Chapter Two
Operasi Pelanggan Tetap
POV: Patricia Davina
Sisa: 44 Hari
“Jadi, kesimpulan rapat kemarin adalah Mas Toko kebal terhadap uang?”
Maya berdiri di depan layar ruang rapat sambil memegang remote presentasi seperti pembawa acara kuis. Di belakangnya terpampang foto Aksara Senja, data transaksi tiga tahun, profil kepemilikan, dan sebuah diagram lingkaran merah terang bertuliskan KEMUNGKINAN MENYERAH: 12%.
Aku meletakkan kopi di meja. “Kenapa dua belas?”
“Delapan persen karena tokonya rugi. Empat persen karena kamu cantik.”
“Analisis yang sangat profesional.”
“Terima kasih. Aku mempertimbangkan masuk divisi risiko.”
Ruang rapat kecil itu seharusnya dipakai untuk meninjau kontrak vendor. Pagi ini, tirainya tertutup dan pintunya kukunci karena aku tidak butuh seluruh lantai tahu bahwa seorang direktur sedang mengadakan rapat strategi untuk menaklukkan pemilik toko buku.
Maya mengganti slide. Muncul foto Aditya dari dokumen kepemilikan: wajah serius, kemeja putih, latar biru yang membuat semua orang terlihat seperti baru ditangkap karena pelanggaran administratif.
Di bawahnya, Maya menulis:
ADITYA PRATAMA, 31.
Belum menikah.
Tidak ada pinjaman bank aktif selain kredit usaha kecil.
Media sosial: nyaris tidak ada.
Kelemahan: belum ditemukan.
“Kamu menulis status pernikahannya untuk keperluan apa?” tanyaku.
“Kelengkapan data.”
“Hapus.”
“Mau aku pindah ke catatan privat?”
“Maya.”
Dia mengangkat kedua tangan, tetapi senyumnya tidak hilang. “Semua jalur resmi sudah dicoba. Surat penawaran, pendekatan notaris, pertemuan komunitas pemilik ruko, bahkan kompensasi relokasi. Tinggal dua pilihan. Kita tunggu tokonya bangkrut, atau kita cari tahu alasan sebenarnya dia bertahan.”
“Kita tidak punya waktu menunggu.”
“Berarti pendekatan personal.”
Aku memutar pulpen di antara jari. Istilah itu terdengar jauh lebih bersih daripada maksudnya.
“Aku kembali sebagai pelanggan. Tanpa mobil kantor, tanpa map, tanpa bicara proyek. Kalau dia nyaman, dia mungkin cerita.”
“Dan kalau dia nggak nyaman?”
“Aku buat nyaman.”
Maya menatapku selama dua detik, lalu menambahkan teks baru di layar: OPERASI MERAYU MAS TOKO.
“Hapus sekarang.”
“Tadi kamu bilang buat nyaman.”
“Maksudku membangun kepercayaan.”
“Dalam sejarah manusia, kalimat itu sering dipakai sebelum seseorang melakukan hal yang sama sekali nggak membangun kepercayaan.”
Maya membuka laptop dan memutar layar ke arahku. Dashboard buatannya memiliki empat indikator: durasi kunjungan, jumlah percakapan personal, tingkat resistensi, dan kolom bertuliskan KONTAK MATA BERMAKNA.
“Kolom terakhir tidak ada dalam metode penjualan mana pun.”
“Itu sebabnya tingkat keberhasilan tim kita selama ini belum seratus persen.”
“Hapus juga ikon hati di samping namanya.”
“Itu penanda prioritas.”
“Bentuknya hati.”
“Kebetulan font simbolnya terbatas.”
Aku menutup laptopnya. Kalau pembicaraan ini bocor, aku akan memindahkan meja Maya ke ruang arsip tanpa koneksi internet.
Pintu diketuk. Aku memberi Maya tatapan peringatan sebelum membukanya.
Raka masuk membawa tabung gambar dan dua berkas revisi fasad. Matanya bergerak dari foto Aditya ke diagram dua belas persen, lalu ke wajahku.
“Aku datang di waktu yang tepat atau sangat salah?”
“Sangat salah,” jawabku.
Maya menekan remote. Slide berubah menjadi tabel struktur beton, tetapi tulisan OPERASI MERAYU MAS TOKO masih muncul kecil di sudut karena dia ternyata memasukkannya ke footer.
Raka menarik kursi. “Aku anggap itu istilah teknis baru.”
“Kami sedang membahas pendekatan informal kepada pemilik unit terakhir.”
“Dengan merayunya?”
“Dengan menjadi pelanggan.”
“Patricia.” Nada Raka tetap tenang, suara yang biasanya dia pakai saat menunjukkan kolom penyangga yang tidak boleh kupindahkan. “Kedekatan personal bisa jadi masalah etis kalau tujuanmu tidak dia tahu.”
“Aku tidak akan memaksanya.”
“Bukan cuma soal memaksa. Kamu tahu sesuatu yang dia tidak tahu tentang alasanmu mendekat.”
“Dia sudah tahu aku dari Nawasena.”
“Tapi kalau kamu kembali tanpa identitas kantor, dia bisa mengira urusan proyek selesai.”
Aku tidak suka ketika keberatan orang lain masuk akal. Sulit dibantah tanpa terdengar seperti orang jahat.
“Aku cuma membuka jalur komunikasi,” kataku. “Begitu tahu masalah utamanya, kita cari solusi yang menguntungkan semua pihak.”
Raka menyandarkan tubuh. “Dan kalau masalah utamanya memang dia tidak mau menjual?”
“Semua orang mau sesuatu.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu dasar negosiasi.”
Dia tidak melanjutkan. Tatapannya berkata cukup banyak, tetapi kami sudah bekerja bersama enam tahun. Dia tahu aku tidak akan berhenti hanya karena sebuah keputusan membuatku tidak nyaman.
Setelah Raka pergi, Maya mematikan layar.
“Untuk catatan, aku setuju sama Mas Arsitek Beralis Bagus.”
“Kamu juga mencatat alis orang di profil risiko?”
“Hanya yang relevan.” Dia duduk di seberangku. “Aku akan bantu, tapi ada batas. Jangan bikin dia merasa dipilih kalau sebenarnya dia cuma sedang diproses.”
Aku menutup pulpen. “Aku tahu.”
Saat itu, aku benar-benar merasa tahu.
Pukul lima sore, pekerjaan sudah selesai. Pukul lima lewat sepuluh, aku masih duduk di depan lemari pakaian apartemen.
Kemeja putih terlihat terlalu kantor. Blus sutra terlalu seperti makan malam. Kaos polos terlalu berusaha terlihat tidak berusaha. Aku mencoba celana jeans, menggantinya dengan celana bahan, lalu kembali ke jeans.
Pukul lima lewat tiga puluh, Maya mengirim pesan.
Laporan persiapan operasi?
Aku memotret tumpukan pakaian di tempat tidur.
Balasannya datang seketika.
Probabilitas Mas Toko menyerah naik jadi 14% karena direktur kita kehilangan kemampuan berpakaian.
Aku memilih kemeja biru muda, jeans gelap, dan sepatu datar yang terakhir kupakai dua tahun lalu. Jam tangan tetap kupasang. Rasanya aneh keluar tanpa blazer, seperti datang ke rapat tanpa argumen cadangan.
Aku memarkir mobil dua blok dari Koridor Cempaka. Sepanjang jalan, aku mengulang rencana sederhana: masuk, membeli buku, membuka percakapan, mengamati. Tidak membahas penawaran. Tidak menyebut perusahaan. Tidak melakukan sesuatu yang akan membuat Raka punya alasan berkata sudah kubilang.
Aksara Senja terlihat lebih hangat malam ini. Lampu kuning di etalase membuat debunya tampak disengaja. Papan di pintu menghadap ke sisi BUKA.
Aku berhenti di depan kaca dan memeriksa pantulan diri sendiri.
Empat puluh menit memilih pakaian untuk sebuah observasi lapangan adalah hal yang masuk akal. Pakaian memengaruhi respons target. Ini riset, bukan kencan.
Lonceng kuningan berdenting ketika kudorong pintunya.
Aditya sedang berdiri di atas bangku pendek, menyusun buku di rak dekat kasir. Dia menoleh. Tatapannya turun dari rambutku yang tidak diikat, ke kemeja tanpa blazer, lalu ke sepatu datar. Cuma sebentar, tetapi cukup lama untuk membuktikan dia menyadari perubahan itu.
Bagus.
Aku memasang senyum santai. “Malam.”
Dia turun dari bangku dan membersihkan tangannya dengan kain.
“Proposalnya ketinggalan, Bu Direktur?”
Rencanaku baru berjalan tujuh detik dan sudah terasa perlu direvisi.
Aku berjalan melewatinya menuju rak terdekat. “Aku datang sebagai pelanggan.”
“Begitu.”
“Memangnya aku kelihatan seperti bawa proposal?”
“Nggak.” Pandangannya kembali turun, kali ini singgah di sepatuku. “Hari ini kelihatannya siap lari kalau ditolak lagi.”
Aku berhenti di depannya.
Orang-orang di kantor biasanya tertawa terlalu cepat ketika aku bercanda, setuju terlalu mudah ketika aku bicara, dan berhati-hati menyampaikan koreksi. Laki-laki ini menolak uang miliaran kemarin dan malam ini mengomentari sepatuku seolah jabatan di kartu nama tidak pernah dia baca.
Seharusnya menyebalkan.
Sayangnya, aku justru ingin tahu berapa lama ekspresi tenangnya bisa bertahan kalau aku mulai menyerang balik.
“Kalau aku benar-benar mau lari,” kataku, memperpendek jarak satu langkah, “kamu yakin arahnya keluar?”
Tangan Aditya berhenti di atas kain lap. Matanya menahanku, tenang, tetapi ada satu jeda tipis sebelum dia menjawab.
“Rak fiksi di sebelah kiri,” katanya. “Semoga ada buku yang bisa bantu cari arah.”
Lalu dia kembali ke belakang meja, meninggalkanku berdiri dengan senyum yang tidak berhasil kutahan.
Baiklah.
Operasi pelanggan tetap resmi dimulai.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap reading
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup