Chapter Twenty Two
Setelah Pintu Dikunci
POV: Patricia Davina
Sisa: 17 Hari
Rapat investor berlangsung besok sore. Estimasi struktur belum final. Presentasi masih punya dua puluh tujuh komentar dari Raka, sembilan dari Maya, dan satu catatan dariku yang hanya berbunyi JANGAN GAGAL.
Aku seharusnya pulang untuk bekerja.
Sebaliknya, pukul delapan lewat dua puluh aku masih berada di Aksara Senja, membuka dua bungkus mi instan di lantai dua.
Aku datang membawa dua telur, daun bawang, dan sosis yang kubeli di minimarket. Menurut Aditya, itu mengubah mi instan menjadi proyek renovasi. Menurutku, memotong sosis secara diagonal menaikkan kualitas makan malam setidaknya dua puluh persen.
“Kenapa diagonal?” tanyanya sambil memegang pisau kecil.
“Presentasi penting.”
“Itu sebabnya proposalmu belum selesai? Sosisnya belum fotogenik?”
Aku merebut pisau darinya. “Aku bisa membatalkan telurmu.”
“Ancaman paling serius yang kamu buat minggu ini.”
“Kebijakan toko mengharuskan pelanggan membayar makan malam,” kata Aditya sambil menuang air panas.
“Aku membawa telurnya.”
“Biaya gas.”
“Aku bisa beli tokonya kalau tagihan mi terus naik.”
Kalimat itu keluar sebelum sempat kutahan.
Aditya berhenti mengaduk. Hanya sesaat, lalu dia kembali membagi mi ke dua mangkuk.
“Satu telur nggak menutup biaya gas,” katanya.
Dia memberi jalan keluar dari kalimat burukku. Aku menerimanya dengan pengecut.
Kami makan di lantai dua, bersandar pada meja restorasi. Setelah selesai, Aditya turun membawa mangkuk. Aku mengikutinya dan menemukan dia menghitung kas di balik meja.
Sisa kuah terlalu asin dan telurnya setengah matang, tetapi aku menghabiskannya. Makan malam di apartemen biasanya dipesan dari restoran yang mencantumkan asal garam di menu. Anehnya, semangkuk mi dari panci penyok terasa lebih dekat pada kemewahan karena ada seseorang yang membagi sosis diagonal secara adil.
Saat aku menawarkan mencuci mangkuk, Aditya mengangkat satu alis.
“Saya masih ingat korban cangkir terakhir.”
“Itu kecelakaan struktural.”
“Kamu menjatuhkannya saat berdebat lewat telepon.”
“Mejanya tidak mendukung visi saya.”
Dia mengambil mangkuk dari tanganku sebelum aku bisa membuktikan kemampuan domestik yang memang belum pernah diuji.
Aku duduk di tepi meja kasir, tepat di antara kedua lengannya, menghalangi buku catatan yang hendak dia buka.
“Turun,” katanya.
“Katakan dengan sungguh-sungguh.”
“Kamu menghalangi.”
“Itu bukan perintah.”
Aku meletakkan kedua tangan di meja di samping tubuhku. Posisi Aditya membuatku terkurung tanpa disentuh. Jarak di antara lutut kami hampir tidak ada.
“Kalau ingin menyuruhku turun,” kataku, “bilang terus terang.”
Dia menutup buku kas. Alih-alih mundur, kedua tangannya berpindah ke meja di sisi pinggangku. Wajahnya mendekat sampai napasnya menyapu bibir.
“Mejanya boleh dipakai,” katanya pelan, “asal berhenti pura-pura nggak sedang menggoda saya.”
Aku menahan tatapannya. “Aku tidak pernah pura-pura soal itu.”
“Bagus.”
“Kamu mau aku tetap di sini?”
“Iya.”
Jawaban langsungnya menghapus seluruh permainan. Aku mengaitkan satu jari pada kancing lengannya, menahannya dekat.
“Kamu semakin pandai.”
“Belajar dari pelanggan paling merepotkan.”
Aku bergeser sedikit ke depan. Lututku menyentuh sisi pinggangnya, membuat napasnya berubah meski wajahnya tetap tenang.
“Masih menghalangi?” tanyaku.
“Lebih parah.”
“Aku bisa turun.”
“Jangan.”
Satu tangannya meninggalkan meja dan berhenti di pinggangku. Bukan gerakan tak sengaja atau alasan agar aku tidak jatuh. Dia memilih menyentuhku, dan aku membiarkan diriku menikmati kepastian sederhana itu.
Kami tidak langsung berciuman. Aditya tetap berdiri di antara lututku, tangannya di meja, dan keheningan menjadi sesuatu yang hangat. Di luar, kendaraan lewat sesekali. Di dalam, jam dinding berdetak seolah tidak tahu kami berdua sedang mengabaikan tenggat masing-masing.
“Kamu pernah punya tempat yang bikin ingin pulang cepat?” tanyanya.
“Kantor saat ada presentasi.”
“Itu ingin kembali kerja.”
Aku memikirkan apartemen yang bersih, lampu otomatis, dan kulkas dengan makanan yang tidak pernah dimasak. “Tidak.”
Apartemen itu dipilih karena dua belas menit dari kantor, bukan karena aku menyukai jendelanya. Sofa dibeli desainer interior. Lukisan dipilih agar cocok dengan karpet. Jika aku hilang seminggu, tidak ada benda di sana yang akan menyadarinya.
“Sama sekali?”
“Aku selalu menganggap pulang sebagai waktu di antara dua pekerjaan.”
Sejak kecil, aku berpindah mengikuti proyek Ayah dan keputusan keluarga yang selalu disebut sementara. Apartemen, rumah dinas, unit hotel sebelum pembukaan. Kardus sering dibiarkan tertutup karena tidak ada gunanya menata benda yang akan dipindahkan lagi.
“Aku belajar tidak terlalu suka tempat,” kataku. “Tempat selalu pergi lebih dulu.”
“Tempat biasanya diam.”
“Kamu mengerti maksudku.”
“Saya mengerti kamu lebih suka mengendalikan ruangan sebelum ruangan itu punya kesempatan meninggalkanmu.”
Aku menatapnya. “Itu analisis gratis?”
“Sudah termasuk biaya gas.”
Aku tertawa kecil, tetapi kalimatnya tetap menempel. Mungkin itu sebabnya aku begitu ingin menyelamatkan toko lewat denah dan angka. Jika garis-garisnya berada di tanganku, aku bisa memastikan sesuatu tidak hilang tanpa izin.
“Setelah Ibu nggak ada, toko ini juga cuma tempat menunggu,” katanya. “Saya buka, tutup, bayar tagihan, lalu mengulang. Bukan pulang. Cuma menjaga sesuatu yang belum siap saya tinggalkan.”
“Sekarang?”
Tatapannya turun ke bibirku, lalu kembali ke mata. “Sekarang ada orang yang membuat saya menyalakan lampu lebih awal.”
“Orang itu mungkin cuma datang karena kopi gratis.”
“Kopinya masuk biaya gas.”
“Berarti dia datang karena penjaga tokonya lumayan.”
“Lumayan sabar?”
“Jangan merusak pujian.”
Aditya menunduk sedikit. “Toko ini mulai terasa berbeda sejak suara sepatumu muncul setiap sore.”
“Lebih berisik?”
“Lebih ditunggu.”
Kalimat itu menghancurkan pertahananku jauh lebih efektif daripada godaan.
“Kalau begitu jangan suruh aku pulang.”
Dia melihat jam. “Lima menit lagi.”
“Kamu bilang begitu setengah jam lalu.”
“Jam tokonya rusak.”
Aku tersenyum. “Cium aku.”
Tidak ada bonus, kontrak, atau metafora. Aku meminta karena menginginkannya.
Aditya mengangkat satu tangan ke sisi wajahku. “Yakin?”
Aku mengangguk dan menutup jarak.
Ciuman kali ini lebih lama. Tetap lembut, tetapi tidak ragu. Tangannya menahan rahangku, ibu jarinya di bawah telinga. Aku menarik kerahnya, membiarkan napas kami bercampur sampai kebutuhan untuk mengambil udara memaksa kami berhenti.
Aku belum sempat membuka mata ketika dia menciumku sekali lagi, singkat seperti tanda baca.
“Itu bonus?” tanyaku.
“Biaya keterlambatan.”
“Kalau begitu aku akan menunggak.”
Tangannya mengencang sebentar di pinggangku. “Jangan membuat kebijakan yang tidak sanggup saya jalankan.”
Kening kami bersentuhan. Tidak ada lelucon selama beberapa detik.
“Masih lima menit?” tanyaku.
“Empat.”
“Pembohong.”
“Belajar dari pelanggan.”
Aku hendak protes, tetapi kelelahan turun sekaligus. Dua malam terakhir aku hanya tidur tiga jam. Aditya menarik kursi, duduk, lalu membiarkanku menyandarkan kepala di bahunya.
“Aku tidak tidur,” kataku.
“Tentu.”
“Cuma menutup mata.”
“Saya catat sebagai observasi.”
Ketika membuka mata lagi, toko sudah gelap kecuali lampu dekat kasir. Jaket Aditya menutupi bahuku. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh.
Kepalaku masih di bahunya, dan buku yang dia pegang tetap terbuka pada halaman yang sama.
“Kamu tidak membaca?” tanyaku.
“Ada yang mendengkur.”
Aku langsung duduk tegak. “Aku tidak mendengkur.”
“Baik.”
“Dan aku tidak meneteskan air liur.”
Aditya melihat bahunya, lalu menatapku dengan ekspresi terlalu netral.
Aku memukul lengannya. Dia tertawa, suara rendah yang jarang keluar sepenuhnya. Rasanya hampir seperti menang, meski besok sore aku mungkin kehilangan seluruh proyek.
“Empat menitmu panjang,” gumamku.
“Kebijakan toko.”
Kami berdiri di pintu. Tangannya memegang kunci, tanganku menumpuk di atasnya seperti malam sebelumnya. Kami memutar bersama.
Saat berbalik, aku melihat beberapa kardus terlipat di pojok dekat tangga. Jumlahnya terlalu banyak untuk pesanan biasa.
“Itu buat apa?”
Aditya meliriknya. “Stok lama. Mau dipindahkan ke gudang.”
Dia menjawab tanpa jeda. Aku terlalu lelah untuk menyadari ketenangannya bukan berarti kejujuran.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci reading
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup