Chapter Seventeen

Angka yang Mulai Berbohong

POV: Patricia Davina
Sisa: 24 Hari

Slide keenam presentasiku menampilkan proyeksi pendapatan tiga tahun, tetapi yang kulihat justru cara Aditya berhenti satu napas terlalu cepat sebelum menciumku lagi.

“Patricia?”

Aku berkedip. Dua belas orang di ruang rapat sedang menunggu.

Pak Surya menunjuk layar. “Margin operasional tahun kedua?”

Angkanya ada tepat di depanku. Biasanya aku bisa menyebutkannya tanpa membaca.

“Dua puluh… delapan.”

Maya yang duduk di ujung meja batuk.

Aku melihat tabel. “Dua puluh empat koma delapan persen.”

Pak Surya mengangkat alis. Aku tidak pernah salah membaca angka dalam rapat. Apalagi mengubah desimal menjadi empat persen keuntungan tambahan.

“Lanjutkan,” katanya.

Aku menyelesaikan presentasi tanpa kesalahan lain, walau setiap kali bibirku bergerak, tubuhku mengingat bibir lain yang menempel singkat lalu pergi sebelum aku siap.

Begitu ruangan kosong, Maya menutup pintu.

“Dua puluh delapan persen?”

“Aku kurang tidur.”

“Kamu tersenyum ke grafik biaya konstruksi.”

“Grafiknya bagus.”

“Kamu dicium?”

Aku merapikan kertas. “Pertanyaanmu tidak profesional.”

“Berarti iya.”

Dia bertepuk tangan satu kali. Aku melempar pulpen, tetapi dia sudah menghindar sambil tertawa.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Singkat.”

“Bagus?”

Aku memikirkan tangan Aditya di pergelanganku, jeda ketika dia memberi ruang untuk mundur, dan tatapan setelahnya yang terasa seperti ingin tinggal sekaligus pergi.

“Terlalu bagus untuk durasinya.”

“Kemajuan tanda tangan?”

Senyumku hilang.

Maya membuka laporan akuisisi terakhir. Beberapa kalimat diberi tanda kuning.

Pemilik menunjukkan keterbukaan terhadap dialog.

Pendekatan personal meningkatkan peluang kesepakatan.

Hambatan utama sedang dipetakan.

“Ini semua cara rumit untuk bilang dia masih menolak,” kata Maya.

Dia menggulir ke tabel aktivitas. Kunjungan ke toko kutulis sebagai observasi lapangan. Program baca anak menjadi pemetaan pemangku kepentingan. Kencan di pasar buku kutulis sebagai verifikasi nilai aset nonfisik.

Tidak ada baris untuk ciuman.

“Kamu mulai mengubah bahasa supaya dirimu sendiri tidak perlu melihat apa yang terjadi,” kata Maya.

“Aku tidak bisa menulis perasaan di laporan direksi.”

“Aku tidak minta itu. Tulis bahwa pemilik belum bergeser satu sentimeter dan kamu justru mulai melindungi tokonya.”

“Kalau kutulis sekarang, Pak Surya akan mengambil alih.”

“Berarti angkanya bukan cuma berbohong ke dewan. Mereka membeli waktu buat kamu.”

Aku menutup layar. Maya benar, dan itu membuatku lebih defensif.

“Aku akan membawa solusi sebelum waktunya habis.”

“Kamu selalu bilang begitu sebelum menunda percakapan yang seharusnya terjadi.”

“Aku sedang membangun alternatif.”

“Yang belum kamu ajukan dan belum dia tahu.”

“Aku butuh angka dari Raka.”

“Kamu butuh jujur.”

Aku mengambil laporan itu. “Kalau aku bicara sekarang tanpa solusi, dia hanya tahu aku mendekatinya untuk mengambil toko.”

“Memang itu yang kamu lakukan di awal.”

“Tidak lagi.”

“Kalau begitu katakan bagian itu.”

Pintu terbuka sebelum aku bisa menjawab. Pak Surya masuk kembali untuk mengambil tablet, melihat laporan di tanganku, lalu berhenti.

“Ada perkembangan unit terakhir?”

“Sedang disiapkan opsi struktur baru.”

“Saya tidak menerima usulan struktur baru.”

“Belum final.”

“Kita tidak punya waktu untuk sempurna.” Dia memandangku lama. “Satu minggu. Saya perlu bukti konkret, penjualan atau alternatif yang bisa dibawa ke investor. Setelah itu saya ambil alih.”

“Saya paham.”

Pak Surya pergi. Maya tidak mengatakan sudah kubilang. Tatapannya lebih buruk karena penuh khawatir.

Sore itu aku kembali ke toko dan berjanji pada diri sendiri akan bersikap normal.

Aku bahkan menyusun aturan selama perjalanan: tidak menatap bibirnya, tidak menyentuh kerah, tidak mengungkit ciuman dalam lima menit pertama, dan tidak menunjukkan bahwa aku mengganti warna lipstik tiga kali sebelum berangkat.

Lonceng berbunyi. Aditya melihatku dari balik kasir, lalu tatapannya turun tepat ke warna lipstik yang akhirnya kupilih.

Aturan pertama gugur.

Rencana tersebut gagal saat Aditya menyambutku tanpa melihat bibirku sama sekali.

“Bukumu belum selesai,” katanya.

“Aku sibuk.”

“Kontraknya masih berlaku.”

“Aku punya urusan lain yang belum selesai.”

Dia seolah tidak memahami. Dia mengambil kumpulan cerita dari meja, membuka halaman yang kutandai, lalu berdiri di belakangku.

“Paragraf ini bagus,” katanya.

Suaranya sangat dekat dengan telingaku. Bahunya hampir menyentuh punggung. Dia membaca pelan, napasnya mengenai sisi leherku di setiap jeda. Kata-kata di halaman tidak masuk ke kepala. Aku hanya sadar satu tangannya bertumpu di meja di sampingku, membuatku berada di antara tubuhnya dan buku.

“Kamu sengaja,” kataku.

“Membaca?”

“Berdiri sedekat ini.”

“Tulisan bukunya kecil.”

“Bukunya ada di tanganku.”

“Makanya saya mendekat.”

Aku berbalik. Wajah kami hampir bertemu. Kali ini Aditya tersenyum tipis, jelas menikmati efek yang dia ciptakan.

“Kapan aku boleh menagih ciuman kedua?” tanyaku.

“Begitu kamu datang tanpa bohong.”

Jantungku berhenti satu ketukan.

“Maksudnya?”

“Tadi bilang sibuk. Saya lihat pesanmu ke nomor toko pukul dua pagi soal akhir cerita. Berarti bukunya sudah selesai.”

Aku mengembuskan napas, lalu menyenggol dadanya dengan buku. “Itu bukan bohong. Itu pengelolaan informasi.”

“Tetap belum boleh.”

Aku menurunkan buku. “Kamu menyesal?”

Pertanyaan itu keluar lebih jujur daripada yang kurencanakan.

Aditya menggeleng tanpa jeda. “Nggak.”

“Yakin?”

“Saya menyesal berhenti terlalu lama buat berpikir.”

“Berarti seharusnya mencium lagi.”

“Berarti seharusnya bertanya lebih cepat.”

Tangannya menyentuh sisi wajahku, ibu jari berhenti dekat sudut bibir tanpa melewati batas. Sentuhan itu hanya berlangsung satu detik, tetapi cukup untuk membuat semua aturan lain kehilangan fungsi.

Aku mengira itu hanya godaan. Namun ada sesuatu dalam matanya yang tidak ikut tersenyum.

Dalam hati, kuulang alasan yang sudah kupakai sejak hari pertama: “Aku cuma butuh satu tanda tangan.”

Masalahnya, tubuhku baru saja meminta ciuman. Tanganku sudah hafal takaran gula kopinya. Kalenderku punya lebih banyak blok untuk toko daripada untuk proyek.

Satu tanda tangan tidak menjelaskan semua itu.

“Kalau kita…” Aku berhenti, membenci betapa sulit kalimat ini. “Kalau kita melakukan ini, apa kita perlu memberi nama?”

“Melakukan apa?”

“Kamu tahu.”

“Saya mau dengar.”

Aku menatapnya. “Saling menginginkan.”

Keberanian itu membuat senyumnya hilang. Aditya menyentuh ujung jariku di atas buku, pelan, seolah mengakui kalimat tersebut tanpa memaksanya menjadi lebih besar.

“Belum perlu nama,” katanya.

Jawaban yang nyaman. Juga aman dari pertanyaan yang seharusnya kami jawab.

“Jadi kita tidak pacaran?”

“Kamu mau?”

Aku melihat kalender toko, lalu ponsel yang menyimpan pesan Raka tentang revisi desain. Memberi nama berarti memberi masa depan, sementara aku bahkan belum berani menjelaskan bagaimana hubungan ini dimulai.

“Belum,” jawabku.

“Baik.”

Aditya mengatakannya terlalu mudah. Aku membalik telapak tangannya dan menyelipkan jariku di sela jarinya, seolah perlu memastikan belum tidak terdengar seperti tidak.

“Tapi ini tetap milikku untuk ditagih,” kataku, mengangkat tangan kami.

“Genggaman tangan?”

“Termasuk yang lain.”

“Masih ada syaratnya.”

“Tapi aku tetap boleh menagih?”

“Kalau datang tanpa bohong.”

“Kamu sangat cerewet setelah satu ciuman.”

“Efek tunjangan baru.”

Aku tertawa, tetapi rasa bersalah tetap berada di antara kami.

Sebelum pulang, aku menoleh dari pintu. Aditya masih berdiri di tempat yang sama, jemarinya menyentuh bibir seperti sedang memeriksa ingatan. Aku hampir kembali dan memenuhi syaratnya saat itu juga. Namun ponselku bergetar membawa pesan Raka tentang angka revisi, dan sekali lagi aku memilih menyiapkan solusi sebelum mengucapkan kebenaran.

Malam itu aku menelepon Raka dari dalam mobil.

“Kembangkan desain alternatifnya,” kataku. “Diam-diam. Aku mau angka, dampak jumlah kamar, biaya, dan jalur legal sebelum akhir minggu.”

“Kamu siap membawanya ke investor?”

Aku melihat lampu Aksara Senja di kaca spion.

“Aku harus siap.”