Chapter Twenty Eight

Kotak Pertama

POV: Aditya Pratama
Sisa: 8 Hari

Kotak pertama kubuka pukul dua belas lewat tujuh belas menit.

Patricia pergi empat puluh menit sebelumnya. Hangat tubuhnya masih tertinggal di kemejaku, atau mungkin itu cuma ingatan yang terlalu cepat berubah menjadi hantu.

Aku berdiri di belakang meja kasir dengan selotip, spidol, dan daftar inventaris. Benda pertama yang harus dipindahkan adalah kumpulan kamus di rak atas. Pekerjaan sederhana: angkat, bersihkan, masukkan, beri label.

Aku justru menatap tepi meja tempat dia duduk tadi.

Ada goresan kecil dari gesper tasnya. Bekas cangkir membentuk lingkaran pucat di dekat buku kas. Satu helai rambut panjang tersangkut pada sudut kayu.

Aku mengambilnya, lalu langsung merasa seperti orang yang perlu dilarang masuk toko sendiri.

Helai itu kubuang ke tempat sampah. Tiga detik kemudian aku mempertimbangkan mengambilnya lagi.

“Menyedihkan,” kata Bimo dari tangga.

Aku membalik badan. “Kenapa kamu masih di sini?”

“Karena seseorang perlu memastikan kamu tidak memasukkan debu kenangan ke kotak berlabel romantis.”

Dia membawa dua gulung selotip dan minuman dalam gelas kertas. Tulisan di sisinya berbunyi KOPI PENGECUT SATU SHOT.

“Satu shot?” tanyaku.

“Dua shot terlalu baik buatmu.”

Dia menaruh minuman di meja, melihat bekas lingkaran cangkir, lalu melihatku.

“Kalian akhirnya bicara?”

“Kami minta maaf.”

“Bukan itu yang saya tanya.”

“Dia punya presentasi.”

“Dan kamu punya mulut.”

Aku mengambil kamus pertama. “Kalau mau membantu, pegang kotaknya.”

Bimo mengumpat pelan, tetapi memegang sisi kardus saat aku menyusun buku. Kami bekerja tanpa bicara selama beberapa menit. Kamus, ensiklopedia, buku hukum lama. Benda-benda berat masuk paling bawah, hal-hal rapuh di atas. Seandainya perasaan bisa dikemas dengan aturan yang sama, mungkin aku tidak akan merusak semuanya.

Di bawah tumpukan buku diskon, aku menemukan novel dari hari pertama Patricia datang. Sampulnya hijau pudar. Buku itu pernah dia pegang terbalik selama sebelas menit sambil pura-pura mencari kutipan arsitektur.

“Buang ke obral,” kata Bimo.

“Nggak.”

“Kondisinya jelek.”

“Masih bisa diperbaiki.”

Dia menatapku terlalu lama. “Tentu.”

Aku menyimpan buku itu di meja, terpisah dari inventaris. Di halaman pertama masih ada stempel matahari tenggelam. Di margin halaman tujuh, pensilku pernah menulis: Bukunya terbalik. Di bawahnya, beberapa hari kemudian, Patricia membalas: Aku sedang menguji gravitasi naratif.

Bimo membaca dari bahuku. “Itu istilah asli?”

“Sama sekali nggak.”

“Kalian cocok. Sama-sama pandai menciptakan alasan palsu.”

Aku menutup buku.

Kami pindah ke meja kecil dekat tangga. Di lacinya ada karet rambut hitam, dua sticky note, baterai mati, dan sendok plastik yang entah kenapa disimpan Patricia setelah makan es krim bersama Kirana.

Salah satu sticky note berbunyi: Jangan jual buku ini. Sampulnya cocok dengan sofa apartemenku.

Yang lain: Ingatkan aku bahwa penyair bukan orang yang bekerja di penyiaran.

“Dia benar-benar menulis itu?” tanya Bimo.

“Setelah salah bicara di depan Tante Lilis.”

“Saya menyesal melewatkan hari itu.”

Aku memasukkan catatan ke kotak barang pribadi, bukan inventaris.

“Kamu akan membawa semua jejaknya ke Yogyakarta?”

“Ini catatan toko.”

“Dan saya barista kerajaan.”

Aku menarik selotip terlalu keras sampai gulungannya jatuh. Bimo mengambilnya, lalu duduk di lantai.

“Tanya sekali lagi,” katanya. “Bukan soal proyek. Tanya apa dia mau kamu pergi.”

“Kalau dia bilang jangan?”

“Kamu tinggal.”

“Lalu dia kehilangan tim, jabatan, dan proyek yang dikerjakan bertahun-tahun.”

“Kamu tidak tahu itu.”

“Saya tahu cara dia bekerja. Dia akan mengambil semua kerugian dan bilang baik-baik saja.”

“Kamu juga melakukan hal yang sama.”

“Makanya saya tahu akibatnya.”

Bimo menekan kedua telapak ke wajah, seperti percakapan denganku menimbulkan sakit fisik.

“Akui saja,” katanya. “Kamu takut dia benar-benar memilihmu.”

Aku duduk di seberangnya. Kardus terbuka memisahkan kami.

“Iya.”

Dia menurunkan tangan.

“Saya takut dia memilih saya sekarang, saat semuanya mendesak, lalu enam bulan lagi bangun dan sadar harga yang dibayar terlalu besar. Saya takut setiap kali dia melihat toko gagal, dia akan mengingat karier yang ditinggalkan. Saya takut cinta yang dia rasakan hari ini berubah jadi utang yang saya tagih seumur hidup.”

“Dan kalau dia tidak menyesal?”

“Saya nggak cukup berani mempertaruhkan hidupnya untuk mencari tahu.”

“Jadi kamu mempertaruhkan hidup kalian berdua tanpa izin.”

Tidak ada jawaban yang membuat kalimat itu salah.

Bimo berdiri. “Saya bantu sampai dua kotak. Setelah itu saya pulang sebelum dorongan menempelkan kamu ke paket tujuan Yogyakarta menang.”

“Biaya kirimnya mahal.”

“Saya buka donasi komunitas.”

Kami menyelesaikan satu rak. Ketika Bimo turun mengambil spidol lain, aku menemukan gelas kertas Patricia di balik kasir. Ada bekas lipstik tipis di bibir gelas. Kopinya sudah habis.

Sebelum itu, kami mengosongkan rak kecil peninggalan Ibu. Di belakang buku resep lama ada foto toko saat baru dibuka: cat hijau masih terang, papan nama belum miring, dan aku berdiri di depan pintu dengan seragam sekolah. Ibu menulis tanggal di belakangnya serta satu kalimat pendek: Tempat ini boleh berubah selama tetap membuat orang ingin kembali.

Bimo membacanya tanpa izin.

“Ibumu lebih masuk akal daripada kamu.”

“Dia juga pernah menyimpan kuitansi sepuluh tahun.”

“Tetap lebih masuk akal.”

Aku memasukkan foto ke dompet dokumen. Kalimat itu seharusnya memberi izin untuk melepas bangunan. Malah membuatku bertanya apakah pergi diam-diam benar-benar cara menjaga sesuatu, atau hanya caraku menghindari melihat siapa yang terluka.

Aku seharusnya langsung membuangnya.

Sebaliknya, aku menyentuhkan bibir pada bekas itu—gerakan bodoh, singkat, dan sangat sepi.

Lonceng pintu berbunyi karena angin mendorong daun pintu yang belum kukunci sempurna. Aku tersentak lalu membuang gelas ke kantong sampah seperti baru tertangkap melakukan kejahatan.

Bimo muncul sambil membawa spidol. “Apa?”

“Nggak ada.”

Dia melihat kantong sampah, wajahku, lalu memutuskan tidak bertanya. Rasa kasihan jauh lebih memalukan daripada ejekan.

Kami mengangkat kotak pertama ke lantai dua. Saat kembali, aku melepas label harga dari sisi meja agar tidak tertinggal. Di belakang label ada tulisan kecil dengan tinta biru.

Lima menit lagi.

Aku ingat dia menulisnya sambil menunggu lem sampul kering. Katanya semua benda di toko perlu nama yang jujur. Meja kasir dinamai Tempat Menunda Pulang. Kursi dekat jendela dinamai Tempat Pura-Pura Membaca. Label itu mungkin hanya salah satu lelucon yang dia tinggalkan tanpa berpikir.

Di tanganku, dua kata dan satu angka itu menjadi permintaan yang tidak lagi bisa kupenuhi.

Pandangan mengabur sebelum sempat kutahan. Aku duduk di lantai, punggung menempel pada meja, dan menutup mata. Tangisnya tidak besar. Hanya napas yang patah dan air yang terus turun seolah tubuhku akhirnya lelah mempertahankan keputusan yang disebut masuk akal.

Bimo tidak menyentuhku. Dia duduk beberapa langkah jauhnya dan menatap rak kosong, memberiku satu-satunya kebaikan yang bisa kuterima: berpura-pura tidak melihat.

Setelah beberapa menit, aku membersihkan wajah dengan lengan.

Label itu tidak masuk kotak. Aku melipatnya sekali dan menyimpan di dompet.

Ponselku menyala. Email dari penerbit mengonfirmasi tiket kereta, kamar sementara, dan jadwal orientasi. Keberangkatan pukul 20.40, satu hari sebelum tenggat penjualan.

Aku menekan tombol konfirmasi.

Di bawah, meja kasir masih berdiri. Dalam delapan hari, tempat itu akan kosong. Malam ini, bekas hangat tubuh Patricia bahkan belum sepenuhnya hilang.

Aku mulai mengemas kotak kedua sebelum keberanianku ikut habis.