Chapter Eleven
Pelanggan yang Mulai Bekerja
POV: Patricia Davina
Sisa: 33 Hari
Dalam tujuh hari, aku berhasil mengubah delapan buku catatan, tiga tumpukan nota, dan ingatan Aditya menjadi satu spreadsheet yang bisa dicari dalam waktu kurang dari dua detik.
Dia menyebutnya berlebihan.
Aku menyebutnya peradaban.
“Kalau kolom ini hijau, stok aman,” jelasku sambil memutar laptop ke arahnya. “Kuning berarti harus dipesan. Merah berarti habis.”
Aditya menatap layar. “Kalau biru?”
“Buku titipan yang belum dibayar.”
“Kalau ungu?”
“Koleksi lama yang perlu diperbaiki.”
“Kalau saya cuma mau tahu buku ini ada atau nggak?”
“Ketik judulnya.”
Dia mengetik perlahan, lalu satu baris muncul. Wajahnya tetap tenang, tetapi alisnya terangkat sedikit.
“Cepat,” katanya.
Aku menyandarkan tubuh dengan puas. “Kamu boleh mengatakan aku benar.”
“Saya bilang cepat.”
“Itu tahap pertama menerima kekalahan.”
Seorang bapak tua datang membawa kertas bertuliskan setengah judul dan nama penulis yang salah eja. Biasanya Aditya akan berjalan memeriksa tiga rak. Kali ini aku mengetik dua kata yang masih bisa dibaca. Empat kemungkinan muncul.
“Yang sampulnya ada perahu,” kata si bapak.
Aku menyaring warna dan kategori. Satu judul tersisa.
Aditya mengambilnya dari rak dalam waktu kurang dari satu menit. Setelah pelanggan itu pergi, dia kembali ke meja dan melihat layar, lalu kepadaku.
“Sangat cepat,” katanya.
“Nah.” Aku mengangkat telapak tangan ke telinga. “Kurang satu bagian.”
“Terima kasih.”
“Bukan.”
“Spreadsheet-nya berguna.”
Aku tersenyum lebar. “Akhirnya.”
Dia menambahkan, “Walau warnanya seperti taman kanak-kanak.”
“Aku akan menghapus aksesmu.”
“Laptopnya punya saya.”
“Tapi sistemnya punya aku.”
Aditya menatapku sejenak, kemudian berkata pelan, “Iya. Yang ini memang punya kamu.”
Kalimat itu membuat kemenangan sederhana terasa seperti dia memberiku tempat, bukan hanya mengakui sebuah file.
Sudah empat sore berturut-turut aku datang sepulang kantor. Pada hari pertama, aku membantu inventaris. Hari kedua, aku memperbaiki daftar pemasok. Hari ketiga, tanganku otomatis membuka laci uang receh ketika pelanggan butuh kembalian. Hari ini, aku baru sadar tas kerjaku sudah punya tempat tetap di bawah meja kasir.
Payung hitam yang kupinjam tergantung di kait belakang pintu. Aku sudah membawanya kembali, tetapi Aditya tidak pernah menyuruhku membawanya pulang lagi. Sekarang payung itu seperti alasan yang sengaja dibiarkan tetap tersedia untuk hujan berikutnya.
Tidak ada yang memintaku menaruhnya di sana.
Tidak ada juga yang memindahkannya.
Kirana masuk sambil membawa dua buku yang dipeluk ke dada. Dia meletakkannya di depan Aditya, kemudian melihat laptop dan tanganku yang sedang menghitung uang kas.
“Kak Patricia pegawai baru?”
“Bukan,” jawabku.
“Belum,” jawab Aditya bersamaan.
Aku menoleh. “Belum?”
Dia memeriksa buku yang dikembalikan Kirana. “Belum lulus masa percobaan.”
“Aku baru saja menyelamatkan tokomu dari administrasi zaman batu.”
“Tapi dua buku puisi masuk kategori teknik.”
“Judulnya Cara Membangun Kesunyian. Itu terdengar seperti teknik.”
Kirana mengangguk mendukungku. “Bisa jadi teknik supaya kelas tenang.”
“Terima kasih,” kataku.
Aditya memandang kami bergantian, lalu mencatat pengembalian buku. “Kalian cocok.”
Kirana mengambil pinjaman baru dan pergi ke sudut baca. Aku menutup laptop setengah, lalu menyandarkan siku di meja.
“Kalau aku pegawai, tunjangannya apa?”
“Boleh baca buku gratis.”
“Aku bahkan tidak mau membaca buku berbayar.”
“Teh gratis.”
“Kualitas tehnya meragukan.”
“Diskon sepuluh persen.”
“Makan malam dengan pemilik?”
Jari Aditya berhenti di atas kalkulator. “Bisa diajukan setelah masa percobaan.”
Aku bergerak sedikit lebih dekat. “Hak mencium pemilik kalau lembur?”
Dia menatapku. Kirana batuk dari sudut ruangan, meski jaraknya cukup jauh untuk tidak mungkin mendengar suara pelanku.
Aditya mengambil sticky note, menulis sesuatu, lalu menempelkannya di sisi laptop.
Tunjangan terakhir masih dalam evaluasi.
“Berapa lama evaluasinya?” tanyaku.
“Tergantung kinerja.”
“Aku pekerja terbaik yang tidak pernah kamu gaji.”
“Kamu juga pelanggan paling banyak protes.”
“Berarti aku multitalenta.”
Aku mencabut sticky note itu dan memasukkannya ke saku kemeja. Tatapannya mengikuti gerakanku, lalu turun sesaat ke tempat catatan itu kusimpan. Sekarang giliran jarinya kehilangan urutan tombol kalkulator.
Belum sempat aku menikmati kemenangan, seorang pelanggan muda datang membawa daftar di ponsel. Dia berjalan ke kasir, melihatku, lalu berhenti terlalu mendadak.
“Cari buku apa?” tanya Aditya.
Pemuda itu menoleh kepadanya, kembali melihatku, lalu membaca layar. “Seratus Tahun Kesepian.”
“Rak sastra terjemahan, lorong dua.”
“Atau Laut Bercerita.”
“Sastra Indonesia, lorong satu.”
Aku tersenyum sopan. Pemuda itu menelan ludah. “Sebenarnya Filosofi Teras.”
Tiga judul berbeda dalam lima belas detik.
Aditya keluar dari balik kasir, memegang bahu pelanggan itu, dan mengarahkannya ke lorong paling jauh. “Kita cari dari awal sebelum kamu pulang bawa buku resep.”
“Aku bisa membantu,” kataku.
“Nggak perlu. Jaga kasir.”
Nada suaranya biasa, tetapi dia berdiri di posisi yang menutup pandangan si pelanggan ke arahku. Aku menahan senyum sampai mereka menghilang di balik rak.
Ketika Aditya kembali, aku mengetuk meja dengan pulpen. “Kamu cemburu?”
“Dia membingungkan inventaris.”
“Aku bahkan tidak bicara dengannya.”
“Itu masalah yang pernah terjadi.”
Aku teringat mahasiswa yang hampir membeli ensiklopedia tanaman. “Jadi sekarang aku risiko operasional?”
“Risiko tinggi.”
“Harus diawasi dekat-dekat?”
Aku sengaja berdiri di sampingnya sampai lengan kami bersentuhan. Dia tidak bergeser.
“Sepertinya begitu,” jawabnya.
Pukul delapan, aku membantu menghitung kas tanpa diminta. Aditya menyapu lantai, membalik papan ke sisi TUTUP, lalu membuat dua kopi. Gerakan kami tidak perlu dibicarakan lagi. Aku menyebut angka, dia mencatat. Dia mengulurkan tangan, aku menyerahkan kunci laci. Ketika selesai, kopi sudah menunggu di tempatku.
“Tiga puluh dua ribu lebih banyak dari catatan manual,” kataku.
“Ada pesanan daring yang dibayar siang tadi.”
“Sudah kumasukkan.”
“Berarti ada yang salah.”
Kami memeriksa ulang. Setelah sepuluh menit, Aditya menemukan satu penjualan yang kucatat dua kali.
“Spreadsheet juga bisa salah,” katanya.
“Penggunanya yang salah.”
“Penggunanya siapa?”
“Pegawai masa percobaan.”
Dia mencoret angka kelebihan, lalu mendorong kopi ke arahku. “Masih bisa diperpanjang.”
“Dengan evaluasi tunjangan?”
Tatapannya singgah pada saku tempat sticky note tadi kusimpan. “Itu tergantung pegawainya bisa pulang tepat waktu atau nggak.”
“Kalau sengaja lembur?”
“Motivasinya perlu diperiksa.”
“Periksa saja.” Aku menahan tatapannya. “Aku tidak keberatan.”
Aditya yang lebih dulu melihat buku kas. Kemenangan kali ini terasa hangat sampai ke ujung jari.
Tidak ada yang bertanya jabatanku. Tidak ada yang membutuhkan keputusan besar. Spreadsheet bisa salah tanpa rapat darurat. Uang kas kurang dua ribu rupiah dan dunia tetap berjalan.
Di sini aku berguna tanpa harus menjadi orang paling penting di ruangan.
Ponselku bergetar. Notifikasi kalender mengingatkan makan malam bersama direktur operator hotel pukul delapan tiga puluh. Pertemuan itu sudah dijadwalkan dua minggu dan bisa memperkuat dukungan proyek.
“Harus pergi?” tanya Aditya.
Aku melihat meja yang belum sepenuhnya rapi, sticky note di saku, dan satu cangkir kopi yang baru dia buat.
“Bisa dipindah.”
“Kalau penting, jangan karena toko—”
Aku menekan tombol hapus agenda, lalu mengirim pesan singkat kepada Maya untuk menjadwalkan ulang.
“Aku tinggal karena mau,” potongku. “Bukan karena kamu minta.”
Aditya terdiam. Tatapannya membuat keputusan kecil itu terasa jauh lebih besar daripada memindahkan satu makan malam.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kalau begitu bantu susun rak teknik. Ada dua buku puisi nyasar.”
Aku melempar kain lap kepadanya. Dia menangkapnya sambil tertawa.
Aku kembali membuka spreadsheet, duduk di tempat yang tanpa sadar mulai kuanggap milikku.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja reading
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup