Chapter Twenty Three

Dokumen yang Menunggu

POV: Aditya Pratama
Sisa: 15 Hari

Dokumen dari notaris tiba pukul sepuluh pagi dalam amplop cokelat yang terlalu tipis untuk menampung seluruh hidupku.

Aku membawanya ke lantai dua dan mengunci laci setelah membaca halaman pertama. Harga penjualan sesuai penawaran Pak Surya. Pembayaran dilakukan dua tahap. Akta menjadi final pada tenggat proyek. Pengosongan dimulai sehari sebelumnya.

Lima belas hari.

Di bagian akhir ada tempat untuk tanda tanganku.

Aku membuka buku besar dan menghitung ulang semuanya. Utang gudang. Perbaikan atap yang belum dibayar. Pesangon Arif, pegawai paruh waktu yang bekerja tiga sore setiap minggu. Biaya memindahkan rak dan program baca ke aula komunitas sementara. Dana yang bisa kusumbangkan agar Kirana dan anak-anak tetap mendapat buku.

Angkanya cukup.

Lebih dari cukup.

Aku membuat tiga skenario seolah hidup bisa dipilih dari menu. Dalam skenario pertama, aku menjual dan pergi ke Yogyakarta dengan tabungan yang aman. Dalam skenario kedua, aku menunda, menanggung denda, lalu berharap penjualan bulan depan tiba-tiba membaik. Dalam skenario ketiga, aku mempertahankan toko sampai uang terakhir habis dan menyebutnya kesetiaan.

Skenario kedua dan ketiga berakhir pada angka merah.

Di samping biaya, aku menulis hal-hal yang tidak punya harga: rak sejarah milik Ibu, bekas tinggi badanku di kusen lantai dua, gambar matahari dari Kirana yang masih ditempel dekat gudang. Aku mencoba memberi nilai nol karena tidak bisa dijual. Justru kolom itu yang paling sulit kulihat.

Email dari penerbit di Yogyakarta masuk saat aku menghitung untuk keempat kali. Mereka meminta konfirmasi tanggal mulai dan menawarkan kamar sementara dekat kantor. Aku mengetik saya siap, lalu menyimpannya sebagai draf.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, masa depan bisa terlihat rapi di dalam kolom. Tidak ada tunggakan, atap bocor, atau kekhawatiran membuka toko setiap pagi hanya untuk melihat transaksi terus turun.

Seharusnya melegakan.

Sebaliknya, aku terus mendengar suara sepatu Patricia di tangga meski toko masih kosong.

Bimo naik membawa sarapan. Dia melihat amplop, lalu menaruh bungkus nasi di atasnya.

“Jangan kotori dokumen,” kataku.

“Bagus. Berarti belum kamu anggap suci.”

Aku memindahkan nasi. “Notaris datang lusa.”

“Batalkan.”

“Bim.”

“Tunggu Patricia bicara. Kamu tahu dia menyembunyikan sesuatu.”

“Saya juga tahu waktunya tinggal lima belas hari.”

“Kamu menerima kerja di Yogyakarta. Setidaknya bilang.”

“Belum ada gunanya.”

“Ada. Supaya dia tahu kamu bisa pergi.”

“Itu akan terdengar seperti ancaman.”

“Kalau disampaikan jujur, namanya informasi.”

Aku tidak menjawab. Bimo menunjuk pena yang tergeletak di dekat dokumen.

“Kamu takut dia memilih toko?” tanyanya.

“Saya takut dia memilih karena merasa harus memperbaiki kebohongannya.”

“Dan kamu merasa berhak memutuskan perasaannya?”

“Saya sedang mencegah dia menghancurkan karier.”

“Tidak. Kamu sedang mencegah dirimu mendengar jawaban yang bisa membuatmu ingin tinggal.”

Aku menutup buku besar terlalu keras. “Kalau dia mundur dari proyek karena saya, lalu enam bulan lagi toko tetap gagal, apa yang tersisa?”

“Mungkin keputusan yang kalian buat berdua.”

“Keputusan bersama tidak membuat tagihan lebih murah.”

“Tidak. Tapi setidaknya kebencian nanti bisa dibagi rata.”

Aku menatapnya.

Bimo mengangkat bahu. “Saya sedang mencoba optimistis.”

Dia turun sebelum aku bisa membalas. Bungkus nasi ditinggalkan di meja, dingin dan tidak disentuh sampai siang.

Patricia datang pukul lima dengan tas kerja yang lebih berat dari biasanya. Dia langsung naik karena menerima panggilan dari Raka. Setelah berbicara beberapa menit, dia turun terburu-buru ketika Maya menjemput.

“Aku kembali malam,” katanya. “Jangan tutup terlalu cepat.”

“Saya tunggu.”

Dia mengecup pipiku singkat sebelum keluar. Gerakannya spontan, seperti kami sudah punya hak melakukan itu setiap hari.

Tasnya tertinggal di bawah meja.

Aku menemukannya setelah mobil Maya pergi. Ritsletingnya terbuka, menampilkan gulungan kertas dan satu map bertuliskan Hotel Arunika. Aku seharusnya menutup tas tanpa melihat.

Salah satu kertas sudah setengah keluar. Gambar denah lantai dasar terlihat jelas: garis hotel, akses kendaraan, dan kotak hijau di posisi toko. Namun lembar itu hanya potongan revisi struktur. Tidak ada judul adaptive reuse, tidak ada penjelasan bahwa bangunan toko akan dipertahankan.

Aku melihat garis hotel mengelilingi kotak hijau, lalu menafsirkannya sebagai tahap akhir proyek yang akan mengambil semua ruang di sekitarnya.

Ada beberapa coretan tangannya di sisi kertas. Pertahankan akses pejalan kaki. Jangan sentuh fasad sebelum survei. Satu panah menunjuk ke halaman belakang dengan tulisan ruang bersama?

Aku membaca tanda tanya sebagai keraguan. Seharusnya kubaca lagi. Seharusnya aku menunggu lembar lain, atau lebih sederhana, bertanya kepadanya ketika dia kembali.

Namun ketakutan pandai memilih bukti yang disukainya. Hotel tetap besar. Toko tetap hanya kotak kecil. Dan di sudut kanan ada logo Nawasena yang selama ini selalu berarti satu hal: lahan ini akan berubah tanpa meminta izin kepada orang yang tinggal di atasnya.

Dia masih bekerja sampai larut untuk mendapatkan tanda tanganku.

Pikiran itu sakit, tetapi masuk akal. Terlalu masuk akal.

Aku memasukkan kertas kembali persis seperti semula.

Menjelang malam, aku mengambil novel biru yang kuberikan kepadanya saat ulang tahun. Punggungnya mulai lepas karena Patricia menyelipkan terlalu banyak sticky note. Dia meninggalkannya untuk diperbaiki dua hari lalu.

Aku melepas benang lama, membersihkan lem, lalu menjahit ulang halaman satu per satu. Di beberapa margin ada tulisannya.

Kalimat ini sok tahu.

Kenapa tokohnya nggak bicara saja?

Ini romantis. Jangan bilang aku mengaku.

Di halaman seratus dua, dia menggambar tanda panah ke dialog tentang seorang tokoh yang pergi tanpa menjelaskan alasan. Catatannya berbunyi: Pria ini menyebalkan. Kejujuran bukan penyakit menular.

Aku mendengus. Buku itu bahkan tidak cukup sopan untuk membiarkanku menjadi munafik dengan tenang.

Jarum menusuk ujung jariku. Setitik darah hampir jatuh ke halaman sebelum kuseka dengan kain. Aku bekerja lebih pelan, merapikan setiap lipatan, menekan lem dengan beban dua kamus. Memperbaiki buku punya aturan yang nyaman: cari bagian yang lepas, bersihkan kerusakan lama, satukan kembali, tunggu sampai kering.

Manusia tidak datang dengan petunjuk sesederhana itu.

Aku tersenyum pada catatan terakhir, kemudian menyadari aku sedang memperbaiki sesuatu yang mungkin akan menjadi satu-satunya bagian diriku yang tetap bersamanya.

Pukul sebelas, Patricia mengirim pesan bahwa rapatnya belum selesai dan memintaku menyimpan buku itu.

Pesan berikutnya datang satu menit kemudian.

Jangan lupa makan. Ini instruksi, bukan perhatian romantis.

Aku memotret bungkus nasi Bimo yang akhirnya kubuka.

Patuh, balasku.

Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi.

Bagus. Aku masih butuh kamu hidup sampai besok.

Aku membaca kata masih terlalu lama, seolah di sana ada janji yang tidak dia tulis.

Aku membalas bahwa buku akan menunggu.

Tidak kutulis bahwa pemiliknya mungkin tidak.

Dokumen penjualan tetap terbuka di sisi meja. Setelah jahitan terakhir selesai, aku menaruh novel itu di atas tas Patricia, lalu duduk di depan halaman tanda tangan.

Pena kuletakkan tepat di atas garis kosong.

Aku belum menulis apa pun.

Namun untuk pertama kalinya, tanganku tidak memindahkannya kembali ke laci.

Di bawah, lampu kasir masih menyala. Aku turun untuk mematikannya, lalu berhenti ketika melihat kursi yang biasa dia duduki. Jaket tipisnya tertinggal di sandaran. Aku melipatnya, menaruh di atas meja, dan mendapati satu sticky note menempel di saku.

Angka bisa berubah. Jangan panik sebelum waktunya.

Entah catatan itu untuk dirinya sendiri atau untukku. Aku membawanya ke lantai dua dan menempelkannya di samping garis tanda tangan.

Pena tetap menunggu di atas kertas. Sticky note itu menunggu di sebelahnya. Di antara keduanya, aku duduk sampai hampir pagi, masih berpura-pura bahwa tidak memilih juga bukan sebuah pilihan.