Chapter Twenty Six

Orang-Orang yang Mengukur Dinding

POV: Patricia Davina
Sisa: 11 Hari

Ada tiga orang asing menempelkan meteran laser ke dinding Aksara Senja ketika aku tiba.

Salah satunya berdiri di depan rak sastra dengan rompi abu-abu dan tablet. Orang kedua mengukur lebar tangga. Orang ketiga menempelkan label kecil bernomor pada kusen pintu.

Aditya berada di balik meja kasir, membungkus obat sakit kepala dengan kantong kertas seolah kehadiran tim survei adalah bagian normal dari pelayanan toko buku.

“Mereka siapa?” tanyaku.

Pria berompi menoleh. “Tim dokumentasi bangunan, Bu.”

“Dari perusahaan mana?”

Dia menyebut nama konsultan yang kukenal. Nawasena memakai mereka untuk survei pra-konstruksi, biasanya setelah dokumen akuisisi masuk tahap final.

Aku menatap Aditya. “Kenapa mereka ada di sini?”

“Menilai kondisi bangunan.”

“Untuk apa?”

“Biasanya penilaian dilakukan supaya kondisi bangunan dinilai.”

“Aku tahu fungsi kata penilaian.”

“Saya sempat ragu setelah kamu menyebut surealisme sebagai jenis puisi yang dibuat sambil mengantuk.”

Pria berompi menahan senyum. Aku tidak.

“Survei ini diminta siapa?”

“Pemilik bangunan,” jawab Aditya.

Jawabannya benar, tetapi sengaja tidak lengkap. Aku berjalan mendekati petugas yang sedang mengukur tangga.

“Ada surat tugas?”

Aditya bergerak lebih cepat dan berdiri di depanku. “Mereka hampir selesai.”

“Itu bukan jawaban.”

“Kamu bukan orang yang harus memeriksa surat mereka.”

Kalimat itu mengenai tempat yang tepat. Aku memang tidak punya hak sebagai pelanggan. Sebagai direktur proyek, aku punya terlalu banyak hak—hak yang belum pernah kuakui kepadanya.

Tim survei menyelesaikan lantai bawah dalam dua puluh menit. Aku memperhatikan semua label yang mereka tempel: dinding timur, kolom belakang, kusen depan, lantai dekat meja kasir. Itu bukan survei kerusakan biasa. Mereka sedang membuat catatan kondisi sebelum serah terima.

Ketika mereka naik, aku membuka ponsel dan masuk ke sistem proyek. Status akuisisi Aksara Senja masih bertuliskan legal review. Tidak ada akta final. Tidak ada jadwal akses teknis. Namun permintaan survei memiliki kode internal yang hanya bisa terbit setelah notaris mengirim konfirmasi awal.

Aku memperbesar kode itu sampai hurufnya pecah di layar. Tanggal penerbitannya kemarin pagi, tepat ketika aku masih berdiri di toko dan membiarkan pesan notaris lewat sebagai urusan yang tidak perlu kubantu.

Salah satu petugas meminta Aditya bergeser agar bisa memotret dinding di belakang kasir. Dia menurut, lalu refleks menutup buku besar dan meletakkannya di atas tumpukan dokumen. Ujung amplop cokelat terlihat di bawahnya. Logo kantor Notaris Hendra tercetak di sudut.

“Boleh saya lihat area bawah meja?” tanya petugas.

“Tidak perlu,” jawabku dan Aditya bersamaan.

Kami saling menatap.

Petugas itu mengangkat kedua tangan. “Saya ukur dari samping saja.”

Jika situasinya tidak membuat dadaku sesak, kekompakan kami mungkin lucu. Sekarang rasanya seperti bukti bahwa kami sama-sama menjaga benda yang berbeda dari orang yang sama.

Aku menelepon Maya.

“Aku butuh status legal ruko terakhir.”

“Selamat sore juga.”

“Maya.”

“Baik. Saya cek.” Suara ketikan terdengar. “Di dashboard masih diproses.”

“Cari memo surveinya.”

“Kamu sedang di toko?”

“Ada tiga orang mengukur dinding.”

“Mungkin mereka mau memastikan dindingnya tidak kabur sebelum rapat.”

“Ini serius.”

Nada suaranya berubah. “Beri saya sepuluh menit.”

Telepon berakhir. Aditya sudah kembali ke meja kasir. Dia mendorong kantong kecil ke arahku.

“Obat.”

“Aku tidak sakit kepala.”

“Kamu memijat pelipis sejak masuk.”

Aku mengambil kantong itu meski masih marah. “Jangan pikir obat membuat pertanyaanku hilang.”

“Saya berharap setidaknya volumenya turun.”

“Kamu menandatangani sesuatu?”

Tangannya berhenti di atas buku kas. Hanya satu detik, tetapi aku melihatnya.

“Semua pemilik bangunan menandatangani banyak hal.”

“Jangan jawab seperti politisi.”

“Jangan bertanya seperti penyidik kalau kamu belum mau menjelaskan kenapa pertanyaan itu urusanmu.”

Udara di antara kami menegang. Tim survei masih bergerak di lantai dua. Setiap bunyi meteran ditarik terdengar seperti hitung mundur.

“Aku sedang mencoba membantu,” kataku.

“Dengan cara apa?”

“Aku belum bisa bilang.”

Dia tertawa pendek tanpa senang. “Tentu.”

“Aku butuh sedikit waktu.”

“Kamu selalu butuh waktu sebelum jujur.”

Aku meletakkan kantong obat di meja. “Dan kamu menjawab semua pertanyaan dengan setengah kalimat.”

“Mungkin saya belajar dari pelanggan tetap.”

“Kalau kamu sudah menjual toko ini, bilang sekarang.”

Tatapannya bertahan pada mataku. Tidak menghindar, tidak mengaku.

“Kalau kamu datang ke sini untuk membeli toko ini, bilang sekarang,” balasnya.

Semua suara di ruangan terasa menjauh.

Dia tahu atau sedang menebak. Aku tidak bisa memastikan. Wajahnya terlalu tenang, sementara tanganku sudah dingin.

“Apa maksudmu?”

“Persis seperti yang kamu dengar.”

“Kamu menuduhku?”

“Saya bertanya.”

“Dengan pertanyaan yang sudah punya jawaban di kepalamu.”

“Bukankah itu yang kamu lakukan sejak masuk?”

Petugas berompi turun dan menyerahkan formulir. Aditya menandatangani kolom kunjungan tanpa membacanya. Aku ingin merebut kertas itu, tetapi melakukan itu berarti mengakui bahwa aku tahu apa yang harus dicari.

Tim survei pamit. Lonceng pintu berbunyi sumbang tiga kali, lalu toko kembali sepi.

Aku mengambil tasku. “Baik. Kalau kamu tidak mau bicara, aku pergi.”

“Minum obatnya dulu.”

“Aku sedang marah sama kamu.”

“Sakit kepala tetap nggak peduli.”

Kantong kertas itu kembali didorong ke arahku. Aku membencinya karena tetap memperhatikan, dan lebih membenci diriku karena masih ingin merapikan kancing kemejanya yang hampir lepas.

“Diam,” kataku ketika dia hendak bicara.

Aku melangkah mendekat dan menyentuh kancing di dadanya. Benangnya tinggal satu. Dari kotak peralatan di bawah kasir, kuambil benang hitam dan jarum yang biasa dia pakai memperbaiki kain sampul.

“Kamu bisa memperbaiki itu nanti,” katanya.

“Kamu akan lupa.”

“Kamu sedang marah.”

“Tanganku masih berfungsi.”

Aku menjahit kancingnya sambil berdiri terlalu dekat. Dia tidak bergerak. Napasnya menyentuh rambutku setiap kali aku menunduk. Kemarahan tidak mengurangi kesadaranku pada dadanya di bawah ujung jari, atau cara tangannya menahan pinggangku ketika jarum hampir menusuk kulitnya.

“Jangan bergerak,” kataku.

“Kamu yang menusuk.”

“Risiko menyembunyikan sesuatu dari perempuan yang memegang jarum.”

“Ancaman itu perlu saya catat?”

“Masukkan ke laporan survei.”

Kancing itu akhirnya kuat. Namun jariku tidak langsung turun. Telapak tanganku tetap di dadanya, merasakan napas yang dia tahan.

“Aku marah,” kataku pelan. “Tapi itu tidak membuatku berhenti menginginkan kamu.”

Untuk pertama kalinya sejak tim survei datang, ketenangannya retak. Matanya turun ke bibirku. Tangannya di pinggangku mengencang, lalu mengendur seolah dia sedang mengingat batas yang dibuatnya sendiri.

Dia tidak mencium bibirku. Hanya menunduk dan mengecup puncak kepalaku cukup lama untuk terasa seperti permintaan maaf yang tidak lengkap.

“Itu bukan jawaban,” bisikku.

“Saya tahu.”

Ponselku berbunyi. Maya mengirim hasil penelusuran: memo survei berasal dari konfirmasi notaris, tetapi dokumen utamanya belum bisa diakses sampai pendaftaran selesai.

Di bawah pesan itu, dia menulis: Jangan melakukan kejahatan korporat sebelum saya tiba.

Aku mengambil obat dan tasku. Aditya membiarkanku pergi tanpa menahan, persis seperti aku membiarkannya menyimpan jawaban.

Di mobil, aku menelepon Raka.

“Siapkan presentasi versi terakhir.”

“Estimasi legal belum lengkap.”

“Kita pakai yang ada.”

“Kamu bilang tidak akan maju dengan asumsi.”

Aku menatap label angka di kusen toko melalui kaca depan.

“Aku berubah pikiran. Besok kita presentasi.”

Untuk pertama kalinya, aku memilih membawa kebenaran yang belum sempurna daripada menunggu sampai tidak ada lagi yang bisa diselamatkan.

Keputusan itu terlambat sebelas hari, tetapi akhirnya tetap menjadi keputusan.