Chapter Twenty Seven

Kalau Besok Semuanya Hilang

POV: Patricia Davina
Sisa: 9 Hari

Pintu Aksara Senja terkunci, papan sudah menghadap sisi TUTUP, tetapi lampu dekat kasir masih menyala.

Aku berdiri di depan kaca dengan laptop, tabung gambar, dan rasa bersalah yang beratnya lebih tidak masuk akal daripada keduanya. Presentasi kepada komite internal berlangsung buruk. Bukan gagal, hanya ditunda—jenis hasil yang membuat orang optimistis menyebutnya peluang dan orang lelah menyebutnya siksaan tambahan.

Sebelum aku mengetuk, kunci berputar dari dalam.

Aditya membuka pintu selebar tubuhku. “Kamu terlambat.”

“Tokonya tutup.”

“Itu tidak pernah menghentikanmu.”

Aku masuk. “Aku bisa pulang kalau kamu mau.”

Dia mengunci pintu lagi. “Saya sudah membuat kopi.”

Itu caranya meminta maaf. Atau caranya membuat perpisahan lebih lembut. Aku belum tahu mana yang benar.

Di meja kasir ada dua cangkir dan satu roti yang dipotong menjadi empat bagian sama besar. Aku mengambil satu potong.

“Ini makan malam?”

“Kamu yang bilang presentasi penting.”

“Roti tawar tidak naik kelas hanya karena dipotong diagonal.”

“Saya belajar dari sosis.”

Aku hampir tertawa dan akhirnya benar-benar melakukannya. Ketegangan sejak kemarin turun sedikit.

“Soal kemarin,” kataku.

“Saya seharusnya tidak membalik pertanyaan.”

“Aku seharusnya tidak menginterogasi kamu tanpa menjelaskan apa-apa.”

“Kamu mau menjelaskan sekarang?”

Pertanyaan itu diletakkan pelan, tetapi tetap tajam. Proposal di laptopku belum memiliki persetujuan. Dokumen legal belum selesai. Aku masih takut harapan yang kuberikan malam ini akan mati besok pagi.

“Sedikit lagi,” jawabku.

Ada kekecewaan kecil di wajahnya sebelum menghilang. “Baik.”

“Kamu?”

“Sedikit lagi.”

Kami sama-sama tersenyum tanpa humor. Dua orang dewasa berdiri di toko terkunci, saling meminta kejujuran sambil memeluk rahasia sendiri.

Aku meminum kopi. Sudah diberi satu sendok gula, takaran untuk hari buruk yang masih bisa diselamatkan.

“Bagaimana presentasinya?” tanyanya.

“Mereka meminta simulasi baru. Raka bilang aku berdebat seperti orang yang sedang mempertahankan rumah sendiri.”

“Dia salah?”

Aku melihat ke sekeliling. Rak-rak tampak lebih jarang daripada minggu lalu. Kursi klub baca sudah ditumpuk di belakang. Namun lampu kuning, aroma kertas, dan suara jam dinding masih membuat bahuku turun seperti seseorang baru saja memberi izin untuk berhenti bekerja.

“Entahlah,” kataku. “Aku tidak pernah punya tempat yang terasa seperti rumah.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku punya tempat yang pemiliknya sangat pelit soal jam tutup.”

“Biaya listrik.”

“Aku bisa bayar.”

“Dengan membeli tujuh buku yang tidak kamu baca?”

“Aku membaca.”

“Sebutkan nama tokoh utama buku terakhir.”

Aku mengingat sampul, warna pembatas, bahkan noda kecil di halaman sebelas. Nama tokohnya menghilang sepenuhnya.

“Dia tidak penting,” kataku. “Karakter pendukungnya lebih kuat.”

“Namanya tertulis di judul.”

“Itu pilihan pemasaran.”

Aditya menggeleng, tetapi sudut bibirnya naik. Kelegaan karena berhasil membuatnya tersenyum terasa terlalu besar untuk kemenangan sekecil itu.

Dia mengambil cangkirku yang hampir kosong dan meletakkannya di samping. Lalu pandangannya berpindah ke rak dekat jendela.

“Kalau besok semua ini hilang, kamu bakal nyari saya?”

Nada suaranya tenang. Aku mengira dia sedang bicara tentang kemungkinan toko ditutup, bukan keputusan yang sudah ditandatangani.

“Aku bakal nemuin kamu.”

“Kalau saya nggak mau ditemukan?”

“Aku punya tim legal, tim desain, dan satu asisten yang bisa menemukan ukuran sepatu investor hanya dari foto.”

“Itu menakutkan.”

“Harusnya meyakinkan.”

Dia menatapku lama. “Kenapa?”

“Karena kamu tidak boleh menghilang hanya karena merasa itu lebih baik buat orang lain.”

Kalimat itu keluar seperti firasat. Tangannya bergerak di meja, seolah ingin meraih tanganku lalu berubah pikiran.

Aku berdiri dan duduk di tepi meja kasir, di antara kedua lengannya. Posisi yang sama seperti dua malam lalu, tetapi kali ini tidak ada permainan tentang siapa yang menghalangi. Aku memang ingin menghalangi semua jalan keluarnya.

“Kamu masih marah?” tanyanya.

“Sedikit.”

“Obatnya diminum?”

“Iya.”

“Kancingnya kuat.”

Aku menyentuh kancing yang kujahit. “Aku bekerja bagus saat mengancam orang.”

Kedua tangannya berhenti di meja pada sisi tubuhku. “Apa yang kamu mau malam ini?”

Aku menarik kerahnya sampai wajah kami hanya dipisahkan napas.

“Kali ini jangan berhenti cuma karena kamu takut aku akan minta lebih.”

Tatapannya berubah. Seluruh kelembutan yang selama ini dia jaga tetap ada, tetapi tidak lagi dipakai untuk mundur.

Satu tangannya naik ke wajahku. Ibu jarinya menyusuri rahang dengan gerakan lambat.

“Kamu yakin?”

Aku menjawab dengan menutup jarak.

Ciuman pertama pelan, seperti dia masih memberiku ruang untuk berubah pikiran. Aku menarik kerahnya lebih dekat. Itu cukup menjadi jawaban.

Tangannya berpindah ke pinggangku dan menarikku sampai tidak ada jarak yang tersisa. Ciuman berikutnya lebih dalam, hangat, dan tidak hati-hati. Napasku terputus ketika jarinya masuk ke rambut di belakang kepalaku, menahan tanpa memaksa. Aku menyentuh sisi wajahnya, lalu tengkuknya, merasakan ketenangan yang biasanya dia pakai sebagai dinding runtuh sedikit demi sedikit.

Dia berhenti sepersekian detik. Matanya mencari mataku.

Aku mengangguk.

Kali ini dia yang mencium lebih dulu.

Tangannya mengangkatku sedikit agar duduk lebih aman di meja. Gerakannya tegas, lalu berhenti sampai aku menariknya kembali lewat kerah. Tidak ada keraguan setelah itu. Hanya pilihan yang terus kami buat setiap beberapa detik: mendekat, mengambil napas, melihat mata satu sama lain, lalu mendekat lagi.

Aku tidak merasa ditaklukkan. Aku merasa didengarkan dengan seluruh tubuhnya, sesuatu yang justru membuat rahasia di dalam tasku terasa semakin tidak pantas.

Meja kasir menekan bagian belakang pahaku. Tangannya tetap aman di pinggang, tetapi cara dia menyebut namaku di antara napas membuat seluruh tubuhku kehilangan kemampuan menyusun kalimat. Aku membalas sampai kami sama-sama harus berhenti untuk mengambil udara.

Kening kami bersentuhan. Tanganku masih menggenggam kerahnya.

“Kamu sengaja menyembunyikan kemampuan itu?” tanyaku.

“Saya menjaga reputasi toko.”

“Reputasinya sudah rusak.”

“Keluhan bisa dimasukkan ke kotak saran.”

“Kotaknya di mana?”

Dia menciumku singkat. “Ditutup.”

Aku tertawa di bibirnya. Ketika dia hendak mundur, lenganku melingkari lehernya.

“Lima menit lagi.”

“Kamu selalu bilang begitu.”

“Dan kamu selalu memberi lebih.”

Aditya tidak menjawab. Dia menarikku ke pelukan, wajahnya di rambutku. Kami bertahan seperti itu sementara jam dinding terus bergerak. Lima menit berubah menjadi lima belas, lalu tiga puluh. Aku turun dari meja hanya agar kami bisa duduk di lantai bersandar pada kasir, bahuku di dadanya dan jemarinya bertaut dengan jemariku.

Aku bercerita tentang pertanyaan investor yang paling bodoh. Dia bercerita tentang pelanggan yang mencari novel tanpa sedih, konflik, atau tokoh menyebalkan—lalu menolak buku kosong yang ditawarkan Bimo.

“Kamu akan tetap di sini, kan?” tanyaku ketika toko sudah sangat sunyi.

Tubuhnya kaku hampir tak terasa.

“Malam ini?”

“Setelah semua urusan selesai.”

Dia mencium pelipisku. “Kamu punya rapat besok.”

Pengalihan itu begitu lembut sampai aku membiarkannya.

Ponselku berdering. Maya menelepon tentang rapat darurat pukul tujuh pagi. Aku melihat layar, lalu wajah di sampingku.

Tiga kata menunggu di tenggorokan. Terlalu besar untuk diberikan saat aku masih membawa setengah kebenaran.

“Aku harus pergi,” kataku.

Tangannya melepaskan jemariku perlahan. “Saya tahu.”

Di pintu, aku menoleh. “Jangan menghilang.”

“Rapatmu dulu.”

Aku mengecup bibirnya sekali lagi dan pergi dengan keyakinan bahwa aku akan kembali membawa pilihan yang sudah aman.

Dari dalam mobil, kulihat lampu lantai dua padam. Lalu lampu dekat rak. Terakhir, cahaya di meja kasir hilang, meninggalkan pantulan tubuhku sendiri di kaca.

Aku tidak tahu bahwa dalam gelap, dia sedang membuka kotak pertama.