Chapter Thirteen

Pria dari Dunia Patricia

POV: Aditya Pratama
Sisa: 30 Hari

Pria itu datang membawa tabung gambar dan mengenakan kemeja putih yang tidak punya satu lipatan pun.

Dia berhenti di depan meja kasir, melihat rak-rak sampai ke langit-langit, lalu menyentuh bingkai kayu pintu dengan perhatian seseorang yang tahu apa yang sedang dia lihat.

“Bangunan ini masih pakai balok asli?” tanyanya.

“Sebagian,” jawabku. “Belakang sudah diganti setelah bocor.”

“Kayu jatinya bagus.”

Dia tidak bertanya harga toko. Tidak mengomentari cat yang mengelupas. Tidak juga memakai nada kasihan yang biasa dipakai orang saat memuji tempat tua.

Aku hampir menyukainya sampai Patricia masuk dan langsung berkata, “Kamu cepat.”

Pria itu menoleh. “Kamu bilang mendesak.”

Mereka berdiri dengan jarak nyaman milik dua orang yang sudah lama bekerja bersama. Dia mengambil tas laptop Patricia tanpa bertanya. Patricia menyerahkannya tanpa melihat. Gerakan kecil yang terlalu terbiasa untuk dipelajari kemarin.

“Aditya, ini Raka,” katanya. “Arsitek utama proyek—” Dia berhenti setengah detik. “Proyek yang sedang kukerjakan.”

Aku mengulurkan tangan. “Aditya.”

“Raka.” Genggamannya tegas, ekspresinya terbuka. “Saya sudah lama ingin lihat Aksara Senja dari dalam.”

“Kenapa?”

“Patricia membicarakannya terus.”

Patricia menatapnya. “Aku membicarakan kendala desain.”

“Dan pemilik toko yang sulit.”

“Itu bagian kendala.”

Aku melihat Patricia. “Berarti saya masuk laporan.”

“Secara profesional.”

Raka mengangguk seolah menerima keterangan itu, lalu mengeluarkan meteran laser dari tas. Patricia langsung mengambil ujung meteran biasa dan mulai mencatat. Tidak ada pembukaan panjang, tidak ada saling menunggu. Mereka bergerak seperti sudah melakukan hal yang sama puluhan kali.

“Kalian sudah lama kerja bareng?” tanyaku.

“Enam tahun,” jawab Raka.

“Lima tahun delapan bulan,” koreksi Patricia.

Raka menoleh kepadaku. “Dia mengoreksi hal yang tidak penting kalau gugup.”

“Aku tidak gugup.”

“Lima tahun delapan bulan juga jawaban orang yang sangat santai.”

Patricia mengarahkan laser ke dinding lebih keras daripada perlu. Aku menyimpan informasi itu tanpa komentar: di dekatku, dia ternyata bisa gugup.

Raka tersenyum kecil. Aku tidak suka betapa mudah dia memahami nada di antara kami.

Mereka membuka gambar di meja baca lantai dua. Aku seharusnya kembali ke kasir, tetapi Patricia meminta izin mengukur dinding dan Raka memerlukan informasi renovasi lama. Jadi aku tetap di sana, berdiri di sisi meja sementara dunia Patricia terbuka lewat garis, angka, dan istilah yang tidak kupahami.

Dia berubah ketika bekerja.

Suaranya lebih cepat. Tangannya berpindah dari denah ke kalkulator tanpa ragu. Dia menunjukkan masalah sirkulasi, kebutuhan akses darurat, dan titik struktur seolah bisa melihat bangunan yang belum ada berdiri utuh di depannya. Raka mengikuti setiap lompatan pikirannya tanpa meminta penjelasan kedua.

“Kalau fasad ini dipertahankan, ramp kendaraan harus bergeser enam meter,” kata Raka.

“Geser.”

“Radius putarnya tidak cukup.”

“Kurangi satu unit retail.”

“Investor akan bertanya kenapa.”

“Kasih nilai brand dan proyeksi traffic komunitas.”

“Itu belum cukup.”

“Makanya kamu di sini.”

Raka menggeleng, tetapi sudah mengambil pensil warna lain. Tidak ada tarik-menarik kuasa. Mereka berdebat seperti dua bilah gunting—berlawanan arah, menghasilkan satu potongan yang rapi.

Aku tiba-tiba memahami betapa besar hidup Patricia di luar toko ini. Rapat, investor, bangunan bernilai ratusan miliar, orang-orang yang mampu mengimbangi kecepatannya. Di sini dia salah menyusun puisi, menabrak rak, dan membaca satu halaman selama lima menit. Di sana dia tidak membutuhkan siapa pun untuk menyelamatkan pendapatnya.

“Mas Aditya?” Raka memanggil.

Aku baru sadar mereka menunggu jawaban. “Maaf. Apa?”

“Dinding sisi timur pernah dibongkar?”

“Belum. Ada pipa lama di belakang rak sejarah.”

Raka mencatat. “Kalau struktur ini dipertahankan, justru bisa jadi kontras yang bagus dengan bangunan baru. Nggak perlu dibuat seolah tua. Biarkan materialnya jujur.”

Jawaban itu menghilangkan satu alasan untuk tidak menyukainya.

“Jadi menurutmu bisa?” Patricia bertanya.

“Secara desain, mungkin. Secara angka dan persetujuan, itu medan perangmu.”

“Desain dulu.”

“Kamu selalu begitu. Menyuruh orang membangun jembatan sebelum tahu sisi seberangnya punya tanah.”

“Dan kamu selalu tetap menggambar.”

Tatapan mereka bertemu. Ada sejarah di sana—bukan rahasia, hanya bertahun-tahun memahami cara kerja satu sama lain.

Bimo muncul membawa kopi tanpa diminta. Dia berhenti di pintu, membaca ruangan dalam sekali pandang, lalu menyodorkan satu gelas kepadaku.

“Kopi Cemburu Tanpa Hak,” katanya.

“Saya pesan kopi biasa.”

“Nama baru, resep sama.”

Patricia menahan senyum. Raka, yang tidak tahu kapan harus pura-pura tidak mendengar, bertanya, “Menu musiman?”

“Sangat musiman,” jawab Bimo. “Biasanya muncul kalau ada pria rapi membawa gambar.”

Aku membuka tutup gelas dan menambahkan satu sendok gula. Lalu satu lagi tanpa sadar.

Bimo melihatnya. “Dua gula. Parah.”

“Keluar.”

“Kedai saya juga punya kursi kalau ada yang mau diskusi desain tanpa mengganggu suasana romantis.”

“Keluar, Bim.”

Dia tertawa dan turun kembali. Aku meminum kopi. Terlalu manis.

Raka melanjutkan pengukuran di bagian depan. Patricia berdiri di dekat etalase sambil membaca catatannya. Ketika Raka kembali dan membentangkan denah di meja kasir, ruang di sisinya kosong. Namun Patricia bergerak ke tempatku, berdiri begitu dekat sampai bahunya menyentuh lengan.

Gerakannya tampak refleks. Justru karena itu, sesuatu di dadaku yang sejak tadi keras mulai melunak.

“Kalau pintu servis dipindah ke sini,” kata Raka, menunjuk denah, “rak belakang tetap aman. Tapi keputusan ini harus cepat. Begitu desain legal masuk, perubahan akan mahal.”

“Beri aku dua hari.”

“Satu. Jadwal investor maju.”

Patricia mengangguk. Wajahnya kembali tegang.

Setelah mengemas gambar, Raka membeli satu buku arsitektur lama. Dia tidak meminta diskon dan tidak berpura-pura membutuhkan buku itu sebagai alasan datang. Sebelum pergi, dia menepuk bahu Patricia.

“Telepon malam ini.”

“Aku kirim angka dulu.”

“Jangan menunggu sempurna.”

Patricia naik sebentar untuk mengambil tasnya. Raka menunggu dekat pintu, lalu menoleh kepadaku.

“Tempat ini penting buat dia,” katanya.

“Proyeknya?”

“Bukan.” Dia melihat rak-rak. “Itu justru masalahnya.”

Aku tidak menjawab.

“Dia terbiasa datang membawa solusi,” lanjutnya. “Kalau sekarang belum menjelaskan semuanya, mungkin karena dia masih mencari solusi yang bisa membuat semua orang menang.”

“Semua orang nggak selalu bisa menang.”

“Saya tahu. Patricia yang belum suka mengakuinya.”

Kalimat itu bukan pembelaan buta. Raka melihat cacatnya dengan jelas dan tetap berdiri di pihaknya. Kecemburuanku menjadi lebih sulit karena pria ini tidak memberiku satu pun alasan baik untuk membencinya.

Patricia turun sebelum aku sempat bertanya lebih jauh. Raka langsung kembali ke ekspresi profesionalnya.

Dia keluar. Lonceng berbunyi, meninggalkan toko dengan keheningan yang mendadak terasa terlalu luas.

Aku memindahkan buku arsitektur lain ke rak sastra tanpa sadar.

Patricia mengambilnya dan mengembalikan ke tempat semula. “Kamu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Kamu memasukkan buku beton ke rak novel.”

“Sampulnya mirip.”

“Kamu cemburu.”

“Nggak.”

Dia berdiri di depanku, terlalu dekat untuk percakapan yang katanya profesional. “Kamu selalu bertanya apakah aku berdiri sedekat ini sama rekan kerja?”

“Saya belum bertanya.”

“Tapi mau.”

Aku seharusnya diam. “Kamu memang selalu sedekat itu sama dia?”

Senyumnya muncul pelan, penuh kemenangan. “Nggak. Cuma sama laki-laki yang pengin kubikin cemburu.”

“Nggak berhasil.”

Aku mengambil buku dari meja dan memasukkannya ke rak yang salah untuk kedua kalinya.

Patricia melihat judulnya, lalu kepadaku. Tawanya memenuhi lorong.

Di tengah semua angka yang tidak kupahami, satu potongan kalimat Raka terus tertinggal di kepala.

Desain alternatif mungkin ada.

Tapi Patricia harus memilih cepat.