Chapter Twenty Nine

Memilih Kerugian

POV: Patricia Davina
Sisa: 7 Hari

Aku memulai presentasi dengan mengakui bahwa aku berbohong.

Tidak seluruhnya. Tidak tentang ciuman di meja kasir, mi instan di lantai dua, atau kenyataan bahwa pemilik ruko terakhir sudah menjadi orang yang kucari setiap kali hari berjalan buruk. Namun cukup banyak untuk membuat ruangan rapat berhenti membalik dokumen.

“Saya mendekati pemilik Aksara Senja tanpa mengungkap posisi saya sebagai direktur proyek,” kataku. “Itu menciptakan konflik kepentingan dan merusak dasar negosiasi. Saya bertanggung jawab atas keputusan tersebut.”

Pak Surya duduk di ujung meja. Ekspresinya tidak berubah. Raka berdiri dekat layar, sementara Maya membagikan versi final proposal kepada dua belas orang yang menentukan apakah pekerjaanku masih ada minggu depan.

Seorang anggota komite melepas kacamatanya. “Anda meminta kami menyetujui desain yang lebih mahal setelah mengakui proses akuisisinya bermasalah?”

“Saya meminta Anda menilai desain berdasarkan risiko dan nilainya, bukan untuk menutupi kesalahan saya.”

“Apa pemilik sudah setuju?”

“Belum.”

“Lalu kita sedang membahas bangunan yang mungkin sudah dijual dengan skema awal.”

Kalimat itu membuat tengkukku dingin. Status legal masih belum muncul pagi tadi.

“Kalau penjualan sudah terjadi, revisi perjanjian masih bisa disusun sebelum finalisasi pembayaran,” jawabku. “Jika belum, kami menawarkan kemitraan baru.”

Aku mengganti slide. Model hotel berputar perlahan, memperlihatkan toko hijau yang dipertahankan sebagai pusat budaya.

Raka menjelaskan pengurangan kamar, jalur servis, penguatan struktur, dan fase konstruksi. Tidak ada dramatisasi. Hanya angka yang kini cukup kokoh untuk diuji.

Maya membagikan data komunitas: survei minat, proyeksi acara, dukungan penerbit lokal, dan surat dari sekolah-sekolah sekitar. Dia menambahkan satu halaman berjudul DAMPAK NONFINANSIAL, lalu berbisik kepadaku saat lewat.

“Saya menghapus kolom frekuensi ciuman karena metodologinya lemah.”

Aku menatapnya.

“Sampelnya cuma dua.”

Raka batuk untuk menutupi tawa. Beberapa kepala menoleh. Aku melanjutkan presentasi sebelum jabatan kami berdua hilang karena alasan yang sangat tidak terhormat.

“Biaya tambahan ditutup lewat tiga penyesuaian,” kataku. “Pengurangan spesifikasi area privat, kontrak program budaya dengan sponsor, dan pemotongan bonus kinerja saya selama dua tahun.”

Pak Surya akhirnya bergerak. “Itu bukan komponen material.”

“Bagi perusahaan mungkin tidak. Bagi saya, itu bukti bahwa saya tidak meminta orang lain membayar seluruh pilihan ini.”

“Target profit?” tanya investor utama.

“Turun empat koma delapan persen pada dua tahun pertama, kembali ke proyeksi dasar pada tahun kelima.”

“Kalau program budaya gagal?”

“Area dapat dikonversi menjadi fungsi komersial tanpa membongkar bangunan utama.”

“Kalau pemilik toko menolak bermitra?”

Pertanyaan itu lebih sulit daripada seluruh tabel keuangan.

“Toko tetap dipertahankan sebagai ruang independen. Pengelola bisa berubah, tetapi fungsi komunitas wajib berjalan.”

Untuk pertama kalinya, aku mengucapkan kemungkinan bahwa Aditya tidak akan ada di sana. Suaraku tetap stabil. Tanganku tidak.

Rapat berlangsung dua jam. Mereka meminta simulasi terburuk, jaminan biaya, revisi perizinan, dan penjelasan mengapa satu ruko layak memengaruhi proyek sebesar itu.

Aku tidak menjawab karena mencintai pemiliknya.

Aku menjawab bahwa proyek yang menghapus semua karakter lokal hanya menghasilkan bangunan yang bisa berdiri di kota mana pun. Aksara Senja memberi hotel alasan untuk berada tepat di jalan itu. Komunitas bukan ornamen pemasaran; mereka adalah orang yang menentukan apakah kompleks baru diterima atau dibenci.

Investor lain membuka lampiran desain. “Anda menyebut toko ini mitra independen. Siapa menanggung operasional pada tahun pertama?”

“Nawasena memberi subsidi pemeliharaan bangunan, bukan usaha. Pendapatan toko tetap milik pengelola.”

“Kalau penjualannya tidak cukup?”

“Ruang acara disewa hotel untuk program tamu minimal delapan kali sebulan. Itu pendapatan dasar yang bisa diaudit.”

“Anda sudah membicarakan skema itu dengan pemilik?”

Pertanyaan itu datang lagi dari arah berbeda.

“Belum secara lengkap.”

“Kenapa?”

Aku bisa memberi jawaban korporat: kerahasiaan desain, proses persetujuan, kewenangan terbatas. Semuanya benar dan semuanya pengecut.

“Karena saya terus menunggu sampai bisa membawa solusi yang sempurna,” kataku. “Itu kesalahan. Setelah rapat ini, dia akan menerima informasi lengkap, apa pun keputusan Anda.”

Pak Surya menatapku tanpa menyela. Untuk pertama kalinya, aku tidak mencoba membaca apakah dia bangga atau kecewa. Pengakuan itu bukan presentasi untuk ayahku.

Komite meminta Raka menjelaskan risiko pembangunan di sekitar struktur lama. Dia menampilkan tahapan penopang sementara dan jadwal kerja yang menjaga akses toko. Ketika seorang investor menyebutnya terlalu rumit, Raka menjawab datar bahwa lift kaca di desain awal jauh lebih rumit dan tidak pernah diminta warga. Maya menunduk di belakang laptop agar tawanya tidak terlihat.

Ketika aku selesai, ruangan sunyi.

Pak Surya meminta kami keluar selama komite berdiskusi.

Di lorong, Maya menyerahkan sebotol air. “Kamu tidak pingsan. Statistiknya positif.”

“Berapa peluangnya?”

“Lima puluh persen.”

Raka berdiri di sisi lain. “Dia bilang begitu kalau tidak tahu.”

“Kalau tahu pun saya bilang lima puluh persen. Hasilnya selalu iya atau tidak.”

Aku duduk di bangku, terlalu lelah untuk menjelaskan probabilitas.

Empat puluh menit kemudian, kami dipanggil kembali.

Investor utama menutup map. “Kami memberi persetujuan bersyarat. Revisi legal, struktur, dan komitmen operator harus selesai sebelum tenggat. Jika satu saja gagal, desain kembali ke versi awal.”

Napas yang kutahan keluar pelan.

“Saya terima.”

“Ada satu hal lagi,” kata Pak Surya. “Setelah proyek ini, komite etik akan mengevaluasi caramu menangani akuisisi.”

“Saya mengerti.”

“Dan evaluasi itu tidak akan dibatalkan hanya karena proposal ini berhasil,” lanjutnya.

“Saya tidak meminta dibatalkan.”

Dia mengangguk sekali. Bukan pengampunan, tetapi pengakuan bahwa akhirnya aku bersedia menanggung akibat tanpa mencoba mengatur hasilnya lebih dulu.

Aku tidak tahu apakah hasilnya teguran, penurunan jabatan, atau kehilangan proyek berikutnya. Anehnya, ketidakpastian itu tidak lagi menakutkan. Kerugian yang dipilih secara sadar terasa lebih ringan daripada keselamatan yang dibangun dari kebohongan.

Di lift, Maya memelukku satu detik, lalu langsung melepaskan.

“Itu profesional,” katanya.

“Sangat.”

“Kalau ditanya HR, saya sedang mencegah atasan jatuh.”

Raka masuk sebelum pintu menutup. “Sekarang bicara sama dia.”

“Aku akan bicara malam ini.”

“Bukan setelah legal final?”

Aku menatap angka lantai turun satu per satu. “Tidak. Malam ini.”

Dalam perjalanan ke toko, aku berhenti di kios kerajinan dekat gedung tua. Di etalase ada penanda buku berbentuk cincin tipis dari kuningan, sederhana, tanpa batu. Benda itu dipasang di halaman dan menyisakan lingkaran kecil di punggung buku.

Penjualnya tersenyum. “Untuk pasangan?”

“Untuk orang yang suka menghakimi cara orang lain memperlakukan buku.”

“Berarti pasangan.”

Aku membayar sebelum percakapan itu berkembang menjadi konsultasi pernikahan.

Kotak kecilnya masuk ke tas bersama salinan proposal. Bukan cincin romantis, bukan janji besar. Hanya penanda halaman—simbol bahwa percakapan kami tidak boleh lagi berhenti di tengah.

Saat mobil mendekati Aksara Senja, Maya menelepon. Tim legal membutuhkan tanda tanganku malam itu juga. Investor meminta rapat koordinasi di luar kota mulai besok pagi. Jika aku tidak datang, persetujuan bisa ditunda.

Aku melihat toko dari ujung jalan. Lampunya menyala, tetapi ada truk kecil parkir di depan dan dua kardus terlihat melalui kaca.

Aku mengetik pesan dengan jari gemetar.

Tunggu aku. Kali ini aku datang bukan buat beli apa pun.

Pesan terbaca hampir seketika.

Tidak ada balasan.

Aku menyimpan ponsel dan meminta sopir berputar menuju kantor. Malam ini, aku akan menyelesaikan kontrak. Setelah itu, tidak ada lagi angka yang boleh kupakai sebagai alasan untuk diam.