Chapter Four

Perempuan yang Tidak Suka Kalah

POV: Aditya Pratama
Sisa: 42 Hari

Pesan pertama Patricia masuk pukul sembilan lewat tujuh belas, satu jam setelah toko tutup.

Kenapa tokoh utamanya pulang kalau dari awal dia ingin pergi?

Aku membaca pesan itu dua kali, bukan karena pertanyaannya sulit. Nomor toko tercetak di struk, tetapi hanya sedikit pelanggan yang menggunakannya untuk mengajukan protes terhadap keputusan tokoh fiksi.

Aku mengetik jawaban.

Baru bab satu.

Tiga titik muncul hampir seketika.

Aku sedang mengevaluasi konsistensi karakter.

Baru bab satu, kukirim lagi.

Balasannya berupa stiker perempuan memutar mata. Aku tidak tahu kapan nomor toko mulai menerima stiker, tetapi malam itu aku menyimpannya sebagai kontak.

Namanya kutulis Patricia—Buku Terbalik.

Lalu kuhapus bagian belakangnya.

Keesokan sore dia datang pukul enam kurang dua belas. Aku tahu karena sejak pukul lima, mataku sudah beberapa kali bergerak ke jam dinding tanpa alasan. Ketika lonceng pintu berbunyi, aku sedang menyusun buku di rak sejarah dan memasukkan satu judul ke tempat yang salah.

Dia mengenakan kemeja krem dan celana hitam. Rambutnya diikat rendah. Tidak ada map perusahaan, tetapi jam tangan tipis yang sama masih melingkar di pergelangan kirinya. Sepatunya lebih masuk akal untuk lantai toko, walaupun harganya mungkin cukup untuk membayar listrik sebulan.

Patricia tidak datang karena buku.

Hal itu sudah jelas sejak hari pertama. Orang yang datang untuk membeli buku biasanya melihat rak lebih dulu, bukan mengukur lebar fasad, posisi akses belakang, dan tinggi langit-langit. Dia memakai istilah negosiasi bahkan ketika memesan bacaan. Tatapannya selalu mencari celah.

Aku belum tahu kenapa dia kembali sebagai pelanggan setelah datang sebagai pengembang. Mungkin dia ingin membuatku nyaman. Mungkin ingin mengetahui angka yang tidak kutulis di penawaran. Mungkin memang tidak suka kalah.

Kemungkinan terakhir terasa paling jujur.

“Sudah sampai mana?” tanyaku ketika dia mendekat.

“Bab empat.”

“Isi bab dua?”

“Tokohnya sedih.”

“Bab tiga?”

“Masih sedih, tapi di tempat berbeda.”

Aku menatapnya.

Dia meletakkan tas di meja kasir. “Aku membaca.”

“Ringkasannya?”

“Bukunya.”

“Tanda pensil di halaman tiga belas bilang sebaliknya.”

Wajahnya berhenti sepersekian detik. “Kamu menandai buku pelanggan?”

“Buku bekas. Sudah ada tanda dari pemilik sebelumnya.”

“Itu jebakan.”

“Itu bekas catatan orang.”

“Yang kamu manfaatkan sebagai jebakan.”

Aku membiarkannya menang dalam kalimat terakhir. Dia tampak terlalu puas, padahal jelas belum membaca lebih dari dua bab.

Menjelang pukul tujuh, Bimo masuk membawa dua gelas kopi dan energi yang tidak pernah diminta siapa pun. Kaosnya bertuliskan KOPI DULU, KEPUTUSAN BURUK NANTI. Dia menaruh satu gelas di depanku, lalu melihat Patricia yang sedang berpura-pura membaca di kursi dekat jendela.

“Oh,” katanya panjang.

Aku membuka tutup gelas. “Apa?”

“Nggak ada.”

“Kalau nggak ada, kembali ke kedai.”

Dia justru mendekatkan tubuh ke meja. “Itu yang datang kemarin pakai mobil hitam?”

“Banyak orang pakai mobil hitam.”

“Yang bikin kamu membersihkan kaca depan pagi-pagi.”

“Kacanya kotor.”

“Sudah kotor sejak Lebaran.”

Patricia mengangkat kepala. “Kalian sedang membicarakan aku?”

“Iya,” jawab Bimo.

“Nggak,” jawabku bersamaan.

Dia menutup bukunya dan berjalan mendekat. Seorang mahasiswa yang sedang mencari kamus menoleh, lalu salah mengambil ensiklopedia tanaman dari rak bahasa. Patricia tidak menyadarinya. Bimo menyadari dan senyumnya melebar seperti baru mendapat bahan gosip untuk sebulan.

“Saya Bimo,” katanya, mengulurkan tangan. “Sahabat pemilik toko, pemasok kopi, dan saksi bahwa dia sebenarnya bisa bicara lebih dari lima kata.”

Patricia menjabat tangannya. “Patricia. Pelanggan.”

“Pelanggan?” Bimo melihatku. “Bagus. Biasanya pelanggan nggak bikin orang ini menyisir rambut dua kali.”

“Keluar,” kataku.

“Kopinya belum dibayar.”

“Masukkan tagihan.”

“Dengan nama apa? Biaya menjamu pelanggan khusus?”

Aku menunjuk pintu.

Bimo tertawa dan berjalan mundur. Sebelum keluar, dia mengacungkan dua jempol kepada Patricia dari balik punggungku. Lonceng berbunyi, lalu toko terasa sepuluh tingkat lebih tenang.

Mahasiswa yang tadi salah rak mendekati kasir sambil membawa ensiklopedia tanaman. Dia meletakkannya dengan ragu.

“Kamus bahasa Inggrisnya jadi ini?” tanyaku.

Dia melihat buku di tangannya, lalu ke Patricia, kemudian kembali kepadaku. “Saya sebenarnya suka tanaman.”

“Tadi bilang ada ujian besok.”

“Tanaman juga penting.”

Patricia menahan tawa dengan menggigit bibir. Aku mengambilkan kamus yang benar dan menukarnya. Mahasiswa itu pergi dengan wajah merah, nyaris menabrak pintu.

“Kamu membuat pelanggan salah beli,” kataku.

“Aku bahkan tidak bicara dengannya.”

“Itu yang mengkhawatirkan.”

“Kamu cemburu karena dia melihatku?”

“Saya khawatir soal akurasi inventaris.”

“Jawaban aman.”

Dia tersenyum seperti baru menemukan bagian kecil diriku yang bisa dipakai untuk mengganggu hidupku nanti.

“Jadi,” kata Patricia, menahan senyum, “kamu menyisir rambut dua kali?”

“Bimo juga menjual kopi bernama Patah Hati Gula Aren. Jangan percaya penilaiannya.”

“Kamu belum menjawab.”

“Bukunya belum selesai.”

“Itu juga bukan jawaban.”

Aku mengambil gelas kopi dan meminumnya supaya tidak perlu mencari kalimat lain. Kopinya pahit. Bimo pasti sengaja tidak memberi gula.

Patricia kembali ke kursinya, kali ini benar-benar membuka halaman yang tadi dia tinggalkan. Selama dua puluh menit berikutnya, dia membaca enam halaman. Keningnya berkerut setiap menemukan kalimat panjang. Sesekali bibirnya bergerak tanpa suara. Dia sama sekali tidak pandai berpura-pura santai, tetapi terlalu keras kepala untuk berhenti.

Aku seharusnya terganggu. Kehadirannya punya tujuan. Perempuan seperti dia tidak menghabiskan dua sore di toko rugi tanpa menghitung hasil. Namun ada sesuatu yang lucu dari kesungguhannya mempertahankan sandiwara. Dia bisa saja menyuruh orang mengumpulkan data tentangku, dan mungkin sudah. Tetap saja dia duduk di kursi kayu keras, membaca novel yang tidak dia sukai, hanya karena kemarin aku melihat bukunya terbalik.

Menjelang tutup, dia membeli pembatas buku murah. Setelah pergi, aku menemukan struk pembeliannya di lantai dekat kasir.

Aku memungutnya. Seharusnya langsung dibuang.

Sebaliknya, kulipat sekali dan kuselipkan ke laci tempat kuitansi penting.

Tindakan itu tidak punya alasan masuk akal. Aku juga tidak berusaha mencarinya.

Di lantai dua, lampu gudang berkedip sebelum menyala. Tiga kardus buku baru menunggu dibayar. Di atas meja restorasi ada surat penagihan sewa gudang luar yang sudah melewati tanggal jatuh tempo. Aku membukanya, menghitung ulang angka yang sudah kuhafal, lalu menutupnya lagi.

Penjualan toko turun hampir dua puluh persen tahun ini. Program baca anak tidak menghasilkan uang. Klub baca lebih sering membeli satu teko teh daripada buku. Atap belakang harus diperbaiki sebelum musim hujan berikutnya.

Penawaran Nawasena cukup untuk melunasi semuanya dan memulai hidup lain.

Di bawah surat penagihan terselip foto lama ibu di depan toko. Cat hijau pada fasad saat itu masih utuh, dan papan nama belum miring. Tangannya memegang stempel matahari tenggelam yang sama seperti yang kupakai setiap hari. Di belakang foto, tulisannya sudah memudar: Kalau orang masih mau masuk, nyalakan lampunya.

Aku meletakkan foto itu kembali dalam posisi semula.

Menjual bangunan mungkin mudah. Menjelaskan kepada diri sendiri bahwa aku tidak sedang menjual kalimat terakhirnya adalah bagian yang belum pernah berhasil kulakukan.

Masalahnya bukan harga. Patricia benar soal itu, meski aku tidak ingin memberinya kepuasan.

Aku mematikan lampu lantai dua dan turun. Buku yang dia baca tadi tertinggal sebentar di kursi sebelum dia berbalik mengambilnya. Ada sehelai rambut panjang di sandarannya. Aku menepisnya, lalu merasa bodoh karena gerakanku terlalu hati-hati.

Pukul sembilan lewat empat puluh dua, pesan lain masuk.

Aku sampai bab enam. Tokohnya masih menyebalkan.

Aku tersenyum pada layar.

Mungkin kamu mirip dia.

Balasannya lebih cepat daripada sebelumnya.

Aku jauh lebih menyenangkan.

Aku menatap toko yang gelap, rak-rak tua, dan satu gelas kopi pahit yang belum habis.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku berharap besok datang sedikit lebih cepat.