Chapter Thirty Three
Sebelum Pintu Dikunci
POV: Aditya Pratama
Sisa: 1 Hari
Rak terakhir kosong pukul enam sore.
Bekas debu membentuk garis-garis pucat di dinding. Tanpa buku, Aksara Senja terdengar berbeda. Setiap langkah memantul. Setiap kendaraan dari jalan masuk terlalu jelas. Lonceng pintu tidak lagi diserap ribuan halaman, sehingga bunyinya tajam saat Bimo masuk membawa dua minuman.
Dia melihat ruangan, lalu berhenti.
“Saya benci kamu,” katanya.
“Antre.”
Dia meletakkan satu gelas di lantai. Tulisan pada sisinya berbunyi KOPI KEPUTUSAN BURUK TANPA GULA.
“Kenapa tanpa gula?” tanyaku.
“Supaya konsekuensinya terasa.”
Itu satu-satunya lelucon malam itu.
Meja kasir sudah diangkut siang tadi. Kursi klub baca, rak kecil, dan kotak inventaris berada di gudang sementara. Di tengah dinding kosong, aku sengaja menyisakan satu rak pendek dengan satu buku bersampul hijau diletakkan terbalik.
Novel dari hari pertama.
Bimo melihat buku itu. “Jadi ini rencanamu? Meninggalkan teka-teki sastra dan kabur?”
“Dia akan tahu buku itu buat dia.”
“Dia akan tahu kamu pengecut.”
“Itu juga.”
Aku duduk di lantai dan membuka halaman terakhir. Pensil yang biasa kami pakai untuk menulis di margin terasa ringan di tangan. Selama satu jam sebelumnya, aku sudah membuang enam versi catatan.
Versi pertama terlalu panjang. Versi kedua mencoba menjelaskan angka. Versi ketiga meminta maaf tanpa benar-benar menyebut kesalahan. Semua terdengar seperti caraku mengendalikan apa yang boleh dia rasakan setelah aku pergi.
Salah satu kertas yang kuremas masih terbuka di lantai. Di sana aku menulis bahwa kepergianku akan memudahkan proyeknya, bahwa pekerjaan di Yogyakarta adalah kesempatan baik, dan bahwa jarak mungkin membantu kami melihat semuanya lebih jernih.
Tidak ada satu pun kalimat tentang apa yang kuinginkan.
Aku ingin menunggu suara sepatunya di depan pintu. Ingin mendengar dia mengatakan istilah sastra yang salah hanya untuk membuatku membalas. Ingin melihat apakah dia benar-benar akan memberikan penanda buku yang kotaknya sempat kulihat di tas. Keinginan-keinginan itu terasa egois hanya karena selama bertahun-tahun aku berlatih menganggap kebutuhanku sebagai gangguan.
Kertas itu kuremas lagi dan dimasukkan ke kantong sampah.
Akhirnya aku menulis satu kebenaran yang seharusnya kuberikan sejak awal.
Tanganku berhenti beberapa kali. Bukan karena aku tidak tahu kalimatnya, tetapi karena setiap kata membuat keputusan pergi semakin sulit dipertahankan.
Ponselku menyala di lantai.
Besok tunggu aku. Aku bawa jawaban yang bukan tentang kontrak.
Aku membaca pesan itu dua kali. Tiga kali. Kata besok terasa seperti pintu yang dibuka tepat ketika aku sudah berdiri di luar.
“Balas,” kata Bimo.
Aku belum sadar dia membaca dari belakang bahuku.
“Jangan lihat pesan orang.”
“Jangan tinggalkan orang yang sedang menuju ke sini.”
“Kalau saya menunggu, dia akan memilih dalam keadaan panik.”
“Atau dia sudah memilih dan kamu takut mendengarnya.”
Aku menutup buku. “Proposalnya berhasil. Tokonya aman tanpa saya.”
“Dia tidak menulis tentang toko.”
Itu yang membuatku tidak bisa bernapas dengan benar.
Jawaban yang bukan tentang kontrak hanya bisa berarti sesuatu yang selama ini kuinginkan. Pengakuan. Permintaan tinggal. Mungkin kemarahan yang setidaknya memberiku tempat untuk membalas.
Aku bisa menunda tiket. Menunggu sampai pagi. Membiarkan Patricia masuk dan bicara tanpa strategi. Bahkan kalau akta tidak bisa dibatalkan, kami bisa mencari cara dari awal.
Untuk beberapa menit, masa depan itu terasa mungkin.
Aku membayangkan membuka pintu besok pagi. Dia akan masuk dengan kopi dan rambut berantakan setelah perjalanan. Aku akan menunjukkan akta. Dia akan marah, mungkin melempar satu kata korporat yang bahkan tidak kupahami. Lalu kami akan duduk di lantai karena meja sudah tidak ada dan bicara sampai semua alasan habis.
Tidak ada jaminan dia memilihku dalam bayangan itu. Namun setidaknya pilihannya benar-benar milik dia.
Tanganku bergerak ke layar. Aku mengetik Saya tunggu. Dua kata itu tinggal satu sentuhan dari terkirim.
Aku menghapusnya.
Lalu aku melihat pesan konfirmasi proyek di email. Timnya sudah bekerja tiga malam. Investor sudah memberi persetujuan. Jika aku ada di hadapannya besok, semua keputusan akan memiliki wajahku. Dia akan merasa harus memasukkan aku ke masa depan yang dibangunnya, bukan karena itu yang terbaik, tetapi karena dia tidak tahan melihatku pergi.
Ketakutan kembali menyamar sebagai kebaikan.
Aku mematikan layar tanpa membalas.
Bimo berdiri. “Saya tidak akan mengantar kamu.”
“Nggak perlu.”
“Saya juga tidak akan berbohong kalau dia bertanya.”
“Jangan beri alamat.”
“Kamu tidak berhak memerintah saya setelah ini.”
“Bim.”
Dia menatapku dengan mata merah dan marah. “Kamu pikir pergi membuat pengorbananmu bersih. Padahal kamu meninggalkan semua kekacauan di tangan orang yang bahkan tidak tahu sedang ditinggalkan.”
Aku ingin membantah. Tidak ada kalimat yang tersisa.
Bimo mengambil kunci gudang dari meja dan memasukkannya ke saku. “Saya urus barang komunitas. Kunci toko saya serahkan ke notaris besok. Sisanya bukan urusan saya.”
Di pintu, tangannya berhenti pada lonceng.
“Kalau kamu naik kereta malam ini,” katanya, “jangan bilang tidak ada yang mencoba menahan.”
Pintu tertutup. Lonceng berbunyi panjang, lalu diam.
Aku sendirian.
Album foto berada di dalam tas. Gambar Kirana diselipkan di antara pakaian. Label kecil bertuliskan Lima menit lagi masih ada di dompet. Semua bukti bahwa toko ini pernah menjadi rumah sudah dikemas agar mudah dibawa, tetapi tidak ada cara membawa suara Patricia mengeluh tentang kopi atau berat kepalanya di bahuku.
Di atas lantai dekat jendela, ada bekas lingkaran dari kursi favoritnya. Aku duduk di sana untuk terakhir kali. Dari posisi itu, pintu terlihat jelas. Aku akhirnya mengerti kenapa dia menyukainya: siapa pun yang masuk bisa terlihat sebelum lonceng berbunyi.
Selama beberapa menit, setiap bayangan kendaraan membuatku mengangkat kepala. Keretanya masih tertahan ratusan kilometer dari sini, tetapi sebagian diriku tetap menunggu sesuatu yang mustahil—dia muncul lebih cepat hanya karena selalu berhasil memaksa dunia mengikuti jadwalnya.
Yang datang hanya notifikasi keberangkatan.
Aku menyelesaikan catatan di halaman terakhir. Di balik halaman itu, kuselipkan salinan akta penjualan. Bukan untuk menyakiti, tetapi karena dia berhak tahu tanggal sebenarnya. Kebaikan yang terlambat terasa hampir sama dengan kekejaman.
Jam menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas. Kereta berangkat satu jam dua puluh lima menit lagi.
Aku berdiri di dekat pintu dan mematikan lampu satu per satu.
Lantai dua lebih dulu. Lalu lampu gudang. Lampu dekat rak yang dulu selalu kubiarkan menyala sampai Patricia pergi menjadi yang terakhir.
Di pintu, tanganku memegang kunci. Selama berminggu-minggu, tangannya selalu menumpuk di atas tanganku. Kadang sambil mengantuk, kadang sambil tertawa, seolah memutar logam kecil bersama adalah janji yang tidak perlu diucapkan.
Malam ini tidak ada tangan lain.
Aku hampir membuka pintu lagi. Hampir menyalakan lampu dan menunggu sampai pagi. Hampir memberi kami waktu tambahan yang selalu dia minta dan selalu kuberikan.
Namun kunci tetap berputar.
Papan kubalik ke sisi TUTUP. Buku hijau terlihat sendirian melalui kaca, terbalik di tengah rak kosong.
Kunci cadangan kumasukkan ke amplop untuk notaris. Di belakangnya kutulis nomor Bimo sebagai kontak inventaris dan jadwal pengambilan barang komunitas. Tidak kutulis alamat baruku. Satu baris kosong tersedia untuk kontak darurat, dan aku membiarkannya kosong meski nama yang ingin kutulis sudah memenuhi seluruh kepala.
Aku mengangkat tas, berjalan ke ujung jalan, dan tidak menoleh ketika angin membuat lonceng di balik pintu berbunyi sekali.
Di stasiun, kereta Patricia diumumkan terlambat memasuki kota.
Aku berdiri di peron dengan satu tas pakaian dan satu kotak buku. Pengumuman menyebut keretanya diperkirakan tiba sembilan jam lagi. Jika aku membatalkan keberangkatan, aku hanya perlu keluar dari antrean dan kembali ke toko.
Pintu kereta di depanku terbuka.
Bimo tidak datang. Tidak ada orang yang melambaikan tangan. Ketika petugas memeriksa tiket, aku sempat berharap ada masalah pada namaku atau gerbong dibatalkan—sesuatu yang mengambil keputusan dari tanganku.
Tiket itu valid.
Aku naik.
Kereta ke Yogyakarta berangkat tepat waktu.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci reading
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup