Chapter Thirty Two
Proposal Penyelamatan
POV: Patricia Davina
Sisa: 2 Hari
Persetujuan final tiba dalam bentuk email sepanjang empat halaman dan satu kalimat yang membuatku membaca ulang tiga kali.
Konsep adaptive reuse disetujui dengan syarat persetujuan operasional pemilik Aksara Senja diterima sebelum serah terima.
Aku berdiri di ruang rapat hotel di luar kota, memegang ponsel dengan dua tangan. Di layar laptop, denah terakhir menampilkan toko hijau yang tetap utuh di antara sayap bangunan baru.
“Kita berhasil?” tanya Maya.
“Kita butuh persetujuan Aditya.”
“Berarti kita hampir berhasil.”
Raka menutup tab perhitungan. “Jangan anggap jawabannya otomatis.”
“Dia ingin toko tetap ada.”
“Mungkin. Tapi kamu akan menawarkan kontrak baru kepada orang yang belum tahu kenapa kamu pertama kali masuk ke tokonya.”
Aku memasukkan ponsel ke saku. “Aku akan cerita semuanya.”
Maya dan Raka saling pandang.
“Apa?” tanyaku.
“Tidak ada,” kata Maya. “Kami hanya menyaksikan peristiwa langka: direktur menerima saran sebelum terlambat.”
“Belum tentu sebelum terlambat,” kata Raka.
Aku menatapnya.
“Dukungan yang bagus,” tambahnya.
Kami menghabiskan satu jam memeriksa klausul operasional. Nawasena menanggung penguatan struktur dan perawatan fasad. Pengelola toko menjaga merek, program komunitas, dan operasional harian. Kontrak awal sepuluh tahun dengan hak perpanjangan. Tidak sempurna, tetapi cukup aman untuk memberi Aksara Senja masa depan.
Tim legal bergabung lewat panggilan video. Mereka meminta nama badan usaha, rekening operasional, dan bukti persetujuan pemilik sebelum pukul delapan malam esok hari. Jika pemilik menolak, ruang itu tetap dipertahankan secara fisik tetapi dikelola yayasan komunitas yang ditunjuk perusahaan.
“Jadi tanda tangannya bukan untuk menyelamatkan bangunan?” tanyaku.
“Bangunan sudah masuk desain final,” jawab kepala legal. “Tanda tangan menentukan apakah pemilik lama tetap menjadi operator.”
Aku menahan senyum. Bahkan jika Aditya membenciku, toko ibunya tidak akan dihancurkan. Untuk pertama kalinya, aku bisa datang tanpa memakai keselamatan bangunan sebagai tekanan agar dia memaafkan.
“Kirim versi yang tidak memakai istilah operator eksisting di setiap paragraf,” kataku. “Namanya pemilik toko.”
Maya mematikan mikrofon. “Kamu sadar dokumen legal tidak bisa diganti dengan puisi?”
“Aku hanya minta mereka terdengar seperti manusia.”
“Itu lebih sulit.”
Masa depan itu masih memiliki ruang untuk Aditya jika dia menginginkannya.
Aku membuka percakapan kami. Pesan terakhir darinya hanya satu kata: Pasti. Tidak ada foto kopi pagi, tidak ada komentar tentang rapatku, tidak ada koreksi atas kesalahan istilah sastra yang sengaja kukirim untuk memancing respons.
Pagi tadi aku menulis bahwa majas hiperbola adalah puisi tentang olahraga. Dia tidak membalas. Itu seharusnya memicu setidaknya satu penghinaan.
Aku menggulir ke atas. Foto mi instan, sampul buku yang diperbaiki, keluhan tentang pelanggan yang merusak susunan rak. Percakapan kami tidak pernah diberi nama hubungan, tetapi sudah memiliki kebiasaan seperti hubungan yang jauh lebih lama.
Di kolom pesan, aku mengetik Aku kangen. Lalu menghapusnya karena terlalu kecil dibandingkan semua yang harus kukatakan. Aku mengetik Aku cinta kamu. Kalimat itu kutatap sampai layar meredup, kemudian kuhapus juga. Bukan karena tidak benar. Aku ingin dia mendengarnya saat bisa melihat wajahku dan memilih apakah tetap berdiri di sana.
“Aku perlu pulang malam ini,” kataku.
Maya memeriksa tiket. “Kereta pukul enam penuh. Ada satu pukul delapan lewat sepuluh.”
“Pesan.”
“Kita masih punya penandatanganan investor pukul lima.”
“Aku akan selesai sebelum itu.”
Raka menggeser kontrak ke depanku. “Sebelum kamu pergi, apa yang akan kamu katakan?”
“Tentang proyek?”
“Tentang semuanya.”
Aku bersandar. Selama tiga hari, aku menyusun pengakuan seperti presentasi: latar belakang, kesalahan, mitigasi, rencana ke depan. Semua kalimat aman. Tidak ada yang terdengar seperti manusia.
“Aku akan bilang aku datang sebagai direktur pengembangan—”
Maya mengangkat tangan. “Ditolak. Kedengarannya seperti konferensi pers.”
“Aku belum selesai.”
“Itu yang dikatakan semua konferensi pers.”
Aku mencoba lagi. “Pada awal periode pendekatan, tujuanku adalah memperoleh persetujuan transaksi—”
Raka menutup wajah dengan telapak tangan.
“Apa?”
“Kamu sedang tender pengadaan pasangan.”
“Aku hanya ingin jelas.”
“Jelas tidak sama dengan membuat tabel risiko untuk perasaan,” kata Maya. “Mulai dengan kalimat yang paling kamu takutkan.”
Aku melihat dua orang yang sudah bekerja bersamaku bertahun-tahun dan tiba-tiba menyesal tidak memesan ruang rapat terpisah.
“Aku berbohong kepadanya,” kataku.
“Bagus,” kata Raka.
“Tidak terasa bagus.”
“Makanya terdengar jujur.”
Aku menarik napas. “Aku datang untuk membuatnya menjual toko. Lalu aku mengenalnya. Aku jatuh cinta, mengubah desain, dan tetap tidak berani bilang karena ingin membawa jawaban yang sudah selesai.”
Maya tidak bercanda kali ini. “Lanjut.”
“Aku salah karena mengambil haknya untuk tahu. Kalau dia marah atau tidak mau melihatku lagi, aku akan terima. Tapi pilihan tentang toko harus tetap miliknya. Dan perasaanku bukan bagian dari kontrak.”
“Itu pengakuan,” kata Raka. “Sekarang jangan tambahkan slide.”
“Aku punya data pendukung.”
“Buang.”
Maya mengambil kertas catatanku, meremasnya, lalu memasukkan ke tempat sampah.
“Itu versi final.”
“Kamu baru membuangnya.”
“Tepat. Cinta bukan presentasi. Tidak perlu dibaca.”
Raka mengangguk. “Dan jangan menjual dirimu. Dia boleh memilih setelah tahu bagian buruknya.”
Kalimat itu terasa seperti kebalikan dari semua yang kulakukan selama ini. Aku terbiasa membuat keputusan mudah diterima: menyusun data, menghapus risiko, menutup lubang sebelum orang lain melihat. Besok aku harus berdiri tanpa solusi sebagai tameng dan membiarkan seseorang menilai seluruh kesalahanku.
Anehnya, aku lebih siap daripada saat proposal pertama dipresentasikan.
Penandatanganan investor selesai pukul lima lewat empat puluh. Pak Surya menungguku setelah semua orang keluar.
“Kamu pulang malam ini?” tanyanya.
“Iya.”
“Sudah siap bicara dengan pemilik toko?”
“Tidak.”
Dia hampir tersenyum. “Jawaban pertama yang meyakinkan.”
Aku memasukkan kontrak ke tas. “Kalau dia menolak kerja sama, desain tetap dipertahankan sebagai ruang komunitas.”
“Saya tahu.”
“Kalau evaluasi etik mengeluarkanku dari proyek—”
“Itu dibahas setelah tenggat.”
“Ayah sengaja membuatku menunggu?”
“Anggap latihan menerima ketidakpastian.”
Aku memeluknya singkat sebelum sempat mempertimbangkan apakah itu profesional. Tubuhnya kaku, lalu satu tangan menepuk punggungku.
“Jangan terlambat,” katanya.
Aku tiba di stasiun dua belas menit sebelum keberangkatan. Maya membawa tasku, Raka membawa tabung gambar, dan aku membawa dua kopi yang tidak sempat diminum.
Sebelum turun dari mobil, Maya menyerahkan amplop tipis.
“Apa ini?”
“Daftar kalimat yang tidak boleh kamu pakai saat mengaku.”
Aku membukanya. Ada tujuh poin, termasuk berdasarkan evaluasi emosional, mari kita optimalkan hubungan, dan tolong tanda tangani di sini.
“Aku tidak akan mengatakan yang terakhir.”
“Kamu membawa tiga kontrak.”
“Itu kebetulan administratif.”
Raka mengambil amplop dan menambahkan satu baris dengan pulpen: Sinergi jangka panjang.
“Kalian sangat tidak membantu.”
“Kami membantu calon korban,” kata Maya.
Aku menyimpan daftar itu. Untuk pertama kalinya selama tiga hari, aku tertawa tanpa langsung memikirkan tenggat.
Papan keberangkatan berubah merah saat kami mendekat.
TERTUNDA 180 MENIT.
“Tidak,” kataku.
Maya memeriksa aplikasi. “Gangguan jalur. Semua kereta ditahan.”
“Cari mobil.”
“Perjalanan delapan jam. Kamu tiba hampir bersamaan.”
Aku menelepon Aditya. Sambungan masuk, tetapi tidak diangkat. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Aku mengetik pesan.
Besok tunggu aku. Aku bawa jawaban yang bukan tentang kontrak.
Tanda terbaca muncul satu menit kemudian.
Tidak ada balasan.
Kereta baru dijadwalkan berangkat lewat tengah malam. Jika tidak ada keterlambatan lagi, aku tiba esok pagi.
Aku mencoba memesan penerbangan, menyewa mobil, bahkan menghubungi sopir kantor cabang. Banjir di jalur utama membuat semua pilihan tiba lebih lambat. Angka-angka waktu di layar bergerak, tetapi tak satu pun bisa kupaksa menjadi jawaban yang kusukai.
Maya duduk di sebelahku. “Kamu sudah mengirim pesan. Dia tahu kamu datang.”
“Dia tidak menjawab.”
“Mungkin sedang sibuk.”
“Dia selalu menjawab.”
Raka berdiri beberapa meter dari kami, pura-pura memeriksa jadwal agar tidak perlu menawarkan optimisme yang tidak dia percaya.
Aku duduk di bangku stasiun dengan proposal di pangkuan dan kotak penanda buku di saku tas. Untuk pertama kalinya, semua jawabanku sudah lengkap.
Waktu justru memilih berhenti bergerak.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan reading
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup