Chapter Thirty Four

Hari Toko Itu Tutup

POV: Patricia Davina
Sisa: 0 Hari

Aku membawa dua kopi, satu proposal, satu penanda buku berbentuk cincin, dan pengakuan yang sudah kulatih sepanjang perjalanan.

Kereta tiba pukul tujuh lewat empat puluh pagi. Aku tidak pulang untuk mandi atau mengganti pakaian. Maya menjemput di stasiun dan mencoba mengambil salah satu kopi.

“Itu bukan untukmu,” kataku.

“Saya bekerja tiga hari tanpa tidur.”

“Beli sendiri.”

“Cinta membuat atasan semakin pelit.”

Itu lelucon terakhir yang sempat terasa seperti lelucon.

Mobil berhenti di depan Aksara Senja pukul delapan lewat dua belas. Papan TUTUP menghadap jalan. Tidak ada lampu di dalam, tetapi pintunya terbuka sedikit. Kunci kuningan tergantung pada kait, sudah dilepas setelah akses serah terima pagi.

Biasanya, sebelum aku mengetuk, pintu akan terbuka dari dalam. Aditya selalu mengaku kebetulan berada dekat pintu meski kadang aku melihat bayangannya menunggu di balik rak.

Pagi ini tidak ada bayangan.

Aku mendorong pintu. Lonceng berbunyi terlalu keras.

“Aditya?”

Aku menunggu komentar tentang jam operasional, kopi yang akan dingin, atau caraku masuk tanpa izin.

Tidak ada jawaban.

Aku hampir berkata bahwa humornya memburuk. Kalimat itu sudah sampai di bibir sebelum mataku menyesuaikan diri dengan ruangan.

Toko telah kosong.

Rak-rak hilang. Kursi dekat jendela hilang. Dinding memperlihatkan bidang-bidang pucat tempat furnitur pernah berdiri. Bahkan meja kasir tidak ada. Hanya bekas persegi lebih terang di lantai, tepat di tempat aku pernah duduk di antara kedua lengannya dan meminta dia tidak berhenti.

Aku masih bisa melihat susunan lama tanpa benda-bendanya. Rak sastra di kiri. Program baca di belakang. Novel biru di bawah meja. Tubuhku mengingat jalur menuju kasir dan berbelok otomatis, lalu berhenti di ruang kosong.

“Dia pasti memindahkan sementara,” kataku.

Suara itu tidak terdengar seperti milikku.

Maya berjalan ke gudang, membuka pintu, lalu kembali tanpa mengatakan apa-apa. Gudang itu juga kosong.

Dua cangkir di tanganku bergetar. Salah satu tutupnya terlepas, menumpahkan kopi ke jariku. Tidak ada tangan yang mengambilnya. Tidak ada kain lap disodorkan. Tidak ada cangkir baru dibuat tanpa diminta.

“Mungkin barangnya dipindah ke gudang,” kata Maya dari belakangku.

Dia tidak terdengar percaya.

Aku meletakkan kopi di lantai dan berjalan ke tangga. Lantai dua kosong. Meja restorasi, alat jahit, buku-buku rusak, dan kursi tempat aku pernah tertidur sudah tidak ada. Bekas kaki meja menjadi empat titik gelap pada lantai.

“Aditya!”

Namanya memantul lalu kembali kepadaku.

Aku menelepon. Sambungan aktif, tetapi tidak diangkat. Dari bawah tidak terdengar nada dering.

Ketika turun, akhirnya aku melihat satu benda di tengah ruangan: rak pendek dengan sebuah buku bersampul hijau diletakkan terbalik.

Buku pertama yang kupegang saat datang sebagai pelanggan palsu.

Kakiku kehilangan kekuatan sebelum sampai. Aku berlutut di depan rak dan mengambilnya. Di halaman tujuh masih ada catatan pensil: Bukunya terbalik. Di bawahnya, jawabanku tentang gravitasi naratif terlihat begitu bodoh hingga aku refleks menunggu dia mengoreksi istilah itu.

Keheningan menjawab lebih dulu.

“Aku akan telepon Bimo,” kata Maya.

Aku tidak menghentikannya. Jemariku membalik halaman terlalu cepat, mencari sesuatu yang bahkan belum kuketahui. Sticky note, lipatan, satu tanda yang menjelaskan kenapa ruangan ini terasa seperti tubuh yang ditinggalkan jiwanya.

Di halaman terakhir, ada tulisan dengan pensil yang sama.

Aku tahu kamu datang untuk mengambil toko ini. Aku tetap membiarkanmu masuk karena cuma itu caraku punya waktu sama kamu.

Aku membaca kalimat itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Huruf-hurufnya tidak berubah. Tidak muncul penjelasan baru di antara garis pensil. Tanganku menekan halaman seolah sentuhan bisa memaksa kalimat itu mundur ke waktu sebelum ditulis.

Ada bekas penghapus di bawah catatan. Dia pernah menulis sesuatu yang lebih panjang, lalu memilih meninggalkan satu kebenaran paling tajam. Bahkan dalam perpisahan, dia merapikan kata-katanya agar aku hanya menerima luka yang menurutnya perlu.

Hari ketujuh muncul di kepalaku: malam ketika kartu identitasku tertinggal, cara tatapannya berubah, pertanyaan yang mulai memiliki arti ganda. Semua hari setelahnya ikut runtuh ke tempat baru.

Dia tahu saat membiarkanku menyusun rak. Tahu saat memberiku kopi. Tahu saat menciumku untuk pertama kali. Tahu saat bertanya apakah aku akan mencarinya jika semua hilang.

Lima menit tambahan yang selalu dia berikan bukan kemurahan waktu. Itu hitung mundur.

Tanganku di atas tangannya ketika mengunci pintu bukan sekadar kebiasaan. Dia sedang menghafal sesuatu yang sudah tahu akan dilakukan sendirian.

Ciuman di meja kasir, kening yang bersentuhan, janji menghabiskan kopi sebelum dingin—semuanya nyata. Justru karena nyata, kebohongan di sekelilingnya terasa lebih tajam.

Aku duduk di lantai. Maya berjongkok beberapa langkah dariku, masih memegang ponsel. Wajahnya mengatakan Bimo sudah menjawab dan kabarnya tidak baik.

“Dia pergi?” tanyaku.

Maya mengangguk. “Kereta tadi malam.”

“Ke mana?”

“Bimo tidak mau bilang lewat telepon. Dia sedang ke sini.”

Aku menatap pintu. Selama ini aku yakin bisa menemukannya. Aku mengatakannya dengan sombong karena memiliki tim, sistem, dan akses ke hampir semua data yang kubutuhkan.

Sekarang aku menemukan kebenaran, tetapi tidak menemukan orangnya.

Di bawah catatan ada satu kalimat lain, lebih kecil.

Maaf karena memilih untukmu. Aku terlalu takut kamu akan memilihku lalu menyesal.

Marah muncul di tengah tangis.

Dia mencintaiku. Dia juga tidak percaya aku cukup kuat menanggung pilihanku sendiri. Dia memakai kebaikan sebagai alasan untuk mengambil hak yang sama persis seperti yang pernah kuambil darinya.

Kami begitu sibuk saling melindungi sampai berhasil menghancurkan kesempatan satu sama lain.

Kotak penanda buku masih ada di tas. Aku mengeluarkannya dan menaruh cincin kuningan pada halaman terakhir. Hadiah itu datang tepat waktu untuk menandai akhir yang tidak sempat kubaca bersamanya.

“Jangan jatuh cinta sebelum toko ini tutup.”

Dulu kalimat itu terdengar seperti candaan setelah ciuman pertama. Sekarang aku mengerti itu bukan larangan. Itu cara orang yang sudah tahu tanggal perpisahan meminta dirinya sendiri untuk tidak berharap terlalu banyak.

Aku gagal mematuhinya.

Di dekat kakiku, dua kopi mulai dingin. Salah satunya masih penuh. Yang lain tumpah sedikit dan membentuk noda gelap di lantai, persis di tepi bekas meja kasir.

Proposal penyelamatan berada di dalam tabung. Semua tanda tangan investor lengkap. Desain baru mempertahankan bangunan, merek, dan ruang komunitas. Aku datang membawa bukti bahwa pengorbanannya tidak perlu.

Aku terlambat satu malam.

“Aku cuma butuh satu tanda tangan.”

Itu kalimat yang terus kupakai untuk membuat semuanya terdengar sederhana. Seolah satu tinta di atas kertas bisa menyelesaikan proyek tanpa mengambil manusia di belakangnya. Sekarang semua tanda tangan sudah ada, dan tidak satu pun mampu membuatnya tetap tinggal.

Tangisku pecah bukan karena toko kosong. Toko bisa dibangun kembali. Rak bisa dipasang. Buku bisa dibeli. Bahkan papan tua bisa dipulihkan.

Yang tidak bisa kukembalikan adalah kesempatan untuk berkata bahwa aku mencintainya sebelum dia memutuskan jawabanku sendirian.

Aku membalik halaman catatan. Selembar dokumen terlipat jatuh ke lantai.

Salinan akta penjualan.

Tanggal di bagian bawah membuat napasku berhenti.

Dua belas hari sebelumnya.

Hari ketika dia duduk di lantai dua dengan mata merah. Hari ketika aku memegang wajahnya, mengecup keningnya, dan berkata dia boleh meminta ditahan kalau ingin pergi.

Dia sudah menandatangani.

Dia hampir memintaku menahan, lalu memilih menutupi akta dengan cangkir kopi.

Aku menekan dokumen itu ke dada dan membungkuk sampai kening menyentuh lantai tempat meja kasir pernah berdiri. Lonceng berbunyi ketika angin membuka pintu sedikit lebih lebar.

Untuk satu detik yang kejam, tubuhku mengira dia kembali.

Aku mengangkat kepala.

Pintu tetap kosong.