Chapter Twenty One
Denah Baru
POV: Patricia Davina
Sisa: 18 Hari
Raka menghapus empat puluh tujuh kamar dari layar, lalu menatapku seolah aku baru meminta dia merobohkan hotel sebelum dibangun.
“Empat puluh tujuh?” tanyaku.
“Sembilan kamar hilang. Tiga puluh delapan berubah ukuran karena sirkulasi.”
“Bisa ditekan?”
“Bisa kalau tamunya bersedia tidur berdiri.”
Kami sudah berada di ruang desain sejak pukul tujuh pagi. Tiga layar menampilkan model baru Hotel Arunika: bangunan modern berbentuk U mengelilingi satu ruko tua berwarna hijau. Aksara Senja tetap berdiri di tempatnya, fasad dan papan kayu dipertahankan. Koridor hotel dibuka ke halaman kecil di samping toko, menjadikannya ruang budaya yang bisa diakses tamu maupun warga.
Untuk pertama kalinya, maket proyek tidak menghapus toko.
Raka memutar model. Dari sisi jalan, fasad hijau Aksara Senja menjadi pintu masuk bagi pejalan kaki. Lobby hotel tetap berada di belakang, dipisahkan halaman baca dengan pohon peneduh. Lantai dua toko terhubung ke ruang acara kecil tanpa mengubah tangga lama.
“Kalau toko beroperasi sebagai mitra independen, hotel tidak menanggung stok,” katanya. “Kita hanya memberi subsidi ruang dan pemeliharaan.”
“Program anak tetap gratis.”
“Masukkan sebagai program CSR.”
“Klub baca tetap punya jadwal sendiri.”
“Bisa. Tapi keamanan hotel minta akses setelah jam tutup dibatasi.”
Aku mencatat semuanya. Setiap kalimat membuat tempat di layar terasa lebih nyata: tamu hotel minum kopi di antara rak tua, Kirana membaca di halaman, papan BUKA lama tetap menghadap jalan.
Itu bukan sekadar menyelamatkan bangunan. Itu masa depan yang mulai ingin kumiliki bersama orang di dalamnya.
“Ramp kendaraan?”
“Masuk dari sisi barat. Biaya struktur naik dua belas persen.”
“Retail?”
“Berkurang satu unit.”
“Kapasitas parkir?”
“Turun delapan.”
Setiap jawaban mengurangi keuntungan. Namun di layar lain, Raka menampilkan proyeksi nilai merek: liputan media, program literasi, kerja sama komunitas, dan kemungkinan insentif konservasi fasad.
“Secara angka masih lebih buruk dari desain awal,” katanya. “Tapi nggak seburuk yang kita takutkan.”
“Berarti bisa dijual ke investor.”
“Bisa dipresentasikan. Belum tentu dibeli.”
Maya masuk membawa tiga kopi dan setumpuk dokumen. Dia melihat model tiga dimensi, lalu membaca judul proposal di layar.
ADAPTIVE REUSE AKSARA SENJA — CULTURAL ANCHOR HOTEL ARUNIKA.
“Judul panjang untuk cara sangat mahal mempertahankan pacar yang belum resmi,” katanya.
Raka menerima kopi. “Saya sudah mencoba menyampaikan itu dengan istilah teknis.”
“Dia bukan pacarku.”
Maya menaruh satu gelas di depanku. “Berapa kali ciuman sampai statusnya berubah?”
“Keluar.”
“Ini ruang desain, bukan ruanganmu.”
Raka mengangkat tangannya. “Saya pemilik ruangan. Tapi datanya berguna. Apakah status hubungan memengaruhi asumsi operasional toko?”
Aku mengambil kopi dan berjalan ke layar lain. Dua pengkhianat itu tertawa di belakangku.
Maya membuka dokumen yang dibawanya. “Data acara ulang tahun. Seratus dua belas pengunjung, penjualan naik tiga ratus delapan puluh persen, donasi program anak, liputan tiga akun komunitas, dan dua artikel lokal.”
Raka menarik berkas itu. “Ini bisa memperkuat proyeksi traffic.”
“Ada juga survei singkat,” lanjut Maya. “Delapan puluh enam persen responden bilang keberadaan toko membuat mereka lebih tertarik datang ke kompleks baru.”
Aku menatapnya. “Kapan kamu membuat survei?”
“Saat kamu sibuk mencium pipi pemilik aset.”
Raka menutup mulut dengan cangkir. Bahunya bergerak.
“Masukkan datanya,” kataku. “Hapus komentar terakhir.”
“Komentarnya tidak ada di dokumen. Meski potensial meningkatkan engagement.”
Selama enam jam berikutnya, kami memotong biaya, menghitung ulang arus pengunjung, dan membuat skenario pendapatan. Setiap kali proposal mendekati layak, muncul angka baru yang belum kuat. Nilai publikasi terlalu optimistis. Biaya penguatan struktur belum final. Persetujuan lalu lintas membutuhkan survei tambahan.
“Kita ajukan versi ini,” kata Raka menjelang sore.
“Belum.”
“Patricia, rapat investor tinggal empat hari.”
“Aku tidak akan membawa proposal dengan tiga asumsi belum terverifikasi.”
“Kamu juga tidak akan punya proposal kalau terus menunggu semua variabel diam.”
“Besok kita dapat estimasi struktur.”
“Lusa ada kemungkinan lain yang kurang.”
Aku tahu. Namun membayangkan berdiri di depan Aditya dan mengaku datang untuk mengambil tokonya tanpa membawa jaminan bahwa toko bisa selamat terasa mustahil.
Aku ingin kebenaran tiba dalam bentuk solusi.
Kalimat itu terdengar masuk akal di kepalaku. Kalau toko aman, pengakuanku tidak akan memaksanya memilih antara cinta dan warisan ibunya. Kalau investor setuju, kebohongan awal bisa dijelaskan sebagai jalan buruk menuju hasil baik.
Masalahnya, setiap jam yang kupakai untuk menyempurnakan proposal adalah satu jam lagi Aditya hidup di dalam cerita yang belum lengkap.
Malamnya, aku datang ke Aksara Senja dengan mata panas dan kepala penuh angka. Aditya sedang memperbaiki sampul buku di meja kasir. Dia melihatku, lalu langsung menyingkirkan alat-alat dan menyodorkan kursinya.
“Hari buruk?”
“Hari panjang.”
“Bedanya?”
“Hari buruk selesai lebih cepat.”
Dia membuat kopi tanpa bertanya. Aku duduk dan membuka tas. Ujung cetakan denah terlihat sebelum cepat-cepat kututup kembali.
Dia menaruh gula di sebelah cangkir, bukan di dalamnya. Sudah tiga malam dia mengingat aku hanya minum kopi manis saat benar-benar putus asa. Perhatian sekecil itu terasa tidak adil. Aku sedang menyimpan alasan kedatanganku, sementara dia bahkan hafal kapan aku membutuhkan dua sendok gula.
Aku memasukkan satu sendok saja, seolah pengendalian gula bisa menggantikan semua hal lain yang gagal kukendalikan hari itu.
Di meja ada novel biru yang baru diperbaiki. Benang di punggungnya rapi, sticky note-ku disusun kembali sesuai halaman. Bahkan catatan kecil yang hampir lepas ditempel dengan kertas transparan.
“Kamu mengerjakan ini kapan?”
“Tadi malam.”
“Sampai jam berapa?”
“Nggak lama.”
Lingkaran di bawah matanya berkata lain. Aku mengusap punggung buku dengan ibu jari, tersentuh oleh perhatian yang tidak pernah dia umumkan.
“Kamu menyembunyikan apa?” tanyanya.
“Sesuatu yang bagus.”
“Buat siapa?”
“Semoga buat semua orang.”
Aditya bersandar pada meja. Wajahnya lelah, tetapi tatapannya terlalu teliti. “Kamu nggak harus menyelesaikan semua masalah saya.”
“Aku tahu.”
“Kelihatannya nggak.”
“Kalau aku tidak mencoba, kamu akan melakukan apa?”
Dia menatap ke rak peninggalan ibunya. “Mungkin menerima bahwa beberapa tempat punya akhir.”
“Kamu mau toko ini berakhir?”
“Mau dan mampu mempertahankan itu dua hal berbeda.”
“Kalau ada pilihan lain?”
“Saya ingin melihatnya.”
Denah di dalam tas terasa seperti sedang berteriak. Tinggal menariknya keluar. Namun kata ingin membuatku semakin takut memberi harapan yang mungkin ditarik investor besok.
Aku berdiri dan mendekat. “Mungkin aku tidak sedang menyelesaikan masalahmu.”
“Lalu?”
Aku menyentuhkan kening kami. Tangannya bergerak ke pinggangku, otomatis seperti sudah mengenal tempatnya.
“Mungkin aku cuma ingin jadi salah satu alasan kamu memilih bertahan.”
Napasnya tertahan. Dia tidak menciumku. Hanya berdiri sangat dekat, ibu jarinya bergerak pelan di sisi pinggang.
“Kalau saya bertahan,” katanya, “kamu akan bilang alasan sebenarnya?”
Pertanyaan itu membuat mataku terbuka.
“Alasan apa?”
Dia tersenyum kecil, tetapi sedih. “Kenapa kamu terlihat takut setiap kali bicara soal sesuatu yang bagus.”
Aku hampir mengeluarkan denah. Hampir menjelaskan semuanya. Namun estimasi struktur belum datang. Persetujuan investor belum ada. Kebenaran tanpa hasil masih terasa seperti bom yang kulemparkan ke tangannya.
“Besok,” jawabku.
“Besok yang mana?”
“Begitu angkanya lengkap.”
Aditya melepaskan pinggangku perlahan. Kehilangan tangannya terasa seperti hukuman yang pantas.
Ponselku berbunyi. Email dari sekretariat investor muncul di layar.
Rapat keputusan dimajukan tiga hari. Presentasi final besok pukul 15.00.
Besok baru saja berubah dari janji menjadi tenggat.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru reading
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup