Chapter Fourteen

Cemburu yang Tidak Profesional

POV: Patricia Davina
Sisa: 29 Hari

Perempuan itu memanggil Aditya dengan nama panggilan.

Sehari sebelumnya aku berhasil membuat Aditya salah menaruh dua buku hanya dengan berdiri di sebelah Raka. Secara teori, itu seharusnya cukup membuktikan ketertarikannya.

Masalahnya, keberhasilan tersebut membuatku mulai menganggap perhatian Aditya sebagai sesuatu yang berhak kuharapkan.

Jadi ketika seorang perempuan masuk, menyebutnya Dit, dan menerima senyum yang tampak sudah dikenal bertahun-tahun, seluruh kedewasaan profesionalku pergi tanpa mengisi formulir cuti.

“Dit, kamu masih simpan pesananku di rak belakang?”

Aku berhenti mengetik. Tidak banyak orang memanggilnya Dit. Bimo, beberapa pelanggan tua, dan sekarang perempuan berambut pendek yang baru masuk sambil membawa senyum terlalu akrab.

Aditya keluar dari balik kasir. “Masih. Saya kira baru diambil minggu depan.”

“Suamiku ulang tahun besok. Aku hampir lupa.”

Kata suami tidak terdengar jelas karena tepat saat itu sebuah motor lewat dengan knalpot yang seharusnya dilarang negara. Yang kudengar hanya ulang tahun besok.

Perempuan itu menyentuh lengan Aditya. “Kamu selalu menyelamatkanku.”

Aku menekan tombol keyboard terlalu keras.

“Ini siapa?” tanyanya, menoleh kepadaku.

“Patricia,” jawabku sebelum Aditya sempat bicara. “Saya membantu toko.”

“Nadine.” Dia mengulurkan tangan. “Teman lama Aditya.”

Tentu. Teman lama. Dua kata yang diciptakan untuk menyembunyikan banyak hal sambil tetap terdengar tidak bersalah.

Nadine mencari hadiah tambahan. Aku bangkit dari kursi dan menawarkan bantuan dengan keramahan yang bahkan membuat Aditya mengangkat alis.

“Suamiku suka buku perjalanan dan romansa,” kata Nadine.

Knalpot motor kedua lewat di luar tepat pada kata pertama. Aku hanya menangkap bagian akhir.

“Kombinasi yang sulit,” kataku. “Biasanya orang melakukan perjalanan untuk menjauh dari masalah romansa.”

“Dimas justru melamarku waktu kami tersesat di Lombok.”

“Romantis,” kata Aditya.

“Kamu yang membantu pilih cincinnya,” ujar Nadine.

Aku menatap Aditya. Jadi mereka pernah memilih cincin bersama. Informasi itu tidak membaik hanya karena mungkin punya penjelasan masuk akal.

“Dulu Nadine dan Dimas pelanggan klub baca kampus,” jelasnya, seolah membaca pikiranku. “Dimas minta bantuan karena selera perhiasannya buruk.”

“Masih buruk,” kata Nadine. “Makanya tahun ini aku minta bantuan pilih buku.”

Aku tersenyum sangat manis. “Mari kita cari yang benar-benar berkesan.”

“Kalau suka romansa, ini bagus,” kataku, mengambil buku dari rak terdekat.

Aditya melihat sampulnya. “Tokoh utamanya meninggal di halaman tiga puluh.”

“Itu membuat ceritanya singkat dan berkesan.”

“Aku cari yang akhir bahagia,” kata Nadine.

“Yang ini bahagia,” jawabku sambil memilih buku lain.

“Mereka bercerai,” kata Aditya.

“Bahagia untuk pengacaranya.”

Nadine tertawa. Aditya menyandarkan bahu ke rak, jelas menikmati sesuatu yang sama sekali tidak lucu.

Aku mengambil buku ketiga. “Ini pasti cocok.”

“Horor,” katanya.

“Hubungan panjang memang begitu.”

“Patricia,” Aditya memanggil pelan, nada yang terdengar seperti peringatan sekaligus tawa.

“Aku hanya membantu pelanggan.”

“Pelanggan ingin hadiah, bukan perceraian dan hantu.”

Nadine menatap kami bergantian. “Kalian pacaran?”

“Tidak,” jawabku terlalu cepat.

“Belum,” jawab Aditya pada saat yang sama.

Aku menoleh tajam. Dia mengambil buku dari tanganku tanpa terlihat sedikit pun terganggu.

“Belum lulus masa percobaan,” lanjutnya.

Nadine tersenyum lebar. “Oh, jadi ini pegawai baru yang kamu ceritakan?”

Aku menatap Aditya. “Kamu menceritakan aku?”

“Dia bertanya kenapa toko punya spreadsheet.”

“Kamu bilang apa?”

“Ada pelanggan yang sulit berhenti bekerja.”

Nadine akhirnya memilih buku esai perjalanan yang direkomendasikan Aditya. Mereka berbicara tentang seseorang bernama Dimas, rencana liburan, dan kedai lama yang sudah tutup. Setiap kali Nadine tertawa, dia menyentuh lengan Aditya lagi.

Aku kembali ke laptop dan mengetik pesan kepada Maya.

Ada pelanggan loyal dengan kedekatan historis tinggi. Perlu mitigasi risiko terhadap stabilitas operasional.

Balasannya datang seketika.

Kamu cemburu?

Saya sedang menganalisis customer retention.

Kamu pakai saya. Berarti parah.

Aku mematikan layar.

Ponsel langsung berdering. Maya tidak puas hanya menerima pesan.

“Jadi namanya siapa?” tanyanya begitu kuangkat.

“Aku tidak sedang membahas orang.”

“Kamu menulis pelanggan loyal dengan kedekatan historis tinggi. Itu bahasa direktur untuk perempuan yang ingin kamu pindahkan ke cabang lain.”

“Aku tidak punya kewenangan memindahkan pelanggan toko buku.”

“Berarti kamu sudah mempertimbangkannya.”

Aku melirik Aditya. Dia sedang membungkus buku Nadine, tetapi senyum tipisnya menunjukkan dia mendengar cukup banyak.

“Aku tutup sekarang.”

“Cari tahu dulu statusnya.”

“Maya.”

“Ini mitigasi risiko.”

Aku benar-benar memutus panggilan kali ini.

Setelah Nadine membayar, Aditya menyerahkan bungkusan dan berkata, “Semoga suamimu suka.”

Kata itu terdengar sempurna kali ini.

Aku membeku.

Nadine mengucapkan terima kasih, lalu pergi. Lonceng belum selesai berbunyi ketika Aditya berbalik kepadaku.

“Tiga buku.”

“Apa?”

“Kamu merekomendasikan tiga buku buruk supaya dia cepat pulang.”

“Aku tidak tahu seleranya.”

“Kamu bahkan belum baca dua di antaranya.”

“Aku membaca sinopsis.”

“Satu horor.”

“Romansa juga bisa menakutkan.”

Aditya berjalan mendekat. “Kamu cemburu.”

“Tidak.”

“Ekspresi direktur ternyata mudah diaudit.”

“Aku tidak cemburu pada perempuan bersuami.”

“Tadi kamu belum tahu.”

Aku menutup laptop dan berdiri. “Aku ada rapat.”

Dia menangkap pergelangan tanganku sebelum aku sempat mengambil tas.

Sentuhannya tidak keras. Cukup tegas untuk menghentikan langkah, cukup longgar agar aku bisa menarik diri kapan saja.

Aku melihat tangannya, lalu wajahnya. “Lepaskan.”

Aditya langsung melonggarkan jari.

Aku tidak pergi.

Sebaliknya, aku membalik telapak tanganku di dalam genggamannya sampai kulit kami bertemu penuh. Jari kami hampir bertaut.

“Kalau mau nahan aku,” kataku, mendekat setengah langkah, “pegang yang benar.”

Mata Aditya turun ke mulutku. Jarinya bergerak mengikuti sela jemariku, menggenggam dengan tepat seperti yang kuminta.

Satu detik.

Dua.

Tidak ada tangga bergerak, listrik mati, atau alasan lain.

Lalu dia melepas perlahan. “Rapatmu?”

Aku tetap berdiri dekat. “Kenapa dilepas?”

“Karena kamu tadi bilang lepaskan.”

“Lalu aku menyuruh pegang yang benar.”

“Instruksimu berubah cepat.”

“Kamu keberatan?”

“Saya sedang memastikan versi terakhir.”

Aditya mengangkat tangannya lagi, tetapi berhenti beberapa sentimeter dari tanganku. Dia memberiku ruang untuk memilih. Aku menyentuhkan ujung jari lebih dulu. Jemarinya menutup pelan, tidak menggenggam penuh kali ini—cukup untuk membuat pertanyaan di matanya terasa jelas.

“Versi terakhir,” kataku, “aku belum mau pergi.”

Dia mengangguk. Tidak tersenyum, tidak mengubahnya menjadi lelucon. Keseriusannya justru membuat tenggorokanku kering.

Lalu dari luar, Bimo menempelkan kertas ke kaca bertuliskan TOKO MASIH BUKA. Aku langsung menarik tangan. Aditya menutup mata sebentar, dan Bimo berlari kembali ke kedainya sambil tertawa.

“Bisa terlambat lima menit.”

“Tadi katanya penting.”

“Aku sedang menyelesaikan risiko operasional.”

Sudut bibirnya terangkat. “Sudah stabil?”

“Belum. Perlu pengawasan.”

Aku meraih tas, tetapi kali ini tidak terburu-buru. Di pintu, Aditya memanggil namaku.

“Kalau nggak ada inventaris, acara, atau buku yang harus dibahas,” katanya, “kamu masih akan datang?”

Pertanyaan itu menghentikanku lebih efektif daripada genggaman tadi.

Jawaban jujurnya langsung muncul: iya.

Namun mengatakannya berarti mengakui bahwa kunjunganku tidak lagi membutuhkan strategi. Berarti mengakui ada sesuatu yang kuinginkan dari toko ini selain tanda tangan.

“Kamu akan kangen kalau aku tidak datang?” tanyaku, membeli waktu.

“Iya.”

Jawaban langsung itu menghapus semua permainan yang sudah kusiapkan. Aditya bersandar pada meja, masih menungguku dengan tatapan tenang.

“Sekarang giliranmu,” katanya.

Aku bisa mengatakan iya. Satu kata. Tidak ada kontrak, tidak ada penawaran, tidak ada akibat langsung.

Namun satu kata itu akan membuat strategi dan perasaan berdiri di tempat yang sama. Aku belum tahu bagaimana memisahkannya tanpa mengakui sejak kapan aku berhenti datang demi proyek.

Aku membuka pintu. “Kalau mau jawaban, cari cara membuatku kembali tanpa pekerjaan.”

Lonceng berbunyi di atas kepala. Ketika pintu hampir tertutup, aku melihat Aditya masih berdiri di tempatnya sambil menatap tangan yang tadi menggenggamku.