Chapter Ten
Kontrak Membaca
POV: Aditya Pratama
Sisa: 35 Hari
Patricia datang tanpa payung.
Hujan semalam sudah berhenti. Matahari bahkan muncul sejak siang. Namun dia masuk sambil membawa buku yang selesai dibaca, sekotak kue, dan ekspresi seseorang yang sengaja meninggalkan barang bukti di rumah.
“Ada yang kurang,” kataku.
Dia memeriksa tas dengan gerakan berlebihan. “Dompet ada. Ponsel ada. Buku ada.”
“Payung.”
“Oh.”
Keterkejutannya buruk. Patricia bisa bernegosiasi dengan investor, tetapi tidak bisa berpura-pura lupa payung.
“Tertinggal,” katanya.
“Di mana?”
“Apartemen.”
“Kebetulan.”
“Aku memang pelupa.”
Aku melihat kartu akses yang kini dipasang pada tali di dalam tasnya, lalu buku yang selesai dalam dua hari karena dia tidak mau kalah. “Tentu.”
Dia meletakkan kotak kue di meja kasir. “Aku bawa kompensasi.”
“Payungnya tetap harus kembali.”
“Berarti aku harus datang lagi.”
“Sepertinya itu rencanamu.”
Patricia tidak menyangkal. Dia hanya tersenyum, lalu berjalan ke balik meja seolah ruang itu mulai menjadi miliknya juga.
Aku sudah tahu tujuan awal kedatangannya. Pengetahuan itu seharusnya membuat setiap godaan terasa palsu. Anehnya, justru sekarang aku bisa melihat bagian-bagian yang tidak cocok dengan strategi. Cara dia benar-benar kesal pada akhir novel. Cara dia selalu membawa kopi sendiri tetapi tetap meminum yang kubuat. Cara jarinya bertaut dengan tanganku semalam bahkan setelah lampu menyala.
Mungkin semuanya tetap taktik.
Aku memutuskan tidak akan menebak mana yang nyata. Belum.
Sebagai gantinya, aku mengeluarkan satu lembar kertas yang kutulis pagi tadi.
“Apa itu?” tanyanya.
“Kontrak membaca.”
Dia mengambil kertas tersebut. Di bagian atas tertulis PERJANJIAN PELANGGAN TETAP AKSARA SENJA. Di bawahnya ada tiga poin: satu buku per minggu, satu diskusi tanpa ringkasan internet, dan larangan melipat sudut halaman.
“Ini bukan kontrak.”
“Ada pihak pertama dan kedua.”
“Tidak ada jangka waktu.”
Aku menunjuk baris kosong di bagian bawah. Dalam pikiranku, jangka waktunya sudah ada: sampai tanggal yang dilingkari di kalender.
“Kita tentukan nanti.”
“Satu buku per minggu terlalu banyak.”
“Kamu selesai satu dalam dua hari.”
“Karena harga diriku diserang anak sepuluh tahun.”
“Motivasi tetap motivasi.”
Dia menarik pulpen dari sakuku tanpa izin dan menambahkan klausul baru: jumlah maksimal dua ratus halaman, ukuran huruf minimal sebelas, serta hak pembaca menolak tokoh utama menyebalkan.
“Hak terakhir nggak bisa ditegakkan.”
“Bisa. Aku tutup bukunya.”
“Itu pelanggaran kontrak.”
“Kalau begitu kamu harus menyediakan kompensasi.”
“Buku pengganti?”
“Makan malam.”
Aku melihatnya. Patricia pura-pura sibuk menambahkan tanda tangan di bagian bawah, tetapi ujung pulpennya berhenti bergerak.
“Dengan pemilik toko?” tanyaku.
“Tergantung siapa yang tersedia.”
“Bimo biasanya selesai kerja jam sembilan.”
Dia mengangkat wajah. “Aku bisa membatalkan kontrak ini sekarang.”
Aku mengambil pulpen dari tangannya. “Belum ditandatangani pihak pertama.”
Aku menulis namaku di sebelah tanda tangannya. Untuk beberapa detik, dua nama itu berdampingan di atas kertas yang sama. Hal remeh, tetapi bayangan dokumen penjualan mendadak melintas di kepala.
Aku melipat kontrak dan menyimpannya di laci kuitansi penting.
“Kenapa di situ?” tanyanya.
“Supaya nggak hilang.”
“Berarti kontrak kita penting?”
“Semua kuitansi penting untuk pajak.”
“Itu bukan kuitansi.”
“Kalau begitu saya salah simpan.”
Aku tetap menutup lacinya. Patricia mengetuk permukaan meja dua kali, puas karena tidak perlu mendapat pengakuan untuk mengetahui jawabannya.
Bimo masuk tepat ketika Patricia membuka kotak kue. Dia menatap kami, kertas yang baru kusimpan, lalu ruang sempit di balik kasir tempat kami berdiri terlalu dekat.
“Aku mengganggu penandatanganan pranikah?” tanyanya.
“Kontrak membaca,” jawab Patricia.
“Lebih serius lagi.”
Bimo menaruh satu gelas kopi di depanku dengan label tulisan tangan: KOPI PENYANGKALAN — DUA SHOT, TANPA KEBERANIAN.
Patricia membacanya keras-keras. “Ini menu baru?”
“Terinspirasi pelanggan,” kata Bimo.
“Rasanya?”
“Pahit di awal, menyesal belakangan.”
Aku merobek label itu dari gelas. Bimo menghindari tatapanku sambil memotong kue, tetapi aku tahu pesannya bukan hanya lelucon. Sejak menemukan kartu akses, dia menilai setiap kunjungan Patricia seperti hitungan mundur menuju bencana.
Patricia membawa dua potong kue ke sudut baca untuk Kirana yang katanya akan datang sebentar lagi. Begitu jaraknya cukup jauh, Bimo merendahkan suara.
“Kamu sudah bilang?”
“Belum.”
“Dia ada di balik kasirmu, membuat kontrak, dan mengajak makan malam.”
“Saya ada di sana. Nggak perlu laporan.”
“Semakin lama, semakin sulit.”
Aku melihat Patricia berjongkok di depan rak anak, memilih piring dengan motif paling utuh. Dia menemukan satu, membersihkannya dengan tisu, lalu menaruh potongan kue yang lebih besar di atasnya.
“Saya tahu.”
“Tapi tetap lanjut?”
“Untuk sekarang.”
Bimo menggeleng. “Kopi itu saya beri nama terlalu halus.”
Dia mungkin benar.
Setelah Bimo kembali ke kedai, Patricia memilih buku berikutnya. Aku memberinya kumpulan cerita pendek setebal seratus empat puluh halaman. Dia memeriksa ukuran huruf, jumlah halaman, bahkan berat buku seolah sedang menerima bahan bangunan.
Kirana datang sepuluh menit kemudian dan langsung mengambil potongan kue yang lebih kecil.
“Yang besar buat Kak Patricia,” katanya.
“Aku sudah makan,” jawab Patricia.
“Om Aditya bilang Kakak suka yang manis.”
Patricia menoleh kepadaku. “Om Aditya memperhatikan banyak hal.”
“Risiko kerja di toko sepi,” kataku.
Kirana memandang kami bergantian. “Kalau tokonya sepi, kenapa Kak Patricia datang terus?”
Tidak ada satu pun jawaban aman di ruangan itu. Patricia menyerahkan potongan besar kepada Kirana dan menyuruhnya fokus makan. Anak itu menerima suap tersebut, tetapi ekspresinya menunjukkan pertanyaan belum dibatalkan.
Setelah Kirana duduk, Patricia menyenggol lenganku dengan bahu. “Jawabanmu apa?”
“Saya pemilik toko. Saya wajib datang.”
“Aku bertanya kenapa aku datang terus.”
“Saya sedang menunggu kamu mengaku sendiri.”
Dia membuka bukunya lagi, tetapi senyumnya tertinggal cukup lama untuk kulihat.
“Kenapa harus satu buku per minggu?” tanyanya.
“Supaya kamu belajar sabar.”
“Aku sabar.”
“Kemarin kamu mengirim tujuh pesan dalam lima menit karena akhir bab digantung.”
“Itu keluhan konsumen.”
“Ke nomor toko pukul sebelas malam.”
“Layanan digital seharusnya dua puluh empat jam.”
Dia bersandar pada meja, membuka halaman pertama, dan mulai membaca. Lima menit kemudian, bahunya menyentuh lenganku. Ada cukup ruang untuk bergeser. Dia tidak melakukannya. Aku juga tidak.
Jam dinding berdetak di atas kami. Tiga puluh lima hari.
Aku hampir bertanya apa yang akan dia lakukan saat waktunya habis. Apakah dia akan berhenti datang setelah mendapat tanda tangan? Apakah kontrak konyol ini ikut selesai? Apakah payungku dikembalikan sebelum atau sesudah tokonya menjadi jalur masuk hotel?
Pertanyaan itu naik sampai tenggorokan, lalu kutelan.
Kalau aku bertanya, aku juga harus mengakui bahwa aku tahu.
Patricia menutup bukunya setelah satu halaman. “Tokohnya sudah menyebalkan.”
“Dia baru menyeduh teh.”
“Caranya menyeduh terlihat arogan.”
“Baca lagi.”
“Kalau tetap menyebalkan?”
“Datang lagi besok.”
Dia menatapku dari jarak dekat. “Untuk ganti buku?”
Aku bisa memberi jawaban aman. Seharusnya begitu.
“Untuk mengembalikan payung,” kataku.
Senyumnya tumbuh perlahan karena kami sama-sama tahu itu juga bukan alasan sebenarnya.
Malamnya, setelah toko tutup, aku membuka laptop untuk memperbarui daftar stok. Sebuah email baru masuk dengan subjek TINDAK LANJ PENAWARAN POSISI KURATOR ARSIP.
Lembaga budaya di Yogyakarta sudah menghubungiku dua bulan lalu. Aku mengabaikan wawancara pertama, lalu mengikuti yang kedua hanya karena Bimo mendaftarkanku tanpa izin. Sekarang mereka menawarkan posisi tetap, tempat tinggal sementara, dan batas waktu jawaban dua minggu.
Aku membaca email itu sampai selesai.
Di bawah layar, kalender toko masih terbuka pada tanggal yang dilingkari.
Untuk pertama kalinya, pergi bukan lagi sekadar kemungkinan yang kupakai untuk menakut-nakuti diri sendiri.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca reading
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup