untuk memberi pilihan. Aku menaruh ponsel di meja, lalu meletakkan kedua tangan di atas tangannya.
“Kamu membuat toko ini hidup,” katanya.
“Tokonya sudah hidup.”
“Lebih berisik, berarti.”
“Itu pujian buruk.”
“Saya belum selesai.”
Aku menyandarkan kepala ke bahunya. Lampu-lampu kecil memantul di kaca etalase. Dalam pantulan, kami terlihat seperti pasangan yang sudah melakukan ini berkali-kali—berdiri setelah tutup, diam dalam cahaya hangat, tidak perlu menemukan alasan untuk bersentuhan.
“Aku bisa terbiasa dipeluk begini,” kataku.
Napas Aditya menyentuh rambutku. “Itu justru yang saya takutkan.”
Pelukannya mengencang sedikit setelah mengatakan takut, seolah tubuhnya menolak mengikuti kata-katanya. Aku merasakan detak jantungnya di punggung. Tidak cepat, tetapi tidak setenang wajahnya.
“Kamu bisa melepaskan,” kataku.
“Saya tahu.”
“Tapi tidak?”
“Belum.”
Aku tersenyum dan menyandarkan berat tubuh lebih penuh. Untuk beberapa saat, kami hanya berdiri melihat lampu. Tidak ada tuntutan ciuman kedua. Pelukan itu sudah terasa lebih intim karena tidak perlu dibuktikan ke mana pun.
Aku membalik tubuh di dalam pelukannya. Tangannya tetap di pinggangku.
“Kenapa?”
Tatapannya bergerak ke kalender di belakang meja, lalu kembali kepadaku. “Kebiasaan bikin orang lupa sesuatu bisa berakhir.”
“Semua bisa berakhir.”
“Kamu mengatakan itu seperti nggak masalah.”
“Kalau terus memikirkan akhirnya, kita tidak akan mulai apa pun.”
Tanganku naik ke kerahnya, tempat yang mulai kukenal terlalu baik. “Aku boleh terus datang setelah acara selesai?”
“Kamu masih punya kontrak membaca.”
“Bukan itu yang kutanya.”
Aditya menatapku lama. “Boleh.”
Satu kata itu masuk ke tempat yang lebih dalam daripada ciuman pertama kami.
Aku berbalik sepenuhnya. “Kalau aku datang tanpa alasan, kamu akan tetap buka pintu?”
“Kamu selalu punya alasan.”
“Kalau alasannya cuma ingin lihat kamu?”
Tangannya di pinggangku berhenti bergerak. “Itu bukan cuma.”
Aku ingin menciumnya. Jarak kami cukup dekat, tangannya sudah menahan tubuhku, dan matanya jelas tahu apa yang kupikirkan. Namun kali ini aku membiarkan keinginan itu tetap ada, tidak langsung menjadikannya sesuatu yang harus kudapat.
Aku hampir mengatakan alasan sebenarnya aku menyusun acara, desain yang sedang dikerjakan Raka, dan tenggat yang menyusut. “Ada sesuatu soal toko yang perlu—”
Lonceng pintu berbunyi.
Seorang pelanggan berlari masuk sambil meminta buku untuk hadiah ulang tahun yang harus dibungkus malam itu juga. Kami langsung melepaskan pelukan. Aditya kembali ke kasir, sementara aku membantu mencari pita.
Percakapan itu hilang lagi di bawah sesuatu yang terasa mendesak.
Pukul sembilan, pelanggan terakhir pergi. Kami mematikan lampu satu per satu. Di pintu, tangan Aditya memegang kunci. Aku menumpukkan tanganku di atasnya.
Kami memutarnya bersama.
Kunci sudah berhenti, tetapi tidak ada yang langsung menarik tangan. Telapak tanganku tetap di atas punggung tangannya. Ibu jarinya bergerak, menyentuh sisi jariku seperti menyimpan bentuknya dalam ingatan. Gestur itu kecil, hampir tidak terlihat, tetapi membuat pintu terkunci terasa seperti ritual yang hanya dimengerti kami.
Dia berkata, “Datang lagi besok.”
Kali ini bukan instruksi membaca atau alasan mengembalikan payung. Suaranya terdengar seperti permintaan agar kebiasaan kami punya satu hari lagi.
“Coba cegah,” jawabku.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja reading
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup