Chapter Fifteen

Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi

POV: Patricia Davina
Sisa: 27 Hari

Cara Aditya membuatku kembali tanpa pekerjaan adalah mengirim satu pesan pukul enam pagi.

Tante Lilis mencari edisi lama yang sudah nggak dicetak. Pasar buku bekas buka jam delapan. Ikut?

Tidak ada kata inventaris. Tidak ada acara toko. Tidak ada kebutuhan akuisisi yang masuk akal.

Aku menjawab dalam tiga puluh detik.

Jemput aku jam tujuh tiga puluh.

Dia membalas satu menit kemudian.

Saya naik motor.

Aku melihat gaun santai yang sudah kukeluarkan dari lemari, lalu menggantinya dengan jeans.

Pasar buku bekas memenuhi lorong sempit di bawah jembatan layang. Kios-kiosnya dibangun dari rak besi, terpal, dan optimisme bahwa hujan tidak turun. Bau kertas tua bercampur gorengan, asap kendaraan, dan kopi sachet.

Perjalanan ke sana memakan waktu empat puluh menit. Awalnya aku memegang besi belakang motor, mempertahankan jarak yang menurutku pantas. Setelah Aditya mengerem mendadak untuk menghindari angkot, tanganku berpindah ke pinggangnya dan tidak kembali lagi.

Dia tidak mengomentari. Hanya ada satu gerakan kecil ketika telapak tangannya menyentuh punggung tanganku di lampu merah, seolah memastikan genggamanku aman.

Aku juga tidak mengomentari fakta bahwa setelah jalan kembali kosong, lenganku justru melingkar sedikit lebih erat.

Aku turun dari motor sambil melepas helm. “Ini kencan termurah yang pernah kujalani.”

Aditya mengunci setang. “Siapa bilang kencan?”

“Kamu menjemput perempuan Minggu pagi, membawanya mencari sesuatu yang disukai perempuan lain, lalu berencana mentraktir sarapan. Kalau bukan kencan, kamu buruk dalam memberi nama kegiatan.”

“Saya belum bilang mentraktir.”

“Sekarang sudah masuk agenda.”

Dia mengambil helm dari tanganku. “Kita cari bukunya dulu.”

Tante Lilis menginginkan kumpulan puisi cetakan pertama yang pernah diberikan almarhum suaminya. Salinannya hilang saat mereka pindah rumah. Dia hanya ingat sampul hijau dan satu puisi tentang jendela.

Menurut Aditya, suami Tante Lilis dulu membaca puisi itu setiap ulang tahun pernikahan meski selalu salah pada baris ketiga. Sejak beliau meninggal, Tante Lilis mencari edisi yang sama, bukan karena cetakan pertama lebih mahal, tetapi karena tata letak halamannya membuat kesalahan lama itu berada di tempat yang dia ingat.

“Kenapa tidak beli cetakan baru?” tanyaku.

“Dia sudah punya.”

“Lalu untuk apa yang lama?”

“Kadang orang mencari benda bukan untuk dipakai.”

Aku mengerti maksudnya, meski bagian diriku yang terbiasa menghitung nilai masih ingin meminta alasan yang bisa dimasukkan tabel.

“Informasinya sangat spesifik,” kataku.

“Dia juga bilang bukunya persegi panjang.”

“Itu mempersempit pilihan.”

Kami mendatangi kios pertama. Aditya berubah menjadi orang lain saat menawar. Tetap tenang, tetapi setiap pertanyaan punya arah. Dia memeriksa tahun cetak, kondisi jilid, halaman yang hilang, bahkan bau lembap. Ketika penjual menyebut harga terlalu tinggi, dia tidak berdebat. Dia hanya meletakkan buku dan berjalan dua langkah.

Harga langsung turun tiga puluh persen.

“Kamu ternyata manipulatif,” kataku setelah keluar.

“Saya cuma nggak membeli.”

“Kamu tahu dia akan memanggil kembali.”

“Mungkin.”

“Selama ini kamu pura-pura tidak bisa negosiasi denganku?”

“Saya bisa. Saya cuma nggak mau menjual.”

Kerumunan mendadak menebal saat satu truk bongkar muatan di ujung lorong. Seseorang mendorong dari belakang. Aditya meraih tanganku dan menarikku ke ruang sempit di antara tubuhnya dan rak besi.

“Jangan lepas,” katanya.

“Aku tidak berniat.”

Tangannya tetap menggenggam sampai kami keluar dari bagian paling ramai. Setelah jalan kembali lapang, dia menurunkan tangan, tetapi jari kami masih saling terkait setengah detik lebih lama. Kali ini tidak ada yang bercanda.

Jawaban itu seharusnya mengembalikan pikiranku pada proyek. Namun dia menyodorkan botol air dan menghapus kekakuan momen tanpa sadar.

Di kios keempat, kami menemukan judul yang mungkin benar. Sampulnya hijau pudar, tahun cetaknya sesuai, tetapi halaman dengan puisi jendela sudah sobek.

Aditya menolaknya.

“Tante Lilis mungkin tetap mau,” kataku.

“Dia mencari kenangan tertentu. Kalau bagian itu hilang, bukunya cuma punya judul yang sama.”

Kami melanjutkan sampai siang. Matahari memanaskan terpal. Kakiku pegal, rambutku mulai lengket di tengkuk, dan Aditya masih membuka kardus satu per satu dengan kesabaran yang membuatku curiga dia diam-diam menikmati penderitaanku.

“Aku butuh makan,” kataku.

“Baru tiga jam.”

“Aku biasanya sarapan di ruangan berpendingin.”

“Saya kira direktur kuat.”

“Direktur juga punya kadar gula darah.”

Kami berhenti di gerobak nasi goreng dekat ujung pasar. Hanya ada satu bangku panjang, jadi kami duduk rapat. Lutut kami bersentuhan setiap kali orang lewat. Aditya memindahkan piringku menjauh dari sisi bangku yang miring sebelum sausnya tumpah.

“Kalau bisa pergi ke mana saja, kamu mau ke mana?” tanyaku.

“Yogyakarta.”

Jawabannya terlalu cepat.

“Kenapa?”

Dia minum sebelum menjawab. “Banyak arsip dan toko buku lama.”

“Liburan ke tempat kerja. Menyedihkan.”

“Kamu?”

Aku memikirkan daftar hotel yang pernah kukunjungi untuk pekerjaan. Singapura, Bangkok, Seoul. Semuanya lewat lobi, ruang rapat, dan penerbangan pulang malam.

“Tempat yang tidak ada agenda,” kataku.

“Nama kotanya?”

“Belum tahu. Begitu kuberi nama, nanti aku membuat jadwal.”

“Berarti kamu butuh orang yang merahasiakan tujuannya sampai berangkat.”

“Kamu menawarkan diri?”

“Saya sedang memberi solusi.”

“Solusinya diterima.”

Dia menatapku. Untuk beberapa detik, pasar yang ramai terasa mengecil menjadi bangku sempit dan dua piring yang hampir bersentuhan.

Ponselku berdering. Nama Pak Surya muncul.

Aku berdiri untuk menjawab, menjauh dua langkah. Investor meminta laporan final. Dokumen akuisisi harus bergerak minggu ini. Pak Surya ingin tahu apakah pendekatan personal menghasilkan perubahan.

“Belum ada persetujuan,” jawabku.

“Kamu punya lima hari sebelum saya mengambil alih negosiasi.”

“Saya masih menangani.”

“Pastikan kamu menangani proyeknya, bukan hal lain.”

Panggilan berakhir. Aku melihat Aditya di bangku, memegang dua gelas teh, tidak menatapku meski pasti mendengar potongan percakapan.

Ini saatnya berkata jujur.

Aku berjalan kembali. “Aditya, soal pekerjaanku—”

Seorang penjual dari kios seberang berlari sambil membawa buku hijau. “Mas! Saya ingat ada satu lagi di gudang.”

Momen itu pecah.

Kami memeriksa buku tersebut. Tahun cetak benar. Halamannya lengkap. Di tengah buku, puisi tentang jendela masih utuh dengan satu baris diberi tanda pensil oleh pemilik lama.

Aditya menawar sampai harga turun hampir setengah, lalu membayar dengan wajah puas yang jarang kulihat.

“Tante Lilis akan menangis,” kataku.

“Kemungkinan dia akan memukul saya karena harganya.”

Dalam perjalanan pulang, kami berhenti di depan Aksara Senja. Aku turun dari motor. Angin membuat kerah kemejaku terlipat ke dalam.

Aditya mengangkat tangan dan memperbaikinya. Jemarinya menyapu kulit di bawah rahangku sebelum merapikan kain. Gerakannya pelan, seolah dia tidak benar-benar terburu-buru menarik tangan.

“Kenapa kamu selalu kelihatan seperti sedang dikejar waktu?” tanyanya.

Aku menahan tangannya di kerahku sebelum dia sempat menarik diri. “Kamu sedang merapikan baju atau mencari alasan menyentuh?”

Tatapannya turun ke jarak yang hampir tidak ada di antara kami.

“Dua-duanya.”

Jawaban itu memotong semua balasan pintarku.

Dia mengambil helm dan berjalan menuju toko seolah tidak baru saja membuat udara siang terasa terlalu tipis.

Aku mengejarnya, lalu menggenggam tangannya lebih dulu. Jari-jariku menyelip di sela jarinya. Aditya berhenti, melihat tangan kami, kemudian wajahku.

“Aku tidak suka kencan yang tidak punya penutup,” kataku.

“Tadi katanya ini kencan?”

“Sekarang resmi.”

Jemarinya membalas genggamanku. “Penutup seperti apa yang kamu mau?”

Aku membuka mulut.

Lonceng pintu berbunyi karena Tante Lilis mendorongnya dari dalam. “Kalian lama sekali! Dapat bukunya?”

Aditya tidak melepaskan tanganku sampai perempuan itu benar-benar berdiri di depan kami.

Aku belum sempat menjawab pertanyaannya.