Chapter Twenty

Harga Sebuah Kegagalan

POV: Aditya Pratama
Sisa: 20 Hari

Pria bersetelan gelap itu menunggu sampai pelanggan terakhir keluar.

Patricia sedang di lantai dua bersama Maya, menghitung donasi dan membereskan perlengkapan. Bimo mengangkut teko kosong. Tante Lilis sudah pulang membawa sisa kue yang menurutnya adalah hak ketua klub baca.

Aku mengenali Pak Surya dari situs Nawasena. Direktur utama. Atasan Patricia. Orang yang berdiri di sebelahnya pada foto peluncuran Hotel Arunika.

“Boleh bicara?” tanyanya.

Aku menunjuk kursi dekat jendela. “Silakan.”

Dia tidak membuang waktu. “Saya tidak datang untuk mengancam atau mendesak Anda menandatangani malam ini.”

“Baik.”

“Saya datang karena pendekatan profesional kami sudah bercampur dengan hubungan personal. Saya perlu memastikan Anda memahami konsekuensinya.”

Aku melihat tangga. Suara Patricia dan Maya terdengar samar dari atas.

“Konsekuensi buat siapa?”

“Semua pihak.” Pak Surya meletakkan map tipis di meja. “Opsi pembelian sebelas unit lain dan komitmen pendanaan bergantung pada akuisisi lengkap. Kalau unit Anda gagal, investor berhak mundur. Desain harus diulang, jadwal berhenti, dan proyek kemungkinan dialihkan.”

“Saya sudah tahu proyeknya bisa gagal.”

“Anda tahu apa artinya untuk Patricia?”

Aku tidak menjawab.

“Dia memimpin tim empat belas orang. Kalau proyek dihentikan, tim itu dibubarkan atau dipindah. Dia sudah mempertaruhkan reputasinya lewat pendekatan ini. Dewan sejak awal meragukan penunjukannya karena usia.”

Pak Surya menyebut beberapa posisi: analis lahan yang kontraknya habis tiga bulan lagi, dua staf junior yang baru pindah kota, manajer legal yang menunda cuti demi mengejar tenggat. Dia tidak mengatakannya untuk membuat mereka terdengar seperti sandera. Dia hanya menjelaskan bahwa sebuah proyek tidak pernah benar-benar terdiri dari garis di maket.

“Saya juga bertanggung jawab kepada mereka,” katanya. “Sama seperti Anda bertanggung jawab kepada orang-orang yang memakai toko ini.”

Untuk pertama kali, penawaran di atas meja tidak terasa seperti satu perusahaan besar melawan satu toko kecil. Rasanya seperti dua kumpulan orang yang sama-sama akan membayar keputusan kami.

“Anda menyalahkan saya?”

“Tidak. Toko ini milik Anda. Menolak adalah hak Anda.” Nada suaranya tetap tenang. “Tapi saya tidak mau keputusan Anda dibuat dengan informasi yang tidak lengkap.”

Dia mendorong map ke arahku. Di dalamnya ada penawaran final, lebih tinggi daripada angka sebelumnya, biaya relokasi, dan dukungan untuk memindahkan program baca.

“Kalau saya tetap menolak?”

“Kami menanggung akibatnya. Termasuk Patricia.”

“Kenapa Anda memberi tahu saya, bukan menyuruh dia?”

Pak Surya melihat ke lantai dua. “Karena dia sedang mencoba menyelesaikan semuanya sebelum bicara jujur kepada siapa pun. Itu kekuatan dan cacat terbesarnya.”

“Anda tahu cara dia mendekati saya?”

“Saya tahu dia memilih jalur personal setelah dua pendekatan resmi gagal. Saya tidak menyetujui semua caranya.” Pak Surya tidak menghindari tatapanku. “Tapi saya juga tahu dia tidak lagi melaporkan toko ini seperti aset biasa. Itu sebabnya saya datang sendiri.”

“Untuk melindungi proyek?”

“Dan untuk menghentikan dua orang mengambil keputusan besar dengan setengah informasi.”

Ironinya nyaris membuatku tertawa. Dia terlambat. Aku sudah tahu kebohongan Patricia, dan Patricia belum tahu bahwa aku tahu. Sekarang Pak Surya memberiku satu lagi kebenaran yang bisa kupakai tanpa harus mengungkap milikku.

Kalimat itu terlalu tepat.

“Saya beri waktu,” lanjutnya. “Tidak perlu jawab malam ini.”

Dia berdiri, merapikan jas, lalu pergi tanpa menuntut apa pun. Lonceng pintu berbunyi pelan di belakangnya.

Aku membuka map lagi. Angka penawaran cukup untuk melunasi utang, memberi pesangon pegawai paruh waktu, memindahkan program anak, dan menyisakan modal hidup baru. Di halaman akhir ada garis kosong untuk tanda tangan.

Di samping angka itu ada jadwal pembayaran dan tenggat pengosongan. Semuanya rapi, pasti, dan jauh lebih mudah dipahami daripada pilihan di kepalaku.

Jika menjual, toko berakhir tetapi orang-orang bisa dipindahkan. Jika menolak, mungkin toko tetap tutup beberapa bulan kemudian karena kehabisan uang. Bedanya, dalam pilihan kedua Patricia ikut jatuh bersamaku.

Aku tahu ada kemungkinan lain: bicara. Meminta dia menunjukkan rencana yang sedang disembunyikan. Membiarkan jawabannya mengubah keputusan.

Justru kemungkinan itu yang paling kutakuti.

Bimo menjatuhkan satu kotak kardus ke lantai dan duduk di depanku. “Tadi siapa?”

“Atasannya Patricia.”

“Dia mengancam?”

“Nggak.”

Aku menjelaskan singkat. Semakin lama mendengar, wajah Bimo semakin kesal.

“Jangan mulai,” katanya.

“Mulai apa?”

“Membayangkan jual toko diam-diam supaya karier dia selamat.”

“Saya belum bilang begitu.”

“Aku kenal kamu sejak kuliah. Wajahmu kalau mau jadi martir lebih menyebalkan dari biasanya.”

Aku menutup map. “Kalau saya nggak jual, empat belas orang kehilangan tim. Patricia kehilangan proyek dan mungkin jabatan.”

“Kalau kamu jual tanpa bicara, dia kehilangan hak memilih.”

“Memilih apa? Toko rugi atau pekerjaannya?”

“Kamu.”

Kata itu membuat ruangan seolah berhenti.

Bimo mencondongkan tubuh. “Bicara jujur. Bilang kamu tahu alasan dia datang. Bilang soal utang. Bilang kamu dapat tawaran Yogyakarta. Berhenti mengatur hidup orang dari balik meja kasir.”

“Kalau dia memilih saya karena rasa bersalah?”

“Itu ketakutanmu, bukan jawabannya.”

“Kalau enam bulan lagi dia menyesal?”

“Kalau enam bulan lagi dia bahagia?”

Aku tidak menjawab.

Bimo menunjuk map. “Kamu selalu menyiapkan diri jadi orang yang ditinggalkan, lalu menyebutnya realistis. Sekali saja, kasih orang kesempatan merepotkan hidupnya sendiri.”

“Nasihatmu buruk.”

“Karena benar.”

“Karena disampaikan sambil membawa kardus bertuliskan mi instan.”

Dia melihat kotaknya. “Ini logistik acara.”

“Itu sampah.”

“Tetap lebih berguna daripada keputusanmu kalau kamu terus diam.”

Langkah terdengar di tangga. Bimo mengambil kotak dan pergi ke belakang sebelum Patricia turun.

Dia tampak kelelahan. Rambutnya mulai lepas dari ikatan. Ada noda krim kue di lengan. Tetap saja dia tersenyum ketika melihatku.

“Semua selesai,” katanya. “Donasi cukup untuk program anak tiga bulan.”

“Bagus.”

“Pak Surya bicara apa?”

Ini kesempatan untuk jujur.

Aku melihat map di bawah tanganku, lalu wajahnya yang percaya aku akan mengatakan apa pun yang perlu dia tahu.

“Soal penawaran,” jawabku. “Nggak ada yang baru.”

Kebohongan itu keluar terlalu mudah.

Patricia mengangguk, lalu duduk di kursi dekat kasir. “Aku cuma istirahat lima menit.”

Dalam waktu kurang dari dua menit, matanya tertutup. Kepalanya miring ke sandaran. Tangan yang tadi menggenggam puluhan daftar tamu terkulai di pangkuan.

Aku mengambil selimut tipis dari lantai dua dan menutupkannya ke tubuhnya. Dia bergerak sedikit, lalu tenang lagi.

Satu tangannya keluar dari bawah selimut. Ada noda tinta biru di ujung jarinya dari stempel toko. Aku membersihkannya dengan tisu basah, tetapi warna itu tidak hilang sepenuhnya.

Patricia menggumam sesuatu dalam tidur. Aku mendekat untuk mendengar.

“Kursinya kurang dua puluh,” katanya pelan.

Bahkan saat tertidur dia masih mengatur acara yang sudah selesai. Aku hampir tertawa. Lalu dadaku sakit karena membayangkan tidak ada lagi suaranya di balik kasir, tasnya di bawah meja, atau catatan warna-warni di buku stok.

Di wajah yang tertidur, tidak ada direktur, penyusup, atau perempuan yang selalu punya rencana. Hanya seseorang yang kelelahan karena berusaha membuat semua orang menang.

Aku tidak akan menjadi alasan dia kehilangan semuanya.

Pikiran itu terasa seperti keputusan baik. Itu yang membuatnya berbahaya.

Aku bisa membangunkannya sekarang. Bisa menunjukkan map, kartu akses yang sudah kukembalikan, dan kalender yang kutandai sejak hari ketujuh. Bisa meminta dia memilih dengan semua risiko berada di meja.

Namun melihat wajah lelahnya, aku justru meyakinkan diri bahwa diam adalah kebaikan. Bahwa cinta seharusnya membuat hidup orang lain lebih ringan, bahkan jika caranya adalah menghilangkan diri dari dalamnya.

Aku membuka laptop, mencari email dari lembaga arsip Yogyakarta, lalu menekan balas.

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Saya menerima posisi tersebut.

Kursor berkedip di akhir kalimat.

Aku menekan kirim sebelum keberanianku berubah bentuk.