Chapter Twelve
Tempat Menunggu
POV: Patricia Davina
Sisa: 32 Hari
Program baca anak Aksara Senja dimulai setiap Sabtu pukul tiga, yang berarti pukul dua lewat lima puluh lima aku masih berdiri di minimarket dengan dua keranjang penuh camilan dan sedang berdebat dengan diriku sendiri apakah delapan kotak susu cokelat termasuk suap.
Maya menelepon tepat saat kasir memindai bungkus kesembilan.
“Kamu di mana? Rapat evaluasi selesai setengah jam lalu.”
“Minimarket.”
“Belanja makan siang?”
Aku melihat keranjang. “Konsumsi program komunitas.”
“Sejak kapan direktur pengembangan mengurus konsumsi?”
“Sejak tim operasional tempatnya cuma satu orang.”
“Tempatnya atau pemiliknya yang kamu khawatirkan?”
Kasir muda di depanku menoleh. Aku menurunkan volume ponsel.
“Aku tutup.”
“Beli susu stroberi juga. Anak-anak suka.”
Aku menambahkan empat kotak susu stroberi dan membenci fakta bahwa Maya mungkin benar.
Aku memutuskan itu bagian dari anggaran konsumsi.
Ketika tiba di toko, dua belas anak sudah duduk bersila di atas karpet warna-warni. Tante Lilis mengatur mereka dengan efektivitas seorang komandan. Aditya memindahkan kursi ke pinggir ruangan. Kirana melihat kantong belanja di tanganku dan langsung berlari.
“Kak Patricia bawa makanan?”
“Tidak.”
Kantong plastik transparan memperlihatkan dua belas bungkus roti.
Kirana menatapnya, lalu aku. “Itu buku?”
“Materi pendukung.”
Aditya lewat di belakangku dan mengambil dua kantong paling berat. “Materi pendukung rasa cokelat?”
“Anak-anak butuh energi untuk belajar.”
“Programnya satu jam.”
“Otak menghabiskan banyak kalori.”
“Berapa?”
“Jangan rusak argumen bagus dengan permintaan data.”
Dia membawa kantong ke meja belakang. Senyumnya kecil, tetapi cara dia menyimpan roti dan susu tanpa memperdebatkan lagi membuatku tahu dia mengerti kenapa aku membelinya diam-diam.
Kesalahan pertamaku hari itu adalah duduk terlalu dekat dengan rak buku bergambar.
Kesalahan kedua adalah melakukan kontak mata dengan Tante Lilis ketika dia bertanya siapa yang mau membacakan cerita.
Lima menit kemudian, aku duduk di kursi kecil dengan buku tentang seekor kelinci pemberani, dikelilingi dua belas wajah yang jauh lebih kritis daripada dewan komisaris.
“Pada suatu hari,” aku memulai dengan suara mantap, “Kiko pergi ke hutan untuk mencari—”
“Kak, suara Kikonya beda,” kata seorang anak laki-laki.
“Beda dari apa?”
“Tadi suara narator.”
“Kiko belum bicara.”
“Tapi nanti bicara. Harus disiapkan.”
Aku melihat Aditya yang berdiri dekat tangga. Dia pura-pura memeriksa kardus, tetapi bahunya bergerak menahan tawa.
Aku melanjutkan dengan suara lebih tinggi untuk Kiko.
“Terlalu kecil,” protes anak lain.
Aku menurunkannya.
“Sekarang seperti bapak-bapak.”
“Kelinci tidak punya standar suara resmi,” kataku.
Kirana mengangkat tangan. “Om Aditya biasanya bikin suaranya lucu.”
“Bagus. Om Aditya bisa menggantikan.”
“Yang baca Kak Patricia,” jawab dua belas anak hampir serempak.
Aku menghabiskan dua puluh menit berikutnya memainkan kelinci, kura-kura, burung, dan pohon tua dengan empat suara yang menurut anak-anak masih kurang konsisten. Ketika selesai, tepuk tangan mereka terdengar sangat meriah untuk penampilan yang baru saja mendapat koreksi setiap dua halaman.
Aditya memberiku segelas air. “Bagus.”
“Bohong.”
“Pohonnya meyakinkan.”
“Pohon cuma punya satu kalimat.”
“Makanya konsisten.”
Aku menyikut lengannya. Anak-anak langsung membuat suara menggoda. Aditya menenangkan mereka dengan membagikan camilan, yang hanya membuatku makin terlihat seperti bagian dari acara.
Setelah membaca, anak-anak memilih buku sendiri. Aku membantu seorang anak mengeja judul, lalu menemukan Kirana duduk di lantai dekat jendela sambil melihat jam dinding.
Di tengah jalan, seorang anak lain menarik ujung bajuku dan menyerahkan gambar krayon. Di sana ada toko dengan rak-rak miring, matahari biru di atas pintu, dan tiga orang berbentuk tongkat. Satu memakai kemeja abu-abu. Satu berambut panjang dan memegang laptop. Satu lagi kecil dengan dua kuncir.
“Ini siapa?” tanyaku, menunjuk sosok berlaptop.
“Kak Patricia. Sekarang selalu di sini.”
Aku ingin mengoreksi kata selalu. Aku baru datang beberapa hari. Tempatku bukan di gambar itu. Namun anak tersebut sudah berlari kembali sebelum aku menemukan kalimat yang tidak terdengar seperti penolakan.
Aku melipat gambar itu dan memasukkannya ke dalam tas dengan hati-hati.
“Belum dijemput?” tanyaku.
“Ibu selesai kerja jam lima.”
“Masih dua jam.”
“Aku biasa tunggu di sini.”
“Setiap Sabtu?”
Dia mengangguk dan membuka buku di pangkuannya. “Kalau di rumah sepi. Di sini ada Om Aditya, ada Tante Lilis, sama banyak buku. Jadi rasanya bukan nunggu.”
Aku duduk di sebelahnya. “Ibumu kerja dekat sini?”
“Di laundry ujung jalan. Kalau ramai, pulangnya malam.” Kirana menunjuk rak anak. “Dulu aku cuma boleh baca di tempat. Terus Om Aditya bikin kartu khusus supaya aku bisa bawa pulang.”
Kartu khusus. Nama dengan angka pembayaran nol. Tanda matahari kecil di buku catatan.
“Kamu selalu mengembalikan tepat waktu?”
“Selalu. Kecuali sekali waktu ibu sakit. Om Aditya bilang tidak apa-apa.”
Di laporan valuasi, Aksara Senja adalah usaha dengan transaksi turun, stok lambat bergerak, dan pemanfaatan ruang yang buruk. Tidak ada kolom untuk dua jam ketika seorang anak tidak merasa sendirian.
Aku melihat sekeliling. Seorang anak tertidur di karpet. Tante Lilis memperbaiki kepang anak lain. Aditya berjongkok untuk membungkus buku dengan sampul bekas. Bangunan ini melakukan pekerjaan yang tidak pernah diminta investor untuk kuhitung.
Rasa bersalah muncul seperti sesuatu yang dingin di bawah tulang rusuk.
Aku berdiri dan mengambil tas. “Aku sebaiknya pergi.”
Aditya menoleh dari meja. “Kenapa?”
“Kalian sedang sibuk. Aku malah mengacaukan suara kelinci.”
“Anak-anak senang.”
“Aku mengganggu.”
Dia berjalan mendekat. “Toko ini belum tutup.”
Kalimat yang dulu dia gunakan untuk mengusirku sebagai pengembang kini terdengar seperti alasan agar aku tetap tinggal.
“Masih dua jam sampai Kirana dijemput,” lanjutnya. “Kalau mau membantu, pilihkan buku buat dia.”
“Aku tidak tahu buku anak.”
“Dia tahu. Kamu tinggal dengarkan.”
Aku menatap Kirana yang sudah mengangkat tiga pilihan. Tidak ada angka, target, atau strategi yang bisa melindungiku dari kenyataan sederhana itu.
Aku kembali duduk.
Sebelum program selesai, Aditya menemukan struk minimarket di dalam kantong plastik. Dia membacanya, lalu mengangkat alis.
“Dua belas susu, dua belas roti, enam biskuit. Materi pendukung?”
“Promosi toko.”
“Logonya nggak ada.”
“Promosi pengalaman.”
“Saya ganti uangnya.”
“Jangan.”
“Kenapa?”
Aku melihat anak-anak yang sedang membagi biskuit terakhir. “Karena aku yang mau.”
Tatapannya melunak. Aditya melipat struk itu dan menyerahkannya kembali, tetapi jemarinya sengaja menahan tanganku sesaat.
“Terima kasih,” katanya.
Dua kata sederhana itu lebih sulit kuterima daripada pujian di ruang dewan.
Pukul lima lewat sepuluh, aku keluar dari toko dan langsung menelepon Raka.
“Aku perlu kamu menghitung sesuatu,” kataku ketika dia mengangkat.
“Kalau soal memindahkan akses servis lagi, jawabannya masih tidak.”
“Bukan. Bisa nggak desain hotelnya mempertahankan satu unit?”
Hening di ujung sana.
“Unit Aksara Senja?”
“Fasad, struktur utama, dan fungsi tokonya. Hotel dibangun mengelilinginya atau aksesnya diubah.”
“Itu akan mengurangi kamar, mengubah sirkulasi, dan investor belum tentu setuju.”
“Aku tidak tanya apakah mudah.”
Raka mengembuskan napas. “Aku butuh ukuran bangunan lengkap.”
Aku menoleh ke etalase. Di dalam, Kirana sedang melambaikan tangan kepadaku. Aditya berdiri di belakangnya, memegang papan kecil yang bertuliskan SAMPAI SABTU DEPAN.
“Aku kirim malam ini,” jawabku.
“Patricia,” panggil Raka sebelum aku memutus sambungan. “Kamu sadar ini bukan revisi kecil, kan?”
“Sadar.”
“Kalau kita ajukan, orang akan bertanya kenapa satu toko rugi layak mengubah proyek sebesar ini.”
Aku melihat Kirana memeluk buku pilihannya sebelum memasukkannya ke tas. “Berarti kita siapkan jawaban yang lebih baik daripada karena aku bilang begitu.”
“Ini akan jadi pilihan, bukan tambahan. Kalau toko tetap ada, ada hal lain yang harus dikorbankan.”
Untuk pertama kalinya, kata pilihan tidak terdengar seperti sesuatu yang bisa kutunda sampai semua opsi aman.
“Hitung dulu,” kataku. “Nanti aku yang memilih.”
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu reading
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup