Chapter Twenty Four
Ultimatum yang Masuk Akal
POV: Patricia Davina
Sisa: 14 Hari
“Angkanya belum cukup.”
Ketua dewan menutup proposal setelah dua puluh menit presentasi. Di layar belakangku, Aksara Senja berdiri di tengah model Hotel Arunika seperti satu-satunya benda hangat dalam kota berwarna abu-abu.
“Proyeksi nilai merek menutup sebagian penurunan kamar,” kataku. “Dukungan komunitas mengurangi risiko reputasi dan memperkuat posisi hotel sebagai—”
“Itu proyeksi,” potong salah satu investor. “Biaya struktur adalah angka nyata.”
“Estimasi final masuk sore ini.”
“Rapat keputusan sekarang.”
Slide berikutnya sudah berisi jawaban untuk hampir semua pertanyaan yang mereka ajukan. Aku menunjukkan proyeksi hunian, perbandingan tarif, biaya pemeliharaan lima tahun, dan skema kemitraan yang membuat toko tetap dikelola pemiliknya. Raka menjelaskan struktur. Maya membagikan data pengunjung. Selama sebelas menit, ruangan itu nyaris bisa diyakinkan.
Lalu seorang investor menunjuk selisih pendapatan pada tahun ketiga.
“Siapa yang menanggung kekurangan ini jika nilai merek tidak berubah menjadi okupansi?”
“Kami menutupnya lewat penyesuaian ruang retail dan program acara berbayar,” jawabku.
“Kami atau Anda?”
Aku diam setengah detik terlalu lama.
“Perusahaan,” kataku.
Tatapan mereka berubah. Bukan karena jawabanku salah, tetapi karena semua orang di meja tahu proposal itu telah menjadi pribadi bagiku. Angka yang sama akan terdengar lebih aman jika dibawa direktur yang tidak jatuh cinta pada pemilik bangunan.
Tidak ada yang jahat di ruangan itu. Mereka tidak menertawakan toko atau menyebut komunitas tidak penting. Mereka hanya melihat investasi yang sudah tertahan dan proposal baru dengan terlalu banyak hal yang belum pasti.
Pak Surya meminta waktu istirahat. Begitu ruangan kosong, dia berdiri di depan jendela dengan kedua tangan di saku.
“Saya sudah memberimu ruang,” katanya.
“Aku bisa memperbaiki angkanya.”
“Dengan waktu yang tidak kita punya.”
“Dua hari.”
“Investor memberi satu pilihan. Dapatkan penjualan sesuai desain awal atau serahkan proyek kepada direktur lain.”
Kalimat itu disampaikan tanpa marah. Ultimatum yang masuk akal justru lebih sulit dilawan.
“Kalau kuserahkan, desain alternatif mati.”
“Kemungkinan besar.”
“Kalau aku dapat penjualannya, toko juga mati.”
Pak Surya menatapku. “Saya tidak akan memilihkan. Tapi kamu perlu berhenti bertindak seolah semua hasil bisa diselamatkan sekaligus.”
“Ayah menyesal memberiku proyek ini?”
Wajahnya tidak berubah, tetapi tangannya keluar dari saku. “Saya menyesal kamu merasa harus membuktikan bahwa kamu tidak punya perasaan untuk layak memimpin.”
Aku tidak siap mendengar kelembutan di tengah ultimatum.
“Perasaan bukan masalahnya,” lanjutnya. “Menyembunyikan informasi dari semua pihak adalah masalahnya. Investor tidak tahu motifmu. Pemilik toko tidak tahu pilihanmu. Kamu mencoba menanggung keputusan sendirian lalu menyebutnya melindungi mereka.”
“Kalau semua tahu sekarang, aku kehilangan kesempatan memperbaikinya.”
“Atau mereka mendapat kesempatan ikut memilih.”
Di luar ruangan, Maya menyita tiga gelas kopi dari mejaku dan menggantinya dengan satu botol air.
“Demi kelangsungan direktur,” katanya.
“Aku butuh kafein.”
“Kamu sudah minum sampai bisa mendengar warna.”
“Aku belum selesai.”
“Makanya minum air.”
Aku meneguk setengah botol sekaligus. Airnya tumpah sedikit ke blus.
Maya menyerahkan tisu. “Bagus. Sekarang kamu terlihat sama kacaunya dengan keputusanmu.”
“Dukunganmu menyentuh.”
“Itu fungsi asisten. Menjaga jadwal, menyaring telepon, dan menghina atasan sebelum dewan sempat melakukannya.”
Aku tertawa meski rasanya salah. Maya duduk di tepi meja dan menurunkan suara.
“Proposalnya bagus,” katanya. “Tapi toko itu bukan cuma bentuk bangunan di slide. Kalau kamu ingin mempertahankan hidup seseorang, orangnya perlu tahu.”
Raka datang membawa estimasi struktur yang terlambat tiga jam. Angkanya sedikit lebih baik, tetapi tidak cukup untuk membalik rapat tadi.
“Aku bisa mengambil alih presentasi berikutnya,” katanya. “Secara politik lebih aman kalau desain diposisikan sebagai usulan arsitektur, bukan keputusanmu.”
“Lalu kalau gagal?”
“Risikonya terbagi.”
“Keputusan ini milikku.”
“Aku paham.” Raka menutup map estimasi. “Saya tidak menawarkan karena mengira kamu lemah.”
“Lalu?”
“Karena kalau saya yang membawa versi berikutnya, mereka mungkin mendengarkan desainnya tanpa sibuk membaca wajahmu.”
Itu benar, dan karena itu menyakitkan.
“Kalau kamu mengambil alih, Pak Surya bisa mempertahankan proyek tetapi mengeluarkanku dari keputusan.”
“Bisa.”
“Dan kamu tetap akan mempertahankan toko?”
Raka menatap model di layar. “Saya akan memperjuangkan desain yang masuk akal. Saya tidak bisa berjanji memperjuangkan alasan pribadimu.”
Setidaknya dia jujur. Sesuatu yang tidak kulakukan selama berminggu-minggu.
“Jangan lindungi jabatanku dari pilihanku sendiri.”
Raka diam, kemudian mengangguk. “Baik. Tapi jangan pakai kalimat itu cuma untuk kantor. Orang di toko juga berhak memilih.”
Malamnya aku tiba di Aksara Senja dengan tubuh yang terasa seperti sudah dipakai orang lain seharian. Aditya sedang menurunkan kardus dari lantai dua. Lingkaran gelap di bawah matanya lebih jelas. Tangannya punya satu luka kecil di dekat ibu jari.
Semua kalimat pengakuan yang kulatih mati sebelum keluar.
Di belakangnya, dua rak dekat gudang sudah kosong. Kardus yang kulihat kemarin kini terisi buku-buku referensi. Label kecil di sisinya bertuliskan SEJARAH, ANAK, dan RESTORASI. Aditya melihat arah pandangku, lalu menggeser tubuh seolah bisa menutup seluruh persiapan itu.
“Sedang bersih-bersih?” tanyaku.
“Mengurangi barang yang nggak terpakai.”
“Sejak kapan buku di toko buku dianggap barang tidak terpakai?”
“Sejak sebagian sudah tiga tahun nggak disentuh pembeli.”
Jawabannya wajar. Kardusnya tetap membuat tengkukku dingin.
“Hari yang buruk?” tanyanya.
“Sangat.”
Dia tidak meminta rincian. Hanya menarikku masuk ke pelukan.
Aku memegang bagian belakang kemejanya dan untuk beberapa detik sengaja menaruh seluruh berat tubuhku kepadanya. Dia bergeser menahan, telapak tangannya lebar di antara tulang belikatku.
“Kalau aku bilang jangan tanya apa-apa malam ini?” kataku.
“Saya bisa.”
“Kalau aku bilang semuanya akan baik-baik saja?”
“Saya akan tahu kamu sedang mencoba meyakinkan diri sendiri.”
“Menyebalkan.”
“Kamu datang lagi.”
“Itu karena mi instanmu.”
“Tentu.”
Senyumnya terasa di rambutku. Kehangatan kecil itu hampir meruntuhkan alasan terakhirku untuk menunda.
Wajahku menempel di dadanya. Tangannya mengusap punggung pelan. Untuk pertama kalinya hari itu, aku tidak perlu menjelaskan angka atau membela keputusan.
“Aku…”
Kata berikutnya hampir menjadi mencintaimu.
Aku menelannya.
Mengatakan cinta malam ini, tepat setelah proposal ditolak, akan terdengar seperti cara lain memengaruhi keputusannya. Aku ingin datang dengan pilihan yang aman, bukan meletakkan beban perasaanku di atas tokonya.
“Aku apa?” tanyanya.
Aku mengangkat wajah dan memaksa senyum. “Aku butuh uang muka untuk kabar baik.”
“Kabar baiknya belum ada?”
“Makanya uang muka.”
“Bentuknya?”
“Satu ciuman.”
Aditya memandangku seolah tahu kalimat tadi berubah arah di tengah jalan. Namun dia tidak memaksa.
“Yakin?”
Aku mengangguk.
Dia menciumku dengan hangat, lebih pelan daripada ciuman di meja kasir. Tangannya tetap di pinggangku. Aku menyentuh sisi wajahnya, merasakan lelah di balik setiap gerakan hati-hati.
Ciuman itu tidak menyelesaikan apa pun. Justru membuat semua hal yang belum kami katakan terasa lebih jelas. Ketika bibir kami terpisah, tanganku masih menahan wajahnya. Aku ingin memberitahu tentang hotel yang dirancang mengelilingi toko, rapat yang gagal, dan pilihan yang diberikan Ayah.
“Besok aku harus bicara denganmu,” kataku.
“Kenapa bukan sekarang?”
“Karena besok aku punya angka terakhir.”
“Kamu selalu menunggu angka terakhir.”
“Angka tidak berubah pikiran karena takut.”
“Orang bisa.”
Keningnya masih menyentuh keningku.
“Kalau kabarnya buruk?” tanyanya.
“Aku perbaiki.”
“Kamu nggak harus memperbaiki semuanya.”
“Aku tahu.”
Kebohongan lain.
Ponsel Aditya berbunyi di meja. Layar menyala cukup lama untuk kubaca nama pengirimnya: Notaris Hendra.
Besok pukul 09.00 sesuai jadwal. Mohon konfirmasi.
Aditya mengambil ponsel terlalu cepat.
“Urusan apa?” tanyaku.
“Dokumen toko.”
“Bisa kubantu?”
“Nggak perlu.”
Kami berdiri dengan dua kebenaran besar di antara tubuh yang masih saling menyentuh.
Aku memilih menunggu sampai proposal pasti.
Dia memilih pergi ke notaris esok pagi.
- 1 Unit Kedua Belas
- 2 Operasi Pelanggan Tetap
- 3 Buku yang Terbalik
- 4 Perempuan yang Tidak Suka Kalah
- 5 Klub Baca dan Empat Orang Kepo
- 6 Debu, Tangga, dan Jarak Dua Sentimeter
- 7 Hari Ketujuh
- 8 Laporan Kemajuan Nol Persen
- 9 Hujan Setelah Jam Delapan
- 10 Kontrak Membaca
- 11 Pelanggan yang Mulai Bekerja
- 12 Tempat Menunggu
- 13 Pria dari Dunia Patricia
- 14 Cemburu yang Tidak Profesional
- 15 Berburu Buku yang Tidak Dicetak Lagi
- 16 Jangan Jatuh Cinta
- 17 Angka yang Mulai Berbohong
- 18 Ulang Tahun Aksara Senja
- 19 Satu Malam yang Terlalu Ramai
- 20 Harga Sebuah Kegagalan
- 21 Denah Baru
- 22 Setelah Pintu Dikunci
- 23 Dokumen yang Menunggu
- 24 Ultimatum yang Masuk Akal reading
- 25 Tanda Tangan
- 26 Orang-Orang yang Mengukur Dinding
- 27 Kalau Besok Semuanya Hilang
- 28 Kotak Pertama
- 29 Memilih Kerugian
- 30 Besok, Sekali Lagi
- 31 Pertemuan Terakhir yang Tidak Tahu Diri
- 32 Proposal Penyelamatan
- 33 Sebelum Pintu Dikunci
- 34 Hari Toko Itu Tutup
- 35 Marah Adalah Cara Lain untuk Bertahan
- 36 Toko Ini Belum Tutup