Chapter Thirty

Besok, Sekali Lagi

POV: Patricia Davina
Sisa: 5 Hari

Aku hanya punya dua puluh tiga menit.

Mobil Maya menunggu di depan dengan mesin menyala. Kereta ke kota tempat investor berkumpul berangkat kurang dari satu jam lagi. Laptopku masih memproses revisi kontrak, dan Raka mengirim tujuh pesan tentang gambar struktur.

Namun pintu Aksara Senja terbuka sebelum tanganku menyentuh gagang.

Aditya berdiri di sana dengan lengan kemeja digulung dan debu di rambut. “Kamu bilang bukan mau beli apa pun.”

“Aku berubah pikiran. Aku mau beli dua puluh tiga menit.”

“Mahal.”

“Masukkan ke tagihan mi.”

Dia membiarkanku masuk. Toko tampak lebih luas karena dua rak kecil sudah hilang. Kardus berjejer di dinding, semuanya diberi label rapi. Sejarah. Anak. Sastra. Barang pribadi.

“Kamu menyusun ulang seluruh toko?” tanyaku.

“Stok lama dipindahkan.”

“Kamu sengaja membuatnya rapi supaya akhirnya cocok dengan standarku.”

“Aku belajar dari pelanggan paling merepotkan.”

Penggunaan aku membuat langkahku berhenti. Selama berminggu-minggu, dia bertahan dengan saya seolah satu suku kata formal bisa menjaga jarak. Sekarang, ketika toko hampir kosong, jarak itu dia lepaskan tanpa penjelasan.

“Ulangi,” kataku.

“Tokonya rapi.”

“Setelah itu.”

“Pelanggan merepotkan.”

“Bukan.”

Dia tahu yang kumaksud. Sudut bibirnya bergerak sedikit. “Waktumu dua puluh satu menit.”

Aku ingin bertanya tentang kardus, survei, dan status legal yang masih tersembunyi. Namun jika kubuka semuanya sekarang, aku akan kehilangan kereta dan mungkin persetujuan yang membuat jawaban itu bisa diperbaiki.

“Aku berhasil,” kataku.

Dia tidak langsung bereaksi.

“Proposal alternatif disetujui bersyarat. Aku belum bisa menjelaskan semua detail karena legal sedang menyusun revisi, tapi toko ini punya jalan untuk tetap ada.”

Tangannya yang memegang kain lap turun perlahan. “Tetap ada?”

“Bangunannya, fungsinya, komunitasnya. Kamu tetap mengelola sebagai mitra independen kalau kamu mau.”

Untuk sepersekian detik, sesuatu yang mirip harapan muncul di wajahnya. Lalu hilang di balik ketenangan yang mulai kubenci.

Aku mengeluarkan tabung gambar dan membuka satu lembar denah di meja kasir. Garis hotel membentuk halaman di sekitar bangunan lama. Fasad hijau diberi tanda pertahankan. Ruang acara terhubung ke lantai dua, sementara pintu toko tetap menghadap jalan.

“Ini yang kulakukan saat bilang ada sesuatu yang bagus,” kataku. “Belum final, tapi ini nyata.”

Ujung jarinya menyentuh garis batas toko tanpa benar-benar menekan kertas. Wajahnya berubah seperti orang yang baru memahami bahwa pintu yang dianggap terkunci sebenarnya tidak pernah dicoba.

“Kenapa tidak bilang dari awal?”

“Karena kalau gagal, aku tidak mau memberimu satu harapan lagi untuk dicabut.”

“Kamu memilih itu untuk saya.”

“Iya.”

Kata itu terasa pahit. “Dan itu salah. Makanya setelah pulang aku akan cerita semuanya, bahkan bagian yang membuatmu tidak ingin melihatku lagi.”

Dia menatap denah terlalu lama. “Kamu seharusnya bilang sebelum tanda—”

Kalimatnya terputus.

“Sebelum apa?”

“Sebelum tenggat makin dekat.”

Aku tahu dia mengganti kata, tetapi klakson kendaraan di luar menelan kesempatan untuk menekannya.

“Kamu mempertaruhkan apa?” tanyanya.

“Kita bicara setelah aku kembali.”

“Apa, Patricia?”

Namaku terdengar seperti permintaan.

“Bonus. Posisi di proyek. Mungkin hasil evaluasi etik.”

“Batalkan.”

“Tidak.”

“Kamu tidak perlu melakukan itu.”

“Dan kamu tidak berhak memutuskan apa yang perlu kulakukan.”

Dia memalingkan wajah. Rahangnya mengeras.

“Lihat aku,” kataku.

Dia melakukannya.

“Aku tidak sedang menebus sesuatu dengan menghancurkan hidupku. Desainnya lebih baik. Keputusannya tetap akan kupilih bahkan kalau kamu membenciku setelah tahu semuanya.”

“Saya—”

“Kamu baru saja pakai aku. Jangan mundur sekarang.”

Dia menutup mata sebentar. “Aku tidak membencimu.”

Empat kata itu seharusnya melegakan. Justru terdengar seperti bagian awal perpisahan.

Ponselku bergetar. Maya mengirim hitung mundur tujuh belas menit dengan emoji pisau.

“Kopi,” kataku. “Aku butuh kopi sebelum dia benar-benar masuk dan menyeretku.”

Aditya membuat dua cangkir. Kami meminumnya sambil berdiri di antara kardus. Kopiku terlalu panas, tetapi aku terus meneguk karena waktu di layar ponsel bergerak tanpa belas kasihan.

“Aku pergi tiga hari,” kataku. “Mungkin empat kalau investor menambah rapat.”

“Baik.”

“Setelah kembali, aku akan menjelaskan semuanya dari awal. Kenapa aku pertama kali datang. Apa yang kulakukan. Apa yang kupilih.”

Dia memegang cangkir dengan dua tangan. “Dan setelah itu?”

Kotak penanda buku berada di dalam tas. Aku ingin memberikannya sekarang, tetapi hadiah sebelum pengakuan akan terasa seperti taktik lain.

“Setelah itu kamu boleh marah,” kataku. “Lalu kita duduk, minum satu kopi sampai habis sebelum dingin, dan memutuskan apa yang terjadi berikutnya.”

“Kopi di tanganmu sudah dingin.”

Aku melihat cangkir. Benar. Aku terlalu sibuk bicara sampai lupa minum.

“Yang ini latihan.”

“Kamu selalu buruk dalam latihan.”

“Karena aku bagus saat eksekusi.”

Dia menatapku seperti ingin menyimpan kalimat itu. “Baik. Satu kopi sebelum dingin.”

“Janji?”

“Janji.”

Aku mengangkat jari kelingking. “Secara hukum, janji tanpa saksi masih lemah.”

“Kita punya kamera kasir.”

“Rekamannya buram.”

Dia mengaitkan kelingkingnya pada milikku. “Ini cukup?”

“Tidak terlalu profesional.”

“Kamu yang mulai.”

Jari kami tetap terkait lebih lama daripada leluconnya. Aku melihat tangannya, tangan yang memperbaiki buku, membuat kopi, dan selalu memberi lebih banyak waktu daripada yang kuminta. Ada bekas selotip di telunjuknya.

“Kardus-kardus ini sungguh cuma penataan stok?” tanyaku.

Dia tidak melepaskan kelingkingku. “Sebagian buku perlu dipindahkan sebelum pekerjaan bangunan.”

Itu terdengar masuk akal setelah denah baru kubuka di depannya. Aku tidak tahu pekerjaan bangunan yang dia maksud adalah pengosongan, bukan renovasi.

Aku menaruh cangkir dan memeluknya lebih dulu. Tubuhnya kaku sesaat, kemudian kedua lengannya mengelilingiku erat. Wajahku menempel di dadanya, tepat di atas kancing yang kujahit. Detak di bawah telingaku cepat, berlawanan dengan napasnya yang sengaja diatur tenang.

“Kening,” kataku.

“Apa?”

“Aku mau kening kita bersentuhan.”

“Itu permintaan yang sangat spesifik.”

“Waktuku sebelas menit. Jangan negosiasi.”

Dia menunduk sampai kening kami bertemu. Tangannya tetap di pinggangku. Aku menutup mata dan membiarkan keheningan mengambil beberapa detik yang tidak mampu kubeli lagi.

“Jangan melakukan sesuatu yang bodoh selama aku pergi,” kataku.

“Definisi bodohmu sangat luas.”

“Jangan menghilang. Jangan menjual benda penting. Jangan memutuskan masa depan sendirian.”

Napasnya tertahan.

“Kamu juga,” katanya.

Aku membuka mata. “Aku sudah memilih.”

Dia mengecup keningku. Sentuhannya lama, tetapi genggamannya terlepas terlalu cepat ketika suara klakson pendek terdengar dari luar.

Maya muncul di balik kaca sambil menunjuk jam tangan. Di tangan lain, dia membawa papan kecil dari mobil bertuliskan KERETA TIDAK PUNYA TOLERANSI ROMANTIS.

“Dia menyiapkan itu kapan?” tanya Aditya.

“Jangan dorong kreativitasnya.”

Aku mengambil tas dan berjalan ke pintu. Setiap langkah terasa salah. Di ambang, aku berbalik, kembali satu langkah, lalu mencium bibirnya singkat.

“Itu supaya kamu ingat nunggu.”

Tangannya sempat menyentuh pergelanganku sebelum jatuh kembali ke sisi tubuh.

“Datang lagi besok.”

Aku tersenyum. “Tiga atau empat hari. Tapi aku maafkan kemampuan berhitungmu.”

Dia tidak membalas lelucon itu. Tatapannya mengikutiku sampai aku masuk mobil.

Selama perjalanan ke stasiun, aku membuka laptop dan bekerja. Revisi legal, proyeksi biaya, jadwal tanda tangan. Kotak penanda buku tetap di dasar tas, menunggu percakapan yang kuyakini akhirnya akan terjadi.

Malam itu, dari kamar hotel, aku mengirim foto kopi mesin otomatis yang rasanya seperti air hukuman.

Kopi kita nanti harus lebih baik dari ini.

Balasannya datang lima menit kemudian.

Pasti.

Aku tidak tahu itu adalah janji terakhir yang dia buat dari dalam Aksara Senja.