Chapter Thirty Five
Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
POV: Patricia Davina
Waktu: Tujuh hari setelah tenggat
Selama tujuh hari, aku marah kepada tiga orang.
Pertama, Aditya, karena mengubah pengorbanan sepihak menjadi sesuatu yang seharusnya kuterima dengan terharu.
Kedua, diriku sendiri, karena datang dengan kebohongan lalu menunggu solusi sempurna sampai seluruh kesempatan bicara habis.
Ketiga, penemu kopi, karena ternyata delapan cangkir sehari tetap tidak bisa menggantikan tidur.
“Saya tidak yakin orang ketiga bersalah,” kata Maya.
Dia berdiri di depan mejaku sambil memegang surat pengunduran diri yang baru kucetak.
“Kamu membaca tanpa izin.”
“Printer kantor bukan lokasi pribadi.”
“Kembalikan.”
Maya merobek surat itu menjadi dua.
“Itu pengunduran diri resmi.”
“Font-nya Calibri sebelas. Tidak ada yang resmi dengan Calibri sebelas.”
Aku menatap dua potong kertas di tangannya. Selama seminggu, meninggalkan perusahaan terasa seperti hukuman paling bersih. Aku gagal secara etis, kehilangan orang yang kucintai, dan tetap mendapatkan proyek karena akta yang dia tanda tangani. Kemenangan itu terasa dicuri.
Pak Surya masuk sebelum aku sempat mencetak ulang.
“Komite etik sudah selesai,” katanya.
Aku berdiri. Maya menaruh sobekan surat di belakang punggung.
Hasilnya teguran tertulis, pemotongan bonus dua tahun, dan pelepasan kewenanganku dari seluruh negosiasi akuisisi langsung selama satu tahun. Aku tetap memimpin implementasi Hotel Arunika karena desain adaptive reuse adalah tanggung jawab yang sudah kuambil.
“Kalau saya mengundurkan diri?” tanyaku.
“Itu hakmu.”
“Apakah akan memudahkan perusahaan?”
“Tidak. Hanya memudahkanmu menghindari akibat.”
Kalimatnya tepat mengenai bagian yang selama ini kusebut tanggung jawab.
Aku duduk kembali. Maya mengeluarkan potongan surat dan memasukkannya ke penghancur kertas.
“Calibri sebelas,” ulangnya seolah itu alasan utama.
Aku tidak mengundurkan diri.
Keputusan itu tidak terasa berani. Rasanya lebih seperti tetap duduk di kursi saat semua bagian tubuh ingin lari. Satu jam kemudian, aku memimpin rapat konstruksi pertama setelah tenggat.
Raka menunjukkan jadwal pembongkaran bangunan di sekeliling toko. Kontraktor mengusulkan melepas papan kayu lama agar tidak rusak, lalu menggantinya dengan replika.
“Tidak,” kataku. “Papan asli dipulihkan.”
“Biayanya tiga kali lipat.”
“Masukkan ke pengurangan spesifikasi lobby.”
“Investor suka lobby marmer.”
“Komunitas suka sejarah. Kita sudah memilih.”
Aku tidak menyelamatkan papan itu karena berharap pemilik lamanya pulang. Aku bahkan belum tahu apakah dia masih ingin melihat nama Aksara Senja. Aku menyelamatkannya karena puluhan orang menganggap tempat itu milik mereka juga, dan karena janji tidak menjadi kurang wajib hanya karena orang yang ingin kita beri tahu sudah pergi.
Sore itu, aku pergi ke aula komunitas tempat program baca dipindahkan. Semua anggota menunggu: Tante Lilis, Kirana, Arif, beberapa orang tua, dan Bimo yang berdiri paling belakang dengan tangan di saku.
Tidak ada layar presentasi. Tidak ada denah. Aku hanya membawa diriku dan kebenaran yang terlambat.
“Aku datang ke Aksara Senja sebagai direktur proyek Hotel Arunika,” kataku. “Tujuan awalku membuat pemilik toko setuju menjual. Aku berpura-pura menjadi pelanggan, dan aku berbohong kepada kalian.”
Ruangan hening.
Tante Lilis melepas kacamatanya. “Acara ulang tahun itu juga bagian dari taktik?”
“Awalnya iya. Tapi dukungan, program baca, dan semua yang terjadi setelahnya nyata.”
“Nyata buat siapa?”
Aku tidak punya jawaban yang bisa mengurangi kekecewaannya. “Buatku. Tapi kalian tidak wajib percaya sekarang.”
Arif menunduk. Seorang ibu mengambil tasnya, lalu tetap duduk. Bimo tidak menolongku.
Kirana mengangkat tangan seperti sedang berada di kelas.
“Tokonya bakal balik?”
Pertanyaan itu sederhana, tidak meminta penjelasan tentang konflik kepentingan atau akta penjualan.
“Iya,” jawabku. “Bangunannya tetap ada. Namanya tetap Aksara Senja. Program baca punya tempat di sana.”
“Mas Aditya juga balik?”
Rasa sakit datang cepat, tetapi aku tidak berbohong lagi. “Aku belum tahu.”
Kirana mempertimbangkannya. “Kalau tokonya balik dulu, orangnya bisa nyusul.”
Tante Lilis menghela napas. “Anak delapan tahun mengalahkan semua strategi kalian.”
Seorang ibu di baris belakang bertanya apakah program baca akan menjadi alat promosi hotel. Arif bertanya siapa yang memegang inventaris. Tante Lilis menuntut perjanjian tertulis bahwa anak-anak tidak harus membeli apa pun untuk masuk.
Aku menjawab satu per satu. Program tetap gratis. Komunitas punya jadwal independen. Aula sementara dibayar perusahaan sampai toko selesai. Keputusan kegiatan dibuat bersama, bukan oleh tim pemasaran.
“Kalau perusahaan berubah pikiran?” tanya Tante Lilis.
Aku menyerahkan salinan klausul yang sudah kutandatangani. “Kalian punya hak pakai sepuluh tahun dan perpanjangan. Kalau kami melanggar, kalian boleh menggugat.”
Dia membaca halaman pertama. “Nah. Akhirnya kebiasaanmu membawa kontrak berguna.”
Itu bukan maaf. Namun ketika rapat selesai, dia meninggalkan album foto di tanganku.
“Jaga sampai raknya kembali,” katanya.
Bimo menunggu semua orang pergi. Dia menyerahkan amplop berisi salinan daftar inventaris dan satu kartu nama penerbit di Yogyakarta.
“Dia di sana,” katanya.
Aku memegang kartu itu terlalu erat. “Alamatnya?”
“Saya punya.”
“Berikan.”
“Kalau saya beri, kamu akan naik pesawat malam ini, datang membawa kontrak, lalu memaksanya mengambil keputusan saat kalian masih marah.”
“Dia meninggalkanku.”
“Dan kamu berbohong berbulan-bulan.”
“Kamu membela dia?”
“Tidak. Saya masih ingin memukulnya pakai kamus. Tapi kali ini kalian perlu berhenti memakai kemampuan eksekusi sebagai pengganti bicara.”
Aku melihat kartu nama. Satu telepon cukup untuk menemukan alamat kantor. Aku memang bisa berangkat malam itu.
Namun Kirana baru saja menanyakan apakah toko akan kembali. Tante Lilis belum memaafkan. Dinding Aksara Senja masih kosong.
“Aku tidak akan mengejar sekarang,” kataku.
Bimo mengangguk. “Bagus.”
“Tapi beri tahu dia aku marah.”
“Dia tahu.”
“Bilang lebih marah dari yang dia bayangkan.”
“Itu juga tahu.”
Aku mulai menulis surat seminggu kemudian.
Surat pertama berisi pengakuan lengkap tentang alasan kedatanganku. Tidak ada pembelaan, hanya urutan pilihan yang kubuat dan orang-orang yang terluka.
Surat kedua menjelaskan proposal, bukan sebagai bujukan untuk pulang, tetapi karena dia berhak tahu toko ibunya tidak akan dibongkar.
Surat ketiga hanya tiga baris: Aku masih marah. Aku juga masih mencintaimu. Kamu tidak harus menjawab sebelum siap.
Tidak ada balasan.
Enam bulan berjalan lewat suara bor, debu konstruksi, dan rapat yang tidak mengenal belas kasihan. Fasad hijau diperkuat. Papan lama dibersihkan tanpa menghapus retakan. Stempel matahari tenggelam diubah menjadi logo kecil di kaca, persis seperti cap pada buku pertama.
Bulan pertama, tim struktur menemukan balok yang lebih rapuh dari survei awal. Jadwal mundur dua minggu. Aku tidur di kantor selama empat malam dan tidak mencoba menganggap kelelahan sebagai hukuman romantis.
Bulan kedua, investor meminta ruang acara diperkecil. Komunitas datang ke rapat membawa seratus dua belas tanda tangan dan Tante Lilis membawa suara yang cukup keras untuk menggantikan mikrofon. Ruangnya tetap.
Bulan ketiga, aku menerima keputusan evaluasi final. Teguran masuk arsip. Bonus hilang. Jabatan tetap. Pak Surya tidak mengucapkan selamat; dia hanya memberiku proyek berikutnya tanpa komponen akuisisi dan berkata kepercayaan dibangun lewat pekerjaan, bukan pidato.
Bulan keempat, surat pertamaku dikembalikan karena nomor unit penerbit berubah. Aku mengirim ulang tanpa menambahkan tuntutan jawaban.
Bulan kelima, Bimo mengatakan semua surat sudah diterima. Dia menolak memberi tahu apakah dibaca. Aku juga menolak bertanya lagi.
Program baca ikut memilih rak baru. Kirana menuntut satu kursi khusus yang tidak boleh dipakai orang dewasa. Tante Lilis meminta meja cukup besar untuk dua belas orang, lalu mengundang dua puluh.
Aku mengirim foto setiap perkembangan ke alamat penerbit. Tidak pernah menanyakan kapan dia pulang.
Pada malam sebelum pembukaan, aku berdiri sendirian di dalam Aksara Senja yang baru. Rak penuh lagi. Album foto berada di meja klub baca. Gambar Kirana sudah dibingkai dekat kasir. Penanda buku berbentuk cincin masih kusimpan di novel hijau pada halaman terakhir.
Aku membuat satu kopi dan meminumnya sebelum dingin, latihan menepati janji meski sendirian.
Pukul sebelas, lampu hotel di belakang sudah padam. Aku membalik papan ke sisi TUTUP dan memeriksa pintu.
Lonceng berbunyi.
Padahal aku tidak menyentuhnya.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan reading
- 36 Toko Ini Belum Tutup